
Sesampainya dirumah sakit, Liona turun dari mobil dan berlari masuk. Kedua pengawal dan Bastian mengejar dari belakang. “Silahkan masuk nyonya.” ucap seorang pengawal saat pintu lift terbuka.
“Katakan padaku, bagaimana keadaan Reynard?” tanya Liona pada Bastian.
Setibanya mereka di lantai empat, mereka langsung menuju keruang VIP dimana Reynard dirawat. Kondisinya baik, hanya mengalami luka sobek di kening akibat terbentur ke kaca jendela mobil. Sedangkan supir masih dalam kondisi kritis. Liona duduk disamping ranjang Reynard yang masih belum sadarkan diri. “Reynard sayang…..bangun! Buka matamu, jangan membuatku takut Rey!” kata Liona terisak. Tangannya membelai wajah pucat Reynard.
Tak lama seorang dokter dan perawat memasuki ruang perawatan. “Maaf nyonya. Kami mengganggu sebentar. Kami ingin memeriksa pasien.”
“Dokter bagaimana keadaannya?” tanya Liona.
“Tuan Reynard sudah menjalani operasi. Ada luka dikening akibat terbentur kaca jendela mobil, tapi ada hal serius yang mungkin akan membutuhkan waktu yang lama untuk sembuh. Kaki kirinya patah tapi sudah dioperasi, dia akan butuh terapi lanjutan nantinya.”
Tangis Liona semakin kencang, dia terisak mengetahui kondisi Reynard yang tidak sebaik yang dikatakan Bastian padanya tadi.
“Kapan dia akan sadar, dokter?”
“Mungkin sekitar satu jam lagi efek obat bius sudah hilang. Ini obat yang harus dikonsumsi, obat yang ini adalah obat pereda sakit boleh diberikan jika dia merasakan sakit. Kami akan kembali lagi nanti untuk mengecek setelah dia sadar.” setelah menjelaskan dan menjawab beberapa pertanyaan dari Liona, dokter dan perawat pun keluar dari ruang perawatan itu.
Bastian meminta kedua pengawal Liona untuk pulang menjaga Elvano yang saat ini sedang berada dirumah bersama pengasuhnya. Sedangkan Felicia dibawa oleh nenek dan kakeknya kerumah utama keluarga Wilfred.
Flashback on
Saat mendengar berita bahwa Reynard kecelakaan, kedua orangtuanya memutuskan untuk menjemput Felicia ke sekolah. Tapi saat mereka sampai di sekolah, mereka melihat supir sedang menunggu kedua anak itu.
“Selamat sore Tuan, Nyonya.” sapa sang supir saat melihat Abraham Wilfred dan istrinya Davina.
“Kamu pulang saja, kami akan membawa Felicia kerumah.” kata Davina.
“Tapi saya diperintahkan Tuan Reynard untuk menjemput Nona Felicia dan Elvano.”
“Apa kamu bilang? Putraku menyuruhmu menjemput anak wanita itu?”
“Benar Nyonya Besar, Tadi mobil ini rusak jadi Tuan Reynard dijemput oleh supir Nyonya Liona. Sedangkan saya diperintahkan untuk menjemput anak-anak.”
__ADS_1
“Nyonya….nyonya! Siapa yang menyuruhmu memanggilnya seperti itu!”
“Maaf Nyonya Besar. Saya hanya menjalankan perintah Tuan Reynard.” ujar supir itu menundukkan kepala.
“Kamu bawa saja putra wanita itu pulang. Felicia akan ikut bersama kami. Reynard sedang ada dirumah sakit.” kata Davina, tiba-tiba wajahnya sumringah saat melihat Felicia keluar dari gerbang sekolah sambil bergandengan tangan dengan Elvano.
“Nenek! Apa nenek dan kakek datang menjemputku?” tanya Felicia memiringkan kepalanya melihat kearah supir yang menjemputnya. Dia seakan mencari seseorang.
“Feli sayang….kakek dan nenek datang menjemputmu. Hari ini kamu menginap dirumah nenek ya. Papamu sedang sakit jadi nenek yang akan merawatmu.”
“Benarkah? Apa mama Liona dan kakak juga akan ikut menginap?” tanya Felicia lagi. “Papa sakit lagi?” Mendengar pertanyaan cucunya tentang Liona membuat Davina kesal.
“Tidak. Hanya kamu yang akan menginap dirumah nenek.”
“Tapi kenapa? Aku selalu tidur dengan mama dan kakak. Kalau dirumah nenek nanti Feli sama siapa? Dimana papa?”
“Kan ada kakek dan nenek. Felicia bisa tidur bersama kami kalau kamu tidak mau tidur sendirian dikamarmu.” jelas Davina. “Papamu sedang dirawat dirumah sakit. Besok kita jenguk papamu.”
Dengan berat hati Felicia mengikuti kakek dan neneknya. “Jangan cemberut. Dirumah nenek banyak pelayan yang bisa kamu ajak bermain.” bujuk Davina saat melihat wajah cucunya cemberut saja.
Flashback off
Reynard masih belum sadarkan diri, Liona masih duduk disamping ranjang sambil memegang tangan pria itu. Matanya bengkak karena terus menerus menangis. Bastian masuk sambil membawa dua paperbag berisi makanan dan pakaian ganti. “Ini aku bawakan makanan dan pakaian ganti untukmu.” kata Bastian menyerahkan kedua paperbag itu. Liona mengambilnya lalu beranjak pindah duduk di sofa lalu mulai makan.
Setelah makan dia pun mandi dan bertukar pakaian. Tiba-tiba dia teringat kalau dia belum bicara dengan putranya, lalu dia meraih ponsel dari dalam tas dan menghubungi Elvano.
“Halo mama dimana?”
“El….mama ada dirumah sakit. Papa Reynard sedang dirawat disini. Apakah kamu bersama Felicia sekarang?” tanya Liona cemas.
“Tadi Felicia dijemput kakek dan neneknya. Aku pulang bersama supir dan aku ada dirumah bersama pengasuh. Mama….bolehkah aku kerumah sakit menemanimu.”
“Apa? Felicia dibawa kakek dan neneknya?”
__ADS_1
“Iya ma. Tapi mereka tidak mengijinkan aku ikut. Sepertinya mereka tidak menyukaiku.”
“Hmm….mereka bukan tidak menyukaimu. Mungkin karena mereka belum mengenalmu. Jangan sedih ya, besok kamu ketemu adikmu di sekolah, iyakan? Apa kamu sudah makan?”
“Sudah Ma. Tadi pelayan masak makanan banyak tapi hanya aku yang makan.”
“Ya sudah. Kamu istirahat ya, besok mama suruh supir membawanya kesini.”
“Ok mama.”
Bertepatan saat Liona menutup panggilan, dia melirik kearah Reynard. Hatinya menjadi sedih mengingat seharusnya malam ini mereka keluar makan malam berdua. Airmatanya berderai lagi, perlahan dia berjalan menuju ranjang dan duduk disamping. “Rey! Kenapa kamu belum bangun? Aku takut takut melihatmu seperti ini. Aku rindu kamu. Apakah kamu tidak mau hidup lagi? Kamu tidak sayang lagi sama aku dan anak-anak?”
Liona menangis sambil merebahkan kepalanya diranjang. Tangannya menggenggap jemari Reynard. Dia tidak menyadari jika Reynard sudah membuka matanya dan mendengar semua ucapannya. “Aku masih hidup.”
“Ah!….” Liona kaget mendengar suara. Kepalanya terangkat dan menatap Reynard dan juga sedang menatapnya. Saking senangnya, Liona langsung memeluk Reynard.
“Sayang! Rey….kamu sudah sadar.”
“Uhhh…..sakit.” lirih Reynard yang merasa sakit karena Liona memeluknya erat.
“Ma—maaf. Aku tidak sengaja. Kamu sudah sadar. Sebentar aku panggil dokter.” Liona pun menekan tombol disamping ranjang, tak lama kemudian dokter beserta perawat datang.
Setelah diperiksa oleh dokter dan menjelaskan kondisinya. Kini hanya mereka berdua yang berada diruangan itu. “Apakah kamu merasa sakit dikakimu?”
“Iya, sakit sekali.”ujar Reynard pura-pura merintih. Kaki kirinya dibalut gips dan dia tidak merasakan apapun karena pengaruh suntikan yang diberikan dokter untuk mengurangi rasa sakit dibagian kaki.
“Apa yang bisa aku lakukan untukmu? Katakan, bagaimana caraku untuk mengurangi rasa sakitmu?” tanya Liona cemas.
"Berbaringlah disampingku agar aku tenang."
"Ini bukan waktunya bercanda Tuan Reynard!"
"Kamu kenapa? Aku hanya memintamu untuk berbaring disampingku. Atau jangan-jangan kamu...."
__ADS_1