
Liona sedang berada diruang ganti dan sedang membersihkan wajahnya saat Rianti datang menghampirinya. “Nona Liona! Nona Vena ingin bertemu denganmu sekarang.”
Liona tak merespon ucapan asisten Vena itu dan mengemasi barang-barangnya karena dia ingin buru-buru pulang kerumah, Elvano sudah menunggunya.
“Tolong ikutlah denganku.” pinta Rianti lagi.
“Maaf, saya sedang buru-buru. Katakan saja padanya kalau aku tidak ada urusan dengannya. Ku pikir dia seorang artis berprestasi seperti yang kudengar, tapi ternyata aktingnya sangat jelek. Sudha terbukti hari ini. Apapun yang tadi terjadi di lokasi syuting, itu tidak ada hubungannya denganku. Sekarang pergilah, katakan saja padanya bahwa aku tidak sudi menemuinya bahkan bicara dengannya. Permisi.”
Wanita itu pergi meninggalkan Rianti yang bengong mendengar ucapan Liona. Rianti kembali menemui Vena yang sudah berada didalam mobilnya. “Mana perempuan itu?”
“Maaf, dia tidak mau menemuimu. Ini rekamannya, waktu aku bicara dengannya sengaja kurekam jadi kamu bisa dengar sendiri apa yang dikatakannya.” lalu Rianti mengeluarkan ponselnya dan memainkan rekaman percakapannya dengan Liona tadi. Wajah Vena seketika merah padam menahan emosi.
“Kurang ajar sekali perempuan itu! Berani dia menolak bertemu denganku? Dasar sombong. Baiklah kita lihat saja nanti, akan kuhancurkan perempuan murahan itu.” Vena mengeram kesal.
Liona dimasa lalu adalah seorang gadis yang lemah dan mudah ditindas, tapi kini dia snagat berubah. Vena tidak menyukai perubahan diri Liona, dia bukan saja berubah menjadi wanita yang sangat cantik tapi juga sikapnya berubah tegas dan tak takut.
Dia melihat Liona sedang berdiri ditepi jalan menunggu taksi, seringai muncul dibibirnya. “Lihat itu!” ujarnya pada Rianti asistennya. “Akan aku temui dia, ayo ikut denganku.” tangannya menarik lengan Rianti turun dari mobil.
“Hei! Liona Gantari!” teriaknya. Liona tersenyum, membuat Vena merasa heran melihat sikap Liona itu.
“Untung kita bertemu disini. Kita harus bicara sekarang!” bentak Vena menatap mata Liona namun dalam sedetikdia menundukkan wajah.
“Tak ada yang harus kita bicarakan, Sudah selesai!>’ jawab Liona ketus.
“Ha. Beruntung sekali dirimu ya Liona Gantari.”
“Oh tentu saja! Aku belum memberi pelajaran berharga pada orang-orang brengsek seperti kalian. Mana mungkin aku mati terlebih dahulu, hm? Dan satu lagi, aku tahu apa yang kalian lakukan tadi. Aku punya buktinya, kalian itu teerlalu bodoh melakukan hal seperti itu karena ada cctv yang melihat semuanya.”ucap Liona enteng dan tersenyum manis.”
“Apa maksud perkataanmu? Jangan asal menuduh ya?” kata Vena melirik Rianti yang tampak ketakutan.
__ADS_1
“Kalian lupa ya, jika seluruh lokasi syuting dan area ini dipenuhi CCTV dan aku punya rekamannya saat kau menyuruh asistenmu untuk menaruh sesuatu di kosmetik yang akan kupakai. Dan kamu Rianti, masuk keruang ganti dan membubuhkan zat kimia berbahaya pemberian Vena, iyakan? Hati-hati jika kalian ingin bermain kotor denganku. Aku bukan Liona yang dulu kamu kenal Vena! Jika rekaman CCTV kuberikan pada manajemen dan polisi maka tamat riwayatmu!”
“Berhentilah bermimpi Liona. Kamu tidak akan pernah bisa menghancurkanku!”
“Baiklah. Hahahahaha…..lucu sekali kamu Vena! Jika aku bukanlah ancaman bagimu lalu kenapa kamu harus buang-buang waktu untuk menyusun rencana jahat untuk mencelakaiku, huh? Kau membuang cukup banyak waktumu untuk memperingatiku, bukankah lebih baik kau pakai waktumu untuk melatih aktingmu dan menghapal dialogmu? Aku terima tantanganmu, kita lihat saja nanti siapa yang akan hancur. Aku atau kau!” Liona melangkah pergi menaiki taksi yang berhenti tak jauh dari tempatnya berdiri. Liona tersenyum saat melihat wajah Vena yang memerah menahan emosi.
“Kurang ajar! Bodoh sekali kamu, kenapa kamu bisa teledor seperti itu?” teriak Vena memarahi asistennya yang sedari tadi menunduk ketakutan setelah mendengar perkataan Liona.
“Ma—maaf, aku tidak tahu soal itu. Lalu bagaimana nasibku jika Liona melaporkan kita ke polisi?” tanya Rianti dengan suara bergetar ketakutan. Dia punya seorang ibu yang sakit-sakitan, jika dia sampai mendekam di penjara bagaimana dengan nasib ibunya? Kedua tangannya saling meremas cemas dan takut.
“Kamu pikir dia punya rekaman CCTV? Memangnya semudah itu mendapatkannya, ha? Dasar bodoh, dia hanya menggertak kita saja.”
“Ta—tapi kurasa dia berkata jujur, dia punya rekaman CCTV itu. Tadi kulihat dia pergi menemui pimpinan Wilfred Media.”
“Apa? Apa kau bilang barusan?” tanya Vena menyakinkan apa yang didengarnya.
...*...
“Iya, sayang. Semua berjalan baik dan lancar. Kamu sudah makan malam belum?”
“Belum, ma. Aku nungguin mama pulang.”
“Oh sayang. Ini mama belikan makan malam untuk kita. Tapi mama mandi dulu ya, badan mama rasanya lengket seharian di lokasi syuting. Kamu taruh diatas meja dan ambilkan piring ya.”
“Iya, Ma.”
Selesai mandi, Liona duduk dimeja makan bersama Elvano. Tak lama ponselnya berdering, ada panggilan masuk dari nomor tidak dikenal. Karena dia hanya menyimpan nomor Hiro di ponselnya. “Halo.”
“Halo Tante cantik. Ini Felicia….cup...cup...cup….I miss you.” suara mungil milik Felicia terdengar dari seberang membuat Liona tersenyum karena suara bocah perempuan itu terdengar sangat menggemaskan.
__ADS_1
“Iya, sayang. Apa kabarmu? Kok kamu tahu nomor telepon tante?”
“Tahu dong, kan Tante cantik bentar lagi jadi mama Feli jadi aku hapal nomornya.”
“Ha?” Liona tercekat karena anak kecil itu selalu saja bilang kalau Liona akan jadi mamanya. Sementara Elvano melirik mamanya dengan mengeryitkan dahi karena mendengar Liona memanggil dengan kata ‘sayang’. Seakan tahu ekspresi wajah putranya, Liona langsung berbisik menyebut nama Felicia dan menyodorkan ponselnya pada Elvano.
“Halo.”
“Hai kakak Elvano. Apakah kamu merindukanku? Aku sangat rindu padamu kak.” ucap Felicia manja.
“Iya. Kamu mau datang kerumahku ya?” tanya Elvano, sontak mata Liona melotot. Ya, ampun. Apa-apaan Elvano menyuruh bocah itu datang kerumahnya. Jika Felicia datang, itu berarti ayahnya juga akan datang. Liona masih merasa malu untuk bertemu lagi dengan Reynard mengingat kejadian waktu itu saat mereka tidur bersama. Bagaimanapun Liona masih perawan, sudah pasti dia takut kejadian itu terulang lagi. Tapi tak ada yang tahu jika wanita itu masih perawan karena dia punya seorang anak.
“Aku mau tapi nanti aku minta ijin papa dulu. Papa sibuk beberapa hari ini, Kak.” kata Felicia. Elvano meninggalkan meja makan dan berjalan ke ruang tamu sambil terus bicara dengan Felicia, entah apa yang mereka bicarakan karena terdengar Elvano berbisik-bisik.
"Sayang. Jangan lama-lama meneleponnya ya." teriak Liona namun bocah laki-laki itu tak mendengarnya lagi.
'Kenapa Elvano sekarang malah semakin dekat dengan Felicia sih? Bocah perempuan itu seperti rubah, banyak sekali akalnya tapi dia juga menggemaskan, gumamnya tersenyum mengingat kenakalan kedua bocah itu.
__ADS_1