CINTA DAN DENDAM LIONA

CINTA DAN DENDAM LIONA
BAB 64. KAU TAK LAYAK


__ADS_3

Sementara dirumah keluarga besar Wilfred, ibunya Reynard mendapat laporan dari anak buahnya bahwa Liona dan putranya berada di kantor Reynard.  Felicia juga berada disana bersama mereka. Hal ini membuat wajah wanita itu memerah, dia marah karena dia mendapat info dari anak buahnya tentang Liona yang seorang janda beranak satu dan berprofesi sebagai aktris.  Dia sangat tidak menyukai wanita-wanita yang berasal dari dunia entertainment karena menurutnya mereka hanya mengincar harta dan kedudukan saja.


“Siapa yang mengijinkan perempuan itu pergi ke kantor putraku? Semakin hari dia semakin berani!"


“Maaf Nyonya Besar. Setau saya tadi mereka berangkat bersama-sama ke kantor. Nona Liona juga adalah aktris yang bernaung dibawah manajemen perusahaan Tuan Reynard.”


“Apa? Hmmm…...ya sudah. Kau pantau terus perempuan itu dan putranya. Laporkan setiap hal yang dia lakukan dan kemana saja mereka.”


“Baiklah Nyona besar. Akan saya laksanakan.” ujar pria itu.


Satu hal yang berhasil disembunyikan oleh Reynard sampai saat ini adalah bahwa tidak ada orang lain yang tahu jiks Liona dan Elvano tinggal bersebelahan dengannya. Jika saja ibunya tahu soal itu, entah apa yang akan terjadi.  Ibunya orang yang sangat keras dan semua keinginannya harus dituruti.


Setelah sambungan telepon terputus, wanita itu bergegas ke kamarnya berkemas lalu pergi menuju kantor putranya. Perjalanan yang ditempuh selama empat puluh menit karena jalanan tidak macet.  Sepanjang perjalanan wajahnya memerah, sesekali supir melirik dari kaca spion. Setibanya di gedung Wilfred Group, "Selamat datang Nyonya Besar." sapa para staff dengan hormat tapi dia melangkah masuk tanpa mempedulikan sapaan dari para karyawan. 


Menggunakan lift khusus dia naik kelantai teratas dimana ruangan Reynard berada. Bahkan sekretaris Reynard pun diabaikannya, dia langsung mendorong pintu ruangan kerja putranya. Matanya nyalang melihat Liona yang duduk dikursi kebesaran Reynard sambil mengetik sesuatu di laptop.


“Nenek…..nenek ada disini?” teriak Felicia yang menoleh saat mendengar pintu dibuka. Lalu dia kembali fokus ke Ipad ditangannya seolah tak peduli dengan kehadiran neneknya. Hal itu membuat wanita paruh baya itu mengerutkan alis.


Liona yang melihat kedatangan wanita itu langsung berdiri dan berjalan mendekat untuk menyalami.


“Halo Nyonya. Senang bertemu anda disini.” ujar Liona menyodorkan tangannya namun tak diindahkan oleh ibunya Reynard. Wanita itu mendengus dan menatap sinis Liona.


“Wah…..kau sangat hebat ya. Masuk keruangan kerja putraku dan duduk di kursi kerjanya seolah-olah kau pemilik perusahaan ini. Apakah kau begitu yakin bakal bisa masuk ke keluarga Wilfred?”


“Maaf Nyonya. Silahkan duduk dulu.  Saya akan meminta OB membawakan minuman untukmu. Saya juga minta maaf jika Nyonya merasa tidak nyaman dengan keberadaan saya disini.” kata Liona sopan. Bagaimanapun wanita itu adalah calon mertuanya yang harus dia hormati.


“Nenek! Kenapa nenek marah sama mama?” teriak Felicia berlari mendekati Liona dan berdiri didepan wanita itu sambil melipat tangannya didada, seakan ingin melindungi Liona.

__ADS_1


“Felicia! Dia bukan mama mu! Apa wanita ini yang menyuruhmu memanggilnya mama?”


“Nenek jahat...nenek jahat! Mama Liona adalah mamaku. Selamanya akan jadi mamaku.”


“Ohhhh….bagus sekali ya caramu menghasut cucuku! Sekarang dia berani menentangku! Cepat pergi dari sini dan bawa putramu jauh-jauh!”


Bukkkk…..!


Felicia memukuli kaki neneknya karena marah. “Nenek tidak boleh mengusir mama dan kakakku! Nenek saja yang pergi! Huuuu…...huuuuu…..” Felicia meraung-raung dan menendang kaki neneknya. Wanita paruh baya itu terkejut dengan reaksi cucu kesayangannya.


“Puas kamu? Dasar perempuan ******! Setelah kau bisa menghasut putraku, kini kau pun menghasut cucuku juga!”


Liona meraih tubuh felicia dan membawanya kepelukannya, “Felicia…..tidak boleh memukul nenek. Ayo minta maaf sama nenek ya, sayang.”


“Hiks….hiksss…..tidak mau! Nenek jahat sama mama, mama Liona baik dan sayang sama papa dan Feli. Nenek jahat, Feli tidak mau sama nenek lagi.”


“Nyonya…..maaf kalau saya lancang. Saya tahu kalau anda tidak suka sama saya tapi itu bukan alasan untuk anda membentak dan memarahi Felicia. Dia hanya seorang anak kecil.” ujar Liona.


“Oh….berani kamu menasehati saya, ha? Pergi dari sini! Kamu juga!” teriaknya kearah Elvano dengan telunjuknya mengarah pada bocah laki-laki itu.Tangis Felicia pun semakin kencang sambil menggelengkan kepalanya menatap kearah Elvano “Kakak jangan pergi! Aku akan usir nenek jahat!”


Sementara diluar ruangan, sekretaris Reynard yang mendengar suara ribut-ribut dari dalam ruangan pun menguping pembicaraan lalu menghubungi Reynard. Mendengar jika ibunya datang dan memarahi Liona membuat pria itu marah. Dia meninggalkan ruang meeting dan meminta asistennya yang menyelesaikan meeting.


Didalam ruang kerja Reynard, tangan Felicia ditarik oleh neneknya namun Liona semakin memeluk bocah itu erat-erat. Kuatnya genggaman tangan sang nenek membuat pergelangan tangan Felicia memerah. “Ikut nenek sekarang Feli! Wanita itu bukan mamamu, dia wanita jahat yang ingin menguras uang papamu.”


“Tidak! Nenek jahat! Mamaku baik! Mama dan kakakku sayang sama Feli!”


Brukkk…..

__ADS_1


Suara pintu dibuka kasar, Reynard menarik tangan ibunya “Ma! Apa yang kau lakukan? Kau menyakiti putriku!” teriak Reynard memandang nanar wajah ibunya. Matanya menatap tajam kearah pergelangan tangan Felicia yang memerah.


“Reynard! Wanita ini menghasut cucuku untuk membenciku. Usir dia dari sini sekarang!”


“Bohong, nenek bohong! Nenek jahat macam nenek sihir! Feli tidak mau punya nenek jahat!”


Felicia semakin mengeratkan pelukan tangannya dileher Liona, sengaja dia menangis sejadi-jadinya dan pingsan.


“Feli! Felicia sayang…..kamu kenapa nak?” teriak Liona panik. Dia langsung menggendong tubuh Felicia dan membaringkannya di sofa. “Rey! Panggil dokter!”


Reynard langsung meminta sekretarisnya memanggil dokter. Liona mengambil minyak kayu putih dari dalam tasnya lalu mengosoknya dihidung Felicia.


“Ini semua gara-gara kamu! Awas saja kalau sampai cucuku kenapa-napa, akan kuberi kau pelajaran yang takkan kau lupakan seumur hidupmu!” ujar ibunya Reynard. “Apa yang kau berikan pada cucuku, ha? Menjauh!” tangannya menarik lengan Liona namun Reynard menepis tangan ibunya.


“Ma…..tolong jangan ribut. Felicia pingsan karena mama, kalau ada yang harus disalahkan disini, itu adalah mama.”


“Apa kau bilang? Berani kau menyalahkan mama? Wah hebat sekali wanita ****** ini ya sampai kalian berdua membelanya.”


“Cukup, Ma! Jika mama tidak bisa berhenti menghina Liona, lebih baik mama keluar dari sini. Rey, tidak habis pikir kenapa mama membenci Liona. Dia tunanganku dan akan segera kunikahi. Mama suka ataupun tidak, mama harus terima kenyataan.”


“Reynard….”


Belum selesai dia bicara Reynard mengangkat satu tangannya dan mengibaskan diudara menyuruh ibunya berhenti bicara. Pintu ruangan terbuka lebar dan seorang dokter masuk lalu memeriksa Felicia. Sementara Reynard dan ibunya masih bersitegang diluar ruangan setelah Reynard menarik ibunya keluar setelah dokter tiba.


Dokter itu mengeryitkan dahinya saat memeriksa Felicia yang tampak baik-baik saja. Sang dokter pun melirik kearah pintu lalu mengalihkan pandangan ke Liona.


“Bisa tolong tutupkan pintunya?”

__ADS_1


 


__ADS_2