
Keesokan harinya, Navysah mendapat telepon dari seseorang yang dia kenal. Sebenarnya dirinya malas untuk mengangkat telepon.
"Assalamualaikum"
"Walaikumm salam"
"Ini ibu Nav, ibu di rumah bulik Nia. Bisakah kamu datang kesini?, ibu ingin bertemu cucu ibu, Raffa" ucapnya.
Navysah tidak menjawab pertanyaan mantan mertuamya. Dirinya masih mencoba menata hati atas sikap dan perlakuan mantan mertuanya dulu.
"Hallo, Hallo Navysah!, Kau dengar ibu" ucap bu Ana diujung telepon.
Navysah menarik nafas panjangnya, "Baiklah nanti siang aku kesana" ucap Navysah. Yaudah kalau begitu saya tutup dulu teleponnya.
"Assalamualaikum"
"Walaikumm salam"
Navysah sebenarnya tidak ingin bertemu lagi dengan mantan mertuanya, karena dirinya selalu ingat bagaimana cara mantan mertuanya memperlakukanya dengan tidak baik, "Walau bagaimana pun dia nenek Raffa, orang tua dari mas Raihan" ucap Navysah dalam hati.
Siang hari Navysah mengganti baju Raffa,membawa mainan Raffa ke dalam tas nya. "Mama kita mau kemana?, Ke Mall lagi mah?" tanya Raffa.
"Kita mau bertemu nenek" ucap Navysah.
"Nenek Yani kan di kampung " ucap Raffa.
"Bukan"
"Nenek Ayah Davi, kan jauh mah" ucap Raffa dengan polos nya. Dia hanya tahu kedua neneknya itu.
"Bukan, tapi Nenek Ana. Ibunya ayah Raihan" ucap Navysah bergegas membawa Raffa keluar kamar.
Raffa mengenyitkan dahi, setahu Raffa dirinya kurang mengenal nenek Ana, " Nenek Ana yang galak itu mah, yang suka marah-marah sama mama?" tanya Raffa dan Navysah mengangguk.
"Raffa gak mau!" ucapnya cemberut.
"Kenapa sayang?" tanya Navysah,
__ADS_1
"Raffa gak suka!, Nenek itu suka marah sama Raffa. Dulu, kalau Raffa main terus berantakan Raffa dipelototin mah!" ucap Raffa.
"Tapi Nak, dia ibunya ayah Raihan. Dia ingin bertemu Raffa. Sebentar saja, habis itu kita pulang. Pumpung nenek di Jakarta. Siapa tahu nanti ketemu Raffa, nenek akan sayang sama Raffa" bujuk Navysah.
"Beneran cuma sebentar" Raffa masih dengan mode cemberut.
"Iya sayang"
Navysah turun dan meminta kunci mobil ke Mang Dirman. Dirinya ingin mengendarai mobil sendiri namun Mang Dirman menolak." Jangan bu, nanti aku diomeli pak Davian lagi, biar saya yang antar ibu. Saya takut dipecat bu, tolong kasihanilah saya " pinta dirinya.
Navysah menghela nafas kasarnya " Yaudah cepet, kita ke daerah Jakarta Timur" perintah Navysah sembari membuka pintu mobilnya. Navysah mengetik pesan pada Davian bahwa dirinya akan bertemu mantan mertuanya.
Setelah perjalanan lebih dari satu jam mereka sampai di rumah bulik Nia, adik dari ibu Raihan.
"Assalamualaikum"
"Walaikumm salam "
"Masuk Nav, sini!" bulik Nia bersalaman dengan Navysah. "Raffa sudah besar, tambah ganteng saja cucu bulik ini mirip sama Raihan"ucap bulik Nia.
" Gimana kabarnya Nav? "tanya bu Ana.
" Alhamdulillah baik" ucap Navysah
"Ya allah cucu nenek ganteng banget, mirip Raihan saat kecil. Sini sama nenek" pinta bu Ana.
Raffa malu-malu, dirinya lebih memeluk Navysah. Namun bu Ana mendekat dan mendudukan Raffa di pangkuannya." Kamu benar-benar mirip Raihan, hanya matanya mirip Navysah" ucap bu Ana sembari menciumi cucunya.
"Jangan cium - cium aku!" tegas Raffa yang memang tidak suka jika orang lain mencium dirinya. Raffa bangkit dan kembali memeluk ibunya.
"Raffa memang tidak suka jika ada orang asing mencium dirinya bu" ucap Navysah.
"Tapi ini Nenekmu sayang, ini Nenek!" ucap bu Ana.Namun Raffa menggelengkan kepala.
Bulik Nia tahu kalau kakaknya tidak akrab dengan mantan menantu apalagi cucunya. Bahkan bulik Nia tahu, apa yang dilakukan kakak kandungnya kepada Navysah dahulu sangat keterlaluan, Dirinya tahu dari istri Rasya.
" Sudahlah mbakyu,Raffa tidak terlalu kenal dengan neneknya itu wajar. Kan memang salah mbakyu sendiri!" ucap bulik Nia.
__ADS_1
Bu Ana memegang tangan Navysah, " Maafkan kesalahan ibu yang dahulu Nav, ibu tahu ibu salah. Kamu menantu ibu yang paling baik, bahkan istrinya Rasya tidak memperhatikan ibu. Hanya kamu yang dulu selalu memperhatikan kesehatan dan keadaan ibu, ibu minta maaf untuk semuanya" bu Ana menangis meminta maaf.
"Sudahlah bu, walaupun dulu ibu sudah keterlaluan padaku. Aku sudah memaafkan. Sekarang aku sudah bahagia bersama suamiku yang sama baiknya seperti mas Raihan, dan juga mertua yang sangat sayang padaku"ucap Navysah lagi.
Bu Ana menangis sesengukan." Nav, ada yang ingin ibu sampaikan. Sekarang ibu sendiri, Rasya dan istrinya tinggal di Bandung. Ibu dikampung sendirian Nav, bisakah Raffa ikut dengan ibu?, Wajahnya mengingatkan ibu pada Raihan kecil yang manis dan penurut. Ibu ingin ada yang menemani, Kamu kan sudah menikah dan bahagia, kamu juga bisa hamil lagi Nav"pinta bu Ana.
Navysah merasa sangat marah dengan permintaan mantan mertuanya, bagaimana bisa dirinya akan melepaskan anak semata wayangnya. Bulik Nia pun kaget dengan perkataan kakaknya. "Mbakyu, jangan begitu toh. Masa nyuruh Navysah menyerahkan anaknya. Kamu iku piye toh mbak" ucap bulik Nia.
Navysah mencoba menahan amarahnya, dia masih ingat siapa yang ada di depannya.
" Perlu ibu tahu, sampai mati pun aku tidak akan menyerahkan Raffa padamu!, Lebih baik aku mati daripada harus kehilangan anak! " ucapnya dengan tegas dan suara meninggi.
Navysah menahan segala gejolak amarah di dadanya, kenangan pahit tentang perlakuan mantan mertuanya kembali terniang - niang dipikiranya.
" Jangan membuat aku berkata kasar padamu bu! "ucap Navysah.
" Selama ini aku selalu sabar menghadapi kelakuan gilamu itu. Apa Ibu masih ingat!, Ibu selalu mengatakan kalau aku mandul. Ibu selalu meminta uang padaku, aku tidak masalah. Ketika Ibu sakit siapa yang menjagamu. Aku!, aku yang selalu ada disisimu tapi apa, kamu memperlakukanku tidak baik.
Bahkan Ibu selalu menganggapku musuh, sebenarnya apa kesalahanku hingga ibu begitu benci padaku. Bahkan ketika aku selalu mengadu dengan mas Raihan, dirinya selalu menyuruhku untuk bersabar. Apa ibu iri, dengan kebahagiaan kami?, Apa ibu merasa aku merebut mas Raihan darimu?, Perlu ibu tahu jika aku jahat pada ibu, aku akan mengabaikanmu. Tapi aku selalu menganggap dirimu Ibuku, tapi kebaikanku tidak pernah berarti untukmu Ibu!! " Navysah menangis meluapkan semua rasa sakit di dadanya.
"Apa aku pernah meminta uang padamu? Apa kamu pernah memberikan Raffa hadiah kecil untuknya selama ini ? Bahkan tadi Raffa bilang dirinya pernah dipelototin Ibu karena bermain dan membuat rumah berantakan. Bu, Raffa pun cucumu tapi tidak pernah sedikit pun kamu menganggapnya. Yang ada di hati ibu cuma Rasya dan anaknya. Apa ibu selama ini pernah memeluk dan bersikap baik terhadap Raffa" ucap Navysah kembali.
"Tidak pernah!, jadi buat apa Raffa ikut denganmu. Apa hanya alasan kesepian. Aku rasa tidak!, Aku mengenalmu cukup lama bu. Yang kau butuhkan bukan cucumu tapi uangku!" ucap Navysah dengan nada keras.
Bu Ana menampar Navysah di pipinya,dan Raffa menangis melihat ibunya di tampar." Mama..! " ucap Raffa memeluk ibunya.
" Kamu jangan jahat sama Mama Aku! " teriak Raffa tidak terima pada Neneknya.
Navysah memegang pipinya, baginya rasa sakit ini, tidak sedalam luka yang menggores hatinya sejak dulu.Rasa sesak di dada kini sudah dia luapkan hari ini.
" Aku rasa pembicaraan kita sudah selesai sampai disini, dan Aku harap kita tidak berjumpa lagi" ucap Navysah sembari mengendong anaknya.
Di dalam mobil Navysah menangis keras hingga membuat Mang Dirman bingung, karena baru pertama kali dirinya melihat majikanya menangis seperti ini. Mang Dirman mengirimkan pesan pada Davian mengenai istrinya.
***
Jangan lupa like, Vote and comment ya gaes. Akhirnya cerita kembali pada jalurnya lagi. Matursuwun reader yang sudah mampir. Love u😘☺️
__ADS_1