Cinta Navysah

Cinta Navysah
Masalah Rani


__ADS_3

Keesokan harinya,


Navysah masih sibuk dengan kerjaannya, kali ini dia membawa Yuni ikut denganya untuk mengirim barang di beberapa tempat.


"Kamu sudah siapkan semua Yun? jangan sampai ada yang ketinggalan?" ucap Navysah pada Yuni. "Sudah bu" balas Yuni. Navysah menyetir dengan pelan karena di Jakarta saat ini sedang macet - macetnya.


"Bagaimana keadaan ibumu?" tanya Navysah sembari menyetir.


"Alhamdulillah bu, Ibuku sudah membaik. Adikku kemarin ambil rapot juga, dia juara dua"ujar nya dengan bangga.


"Benarkah, Syukur alhamdulillah kalau begitu.Terus rencana nya kamu nikah kapan? "tanya Navysah.


" Belum tahu bu, calon suami saya masih menabung untuk pernikahan kami" Yuni malu menundukkan kepala.


"Gak papa, yang penting dia ada niatan untuk menikahimu.Beri dia semangat untuk bekerja.Do'ain dia,biar rejeki nya lancar dan bisa segera menikahimu. Lebih cepat lebih baik" tegas Navysah.


Yuni ragu - ragu untuk bertanya pada Navysah, namun dia harus mengatakannya. " Bu,seandainya saya sudah menikah. Apa saya masih boleh kerja di ibu? tanya Yuni dengan cemas.


Navysah tersenyum melihat Yuni dari spion kaca mobilnya."Memangnya kamu masih mau kerja denganku setelah kamu menikah yun?" tanya Navysah penasaran.


Yuni mengangguk dengan cepat " Mau bu,Aku masih mau kerja dengan ibu. Tapi aku bingung,suamiku kerja di kota B. Aku harus bagaimana bu?" ujarnya lagi.


"Ya kamu harus mengikuti kemanapun suamimu pergilah,dia yang akan menghidupimu nanti.Kamu tanggung jawabnya. Masa kamu ikut aku!" Navysah pura-pura ketus.


"Tapi aku masih ingin bekerja dengan ibu?" lirihnya namun masih bisa di dengar Navysah.


"Kamu masih butuh uang untuk adikmu sekolah dan ibumu?" tanya Navysah lagi dan diangguki Yuni dengan cepat.


"Ya udah nanti kamu bisa pindah ke kota B, urus produksi baju online disana bersama Ifa.Nanti aku cari karyawan baru buat urus kerjaan disini"ujar Navysah.


" Beneran bu!, Alhamdulillah " Yuni merasa senang. Navysah menganggukan kepala." Nanti kalau kamu nikah bilang sebulan sebelum hari H, nanti ibu kasih sponsor" ucap Navysah tanpa melihat kerah Yuni.


Yuni memeluk Navysah dengan erat, "Makasih ya bu, sudah baik banget sama aku. Mau bantu keluarga aku" Yuni menangis.


" Lepaskan Yuni!, aku gak bisa nafas dan aku lagi fokus nyetir" ketus Navysah lagi.


Setelah empat puluh menit berkendara, mereka sampai di rumah pelanggan. Navysah hanya duduk di mobil,Yuni turun mengantarkan pesanan pelanggan." Habis ini, rumah bu Zaki, oke kita kesana" Navysah mengetik alamat yang dituju di google map handphone nya. Mereka mengantar setiap pesanan hingga semuanya selesai.

__ADS_1


"Makan dulu Yun, kemana ya enaknya?" tanya Navysah binggung.


"Ada restoran enak dekat sini bu, lima ratus meter dari sini" Ucap Yuni.


Mereka memarkirkan mobilnya di restoran, dari jauh Navysah melihat orang yang dikenalnya sedang bertengkar di sisi jalan. "Yuni, kamu masuk dulu pesankan untukku juga" ujar Navysah.


"Baik bu" ujar Yuni sembari masuk kedalam restoran.


Navysah berjalan menghampiri sepasang kekasih yang sedang bertengkar, " Rani, apa yang kau lakukan disini" sapa Navysah pada adik iparnya.


"Mbak" Rani melepaskan tangan dari kekasihnya dan berlari ke belakang tubuh kakak iparnya. "Tolong aku mbak, aku gak mau pergi denganya!" ucap Rani sembari menangis.


Kekasih Rani menghampi dirinya, memaksa untuk membawa Rani pulang denganya.


"Rani, dengarkan penjelasan aku dulu. Itu tidak seperti yang kau pikirkan!" pintanya sembari menarik tangan Rani.


"Aku gak mau!,sekali ku bilang gak mau ya gak mau!, Kita sudah putus!!" Rani berteriak meronta ingin dilepaskan.


"Lepaskan tangan adikku" ucap Navysah santai. Kekasih Rani geram karena Navysah menganggu dirinya.


"Mbak gak usah ikut campur ya, Rani itu pacarku!" bentaknya.


"Jangan kasar, lepaskan tangan adikku" Navysah masih mencoba untuk sabar melepaskan tangan Rani dari pacarnya.


"Aku gak mau ikut denganmu!!" Rani teriak keras pada pacarnya.


Mau gak mau Navysah melintir tangan kekasih Rani. "Awww, sakit!" pekiknya. Kekasih Rani mencoba untuk melawan dengan memukul Navysah namun dengan sigap Navysah menendang kaki dan membanting tubuh kekasih adiknya itu. Rani melongo melihat kakak iparnya membanting mantan pacarnya dengan mudah.


"Sudah kubilang lepaskan tangan adikku, kamu tidak mau jadi jangan salahkan aku!" ketus Navysah," Pergilah, jangan sampai kamu mengganggu adikku. Sampai kulihat kau macam-macam kulibas dirimu, Dasar bocah teng*k!! " seru Navysah.


Navysah menggandeng Rani kedalam restoran." Makanlah, kamu perlu energi untuk menghadapi kenyataan hidup"ucap Navysah pada adik iparnya.Rani masih menangis sesenggukan.


Navysah menghela nafas panjangnya. "Dengarkan aku Rani, Jadi perempuan jangan cengeng.Gak perlu menangisi apa yang sudah terjadi.Air matamu terlalu mahal untuk lelaki brengs*k seperti dia!" tegas Navysah.


"Mba nggak akan tanya kamu kenapa denganya, terserah kamu mau bercerita padaku atau nggak?!" ucap Navysah.


Rani mulai tenang dengan kata-kata Navysah, walaupun kakak iparnya tidak terlalu dekat denganya tapi dia mau membantu dirinya lepas dari Robi mantan pacarnya, dan juga Navysah tidak memaksa dirinya untuk bercerita apa yang terjadi. Jika dengan Imelda, Rani selalu disalahkan, Selalu menganggap dirinya bodoh dan selalu memaksa untuk bercerita apa yang terjadi.Makanya Rani tidak mau lagi bercerita dengan Imelda. Kalau dengan Davian, dirinya bisa manja dengan kakak lelakinya,Namun Davian selalu sibuk dengan dunianya sendiri.

__ADS_1


Rani mulai melahap hidangan yang disuguhkan,dirinya lapar karena sejak tadi selalu menangis.Dia menghabiskan semua makanan dan menambah beberapa cemilan lagi.


Setelah membayar tagihan Navysah mengajak Rani pulang bersamanya, dia tidak ingin adik iparnya pulang sendirian ataupun lontang-lantung dijalan. Rani menurut dan masuk ke mobil Navysah. Setelah mengantar Yuni, Navysah mengantar Rani ke apartemen Imelda. "Turunlah, sudah sampai dirumah" ucap Navysah dengan datar. Rani terdiam tidak bergerak dan melirik Navysah. " Mba, aku ingin bercerita tentang masalahku" ucap Rani dengan menundukkan kepala.


Navysah melirik adik iparnya, "Baiklah, Ayo masuk dulu ke apartemen mba Imel?" ujar Navysah.


Imelda belum pulang dari kantor nya, Rani dan Navysah masuk ke ruang tamu. Rani pun menawari Navysah minum, tapi Navysah menolak."Ceritakan semua padaku" ujar Navysah.


Rani mulai menceritakan bahwa dirinya sempat pergi ke Bogor beberapa hari untuk menyelesaikan tugasnya, dirinya ingin memberikan surprise pada Robi bahwa dirinya sudah menyelesaikan tugas dari kampus. Saat itu Rani pergi ke apartemennya berharap bertemu kekasih pujaanya, Namun apa yang didapat dirinya melihat adegan panas pacarnya dan wanita lain. "Sakit banget mbak " Rani menangis, menahan sesak di dadanya


Navysah mengelus kepala Rani dan memeluknya. "Allah begitu baik kepadamu, dia memberikan kamu petunjuk bahwa dia lelaki brengs*k, tidak pantas untukmu. Sudahlah jangan menangis lagi" Navysah menenangkan Rani yang menangis kencang.


"Aku sudah setia sama dia mbak, tapi apa balasannya!. Dia menghianatiku, aku benar-benar membencinya!" seru Rani sesenggukan.


"Sudahlah, yang terpenting sekarang kamu lulus kuliah terus kerja, cari kegiatan yang positif untuk melupakanya, kalau bisa ganti pakaianmu yang lebih tertutup. Setidaknya, baju yang lebih panjang. Kalau kamu berpakaian seperti ini banyak mata yang akan melihatnya,Dan mba gak suka"ucap Navysah menatap pakaian yang dikenakan adik iparnya yang kekurangan bahan itu. "Satu lagi, jangan ikutan mbak Imelda minum Alkohol. Aku tahu di rak dapur mbak Imelda menyimpan beberapa minuman. Tidak baik untuk kesehatan kamu Rani!" tegas Navysah.


"Jadi mbak Navysah tahu, mba Imelda suka mabok!" Rani terkejut.


"Tahulah, waktu Raffa dititipkan disini mbak sempat masuk dapur untuk minum air putih dan mba melihat banyak botol minuman keras di bawah wastafel,Awas aja!, kalau kamu juga ikutan mabok kayak mba Imel, mba bakal laporkan kamu sama mas Davian!" ancam Navysah.


"Sekarang sudah nggak mbak, dulu pernah nyicipin" jawab Rani dengan jujur. "Kalau kamu mau berjodoh dengan pria yang baik, kamu harus memperbaiki diri dulu. Jangan keluar masuk club malam!! " ujar Navysah dengan tegas.


Rani bingung kenapa kakak iparnya tahu dirinya suka pergi ke club. " Aku cuma main disana bersama temanku mba, nggak macam - macam kok" bela Rani.


"Terserah Rani, kamu mau kemana itu urusan kamu. Kamu sudah besar, mba cuma gak mau kamu kenapa - napa.Kalau kamu mabok terus dicelupin sama orang, lalu dirinya tidak mau bertanggung jawab siapa yang akan rugi?" tanya Navysah, " Mba setua ini tidak pernah merokok, mabok ataupun keluar masuk club.Ingat,orang tua yang sudah membesarkan kamu Rani, malu kalau anaknya menjadi orang yang tidak baik! " ucap Navysah dengan tegas.


Rani terdiam mendengar ucapan Navysah, apa yang dikatakan Navysah memang benar." Maafkan aku mba"lirihnya,


Navysah memegang tangan Rani " Jangan minta maaf padaku, minta maaflah pada orang tuamu.Cobalah untuk sedikit berubah, setidaknya kamu menjadi gadis yang manis dan baik. Buat mama dan papah bangga padamu, kamu mengerti kan maksud mba! "ujar Navysah.


Rani menganggukan kepala tanda mengerti," Mba jangan bilang mba Imelda dan mas Davi ya, please. Aku takut diomelin mereka lagi" pinta Rani.


"Oke, mba gak bilang" janji Navysah. "Kalau si brengs*k masih mengganggumu bilang sama mba, kalau kamu terancam laporkan saja pada polisi" sambung Navysah lagi.


"Iya mba" balas Rani.


"Mbak pulang dulu, yaudah sih jangan nempel terus dibahu mba. Udah kayak ulet aja" Navysah menggerakkan badannya berharap Rani melepaskan sandaran di bahu nya. Rani terkekeh dengan sikapnya sendiri. Dirinya merasa nyaman nempel di bahu Navysah seperti biasanya dirinya selalu nempel pada Davian. Tapi kalo sama Imelda jangan harap dia bisa manja seperti itu.

__ADS_1


"Mba pulang dulu, Assalamualaikum" ucap Navysah


"Walaikumm salam" balas Rani.


__ADS_2