Cinta Navysah

Cinta Navysah
Ungkapan hati Naysila


__ADS_3

Pagi hari langit begitu mendung, jenazah sudah di masukan ke liang lahat. Kini Navysah duduk di sisi makam ayahnya. Bu Rami menangis keras di makam suaminya, firman dan firsya mencoba untuk menguatkan ibunya. "Ayo kak, ibu kita pulang?" ajak Firman. Dirinya mengangkat ibunya dan memapahnya.


"Kamu duluan, kakak masih ingin disini" ucap Navysah, dirinya masih dengan mata yang menyipit karena kelamaan menangis. Davian mencoba membujuk istrinya untuk pulang namun Navysah masih ingin disini.


Navysah mengusap nisan ayahnya, terlihat banyak bunga bertebaran dan tanah yang masih merah. "Ayah.." lirihnya. Navysah menghela nafasnya,melepaskan semua sesak di dadanya.


"Ayah, sepahit apapun masa lalu kami, aku sungguh memaafkanmu.


Kamu tahu, saat aku menikah dengan mas Davian dan dia membentakku, kau membelaku yah. Saat itu aku merasa kamu benar - benar sayang padaku yah. Aku merasa sangat bahagia, terima kasih ayah. Kau tahu yah sejak dulu saat kita kecil, aku dan mba Naysila selalu dihina. Orang - orang selalu mengejek kami, mereka selalu bilang kami tidak punya ayah karena ayah lebih memilih wanita itu daripada mama. Kau tahu, kami harus berpuasa karena saat itu tidak ada makanan. Tapi aku bersyukur dengan semua kejadian itu, dengan begitu kami bisa mandiri dan tangguh menjalani hidup.


Ayah kau tahu, diirumah penuh dengan medaliku. Aku selalu menang dalam lomba lari, itu semua karenamu. Saat aku berlari, saat itu pula aku selalu berfikir bahwa kamu ada di garis finish. Aku ingin berlari cepat dan memelukmu ayah karena aku rindu "ucapnya sembari menangis.


Davian tidak bisa menahan laju air matanya, dirinya benar - benar menangis mendengar curahan pilu istrinya. Sesakit itukah kehidupannya, pantas saja Navysah selalu berbagi dengan orang miskin. Dirinya pernah mengalami hal tersulit dalam hidupnya.


"Semoga ayah berada di surganya, sungguh dari lubuk hatiku yang paling dalam aku ikhlas memaafkan ayah" Navysah beranjak dari duduk ya, Davian membantu mengangkat istrinya dan mereka pulang ke rumah.


Setelah Navysah pulang, Naysila datang bersama Denis. Dirinya duduk disisi makam ayahnya. Dirinya mengusap nisan nya. "Ayah, aku datang" lirihnya. Naysila membaca do'a dan menahan air matanya, dirinya mencoba untuk tidak menangis.


"Aku disini hanya ingin melihatmu untuk terakhir kalinya, kau tahu selama ini mama tidak pernah mengajariku untuk membencimu, tidak pernah. Aku hanya merasakan apa yang aku rasakan, sejak kecil aku tidak punya sosok ayah. Baru setelah mengenal ayah sulaiman dia satu-satunya ayah terbaik bagi kami. kau tahu kenapa aku membencimu,karena disaat aku kangen denganmu aku meneleponmu tapi kamu selalu beralasan sibuk, kau tidak pernah bertanya bagaimana kabar anakmu. Cih!, Apa aku tidak penting bagimu ". Naysila menitihkan airmatanya. " Aku kesal denganmu,aku marah denganmu, disaat mama pontang-panting bekerja untuk kami tapi kau tidak pernah bertanggung jawab dengan kami. Apa kau pantas disebut ayah?" dirinya menangis sesenggukan.


"Ayah, kau tahu. Sejak kecil aku sering sakit - sakitan, aku sering di bully tapi Navysah selalu membelaku,dia selalu melindungiku. Terkadang aku merasa malu, aku kakaknya tapi dia yang selalu melindungiku dan mengalah padaku"

__ADS_1


"Ayah, karena dirimu aku dan Navysah hampir tidak percaya dengan laki-laki. Kami tidak ingin menikah karena takut akan mendapatkan suami sepertimu, tapi mas Denis merubah pemikiranku. Dan aku sangat bersyukur mendapatkan suami sepertinya. Ayah terimakasih, karenamu aku lebih selektif memilih suami dan lebih mandiri. Ayah, tenanglah disana. Aku sudah memaafkanmu, apapun kesalahanmu, aku memaafkanmu ayah"


Denis memeluk istrinya "Aku tahu istriku, kamu sebenarnya sangat rindu dengan ayahmu. Kamu ingin dipeluknya namun tidak bisa. Sudahlah, jangan menangis aku akan selalu melindungimu dan mencintaimu. Jika kamu kangen dengannya peluk aku kapan saja" ucapnya. Naysila menangis di dada suaminya.


Mereka pulang setelah bercerita panjang lebar di makam ayahnya.


* **


Waktu terus berlalu,


Kandungan Navysah sudah memasuki delapan bulan, rencana pernikahan Shafiq dan Ifa pun sebentar lagi. Davian masih sibuk dengan pembukaan perumahan tahap kedua, dirinya sering bolak - balik Jakarta Bogor.


Navysah sedang berada di ruang tengah menikmati nastar buatan Imelda sembari memasang payet gaun Ifa. Davian dan Kamil turun ke lantai satu, mereka selesai rapat membahas progres pembangunan.


"Namanya juga lagi hamil mil, ya begitu". Mereka mendekati Navysah, Davian melihat nastar yang Navysah makan sedikit gosong "Sayang kau makan nastar arang, kenapa ada yang gosong" tanyanya.


"Nggak!, ini enak kok mas buatan mbak Imel" ucapnya. Kamil terkekeh mendengar ucapan Navysah "Yaelah, kalau buatan mak lampir jangan ditanya pasti kagak bener. Rasanya pasti nggak jelas kayak orangnya" ucapnya.


Davian melotot pada kamil" Walaupun begitu dia kakakku! "ucapnya sembari menonyor kepala Kamil.


Navysah menyuapi suaminya nastar" Makanlah". Davian mengunyah nastar dan menggaruk kepalanya "Amazing!, sedikit pahit dan gulanya kasar rasanya aneh ". Navysah ingin menyuapkan lagi namun Davian tidak mau.

__ADS_1


"Mas Kamil!" ucap Navysah, dirinya melambaikan tangan dan menyuapi Kamil dengan nastar. Mau tak mau dirinya harus memakannya. Dirinya meringis memperlihatkan gigi putihnya. "Nggak enak, pahit!"


Navysah tertawa melihat dua orang pria yang dia kerjai. "Mas, dedek ingin mancing di pemancingan.Besok kita mancing ya? " pintanya sembari mengelus perutnya.


Davian menghela nafasnya "Aku tidak suka mancing sayang, lagian ini Jakarta sangat jarang tempat pemancingan. Bagaimana kalau kita belanja perlengkapan dedek saja, kan sudah delapan bulan. Sebentar lagi dedek lahir lho"ucap Davian.


" Tapi adek mau mancing yah, ini beneran adek yang mau" Navysah sedang wajah memelas


Kamil menahan tawanya, dia sangat tahu Davian tidak akan mau membuang-buang waktu untuk hal yang tidak penting. "Udah sih Dav, sesekali manjain dan nyenengin istri. Kan mancing cuma sehari emang kamu mau anakmu ileran"


Davian melotot ke arah Kamil "Aku selalu memanjakan istriku dan nyenengin dia. Semua makanan ataupun nyidamnya selalu aku belikan walaupun itu siang ataupun malam"


"Apaan!, kamu itu selalu menyuruhku membeli makanan yang Navysah inginkan. Aku selalu pontang-panting mencarinya saat di kerjaan. Sedangkan kau, hanya bertugas malam hari saja " cebiknya.


Navysah melotot mendengar kejujuran Kamil "Oh, berarti selama aku nyidam berarti kamu selalu menyuruh mas Kamil yang membelikan, sedangkan kalau aku mau makanan malam hari baru kau yang cari. Pantas saja, kamu bilang padaku kalau minta sesuatu sebelum malam hari jadi selama ini Kamil yang bekerja keras untukku!" Navysah menangis sesenggukan. " Kamu jangan salahkan jika nantinya anak-anak lebih sayang mas Kamil daripada kamu"


Davian memeluk istrinya "Maaf, karena aku menyuruhnya tapi Kamil mau kok disuruh,dia ikhlas membantuku. Iya kan Kamil?" ucapnya sembari melotot ke arah Kamil.


"Iya" jawabnya malas.


"Tapi seharusnya kamu, kamu kan ayahnya"gerutu Navysah." Tapi besok jadi kan kita mancing " dirinya merengek pada suaminya.

__ADS_1


" Iya akan kupikirkan nanti, beberapa hari ini aku sibuk. Minggu aja ya kita mancing "ucap Davian.


" Lama dong, masih beberapa hari lagi ". Navysah cemberut dengan suaminya.


__ADS_2