Cinta Navysah

Cinta Navysah
Ayah kandung meninggal


__ADS_3

Sudah dua minggu sejak acara pernikahan Kamil. Dan mereka pun sudah kembali ke tanah air setelah perjalanan honeymoonnya ke Jepang. Navysah mendapat banyak oleh - oleh dari Jasmine baik makanan dan baju bayi yang lucu-lucu. Kini Davian pun merombak ruangan kosongnya untuk kamar baby boy, dirinya sangat antusias untuk kelahiran anaknya walaupun diperkirakan mereka lahir sekitar sepuluh minggu lagi.


"Sayang, beli peralatan dedeknya besok kan?" tanyanya.Navysah menghela nafas kasarnya "nggaklah, nanti kalau udah delapan bulan saja jangan sekarang"


" Oh yaudah terserah kamu". Davian dan Navysah keluar dari ruangan itu. Navysah masuk ke kamarnya dan bersandar di kepala ranjang, dirinya mengelus perutnya. Davian mengikutinya dan mengelus perut istrinya. "Kenapa Nav, apa sakit?" Davian melihat istrinya berkeringat. "Nggak sakit mas, tadi dedeknya cuma nendang aja, terus perutku gatal"


"Adek jangan nakal ya, kasihan mama. Tenang ya sayang, cup, cup, cup" ucapnya sembari mencium perut istrinya. "Apa perlu aku kasih minyak telon agar perutmu tidak gatal? " tanyanya.


"Gak usah mas, sudah biasa kayak gini" jawabnya.


Davian mengelus perut istrinya dan berkomat - kamit mengajak anaknya bercerita hingga membuat Navysah tertawa.


Navysah mendengar handphonenya berdering, dirinya menekan tombol hijau dan berbicara dengan wajah sendu, dan setelah dua puluh menit dirinya memutuskan sambungan teleponnya.


Davian melihat istrinya menangis, Kamu kenapa? "tanyanya." Ayah Rahmat sakit di rumah sakit mas, dia komplikasi dan sekarang keadaannya kritis.Aku tahu dia meninggalkan kami saat kami kecil tapi bagaimanapun dia ayahku, Aku ingin melihatnya untuk terakhir kalinya. Kata ibu tiriku, dia selalu menyebut namaku dan mbak Naysila. Dia ingin bertemu dengan kami" Navysah menangis sesenggukan.


" Mas, apa kau mengizinkan aku ke Makassar. Sekali saja, kumohon"pinta Navysah.


Davian bingung, dia tidak ingin istrinya kenapa-napa. Namun melihat istrinya bersedih dia pun tidak tega. "Apa kamu yakin akan kesana, Apa kamu kuat jalan, usia kandunganmu hampir tujuh bulan dan dedek sebesar ini " ucapnya.


"Aku yakin, aku masih kuat jalan kok. Aku hanya ingin melihat ayah untuk terakhir kalinya"ucapnya dengan yakin.


" Baiklah, aku akan mengantarkan kamu kesana. Aku akan menunda semua jadwalku. Aku akan menemanimu "ujar Davian.

__ADS_1


Navysah mencium pipi suaminya" Makasih sayang ".


Davian tersenyum" Nah, gitu dong kamu panggil aku sayang. kalau ada maunya doang kamu panggil sayang Nav, gak romantis sama sekali! " cebiknya.


Navysah memutar bola matanya malas, dirinya menelepon bu Yani.


Bu Yani menyuruh anaknya untuk pergi kesana jika itu tidak memberatkan Navysah dan kandungannya. Dia pun berpesan seburuk apapun ayahnya di masa lalu dia tetap ayahnya. Maafkan segala kesalahannya, itu yang terbaik. Sedangkan, Naysila enggan berkomentar. Dirinya tidak ingin pergi menemui ayahnya,rasa sakit hati terdahulu baginya sangat menyakitkan. Dan Navysah pun tidak bisa memaksanya.


Keesokan harinya,


Navysah dan Davian berangkat dari bandara Soekarno Hatta menuju bandara Sultan Hasanudin, dia tidak mengajak Raffa karena Navysah sudah kesulitan membawa dirinya sendiri. Setelah sampai di Makassar dirinya dijemput adik tirinya, Firman anak pertama Ayah Rahmat Wijaya dan istri kedua. Mereka langsung menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Ayahnya. Setelah tiga puluh menit perjalanan mereka sampai di rumah sakit. Terlihat ayahnya dengan wajah pucat dan infus yang terpasang. Dia pun harus memakai alat bantu pernapasan.


Navysah terlihat sedih melihat keadaan ayahnya, dirinya duduk di sisi ranjangnya. "Ayah, aku datang" ucapnya.


Terlihat ayahnya membuka mata, dirinya menitihkan air mata dan dengan suara lirihnya dia memanggil nama anaknya. "Navysah, anakku. Maafkan Ayah Nak!, ayah bersalah dengan kalian" lirihnya.


Navysah menangis dan memegang tangan ayahnya. "Navysah sudah memaafkan ayah sejak dulu yah, sudahlah tidak perlu dibahas lagi. Navy sudah menutup semua kenangan pahit itu" ujarnya.


"Katakan pada Naysila, maafkan segala kesalahan ayah. Ayah tahu ayah jahat pada kalian. Semoga kalian selalu bahagia Nak!" ujarnya.


"Iya yah, mbak Naysila sudah memaafkan ayah. Ayah cepat sembuh ya, kami sayang ayah. Navysah bahagia yah, mas Davian sangat baik padaku dan sekarang aku sedang hamil" Navysah menuntun tangan ayahnya ke arah perutnya.


"Alhamdulillah, Ayah senang dan bahagia mendengarnya. Semoga kamu dan calon cucuku selalu sehat" ujarnya terbata - bata. Navysah menggengam tangan ayahnya. Terlihat suara ayahnya yang tersenggal - sengal hingga semua orang di ruangan menjadi panik.

__ADS_1


"Ayah..!, kenapa yah?" ucap Navysah panik. Ayahnya sesak nafas dan mengucapkan syahadat dan dirinya menutup mata.


"Ayah...!! bangun yah!!" teriak Navysah dengan berlinang airmata. Namun Ayahnya tidak bangun, dirinya sudah menghembuskan nafas terakhirnya.


Navysah pingsan dan Davian merasa panik, dirinya membawa istrinya ke ruang rawat dan mengundang dokter untuk memeriksanya. Davian menunggu istrinya tersadar dari pingsannya. Keluarga dari ayahnya segera mengurus kepulangan jenasah.


Setengah jam berlalu Navysah terbangun dari pingsannya, dirinya bersandar di kepala ranjang.


"Sayang kamu sudah bangun?" tanya Davian sembari memeluk istrinya. Navysah menangis dipelukan suaminya, Davian ikut bersedih. Saat ini istrinya sangat terpuruk, dirinya mengelus punggung Navysah berharap untuk menguatkan hati istrinya.


"Kamu jangan sedih sayang, ingat dedeknya nanti ikutan sedih melihat ibunya menangis seperti ini" ucap Davian.


Navysah masih menangis hingga satu jam lamanya, setelah merasa tenang dirinya bergegas pergi ke rumah ayahnya. Terlihat jenazah ayahnya yang berbaring di ruang tamu,karena jam sudah menunjukkan pukul enam sore maka jenazah akan dimakamkan esok hari. Navysah menelepon bu Yani dan Naysila, mengabarkan bahwa ayahnya sudah tiada.


Navysah masih menitihkan airmatanya hingga terlihat matanya bengkak, dirinya melantunkan ayat suci alquran untuk ayahnya dan mengecup keningnya untuk terakhir kali. Davian mencoba untuk tegar, dirinya tidak ingin istrinya larut dalam kesedihan. Bu Rami, istri kedua dari ayah pun terlihat sedih. Kedua anak ayah Firman dan Firsya terlihat sibuk mengurus segala keperluan untuk besok.


Bu Rami menggengam tangan Navysah dan menangis. "Maafkan segala kesalahan kami Nav, maafkan ibu karena dulu merebut ayahmu. Semoga dengan kamu memaafkan ayah, dia bisa tenang disana" ucapnya dengan tersedu - sedu.


"Sudahlah bu, aku sudah memaafkannya.Setiap orang pasti punya kesalahan, Aku berharap ayah diampuni segala dosanya dan ditempatkan di tempat yang terbaik" ucap Navysah.


Bu Rami memeluk Navysah "Terima kasih Nak!" ucapnya "Ibu pun tahu Naysila tidak memaafkan kesalahan kami,mungkin dirinya masih benci dengan kami" ucapnya.


"Naysila sudah memaafkan, hanya dia tidak bisa kesini.dia masih ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan bu, semoga saja dia bisa menyusul kesini " Navysah berbohong untuk kebaikan ayah dan ibu tirinya.

__ADS_1


Pukul sepuluh malam Naysila menelepon Navysah, dirinya akan pergi mengunjungi makam ayahnya namun dia tidak akan mengunjungi ibu tirinya. Naysila meminta alamat tempat pemakaman ayahnya pada Navysah.


__ADS_2