
Imelda datang bersama Feri dengan tergesa - gesa, dirinya melihat Kamil dan Davian duduk di depan ruang ICU.
"Dav, bagaimana keadaan Navysah?" tanya Imelda. Davian sudah terlihat berantakan, dirinya memeluk kakaknya dari samping. "Navysah masih di dalam, mba aku takut sesuatu terjadi dengannya"lirihnya.
" Tidak akan terjadi hal buruk, dia pasti akan sehat kembali. Jika rumah sakit negeri ini tidak mampu, kita akan ke luar negeri untuk mengobatinya. Kamu jangan khawatir "Imelda mencoba menenangkan adiknya, dia mengelus punggung Davian. Dia tidak ingin adiknya kembali depresi seperti beberapa bulan yang lalu.
Ifa keluar dari ruangan itu, dia menghampiri Davian dan duduk di sisinya." Ifa, istriku tidak kenapa-napa kan? Dia pasti sembuh kan, dia tidak akan meninggalkan aku kan?" tanyanya bertubi - tubi.
Ifa menghembuskan nafas kasarnya, dia menahan rasa sesak di dadanya. "Kamu harus sabar, apapun yang terjadi ini semua kehendak Allah.Dia preeklampsia setelah melahirkan. Sekarang Navysah koma, aku tidak tahu kapan dia akan sadar, semoga besok dia bisa bangun dari komanya. Tolong kamu bantu do'a ya. Aku akan berusaha semaksimal mungkin agar keadaannya stabil.Kini Navysah dalam pengawasanku, jadi tolong sementara biarkan dia istirahat jangan ganggu dia dulu"
Davian lemas lunglai tidak berdaya mendengar penuturan Ifa. Istri yang dicintainya kini terbaring koma. Dia ingat perkataan Shafiq tentang kejadian paling buruk yang akan menimpa istrinya. " Fa, Shafiq tadi bilang padaku. Navysah tidak akan mengalami kejadian terburuk ataupun meninggalkanku untuk selamanya kan,itu tidak akan mungkin terjadi kan fa?" Davian menggoncang - goncangkan tubuh Ifa. Ifa diam tanpa sepatah katapun dirinya tidak kuasa menahan tangis. "Maafkan aku Davian, aku hanya dokter. Aku akan berusaha semaksimal mungkin hiks.. hiks"
Davian menangis lagi, dunia rasanya gelap. Dirinya tidak bisa membayangkan jika Navysah pergi dari sisinya. " Apa aku boleh melihatnya, aku ingin bertemu dengannya, aku ingin menemaninya"
"Boleh, tapi hanya kamu. Yang lain tidak!" ucap Ifa.
Davian masuk dan duduk disisi ranjang istrinya, dilihatnya wajah yang begitu dia rindukan, wajah yang biasa ceria, cerewet dan selalu membuatnya tertawa. Namun kini berbanding terbalik, yang ada hanya wajah yang pucat dengan selang infus dan alat bantu pernafasan yang menempel padanya. "Sayangku" lirihnya.
__ADS_1
Dirinya menangis, tidak kuasa melihat istrinya seperti itu. Dia mencoba mengingat kejadian seminggu ini, Navysah yang selalu manja padanya, selalu menempel dan meminta makanan dengan alasan nyidamnya, selalu mengucapkan kata romantis setiap hari hingga menawarkan diri, memberi tanda hijau untuk kebutuhan biologisnya.
"Aku tidak percaya kau melakukan semuanya dalam seminggu ini hanya untuk membuatku bahagia. Ternyata kau ingin meninggalkanku seperti ini. Baiklah, kau boleh seperti ini, tapi besok kau harus sadar sayang. Aku akan menunggumu kembali lagi " ucapnya sembari meneteskan airmata."
"Kau tahu, anak kita sudah lahir. Dia mirip denganku. Mata dan rambutnya seperti dirimu, hitam dan lebat. Pipinya sangat chubby karena kau selalu makan dan mengemil.Bangunlah, lihat anak kita. Bukankah kamu ingin menamai mereka Khalif dan Khaffa. Kamu yang memberinya nama, kau ingin kan mereka menjadi anak sholeh, ayo kita rawat mereka bersama jika hanya diriku aku tidak mampu, Bangunlah sayang " Davian bermonolog kembali.
Dirinya menghembuskan nafas kasarnya" Kau ingin punya rumah tiga lantai kan yang ada lift nya? Aku akan mengabulkannya. Kau ingin memancing kan? Aku akan menemanimu.Walaupun aku tidak suka memancing, aku akan melakukannya demi kamu. Maafkan aku karena tidak menuruti nyidammu. Sekarang aku menyesal, aku begitu lalai padamu, aku egois dan selalu sibuk. Maafkan aku sayang "
" Raffa kangen denganmu, aku dan anak-anak kita. Apa kau tidak ingin memberinya ASI, bangunlah!"ucapnya." Kau sudah cukup menghukumku seperti ini, aku takut Navysah, aku sangat takut kehilanganmu"
"Aku bisa depresi dan gila sayang jika kau tinggalkan aku kembali. Jika aku diberi kesempatan memilih, lebih baik kau tinggalkan aku dua bulan. Aku akan menemukanmu kembali daripada aku harus kehilanganmu untuk selamanya. Aku tidak akan sanggup hidup tanpamu"
Orang tua Davian datang dari Solo, dia terkejut melihat menantu kesayangannya koma. Tidak kuasa bu Fera menahan air matanya, dadanya bergemuruh seakan menghujam jantungnya. Dan dia melihat cucunya dari balik jendela. "Ya allah pak, Ran. Lihat cucu mama begitu menggemaskan. Ingin rasanya aku menggendongnya namun tidak bisa. Dokter melarang kita" ucapnya pada pak Ibrahim dan Rani.
"Iya mah, cucu kita mirip Davian saat kecil tapi matanya mirip Navysah,mata yang indah" Ibrahim
"Aku pengen cium ponakanku, dia chubby banget, lucu,putih bersih.Iya mirip mas Davi, mungkin karena mba Navy selalu kesal dengannya.Sayang mba Navy belum melihat kedua bayinya, Aku jadi kasihan sama mas Davi. Sudah dua hari mba Navy belum bangun juga. Aku khawatir dia akan.."
__ADS_1
"Stop Rani!! Mama tidak ingin mendengar hal buruk tentangnya. Navysah anak yang baik dan sholeha. Dia pasti sembuh,mama akan membawanya ke rumah sakit luar negeri jika disini tidak memungkinkan. Lebih baik kita sholat dulu minta sama Allah agar Navysah bangun dari komanya "
Dan mereka melaksanakan sholat, setelah selesai mereka melihat Davian duduk di pojok mushola. Dirinya sedang menangis, mengiba pada Allah untuk mengembalikan istrinya. Ayah Ibrahim memeluknya" Sabar Nak!, percayalah Allah sayang dengan istrimu. Kita doakan Navysah bangkit dari komanya, kita berusaha semaksimal mungkin, jika tidak bisa berarti itu yang terbaik untuknya Allah lebih sayang padanya, ingin mengambilnya kembali.
"Tidak Ayah!! Aku tidak mau dia diambil dariku.Aku tidak mau itu terjadi, aku akan selalu berdoa agar Allah mengembalikan istriku padaku. Aku bisa gila tanpanya yah" dirinya menangis, frustrasi, merengek layaknya anak kecil. Dia sudah tidak peduli orang melihat kearahnya. Bu Fera dan Rani yang melihat Davian dari kejauhan hanya bisa menangis, mereka mendekatinya. "Le, sabar le. Mama janji akan sekuat mungkin agar Navysah sembuh lagi. Kamu jangan kayak gini nanti kamu depresi lagi le" Bu Fera memeluk anaknya.
"Mah.. Mah..! Aku tidak mau dia pergi dariku. Aku tidak mau mah"
"Iya sayang, mama tahu. Ayo sekarang kita kesana. Nungguin istrimu,hapus airmatamu. Malu sama mertua kamu masa kamu rapuh seperti ini"
"Aku rapuh dan cengeng jika berkaitan dengan Navysah. Aku takut mah"
Mereka kembali ke ruangan Navysah, bu Yani dan Naysila sedang menunggu di ruanganya matanya pun tampak sembab.
Davian dan bu Fera masuk dan meminta maaf pada bu Yani. "Maafkan Davi mah, tidak bisa menjadi menantu yang baik. Tidak bisa menjaga anak mama" dirinya menundukkan kepala dan merasa bersalah.
Bu Yani memeluk Davian dan mengelus punggungnya. "Kamu menantu mama yang baik Nak!, kamu jangan merasa bersalah atas kejadian ini. Buang pikiranmu yang seperti itu. Kau tahu, Navysah pernah mengatakan bahwa dia sangat bahagia menikah denganmu. Matanya selalu berbinar bila mengucapkan tentangmu. Mama bangga punya menantu kamu "
__ADS_1
Naysila menghampiri iparnya" Betul apa yang dikatakan mama. Navysah bahagia denganmu, dan Aku yakin dia akan sadar. Dia perempuan yang kuat Davian. Oiya, nanti aku akan membawa Raffa kesini. Navysah pasti akan senang mendengar celotehan anaknya"
"Terima kasih ya bu, sudah memberi anak saya kekuatan. Saya takut Davian depresi lagi, saya sebagai mertua Navysah juga sangat bahagia punya menantu dia, dia sangat baik dan berbakti "