
Mereka menuju rumah sakit untuk menjenguk wanita paruh baya yang tertabrak. Di dalam mobil Navysah selalu berkeringat. "Sayang, kau tidak apa-apa? keringatmu banyak sekali" tanya Davian. Dirinya melihat istrinya duduk gelisah.
"Nggak papa mas, aku gerah banget padahal AC udah nyala. Dedeknya udah gerak mulu, gak bisa diem. Lihat, kakiku masih bengkak aja.udah kayak kaki gajah" ucapnya sembari menunjukkan kakinya pada suaminya. "Mas habis ke rumah sakit, kita ke Ifa lalu ke mall. Kita beli perlengkapan buat dedek"
"Siap Nyonya Davian!" dirinya mengelus kepala istrinya.
Mereka menuju ruang kamar inap dan terlihat pak iim serta keluarga dari wanita paruh baya yang menjadi korban. Mereka mengucapkan terima kasih pada Navysah atas kebaikannya karena sudah membantu ibunya ke rumah sakit.
Mereka langsung melajukan ke rumah sakit Ifa,sebelumnya Davian mampir ke toko alkes, dia membeli kursi roda untuk istrinya. Sesampainya di rumah sakit Davian mendorong kursi rodanya menuju ruangan Ifa. Disetiap perjalanan Navysah selalu menggerutu "Mas, aku masih bisa jalan walaupun pelan,kalau aku kayak gini aku merasa seperti orang lumpuh" protes Navysah.
"Diamlah, aku nggak kamu kamu kecapean. Bawa dua dedek pasti berat untukmu" Davian masuk ke ruangan Ifa.
Dokter Ifa langsung mengecek kesehatan Navysah. Ifa mengoleskan gel dan menggerakkan probe nya, dia mengecek posisi bayi kembar. "Semuanya terlihat baik, bayinya normal,sehat, sempurna. Lihat! , hidungnya kelihatan mancung mungkin mirip Davian" Ifa terkekeh melihat USG di layar monitor.
Davian melihat ke monitor "Benarkah, wah pasti anakku tampan sepertiku"
Ifa memutar bola matanya malas "Mungkin wajahnya mirip karena kamu menyebalkan, hingga Navysah ngebatin mulu" sindir Ifa sembari tertawa.
Davian cemberut mendengar penuturan Ifa "Tapi kan aku tampan, ya yang" dirinya minta pembelaan dari istrinya.
"Ya, ya, ya" ucap Navysah, dirinya malas berdebat dengan suaminya. " Fa, Aku harus lahiran normal atau sesar?" tanya Navysah.
Ifa mengecek berkas kesehatan Navysah "Aku lebih merekomendasikan kamu untuk sesar karena tekanan darahmu tinggi, lihat kakimu juga bengkak dan umur sudah tidak muda lagi.Aku takut kamu ada apa-apa Nav, ingat jaga kesehatan HPL kamu dua minggu lagi. Gimana kamu mau normal atau sesar?" tanya Ifa.
" Aku sesar aja fa, aku nurut kamu deh. Apa yang terbaik saja"
"Yasudah minggu depan kamu kesini buat persalinan. Tidak perlu menunggu dua minggu lagi" ucapnya
"Baik fa, makasih ya" ucap Navysah .
"Wah, aku sudah tidak sabar menunggu baby boy lahir"
Mereka menuju mall terdekat, Raffa dan mbak Siti sudah menunggu di lobby Mall. Navysah memang tidak memperbolehkan anaknya untuk ikut ke rumah sakit, namun jika ke Mall dia akan mengajaknya. Mereka berkeliling memilih perlengkapan bayi.
Davian sangat antusias melihat begitu banyak pakaian yang lucu-lucu. Raffa memilih mainan untuk calon adiknya. "Mah, ini buat adek" dirinya mendorong baby walker warna biru.
"Sayang, dedeknya masih bayi. Kalau itu buat jalan adek,masih jauh" Navysah.
"Oh" Raffa menaruh lagi mainan ke tempatnya.
"Sayang, ini bajunya lucu lho" Davian memilih warna biru dan pink. Navysah melirik suaminya "Anak kita cowo cowo mas"
__ADS_1
"Tapi aku senang warna pink ini, yaudah beli aja ntar juga produksi anak lagi setelah baby boy lahir" ucapnya terkekeh.
Navysah mendelik kearah suaminya "Ini juga belum lahir, minta produksi lagi. Tiga anak cukup!" gerutu Navysah "Kamu kira mengurus anak mudah, kamu sih enak tidak dirumah. Aku yang pusing kalau mereka rewel dan berantem"
Davian tertawa "Pokoknya aku tidak akan berhenti produksi sebelum dapat anak cewek, kamu tenang aja aku akan menyiapkan baby sitter untuk dedek. Kamu tinggal melahirkan saja" ucapnya cengengesan.
"Dasar gila!"
Davian kalap belanja perlengkapan anaknya, dia tidak memperdulikan apakah barang itu dipakai dalam waktu dekat atau tidak. Asal barang itu bagus dan lucu, dia membelinya.
Mereka makan di foodcourt dan bermain di timezone. Mereka menyenangkan Raffa sebelum adiknya lahir, karena kasih sayangnya pasti akan terbagi setelah kelahiran si kembar.
Sore hari mereka pulang ke rumah, Navysah menyuruh budhe Salma untuk mencuci baju baru yang dibelinya agar bayinya nyaman saat memakai. Navysah kelelahan dan tidur. Sedangkan Davian pergi ke kantor sebentar bertemu Feri dan Kamil. Dirinya sibuk mengerjakan beberapa tugas hingga tengah malam dia pulang ke rumah.
***
Tiga hari berlalu,Navysah lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat tidur. Terkadang Raffa sedikit protes dengan ibunya karena tidak bisa mengajaknya bermain. Dia lebih menghabiskan waktunya bersama Kinan dan mbak Siti. Davian seperti rutinitas biasa, dia akan berangkat ke kantor. "Sayang, aku mau berangkat. Kamu istirahat saja ya.Jangan naik turun tangga,kalau perlu apa-apa tinggal telepon budhe suruh kesini" ucap Davian.
"Iya, tapi aku bosen dikamar. Aku pengen kebawah. Coba ada lift jadi tinggal pencet doang" ucapnya
"Kamu mau ada lift dirumah ini? Boleh, nanti aku bikin buatmu. Sekalian mau aku tambah satu lantai agar anak-anak kita nyaman punya kamar sendiri "ucapnya.
" Beneran! "Navysah tidak percaya suaminya akan membuatkan lift untuknya.
"Nggak usah bikin lift, gak jadi. Aku sudah malas, kamu ada maunya!" gerutu Navysah dengan bibir manyunya. "Kalau kamu mau anak cewek sudah ada Kinan,jadi nggak usah minta lagi"
Davian merasa gemas melihat istrinya manyun "Tidak bisa! , sudah ada tiga cowok.harus tambah satu cewek biar Kinan ada temennya" ucapnya "Kamu jangan manyun gitu bikin aku pengen aja"
"Masih pagi, nggak usah mesum!" Navysah malas untuk berdebat dengan suaminya. Lebih baik dirinya istirahat.
"Berarti kalau malam boleh yak!? Buat bekel aku selama empat puluh hari. Kalau aku pengen gimana, masa mau jajan" Davian sengaja memancing emosi istrinya.
"Boleh kalau mau jajan, ntar aku balsemin pake geliga dulu si otong biar nangis kejer! " ancam Navysah. Davian tertawa keras mendengar ancaman istrinya. "Jahat amat, ntar dia kepanasan lho"
"Biarin, sengaja biar panas. Aku tambahin arang sekalian biar jadi sosis bakar"
"Hehehe Oke istriku sayang, aku berangkat dulu. Aku nggak akan pernah jajan sembarangan. Itu janjiku padamu" Davian mencium kening istrinya.
Navysah tersenyum manis mendengar ucapan suaminya "Eh, tunggu dulu mas. Ada yang ketinggalan" ucapnya.
"Apa!"
__ADS_1
Navysah mencari di saku dasternya dan menunjukkan finger love ala abegeh. "Love you" ucapnya. Davian tertawa, selama ini istrinya tidak pernah seromantis ini "Love you too, assalamualaikum"
"Walaikumm salam"
***
Davian merasa aneh dengan sikap Kamil, pagi hari wajahnya terlihat masam dan tidak bergairah. Feri sedang di ruangan Davian untuk berangkat ke Bogor. Dirinya lebih suka ke Bogor untuk menghindari Imelda yang cerewet.
"Kamil, kenapa wajahmu pucat, Kamu sakit?" tanya Davian.
"Nggak, aku cuma mual" ucapnya
"Pergilah ke dokter kalau kamu sakit, aku bisa menghandle semuanya"Davian.
Feri melirik Kamil" Loe bisa sakit juga mil. Gue kira loe robot "ucapnya cengengesan.
" Aku cuma mual, kau tahu sekarang Jasmine sedang hamil. Kemarin aku ke dokter dengannya, dia empat minggu "
Davian dan Feri terkejut mendengar penuturan Kamil.
" Wowww..!! Gaspol juga loe, luar biasa. Pasti jasmine yang bekerja keras untukmu setiap malam " Feri bertepuk tangan, dia tahu bahwa Jasmine mesum dan cinta banget sama Kamil.
"Kamu yang nyidam kali mil, jadi lemes gitu. Sana istirahat" perintah Davian. " inget!, kalau nyidam beli sendiri jangan menyusahkan diriku" ketusnya.
"Dasar pelit!, istrimu nyidam aku yang berburu makanan, tapi aku belum minta apa-apa kamu sudah protes!" serunya.
Davian tertawa keras, "Eits!, nggak boleh protes. Anak buah harus nurut".
Kamil cemberut mendengar ocehan Davian.
"Loe tenang aja, loe nyidam apa gue bakal bantu" dirinya menepuk punggung Kamil.
"Ah, males! Loe durjana kebanyakan boongnya. Paling cuma dibantu do'a. Udah gitu nggak tahu lagi itu doa nyampe apa kagak, orang kamu nya juga cengengesan dan mesum gitu" gerutu Kamil.
"Hahahaha, loe emang paling pinter, goceng buat loe mil! " Feri.
"Nih denger ya, yang penting kita ibadah dan do'a dulu. Masalah dikabulin atau tidak biar allah yang menentukan" sambungnya.
Davian menggulung kertas berbentuk bola dan melemparkan ke wajah Feri "Kayak udah tobat aja loe, mau jadi pak kyai. Mulutmu manis bener,ketempelan jin baik loe! "
"Ini nih, adik ipar durjana. Kalau gue lagi ngomong bener dia kagak percaya. Pikirannya sama kayak Imelda su'udzon terus bawaannya. Gak tahu apa gue udah insyaf tomat, tobat maksiat lah" ucapnya cengengesan.
__ADS_1
"Edan...!" ucap Kamil
"PE'A loe..!" seru Davian