Cinta Navysah

Cinta Navysah
Mencari Navysah 2


__ADS_3

Kamil dan Davian menuju perumahan Navysah di kota B. Di sepanjang perjalanan Kamil selalu menggerutu.


"Kamu itu bagaimana sih Davian!, satu pun kamu tidak punya nomer karyawan Navysah, nomer temen akrabnya nggak ada, nomor orangtuanya juga tidak punya, sekolah Raffa kamu gak tahu tempatnya. Kamu itu tahu nya apa tentang istrimu!, sedangkan Navysah punya nomer kita semua. Nomer telepon keluargamu dia juga tahu!" decak Kamil.


Davian menunduk malu dengan ucapan Kamil. "Dari dulu semuanya yang urus Navysah, Aku cuma kerja. Aku berpikir dia tidak akan meninggalkanku seperti ini. Aku hanya tahu rumah Maya, dulu aku pernah diajak kesana sewaktu ke Mall " ucapnya sendu.


Kamil melirik teman sekaligus bosnya. "Lihatkan sekarang!, dia pergi darimu. Semuanya gara - gara keegoisanmu, Aku yakin bukan Navysah yang beruntung mendapatkanmu. Tapi kamu yang beruntung mendapatkan dia" ucapnya. Davian kesal, hari ini banyak orang yang menyalahkannya.


Mereka sampai di perumahan Navysah namun dirinya tidak mendapati istrinya. Davian bertukar nomer telepon karyawan Navysah, agar sewaktu - waktu bisa menghubunginya jika istrinya pulang kemari. Mereka menuju rumah Maya, ada rasa takut dihati Davian mengingat Maya sudah seperti keluarganya Navysah. Mau tidak mau dirinya harus siap menghadapi ini semua.


Assalamualaikum


Walaikumm salam


Maya membuka pintu rumahnya " Eh, Davian tumben kesini, Masuklah!" ucap Maya. Davian masuk bersama Kamil. Terlihat Rico baru keluar dari kamarnya. "Mana Navysah? kok sendirian " tanyanya. Davian terdiam mendengar pertanyaan Rico. Sedangkan Maya dan Rico juga bingung, ada apa gerangan seorang Davian yang selalu sibuk berkunjung kerumah tanpa istrinya.


"Aku harap kalian tidak marah, Aku kesini mencari Navysah. Sudah dua hari dia pergi dari rumah " ucapnya. Maya dan Rico melotot ke arah Davian.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Navysah pergi dari rumah?, asal kamu tahu aja, dia tidak akan meninggalkan rumah jika masalah yang dihadapi sepele. Pasti kamu melakukan kesalahan besar!" seru Maya. Rico mencengkram kerah baju Davian "Katakan apa yang terjadi, beraninya kamu menyakiti Navysah. Dia sudah Aku anggap adikku. Jika terjadi sesuatu padanya, akan kubunuh kau!" ancam Rico. Davian tersedak tidak bisa bernafas, Kamil langsung menghentikan aksi Rico. "Tenang co, kita bisa bicara baik-baik. Kita kesini karena mengkhawatirkannya juga" ucap Kamil sembari melepaskan cengkraman Rico.


"Kau bilang apa!, Aku harus tenang!"bentak Rico menatap tajam padanya. " Bagaimana Aku bisa tenang, Navysah sedang hamil sekarang! sedangkan kita tidak tahu dia dimana" ucapnya.


Davian dan Kamil terkejut mendengar perkataan Rico. " Apa kau bilang, Navysah hamil !" ucapnya bersamaan.

__ADS_1


"Jadi kamu tidak tahu Navysah hamil, sejak pulang dari Semarang dia mampir kesini dan memberi tahukan bahwa dia hamil. Navysah bilang, dia ingin memberi kamu surprise " ucap Maya.


"Dia bilang setelah grand opening butiknya, dia akan memberitahukan kehamilannya padamu. Jika sebelum itu dia bilang, pasti kau akan melarangnya bekerja. Sedangkan butik itu cita - citanya sejak dulu" ucap Rico.


Davian menutup wajahnya dengan tangan, dirinya sudah tidak bisa berkata apa - apa lagi. Hanya airmata yang keluar dari sudut matanya.


Rico mencoba menelepon Bima, namun disana tidak ada keberadaan Navysah, dirinya pun menelepon handphone Navysah namun tidak aktif. Kamil meminta nomer telepon orangtua Navysah yang di kampung, Rico memberikan nomer telepon ibu dan Naysila, mereka saling bertukar nomer telepon. "Pokoknya aku tidak mau tahu, kamu harus mencari Navysah sampai ketemu, kalau tidak awas kamu Davian!. Akan kubuat perhitungan!" ancam Rico.


Kamil pamit pulang, dirinya menggandeng tangan Davian yang masih syok. Mereka pulang ke Jakarta kembali.Di perjalanan Kamil selalu menghembuskan nafasnya." Bingung aku sama kamu Dav, istri hamil masa tidak tahu. Kamu keterlaluan tidak peka, setiap bulan perempuan itu memiliki siklus haid. Masa gitu aja kamu tidak tahu, bukannya kakak dan adikmu perempuan juga" cebik Kamil. "Pantas saja kamu selalu minta makanan asam dan yang lainnya karena kamu nyidam"


Davian mengingat kembali istrinya yang selalu terlihat kecapean dan mengantuk, dirinya pun berpikir selama ini selalu minta makanan apapun pada Kamil dan harus ada jika tidak dirinya pasti marah. "Ya allah, suami macam apa aku ini. Aku sangat berdosa padamu Navysah!. Kemarin Aku mendorongmu, apa sesuatu terjadi pada anak kita Navysah.Kamu dimana sayang!" ucapnya dengan meracau dan frustrasi.


Kamil terkejut dengan ucapan Davian "Kamu bilang apa, mendorongnya!" tanyanya. Davian menceritakan kejadian malam itu pada Kamil hingga dirinya sempat mendorong tubuh istrinya.


Davian mengingat Shafiq "Coba Kamil, kita kerumah sakit dokter jelek itu" pinta Davian. Mereka melajukan mobilnya ke arah rumah sakit. "Coba kamu telepon dia, minta ketemuan di Cafe rumah sakit" perintah Kamil.


"Aku tidak punya nomer handphone dokter itu mil" jawabnya. Kamil melotot kearah Davian. "Lama-lama aku cekik kamu Dav. Ya allah, kenapa sekarang otakmu buntu. Mintalah sama orang rumah,asistenmu. Mereka pasti tahu nomer telepon dokter itu" ucap Kamil. Davian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dirinya menelepon mbak Siti yang biasa menemani Raffa dan Kinan bermain. Setelah mendapat nomer teleponnya dia menelepon dokter Shafiq.


"Assalamualaikum"


"Walaikumm salam, siapa ini" tanya Shafiq.


"Ini Aku Davian" ucapnya.

__ADS_1


"Davian mana, Aku tidak kenal!" ucap Shafiq terkekeh dalam hatinya, sebenarnya dia sudah tahu suatu saat Davian akan meneleponnya.


Davian mencebik "Cih!, Dasar kau!. Aku Davian suaminya Navysah,ayahnya Raffa. Kau ingat" ucapnya.


"Oh ya, Aku ingatnya Navysah dan Raffa. Kalau kamu sorry, gue nggak inget!" ucapnya. "Ada apa kau meneleponku! "


"Aku ingin bertemu denganmu di Cafe rumah sakit, sebentar lagi aku sampai kesana. Tolong temui aku, ada yang ingin kutanyakan"


"Aku sibuk banyak pasien!" ucapnya sembari tertawa dalam hati.


"Sebentar saja, tolong ini penting tentang Navysah!" pinta Davian.


"Baiklah, nanti kalau sudah di Cafe telepon aku" Shafiq langsung menutup teleponnya tanpa salam.


Davian kesal, " Kurang ajar banget dokter jelek itu sok sibuk, kalau aku tidak butuh aku malas bertemu dengannya. Dia sudah memeluk istriku" ucapnya.


"Yaelah!, loe Dav bilang dia sok sibuk. Loe juga sok sibuk sampai tidak tahu istrimu hamil. Sekarang kamu harus menurunkan egomu, minta info sebanyak - banyaknya dari dia. Jangan sampai kamu menyesal lagi" ketus Kamil.


"Kamu itu sebenarnya temanku atau temannya, kenapa kau membelanya" cebik Davian. "Terserah!" Kamil sudah mulai malas menanggapi omelan Davian.


Mereka sampai di Cafe rumah sakit, Davian menelepon Shafiq kembali. Sudah satu jam dirinya menunggu namun Shafiq belum juga muncul hingga membuat Davian kesal. Kamil mencoba menenangkan Davian yang sudah mulai frustrasi. "Sabar, sebentar lagi dia pasti datang. Mungkin dia lagi banyak pasien" ucap Kamil.


Sembari menunggu Davian memeriksa cctv kantor propertinya. Dia ingat Yuni mengatakan Navysah terlihat lusuh dan menangis setelah pembukaan butiknya. Davian dan Kamil melihat Navysah masuk ke kantornya dan mengintip Davian dan Natasha disana. "Kamil, ternyata istriku sudah tahu sejak hari itu, pantas saja dirinya sedikit pendiam dan dingin kepadaku. Aku menyesal Kamil" Davian menutup wajahnya dengan tangan.

__ADS_1


"Sudahlah, ini sudah terjadi. Sekarang kamu harus bersikap baik pada Navysah jika sudah bertemu jangan mengulanginya. Minta info sebanyak - banyaknya pada dokter itu, mungkin dia tahu dimana keberadaan Navysah" ucapnya.


__ADS_2