
Davian sudah selesai membersihkan tubuh istrinya, sedangkan dokter Ifa mengecek keadaan Navysah.
"Keadaanya cukup stabil, tekanan darahnya sudah normal, suplay aliran darah ke otak alhamdulillah lancar. Semoga Navysah bisa cepat siuman" ucap Ifa pada Davian.
"Terima kasih fa, kamu sudah standby menjaga istriku. Kapan pun kamu minta sesuatu, kamu bisa bilang padaku" ucapnya.
"Sudahlah, kayak orang lain saja. Aku sudah menganggap Navysah saudaraku, bukan hanya diriku yang merawatnya tapi ada beberapa dokter spesialis lainnya yang lebih hebat dariku yang selalu sigap merawat Navysah" ucapnya. Dan kau sebaiknya mandi, lihat wajahmu itu sangat mengerikan. Jika Navysah bangun melihatmu seperti itu, yang ada dia koma lagi" Dirinya melihat wajah dan pakaian Davian yang berantakan.
"Satu lagi, aku memberikan akses buat Raffa masuk kesini tapi hanya sebentar tidak baik anak kecil berada disini " ucapnya sembari pergi keluar ruangan.
" Baik, terimakasih fa"
Ini sudah empat hari Navysah koma, kedua bayinya pun sudah dibawa pulang kemarin, mereka diurus bu Fera dan bu Yani dirumah. Hari ini Naysila membawa Raffa bertemu ibunya. Naysila tahu, Navysah sangat sayang dengan anaknya. Baginya Raffa setengah dari nyawanya. Selama ini Raffa mengira ibunya dirumah sakit melahirkan dan dalam masa pemulihan. Raffa masuk bersama Davian dengan menggunakan jubahnya dan topi khusus, sedangkan Naysila sengaja menunggu di luar. "Aku berharap kau bisa mendengar suara anakmu Nav, anakmu dari Raihan. Suami yang engkau cintai dulu,aku tidak mau kamu meninggalkanya, seperti Raihan meninggalkan kalian berdua. Aku tidak mau kehilanganmu, aku tidak mau Raffa menjadi yatim piatu " ucap Naysila dalam hati sembari menangis.
Raffa melihat ibunya berbaring tanpa ada pergerakan sama sekali,hanya ada selang infus, alat bantu pernapasan dan peralatan monitor yang tidak dia mengerti, yang dia tahu Ibunya tidur seperti biasanya.
"Mah.. Mamah, ini Raffa datang mah. Ayo kita pulang mah, dedek udah dirumah sejak kemarin mah?" tanyanya polos
"Ayah, kok mama banyak selang kayak gini" tanyanya sembari menunjuk beberapa alat yang menempel pada ibunya " Nanti mama sakit yah, kalau kayak gini kasihan mama yah"
Davian berkaca - kaca mendengar ucapan anaknya, seperti ada pisau yang menghujam jantungnya, ingin rasanya dia menangis tersedu - sedu melihat keadaan Navysah namun dia tidak ingin terlihat rapuh di depan anaknya " Raffa, mama sedang koma tidak bisa bergerak dan melihat. Mungkin dia hanya bisa mendengarkan kita saja sayang. Doain mama biar sembuh, biar kita bisa kumpul dan bahagia lagi ya Nak!"ucapnya.
Raffa hanya terdiam mendengarkan ayahnya bicara, di umurnya yang masih enam tahun dia tidak mengerti ucapan yang terlalu asing ditelinganya ." Terus kapan mama bangunnya? "
" Belum tahu kapan mama bangun" Davian menundukkan kepala.
"Mama tidak akan seperti ayah Raihan kan yah, meninggalkan Raffa?
Davian diam seribu bahasa,dia tidak menjawab pertanyaan anaknya.Hatinya sakit, dia sangat takut kehilangan istrinya
Raffa ingin menangis, matanya sudah berair dan bibirnya sudah mulai manyun, tidak mendapat jawaban dari ayahnya.
__ADS_1
"Ayah, gendong aku. Aku ingin duduk disisi mama" pintanya.
"Jangan Nak!, mama lagi istirahat"
"Aku mau duduk disini sama mama! " serunya sembari menepuk sisi ranjang Navysah, dirinya sudah mulai menangis.
Davian menuruti keinginan anaknya, dia mendudukan anaknya di sisi ranjang "Mah, ini Raffa mah" lirihnya. " Raffa kangen mama" dirinya mencium pipi ibunya dan memeluknya. Dengan tubuh kecilnya dia merangsek tidur di sisi ibunya yang kosong. "Hiks.. hiks.. Mah, bangun mah jangan tinggalin Raffa. Raffa sayang mama, pengen bobo sama mama lagi dirumah "
"Bangun mah!, mama sayang kan sama Raffa. Raffa pengen main sama mama, belajar, ngaji bareng mama.Raffa janji jadi anak baik dan nurut sama mama, hiks.. hiks" dirinya berceloteh dan menangis di samping telinga ibunya.
Davian tidak kuasa menahan airmatanya,dia melihat anaknya begitu sayang dengan ibunya.
Raffa menangis bertambah kencang di telinga ibunya, suara cemprengnya memekakan telinga yang mendengar, hingga akhirnya dia terpaksa dibawa keluar ruangan. Davian meminta Naysila membawa Raffa pulang.
Sore hari Davian tertidur di kursi sisi ranjang, tangannya sengaja buat bantalan dia tidur. Ada sedikit gerakan yang mengganggu dirinya dan suara sayup-sayup yang terdengar di telinganya.
"Raffa" lirih Navysah dengan mengerjabkan matanya pelan-pelan. Davian mendengar suara istrinya. Dia sangat bahagia Navysah membuka matanya.
"Raffa..." lirihnya lagi. Navysah masih tidak punya tenaga untuk mengerakkan anggota badan yang lain.
Navysah terdiam tidak menjawab ucapan suaminya. Beberapa saat kemudian suster dan Ifa mengecek kesehatannya. "Alhamdulillah sudah stabil,Navysah bangun dari komanya" Ifa menangis sesenggukan.
"Aku haus, badanku lemas seperti tidak bertulang, badanku sakit " Navysah
Ifa segera mengambil air minum dan Navysah meneguk habis minumannya. "Kamu berbaring saja Nav, kalau kamu masih lemas itu wajar sudah empat hari kamu koma dan tubuhmu butuh penyesuaian kembali. Nanti aku panggil dokter Rifan, dia yang menangani keadaanmu dari awal dan aku akan ke dokter fisioterapi agar anggota badanmu bisa digerakan. Kamu istirahatlah"
Davian menangis terharu istrinya kembali lagi, namun dia melihat pandangan Navysah yang masih kosong,bahkan dirinya tidak menyapa Davian. Navysah menutup matanya kembali.
"Biarkan dia istirahat dulu, jangan ganggu dia. Jika dia lapar, kau boleh memberi makan bubur itu" Ifa menunjuk makanan di atas nakas.
Davian menuruti semua perkataan Ifa, baginya sekarang Navysah sudah sadar dari koma itu suatu anugerah. Dirinya keluar dari ruangan untuk menelepon keluarganya, memberitahukan bahwa istrinya sudah sadar. Navysah sedikit membuka matanya, dia tersenyum melihat suaminya selalu setia menunggu dirinya. "Terimakasih mas" gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Dokter Rifan mengecek seluruh kesehatan Navysah, dirinya membawa hasil laboratorium terbaru. Respon mata, gerakan anggota tubuh, dan ucapan darinya merespon dengan baik."Alhamdulillah pak, istri anda dinyatakan sehat. Semuanya kembali normal, dia harus sering menggerakkan anggota tubuhnya lagi"ucap dokter Rifan.
" Terimakasih banyak dok"
"Sama-sama pak, saya permisi dulu"
Navysah masih duduk bersandar di kepala ranjangnya. Dirinya melihat Davian yang duduk di kursi kembali.
"Mas..."ucapnya.
Davian menghampiri dan memeluk istrinya, terdengar isak tangis dan punggung yang sedikit bergetar." Aku baik-baik saja mas, kamu jangan cengeng kayak Kinan" ucap Navysah sembari mengelus punggung suaminya.
"Aku khawatir kamu akan meninggalkanku sayang, aku takut kehilanganmu" ucapnya. Davian menghujani istrinya dengan banyak ciuman di wajahnya. "Aku kangen kamu" lirihnya.
"Tapi aku nggak kangen kamu. Kamu jelek, lihat wajahmu kusut seperti itu" ledeknya.
Mana bayi kita mas, aku ingin melihatnya? "
"Baby kita pulang dari kemarin, kau tahu baby kita mirip denganku. Mereka sangat tampan" jawabnya
"Ya pasti mirip kamulah, kamu yang nyuntik aku tiap malem dan kamu juga yang selalu bikin aku kesal" gerutunya.
"Hehehe, iya iya maafkan semua kesalahan aku" Davian menyuapi istrinya bubur, dia sangat senang Navysah sudah cerewet kembali.
"Yang, kenapa kamu pertama kali bangun dari koma langsung menyebut nama Raffa? Kenapa bukan aku" protesnya.
"Aku mendengar suara Raffa menangis kencang ditelingaku,namun semua tubuhku sulit digerakkan.Aku ingin bangun dari tidur dan memeluk anakku,tapi tidak bisa. Entahlah mas, aku tidak tahu hingga akhirnya aku terbangun dari koma"
"Oh,yaudah sekarang yang penting kamu sehat lagi. Aku sangat bersyukur Allah mengabulkan do'a kita semua" Davian memeluk istrinya kembali, rasanya dia tidak ingin jauh dari istrinya lagi.
* **
__ADS_1
Jangan lupa like, Vote and comment ya gaes. Pumpung hari senin, jangan lupa Vote yang banyak. Hehehehe... βΊοΈπ
Matursuwun yang sudah mampir, jaga kesehatan gaes, lagi hujan terus. Mohon maaf kemarin nggak up, Author lg ngedrop. π. Love u all readerπππ