
Davian mengendong Raffa, anaknya tertidur karena kecapean. Navysah sudah mulai ngantuk dan lapar. Tapi dirinya ingat, mertuanya baru pulang check up di rumah sakit. "Mama mana mas?" tanya Navysah.
"Kayaknya tidur, emang kenapa?"
"Nggak, cuma mau tanya tadi gimana hasilnya bagus nggak?" tanya Navysah lagi.
"Alhamdulillah bagus, udah bersih kanker nya"
"Alhamdulillah"
Navysah menuju dapur, dirinya melihat sayur sop dan ayam goreng. Entah kenapa dirinya tidak berselera melihat makanan itu. Navysah cemberut dan menutup kembali tudung sajinya. Davian mengerti istrinya lapar, "Kamu kenapa, kok tidak makan" tanyanya.
"Aku lapar tapi gak mau makan itu"
"Kamu mau makan apa?" tanya Davian.
Navysah berfikir dan membuka isi kulkasnya, "Aku mau ikan bakar, sambel tomat sama tumis kangkung tauco" pinta Navysah. "Mas, Apa kau mau memasak untukku "
"Gak ah!, ribet masaknya. Beli aja ya" ujar Davian. Navysah berkaca-kaca karena permintaanya tidak dipenuhi. "Tapi Aku mau itu!, Aku ingin kamu yang memasaknya " ucapnya lagi. Davian kesal istrinya tidak memahaminya.
"Aku capek Navysah, baru pulang dari rumah sakit lalu jemput kamu. Mana tadi di rumah sakit lama antrinya !" ucap Davian sembari naik ke lantai dua.
Tanpa terasa air matanya menetes,Navysah merasa diabaikan. Memang jika dipikir kalau masak akan memakan waktu yang lama. Tapi Navysah ingin Davian yang memasaknya. Navysah membuka laci dapur dan memasak mie instan dicampur dengan sayur sawi dan cabe rawit, dirinya ingin makan sesuatu yang panas dan pedas.
Navysah menikmati mie instan, walaupun sering membuatnya tapi kali ini mie nya terasa sangat enak. Davian turun untuk makan siang.
"Kok kamu makan mie instan sih, gak baik untuk kesehatan" ucapnya. "Sayang, aku ingin makan " ucap Davian kembali. Navysah pura-pura tidak mendengar ucapan suaminya dan bergegas menghabiskan mie instan nya. Dirinya langsung kembali ke kamar dan shalat. Melihat wajah suaminya membuat dirinya kesal.
Davian hanya mengelus dada, terkadang Navysah sulit dimengerti. Navysah tidur bersama Raffa, dirinya merasa lelah seharian menemani anaknya liburan.
Imelda datang dengan Feri, Davian melirik mereka berdua dengan tatapan curiga. "Kenapa kau bisa bersama kakakku?" tanya Davian. "Navysah tadi bilang ada yang harus diselesaikan Imelda, Apa kau bisa memberiku penjelasan Feri" Davian menatap tajam wajah temannya.
"Tidak ada!, tidak perlu ikut campur urusanku" tutur Imelda. "Feri, kamu pulanglah! Aku ingin istirahat, besok aku kembali ke Jakarta. Cutiku sudah habis"
__ADS_1
Imelda menarik tangan Feri untuk keluar dari rumahnya. Davian masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Ada apa dengan kalian? jawab Aku"
Imelda memutar bola matanya malas, dirinya masuk kedalam kamar. "Dasar kepo!"
Davian merasa kesal karena diabaikan kakaknya, "Tadi Navysah, sekarang Imelda. Aku akan tanya pada istriku apa yang sebenarnya terjadi" .Davian masuk kedalam kamarnya,tiduran disisi istrinya yang sedang tidur membelakanginya.
Davian sengaja menggoda istrinya, "Sayang bangunlah, Aku tahu kamu belum tidur. Kamu masih hutang penjelasan padaku" Davian menciumi pipi istrinya. Navysah merasa geli karena dicium suaminya.
"Apaan sih, aku mau tidur?!" ketus Navysah. Davian tersenyum melihat istrinya cemberut. "Kamu kenapa, marah sama Aku gara-gara enggak masakin kamu?" tanya Davian.
"Udah tahu nanya?!" ketusnya.
"Emang kamu pengen banget makan itu?"
"Udah nggak!" ketus Navysah.
"Yaudah, Aku gak jadi masakin. Istriku udah gak kepengen!" ledek Davian. Navysah langsung membalikkan badannya, melihat wajah suaminya. "Aku masih mau!" ucapnya.
"Tapi masakanku gak enak Navysah, emang kamu mau makan masakanku?" tanyanya.
"Masakin nggak ya?" ledeknya lagi. Navysah membalikkan tubuhnya, merasa kesal dikerjai Davian. "Kalau gak mau masakin, gak usah menawarkan diri! Bikin Aku tambah kesal aja!" ketus Navysah.
"Iya Aku masakin, kamu tidur aja dulu nanti kalau udah matang Aku bangunin.Tapi ada syaratnya?" pinta Davian.
"Apa lagi!, kenapa ada syaratnya?" lirih Navysah.Davian tersenyum menyeringai, " Beri aku jatah preman" ujarnya, "Aku ingin" bisiknya di telinga istrinya.
"Kagak!, kalau gak mau yasudah, gak usah masak" seru Navysah.
"Dasar Pelit!" decak Davian, dirinya langsung keluar kamar dan memasak untuk istrinya.
Navysah mengira suaminya marah dengannya, sehingga pergi dari kamar dan tidak mau memasak untuknya. "Padahal Aku ingin kamu memasak untukku" ujarnya.
Navysah mengingat - ingat kapan dirinya terakhir menstruasi. Dia mengambil kalender, menghitung dengan teliti. " Aku sudah telat dua hari, apa Aku hamil?" gumamnya. Dirinya merem*s payud*ranya yang terasa kencang. "Aku akan mengeceknya nanti". Navysah kembali tidur.
__ADS_1
Setelah sejam bergelut dengan dapur,akhirnya Davian menyelesaikan masakannya. Dirinya membangunkan istrinya. "Sayang sudah sore,masakannya sudah siap. Ayo kita makan"
Navysah mengerjapkan matanya, mendengar suara suaminya, " Mas masak untukku" ucap Navysah dengan suara parau nya.
" Iya, ayo bangunlah"
Navysah duduk di kepala ranjangnya, melihat wajah suaminya yang lembab karena keringat.Dirinya tidak menyangka Davian memasak untuknya. Navysah mengambil tisu di sisi nakas, membersihkan keringat yang menetes di wajah suaminya. "Cup, makasih sayang" Navysah mencium bibir suaminya.
Davian merasa senang Navysah menciumnya tanpa diminta. Davian kembali mencium istrinya, ciuman yang lebih dalam dari sebelumnya hingga Navysah kesulitan bernafas.Navysah menepuk punggung suaminya minta dilepaskan.
Raffa menggeliat, mengucek matanya. "Mah, lagi ngapain? " ucapnya. Navysah kaget dan langsung mendorong tubuh Davian hingga terjatuh dari ranjang. " Awwww.., sakit Navysah! " ucapnya.
Navysah salah tingkah, takut anaknya melihat kegiatannya bersama Davian. "Mama nggak ngapa-ngapain sayang, tadi ada semut di wajah Ayah jadi mama bersihin" Navysah berbohong.
Davian menggerutu "Udah dimasakin, di tendang lagi! Dirinya turun ke lantai satu dan melihat adiknya makan masakannya.
"Rani..!!" teriak Davian sembari mengambil ikan dan kangkungnya.
"Apa!" ucap Rani tanpa dosa mengunyah makanannya .
"Kenapa kau makan ini!" seru Davian, "Ini milik Navysah, Aku sengaja memasak untuknya!"
"Pelit amat sama adik sendiri!" ujarnya, "Pantas aja masakanya tidak enak ternyata mas yang masak" ledek Rani.
Davian merasa kesal dengan adiknya" Kamu bilang masakanku tidak enak tapi sudah habis setengah ikan dan kangkungnya"
"Karena Aku lapar jadi Aku embat aja makanannya, Aku gak tahu itu milik mba Navysah!" ucapnya. " Tinggal minta budhe masak lagi, sini itu untukku. Aku masih lapar" pinta Rani.
"Jangan!!" Navysah turun bersama Raffa. "Itu milikku!, kamu minta saja sama budhe, pasti ntar dimasakin". Navysah duduk di depan Rani, mengambil nasi dan sayur kangkung,menyuapkan ke mulutnya.
"Mba ngalah aja!, Aku tanggung lagi makan baru nyampe tenggorokan ini" pinta Rani merebut kangkungnya.
"Kagak! Enak aja, aku juga lapar" Navysah merebut kangkungnya lagi dan segera menghabiskanya. Mereka pun saling berebut ikan bakar. Davian hanya menggelengkan kepalanya melihat dua orang wanita saling berebut dan berlomba makan masakanya.
__ADS_1
"Mereka tidak ada yang mau mengalah" ucapnya.