
Waktu berjalan begitu cepat,tidak terasa si kembar sudah berumur dua tahun, Imelda dan Ifa pun sudah melahirkan bayi laki-laki, Jasmine melahirkan bayi perempuan yang cantik. Keseharian Navysah lebih banyak dirumah dia mengasuh di kembar dengan kasih sayang, walaupun terkadang pusing karena mereka saling berebut ibunya, berebut mainan dan ada saja yang membuat Navysah pusing setiap hari dengan tingkah mereka, terlepas dari semua itu mereka anak yang menggemaskan, senyuman dan tawa nya seakan membayar semua kelelahan ibunya. Davian pun selalu pulang cepat, dirinya selalu kangen dengan tingkah anaknya, walaupun capek dia selalu menyempatkan untuk bermain dengan si bocil. Walaupun terkadang saat dia menidurkan anaknya, bukan mereka yang tidur tapi dirinya yang ketiduran. Sekarang baby kembar sedang aktif - aktifnya berjalan, ada saja yang dipegang, kamar berantakan, mainan berserakan dimana - mana. Sifat Davian yang dari dulu serba bersih dan rapi kini hilang sudah, melihat rumah yang berantakan akibat ulah anaknya kini sudah menjadi pemandangan yang biasa baginya,ada saja keributan di pagi hari.
" Sayang, mana dasiku?" tanya Davian.
"Di kasur mas, aku sudah menyiapkannya" teriak Navysah yang berada di kamar mandi. Davian mencari namun tidak ketemu, dia melihat Khaffa menyeret dasinya ke arah ruang tv. "Ya allah, kebiasaan si Fafa ( Khaffa) bikin ulah. Iseng banget ini bocil " Davian mengejarnya dan mengambil dasinya.
Setiap hari Navysah selalu mengajak anaknya berbaris di depan rumah, dia membiasakan anaknya mencium tangan ayahnya sebelum berangkat kerja. Navysah, Raffa, dua anak kembarnya, walaupun terkadang mereka absen karena masih tidur. "Ayah berangkat dulu ya" dia menciumi istri dan seluruh anaknya.
"Iya ayah, hati - hati ayah. We love you" Navysah selalu mengajarkan anaknya selalu mengatakan sayang pada ayahnya. Dan hari ini Davian bingung, sepatunya yang akan dipakainya hilang satu. Biasanya dia selalu meletakkannya di rak sepatu dengan baik. "Mana sepatu ku?" tanyanya sembari mencari sepatunya yang hilang.
"Mana kutahu!" jawab Navysah "Kan mas yang pakai"
" Yah, yah, Aip.. Aip.." ucap Fafa sembari menggoyangkan tangan Ayahnya. Mereka hanya mengerti beberapa kata dan ucapannya tidak jelas. Navysah mengerti apa yang dimaksud anaknya.
"Alif, mana sepatu ayah? Ditaruh dimana nak? " tanyanya sembari mengelus rambut putranya. Alif berjalan ke arah tempat sampah dapur yang terletak tidak jauh darinya dan menunjuk sepatu ayahnya disana. "Na, na, na, na" ucapnya.
Davian mengelus dadanya, menghembuskan nafas kasarnya "Astagfirullah,banyak - banyakin nyebut aja deh kalau udah berurusan dengan si bocil. Sepatu mahalku masuk ke tong sampah. Beneran deh, anak - anakku pada jahil. Perasan dulu Raffa anteng - anteng aja nggak jahil. Ini pasti nih, istriku saat masih bocil kayak gini nih suka jahil jadi anaknya nurun darinya" sindir Davian, menyalahkan istrinya.
" Enak aja!, dulu saat kecil aku pendiam dan penurut. Lihat aku mendidik Raffa dengan baik dan menjadi anak sholeh. Ini pasti kamu nih, kecilnya kamu kayak si bocil jahil dan rese. Iya kan?" Navysah kekeh tidak terima disalahkan.
Davian terkekeh mendengar ucapan istrinya," Terserah kamulah, yang penting sekarang tolong ambilkan sepatu yang lainnya di rak sepatu dalam dan tolong cuci sepatu ini! "ucapnya.
__ADS_1
" Lebih baik aku cari aman daripada pagi-pagi berantem, berabe ntar urusannya ribut sama bini " gumamnya dalam hati.
Navysah mengambil sepatu suaminya yang bersih dan memberikannya.
Davian berlalu pergi ke kantornya, walaupun setiap hari ada aja keributan namun dirinya selalu menikmatinya. Rumah bertambah ramai dengan kehadiran anak - anak, dirinya lebih bersemangat bekerja.
Seperti siang ini, anak - anak yang selalu berantem karena mainan dan sudah dipastikan salah satu dari mereka ada yang menangis, Navysah selalu pura-pura menangis juga agar mereka langsung menghentikan tangisannya.
" Yuk, nangis bareng - bareng yuk. Mama pusing. Hiks.. Hiks.." dirinya menutup mata dengan tangannya dan pura-pura menangis kencang, modus yang sering dia gunakan hingga kedua anaknya menghampiri dan mereka menciumi wajah ibunya.
"Nah, gitu dong. Sayang mama kan. Jangan nangis ya" Navysah
Jika merasa benar - benar stress dengan kedua anak kembarnya, dirinya selalu menyempatkan berkaraoke di ruang keluarga. Dirinya menyanyi tanpa arah, yang penting bisa teriak, itu sudah melepaskan semua beban yang ada di dadanya. Davian pun setiap weekend selalu mengajak keluarga ke mall, mereka berjalan - jalan agar sang istri tidak merasa bosan dan stres dirumah terus.
"Mas, boleh foto nggak?" pinta seorang fans Davian.
"Boleh"
"Yess!, foto dengan Hot daddy, hehehe" ucapnya. Mereka sangat antusias berfoto dengan Davian yang sekarang jarang tampil di televisi ataupun MC lainnya karena sang Hot daddy lebih memilih pekerjaan di jalur bisnis.
Setelah Navysah mengecek butiknya, mereka makan di foodcourt. Navysah mengajak baby sitter nya dan itu lebih aman karena si kembar sangat aktif, dia takut si bocil akan lolos dari pengawasannya.
__ADS_1
Pagi hari,
Navysah merasa mual tidak karuan, Dirinya merasa pusing. Dia menyuruh mbak Siti membeli tespek ke apotik yang selalu buka dua puluh empat jam. Setelah mendapatkannya, dirinya mengecek, dia merasa sangsi karena hampir dua bulan ini dia belum menstruasi.
Harap - harap cemas dia duduk di toilet menunggu alat tesnya bekerja. Setelah beberapa menit dirinya melihatnya.
"Dasar setannnnnn kamu Daviaaannn!!!" teriak Navysah di dalam toilet. "Aku hamil lagi, ya allah. Mana si bocil masih dua tahun lebih " Navysah menjambak rambutnya frustrasi dan melempar alat tespeknya ke arah pintu. Dirinya mengingat bulan lalu belum sempat suntik KB bulanan gara-gara si kembar sakit bebarengan ,demamnya tinggi dan mereka kena cacar air. Dan dirinya mengingat Davian selalu minta jatah premannya, walaupun Navysah selalu menolak karena belum KB namun dengan akal bulus suaminya selalu berhasil mengelabui istrinya.
Davian bergegas ke arah toilet dan membuka pintunya, dia mendengar istrinya berteriak. "Ada apa sayang?" tanyanya.
"Jangan panggil aku sayang, aku kesal denganmu!!. Kau bohong kan katanya selalu buang sp*rmamu di luar tapi apa!" Navysah menangis kencang. Dirinya ingat suaminya selalu beralasan seperti itu, jika dirinya selalu menolak diajak bercinta. Dan saat istrinya mengantuk karena kelelahan mengurus anaknya, dia selalu menjamah milik istrinya tanpa permisi." Aku kan sudah bilang nanti aku KB dulu setelah si kembar sehat, kamu tidak sabaran sih. Kamu nyebelin mas!" dirinya merutuki kebodohannya, setiap ucapan manis suaminya selalu membuatnya luluh.
Davian melihat alat tespek di lantai dan melihatnya "Dua garis" ucapnya dengan tersenyum. "Yesss..!! aku tambah bocil lagi, semoga kali ini cewek ya allah. Aamiin" dirinya menadahkan tangannya dan mengusap wajahnya, mengamini doanya.
Navysah mendelik mendengar do'a suaminya "Kamu ngeselin, selalu bikin aku kesal. Masa aku hamil lagi sih, hiks.. hiks.. " Navysah menangis dan memukul bertubi - tubi lengan suaminya,dirinya membayangkan betapa repotnya mengurus anaknya lagi. Dan sudah dipastikan Raffa akan protes kembali karena kurang perhatian.
" Nggak papa sayang, anak itu rejeki. Aku senang kamu hamil lagi. Aku akan bekerja lebih keras untuk anak-anak kita. Yessss... punya anak lagi " ucapnya tanpa merasa bersalah.
Navysah menggigit lengan suaminya saking gemasnya" Kamu pikir gampang ngurusin anak, aku aja sekarang nggak ada me time, dan sekarang aku hamil lagi " serunya.
" Sudah nggak papa, nanti aku beri baby sitter lagi untuk menjaga anak kita" dirinya membujuk Navysah agar tidak stress dengan kehamilan yang sekarang.Namun istrinya masih uring - uringan mengunci diri di kamar lainnya dan menangisi keadaannya.
__ADS_1
Jangan lupa like, Vote and comment. Love you all reader 😘😘😂