
Davian pulang tengah malam seperti biasa, dia melihat kamarnya kosong. Lalu, dia pun menengok kamar anaknya.
"Kok cuma ada Raffa, Navysah kemana ya?!" lirih Davian menusuri setiap ruangan rumah nya.
Davian menuju lantai satu,dia yakin istrinya ada di ruangan kerja istrinya.Tempat yang berisikan sebuah meja,beberapa baju, mesin jahit dan manekin. Terlihat Navysah yang tertidur di kursi, melipat tanganya di meja untuk bantalan wajah nya,kertas yang berserakan menjadi pemandangan yang biasa untuk nya.
"Ternyata dia disini?" Davi melihat istrinya tidur dengan pulas.
"Nav, bangun!, pindah yuk keatas" bujuk Davi, namun Navysah masih terdiam di alam mimpi nya.
"Kamu bekerja terlalu keras Nav, aku bangga padamu, Ku harap engkau selalu percaya padaku. Aku akan lebih giat bekerja keras untuk kalian" janji Davi dalam hati sembari mencium kening istrinya.
Davi mengendong ala bride style.Meletakan Navysah di ranjang miliknya. "Ah! akhirnya aku bisa memeluk Navysah lagi, asyik!", "Kalo tiap hari begini bisa seranjang aku mau gendong kamu dari bawah keatas, toh kamu tidak terlalu berat untuk ku gendong " Davi tersenyum bahagia.
***
Navysah terbangun dari tidurnya, "Good morning," ucap Davian, "Cup, Cup, cup" dia menciumi istrinya. Navysah masih setengah sadar, kaget dengan perlakuan Davian.
"Aku dimana! , kok bisa tidur disini?" Navysah menggaruk kepala merasa bingung.
"Dikamar kita sayang" ujarnya santai.
Navysah melotot mendengar Davian memanggilnya sayang. "Apaan sih mas!" gerutu Navysah berjalan ke toilet membersihkan diri.
Davian tersenyum melihat Navysah menggerutu padanya.
__ADS_1
"Drt... Drt... Drt..." handphone Navysah bergetar, Davian melihat di layar ponsel siapa yang menelepon istrinya sepagi ini.
"Shafiq, kenapa dia telepon istriku sepagi ini" Davian mengenyitkan keningnya.
"Assalamualaikum" sapa dokter Shafiq
"Walaikumm salam" balas Davian.
Shafiq kaget ternyata suami Navysah yang mengangkatnya" Mmm, permisi pak! Apa ada Navysah?! ujarnya.
"Dokter sialan!, dia panggil aku bapak tapi dia panggil navysah dengan namanya. Emangnya aku bapak nya Navysah?!" gerutu Davian dalam hati.
"Navysahku lagi mandi" ketus Davian, "Ada apa?!" ujar nya lagi.
"Kalau ada pesan, saya akan sampaikan ke Istriku!" Davi sengaja menekankan kata istri.
Dokter Shafiq tersenyum di ujung telepon. Shafiq merasa Davian sedikit cemburu padanya. "Nanti aku telepon Navysah lagi aja pak, terima kasih, Assalamualaikum" ujar nya.
"Walaikumm salam" balas Davian.
"Ada apa dia menghubungi istriku sampai aku tidak boleh tahu" lirih Davian kesal.
Navysah yang keluar dari toilet menggunakan bathrobe menuju lemari untuk mengambil baju, Davian langsung berjalan menghampiri dan memeluk dirinya dari belakang sembari menciumi punggung nya.
"Mas, lepaskan jangan begini!" ujar Navysah yang meronta minta dilepaskan. Kepala davian di curug leher Navysah dan menciumi lagi.
__ADS_1
"Sebentar saja biarkan aku memeluk mu, kamu wangi banget" ucap Davian.
"Habis mandi ya wangilah! , emang kamu masih bau asem" ledek Navysah.
"Aku wangi tahu, coba sini deh kamu cium aku?!" ujar Davian memaksa Navysah agar mencium dirinya.
"Apaan sih mas, kamu itu ada-ada saja" Navysah menggelengkan kepalanya. Navysah masuk ke toilet kembali namun tangannya dicekal Davian.
"Kamu mau kemana?" tanya Davian.
"Ganti baju di toilet" ujar Navysah
"Ganti disini aja, atau aku ikutan ke toilet ya?" Davian terkekeh meledek istri nya.
"Kucekik lehermu kalo berani masuk!" ancam Navysah.
"Kamu gak kepengen merasakan ini" Davian memegang tangan Navysah dan meraba miliknya yang sudah mengeras.
Navysah langsung melotot terkejut dengan benda milik Davian yang mengeras.
"Dasar sinting!!, Navysah memukul dada Davian secara keras." Jangan macem macem kalo nggak aku tendang junior mu biar gak bisa bangun" ancam Navysah kembali.
Davian tertawa terbahak - bahak dan masuk ke dalam kamar mandi. "Oiya, tadi ada dokter kampret yang menelepon mu" ujarnya lagi.
Navysah merasa bingung apa yang dikatakan Davian, "Siapa dokter kampret yang dimaksud" lirih Navysah.
__ADS_1