Cinta Navysah

Cinta Navysah
Davian datang


__ADS_3

Setelah mendapatkan perawatan, kini bu Fera ditempatkan diruang rawat inap. Keluarga Imelda dan Feri menemani bu Fera di rawat. Dokter pun menyarankan agar bu Fera tidak banyak pikiran.


Pak Ibrahim menyuruh Feri dan Imelda untuk pulang beristirahat,sedangkan dirinya berjaga menunggu istrinya di rumah sakit .


Feri melihat Imelda yang selalu diam dan berkaca-kaca sepanjang perjalanan .Dirinya merasa iba dengan keadaan keluarga pacarnya saat ini "Kamu sabar ya yang, mama pasti baik-baik saja" ucapnya sembari mengelus kepala Imelda. " Terima kasih Fer" ucapnya.


Mereka sampai di rumah Imelda, Feri mengusap airmata pacarnya. "Sudahlah, jangan menangis lagi. Nanti cantikmu hilang" Feri mencium kedua mata Imelda.


Hal ini tidak pernah dilakukan Feri sebelumnya,hingga membuat Imelda terkejut "Jangan kayak gitu, aku malu kayak anak kecil saja" gerutunya.


Feri merasa lucu dengan tingkah pacarnya, walaupun Imelda ketus namun jauh dari lubuk hatinya dia orang yang penyayang. "Kalau aku bersikap baik dan manis padamu tinggal terima saja, jangan banyak menggerutu entar cepet tua" ledek Feri.


Imelda langsung memicingkan matanya, "Apa katamu !!" teriak Imelda.


"Nah, itu baru pacarku. Aku lebih suka kamu ketus daripada lihat kamu diam atau nangis, Cup.. Cup " Feri mencuri ciuman dari bibir Imelda..


"Dasar Ngeselin tukang nyosor !,"cebiknya


" Yaudah besok jemput aku jam delapan kita gantian sama Ayah" dirinya turun dari mobil Feri.


"Oke sayangku" Feri mengerlingkan matanya.


* **


Keesokan harinya,


Davian sudah tiba di kota Solo setelah mendapat telepon dari kakaknya kemarin. Dia bergegas pergi menemui ibunya langsung di rumah sakit. Davian merasa bersalah pada ibunya. "Mama.." lirihnya matanya berkaca-kaca. Rani dan pak Ibrahim menengok kearah sumber suara, dilihatnya penampilan Davian yang kurus, rambut gondrong,berantakan.

__ADS_1


"Oh my God.. !, benarkah ini kakakku?" tanya Rani terkejut "Baru dua bulan ditinggal mbak Navysah, kamu sudah seperti ini mas. Apalagi kalau ditinggal selamanya?" selorohnya.


Davian menjambak rambut adiknya, dia tidak terima dengan perkataan Rani. " Awww!! ..., sakit mas. Dasar gila kamu! berani menjambak adikmu sendiri" Rani meringis kesakitan. Pak Ibrahim melerai pertengkaran mereka, melepaskan tangan Davian dari rambut anak perempuannya.


"Sudah mas, lepaskan adikmu kesakitan!" ucap pak Ibrahim. Davian melepaskannya tanpa menjawab sepatah katapun. Dirinya hanya duduk disisi ranjang ibunya. Menatap sendu" Maafkan Davi mah" lirihnya. Mendengar keributan bu Fera mengerjapkan matanya, dirinya melihat anak lelakinya terlihat menyedihkan.


"Ya allah, Davi ini kamu Nak!" ucap bu Fera, dirinya tidak menyangka anaknya lusuh tidak terawat.Bu Fera duduk di kepala ranjang menatap wajah anaknya. "Sini sayang" bu Fera memeluk Davian dengan erat. Sebenarnya dia ingin memarahi anaknya karena membuat Navysah pergi dari rumah tapi melihat keadaan Davian sekarang,dia mengurungkan niatnya.


"Kamu sabar ya, mama yakin Navysah akan kembali padamu. Kamu harus semangat menjalani hidupmu, jangan kayak gini Nak!, Mama sedih lihat kamu kayak gini. Mama hampir tidak mengenalimu sayang" ucapnya.


"Mah! Maafkan Davi, gara-gara aku mama masuk rumah sakit. Aku tidak tahu harus bagaimana mah, Aku kangen Navysah dan Raffa. Aku gak mau cerai darinya.Tolong Davi, bantuin cari Navysah mah!" rengeknya seperti anak kecil mengadu pada ibunya.


"Iya sayang,mama pasti bantuin kamu. Imelda sedang berusaha mencari Navysah, kamu tenang ya sayang. Sudah jangan menangis, mama gak mau lihat kamu lusuh kayak gini" ucapnya.


Pak Ibrahim dan Rani yang melihat pun merasa iba dengan keadaan Davian, tanpa terasa airmatanya mengucur begitu saja. Feri dan Imelda baru datang, mereka pun melihat Davian dan ibunya berpelukan sembari menangis, membuat Imelda sendu.Feri mencoba menguatkan Imelda dengan mengelus punggungnya.


Imelda yang belum masuk ke ruangan rawat langsung bergegas menarik tangan Feri, mereka menjauh dari kamar itu. "Kenapa tidak jadi masuk sayang" tanyanya.


"Kemana?, urusan apa?" tanyanya. Imelda merasa jengah, kenapa Feri begitu lemot untuk berfikir. " Urusan kita dengan orangtuamu!" ketusnya.


Imelda mendaftarkan Feri dan dirinya untuk cek kesehatan. " Kita tunggu disini! " mereka duduk di bangku pengunjung. "Kok laboratorium yang" tanyanya lagi.


Imelda merasa gemes dengan kebodohan pacarnya. "Nih dengerin, kemarin kan ayahmu bicara masalah anak, Apa aku bisa memberikan kamu anak atau tidak!" ucapnya. Feri menganggukan kepala. " Kalau bikin baby kan berdua, jadi tidak hanya aku saja yang di cek, kamu pun harus cek sp*rma!" ucapnya. " Masuklah!, ini gelasnya. Taruh disini" perintahnya.


"Oh, sekarang aku mengerti kenapa kamu kemarin berkata seperti itu. Aku kira kamu ingin mencoba test drive denganku untuk membuat baby" ucapnya cengengesan. "Ternyata kamu mau cek reproduksi kesehatan kita" sambungnya lagi.


Imelda memutar bola matanya malas mendengar ocehan Feri yang tidak bermutu. "Aku Imelda!, tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu. Aku tidak akan melakukannya sebelum pernikahan!" ketusnya.

__ADS_1


Feri tersenyum mendengar ucapan Imelda "Siapa juga yang berani menerjang singa judes sepertimu, belum apa-apa pasti sudah babak belur! " ledeknya. " Apa kau mau membantuku mengisi ini agar cepat terisi " Feri menunjukan gelasnya sembari berlari.


"Feri..!!" teriaknya. "Ya ampun! , kenapa aku bisa jatuh cinta dengan lelaki bodoh seperti itu, dia selalu membuatku kesal" gumamnya.


Setelah Feri selesai, Imelda masuk ke dokter kandungan, dirinya mengecek kesehatan reproduksinya. Setelah semuanya selesai mereka kembali ke ruangan ibu Fera. Mereka melihat Davian yang disuapi mamanya layaknya anak kecil. "Ya ampun!, kamu sudah tua masih saja disuapi mama. Dasar manja!!" ketus Imelda.


Davian hanya memutar bola matanya, dirinya enggan membalas perkataan kakaknya.


"Sudah jangan ribut, mama yang ingin menyuapi Davian mel. Mama ingin Davian sehat seperti semula" ucapnya


" Mas, hari ini kamu potong rambut ya, sudah gondrong lihat wajahmu keliatan lusuh" pinta bu Fera.


Davian menggelengkan kepala "Aku tidak mau potong rambut sebelum bertemu Navysah. Aku ingin dia melihatku seperti ini agar dia tahu bahwa aku sangat menyesal karena perbuatanku, dia pergi dari rumah karena diriku "


"Lah..!!, bilang aja biar mba Navysah kasihan sama kamu mas!, terus biar dia mau balikan sama mas kan" sarkas Rani. Davian menatap tajam kearah Rani "Mulutmu lama - lama kayak Imelda!" ketusnya.


Imelda menoleh karena namanya disebut - sebut " Apa sebut-sebut namaku,Mau aku gagalin pencariannya, biar kamu gak ketemu istrimu!" ancamnya. Davian langsung menghampiri kakaknya dan memeluknya dari belakang. "Jangan..!!, mba harus cari dia untukku. Aku ingin cepat bertemu dengannya" rengeknya seperti anak kecil.


"Lepas..!! Jangan merengek kepadaku,kayak anak kecil saja!" ucapnya. Imelda tersenyum, sudah sangat lama Davian tidak pernah memeluknya seperti ini. Dulu sejak kecil Davian selalu merengek padanya untuk meminta dibelikan permen.


Feri cemberut melihat pacarnya di peluk Davian. "Ehemm.. Ehemm.." dirinya berdehem.


Davian mengerti Feri cemburu padanya. "Apa loe..!! Ada masalah!, gue peluk kakak gue sendiri" ketusnya.


"Apa..!!, Aku cuma berdehem kenapa kau tersinggung"ucapnya.


" Mama Fera dulu waktu nyidam mereka pasti nyidam bakso urat super pedes ya,karena mereka berdua selalu bicara ketus dan galak! "tanyanya pada bu Fera.

__ADS_1


Rani tertawa keras mendengar ucapan mas Feri." Ngomong - ngomong nyidam, kira-kira mbak Navysah kerepotan gak yah mas!?, biasanya kalau orang hamil mintanya aneh - aneh " tanyanya pada Davian.


Davian mulai sendu kembali, dirinya ingat Navysah selalu suka makan. "Aku tidak tahu, semoga anak-anakku tidak terlalu menyusahkan ibunya"


__ADS_2