
Setelah makan malam, Mereka kumpul bersama di ruang tengah."Sayang, besok mas pulang ya?" ucap Denis pada Navysah.
Navysah mendekat pada Denis dan bergelayut manja, "Hati-hati sayangku, jangan ngebut. Jagain mbak Naysila sama anak-anak. Aku titip mereka"
"Kunci rumah kali ah, dititipin" ucap Naysila. Dan mereka tertawa bersama.Namun tidak dengan Davian, dirinya merasa cemburu. Bisa-bisanya Navysah bergelayut manja pada iparnya,matanya menatap tajam ke arah Navysah. Davian merasa tidak suka dengan panggilan sayang yang Denis ucapkan pada istrinya dan cara Navysah bergelayut manja denganya apalagi menyebut iparnya sayang.
"Kurang ajar Navysah, beraninya dia menyebut Denis sayang, sedangkan aku suaminya tidak pernah dipanggil sayang olehnya" ucap Davian dalam hati.
Ibu Yani melihat Davian menatap tajam anaknya, "Navysah, tolong buatan ibu teh?" pintanya. "Baik bu" Navysah masuk ke dapur dan diikuti bu Yani.
"Nav, jangan bergelayut manja pada Denis. Suamimu cemburu" ucap bu Yani.
Navysah menghela nafas panjang, "Bu, mas Davian sudah biasa cemburu kayak gitu. Jangankan sama mas Denis, sama Nara aja dia cemburu" ucap Navysah.
"Sungguh, dia cemburu pada Nara" Bu Yani terkekeh tidak menyangka.
"Alhamdulillah, berarti Suamimu cinta sama kamu Nav, ibu ikut senang. Jadi istri yang baik ya Nav, jangan sampai berantem. Ibu selalu berdo'a anak-anak ibu bahagia dan langgeng pernikahannya sampai jannah"ucap bu Yani.
" Aamin"
Febri menghampiri Navysah dan ibunya. "Mba, aku keluar dulu mau ketemu Jasmine ya" ujarnya.
"Ketemu di mana?, Emang kamu tahu daerah sini. Minta dianter Mang Dirman aja Feb" perintah Navysah.
"Gak usah, Aku pake ojol aja. Kita ketemuan di Cafe Shine, tadi Jasmine WA aku"
"Yaudah ati-ati"
Febri mencium tangan Navysah dan ibunya." Assalamualaikum "ucapnya
" Walaikumm salam " balas Navysah dan ibunya.
Navysah menghubungi Kamil, dirinya tidak ingin ada salah paham antara adiknya dan Kamil. Navysah memberi tahu bahwa mereka bertemu di Cafe Shine.
* **
Di Cafe Shine,
Jasmine menunggu Febri di sudut Cafe," Hai, Jasmine loe dah lama nungguin gue" ucap Febri. Jasmine cemberut, "Biasanya itu cowok yang nungguin cewek buat ngedate, Lah kamu, datang kelamaan" gerutu Jasmine memanyunkan bibirnya.
Febri merasa gemas dengan bibir Jasmine. "Astagfirullah, otakku mulai kotor" gumam Febri dalam hati. "Maaf ya cantik, maafin dedek Febri yang ganteng ini" ujarnya sembari mencolek dagu Jasmine.
"Yaudah, traktir aku makan ntar aku maafin"
"Siap bos!" ucap Febri. "Untung gue udah dapet uang jajan dari mbak Navysah, Yesss gak malu-maluin!!" ucap nya dalam hati.
Mereka bercerita hal-hal yang konyol. Tertawa bersama hingga tidak terasa sudah jam sepuluh malam.Jasmine sangat senang bertemu Febri yang selalu bisa membuatnya tertawa.
__ADS_1
Jasmine teringat, AC dan lampu kamar nya tidak berfungsi." Eh! Feb, loe kan mahasiswa jurusan tehnik. Loe bisa benerin AC sama lampu?" tanya Jasmine.
"Gue jurusan tehnik biasa benerin kendaraan bukan kelistrikan, tapi kalo benerin lampu sama AC mah insyaallah gue bisa, ntar gue periksa dulu apa kerusakanya"
"Yesss!! , Febri bisa benerin lampu dan AC, lumayan gue irit gak bayar tukang service" ucap Jasmine dalam hati.
"Yaudah pulang yuk, udah malem. Lampu gue mati, gue takut" ujar Jasmine.
"Oke"
Mereka menuju apartemen Jasmine. Febri membuntutinya dari belakang. "Loe udah beli lampunya belum?" tanya Febri.
"Udah dong"
Mereka masuk ke kamar Jasmine dan Febri memeriksa saklar lampu.
" Loe mau minum apa Feb" tawar Jasmine menuju dapur.
"Kagak usah!, Tadi udah minum sama loe di Cafe. Disini panas banget sih Jas,bikin gue gerah" Febri membuka dua kancing kemejanya.
Jasmine kembali masuk ke kamar dan rebahan di ranjangnya sembari bermain handphone".
" Saklar nya udah gue benerin, Mana lampu barunya sini gue ganti sekalian "
Jasmine mengambil lampu di Nakasnya,dan memberinya pada Febri.
"Gak ada kursi plastik, loe naik aja ke ranjang gue pasti nyampe kok. tinggal puter lampunya,Kamil juga biasa benerin lampu kayak gitu naik ke atas ranjang" jelas Jasmine.
Jasmine berbaring di ranjangnya sembari bermain handphone dan Febri naik ke ranjang juga untuk mengganti lampu.
Belum sempat Febri mengganti lampu, terdengar suara orang membuka handle pintu.
"Apa-apaan ini!!" teriak Kamil yang melihat tunanganya bersama Febri satu kamar di ranjang dengan suasana gelap.
Jasmine dan Febri kaget melihat Kamil datang. "Tunggu A!!, ini tidak seperti yang kamu lihat, kamu salah paham" seru Jasmine menjelaskan dengan gugup.
"Tenang bro, gue bakal jelasin. Gue kesini cuma bantuin Jasmine ganti lampu sama AC, cuma ini lampu belum sempat gue ganti keburu loe datang.Posisi gue juga berdiri gak macem - macem sama Jasmine. Jadi Loe jangan salah paham" Febri menjelaskan apa yang terjadi.
"Loe bilang gue salah paham!!, Kalian berdua satu ranjang gelap - gelapan masih bilang gue salah paham!, Loe lihat, kancing atas kemeja loe kebuka, gak usah ngeles deh!.Loe suka sama tunangan gue. Kalau loe suka ngomong!!" bentak Kamil pada Febri.
"Dan Loe Jas!, gue gak nyangka loe khianatin gue, kita sebentar lagi mau nikah. Dan loe berani - beraninya bawa cowok ke apartemen. Asal loe tahu aja, gue tahu loe sering keluar masuk club tapi gue masih percaya sama loe Jas. Tapi kali ini nggak!, gue gak mau percaya lagi sama loe, gue sakit hati!. Kalau begitu lebih baik kita batal nikah, gue gak mau nikah sama loe!! " bentak Kamil dengan amarahnya.
Jasmine menangis kencang, dirinya tidak menyangka Kamil akan semarah ini." Please A, kali ini percaya sama gue!,Jangan batalin pernikahan kita. Beberapa bulan lagi kita nikah A,persiapan sudah tujuh puluh persen A. Gue cuma cinta sama loe.Gue cinta banget A!" Jasmine memegang lengan tangan Kamil.
Jasmine ingin memeluk Kamil, mencoba untuk menenangkan tunangannya namun tubuhnya disentak Kamil." Jangan sentuh aku!, lebih baik kita jelasin ke Navysah apa yang terjadi. Loe nikah aja sama Febri bukan denganku "ujarnya dengan suara tinggi.
Kamil menarik tangan Jasmine untuk pergi ke rumah Navysah, Febri pun mengikuti Kamil. Wajahnya gusar, bingung tidak menentu. Pandangannya kosong. Dirinya bingung, apa yang harus dia katakan pada orang tua nya. Di sepanjang Jasmine menangis keras hingga sesenggukan. Dirinya merasa sangat bersalah pada Kamil, dirinya ingin menjelaskan tapi Kamil menyuruhnya untuk diam.
__ADS_1
Sesampainya dirumah semua keluarga Febri berada di ruang tengah sedangkan, Anak-anak sudah tidur.Kamil menarik tangan Jasmine dan menyuruh Febri duduk di sampingnya.
"Ada apa ini Kamil" tanya Davian dengan suara beratnya. " Tanya saja dengan iparmu!" ketus Kamil dengan wajah amarah.
Febri memeluk ibunya dan menceritakan semua apa yang terjadi tanpa menambah - nambahkan. Bu Yani menangis melihat anaknya kepergok bersama tunangan orang di kamar. " Apa yang kamu ceritakan bener Feb, jawab ibu dengan jujur" tanya bu Yani.
"Sumpah bu, Aku menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku memang bandel, playboy tapi aku tidak pernah menerjang anak orang bu kalau belum halal,paling cuma sebatas ciumin bibir anak orang bu, bagian d*da aja gak pernah bu,sumpah bu!" ucap Febri dengan bego nya.
"Febri!!" teriak bu Yani. "Bisa-bisanya kamu bercanda disaat seperti ini!
" Betul bu! Apa yang dikatakan Febri bu, Kami tidak melakukan apa-apa "ucap Jasmine membela.
Navysah menghela nafas panjangnya, memijit keningnya merasa pusing. Dirinya sangat percaya pada adiknya namun tidak ada bukti untuk membelanya.
" Tante, Bagaimana aku tidak marah ketika calon tunanganku satu kamar dengan Febri,ditempat yang gelap apalagi kemeja Febri terbuka dua kancing diatasnya!" ucap Kamil dengan tegas.
"Aku sangat percaya adikku dan Jasmine tidak melakukan sesuatu hal yang kamu tuduhan Kamil, aku memang tidak punya bukti tapi aku percaya mereka" ucap Navysah dengan tegas.
Febri langsung memeluk kakaknya, "Makasih mba Navy sudah percaya sama aku. Beneran mba,aku tidak ada apa-apa dengan Jasmine. Mba kan tahu seleraku anak SMA "
Davian mencoba sabar melihat istrinya dipeluk Febri, ingin rasanya dia melempar Febri ke lautan." Aku percaya dengan adik iparku" ucap Davian tegas.
"Aku juga percaya dengan adikku, walaupun dia playboy. Dia tidak akan menerjang anak orang sebelum halal" ucap Naysila.
"Kami percaya dengan anak kami. Walaupun kami hidup sederhana, kami selalu mendidik anak kami dengan baik"ucap Pak Sulaiman.
" Saya tahu semua karakter adik ipar saya, dan Febri tidak mungkin melakukan hal itu" bela Denis pada iparnya.
Febri berkaca-kaca mendengar semua keluarga dan iparnya membela dirinya. Dia menangis di bahu Navysah.
"Baiklah, kalau kalian semua percaya dengan Febri. Kita akhiri masalah ini. Dan untuk kamu Jasmine, keputusan aku sudah bulat. Kita batalkan saja pernikahan ini!!" ujar Kamil sembari pergi meninggalkan rumah Davian.
Jasmine menangis keras, dirinya tidak akan menyangka hubungan dengan Kamil akan hancur karena ulahnya sendiri. Dirinya mencoba untuk mengejar Kamil namun tidak bisa.
Febri melepaskan pelukannya dari Navysah. Navysah berjalan ke arah Jasmine dan memeluknya."Sudahlah, kamu jangan menangis. Besok mba akan mencoba bicara pada Kamil,Ayo kita masuk. Kamu tidur disini saja, sudah malam"
"Gak mba!, aku gak mau tidur disini. Aku mau pulang saja, mau bertemu A Kamil mba. Aku cinta sama dia, aku enggak mau pernikahanku batal mba"
"Oke, kita anterin kamu pulang"
Di sepanjang perjalanan Jasmine selalu memeluk Navysah dan menangis. Dirinya tidak tahu apa yang harus dilakukan agar Kamil percaya. "Jasmine, please jangan menangis lagi. Besok mba janji ketemu Kamil"
Jasmine sesenggukan, "Makasih mbak sudah percaya padaku dan Maaf Aku salah padamu, maafkan aku tidak menuruti saranmu" ucap Jasmine.
"Sudahlah tidak apa-apa, sekarang tergantung dirimu mau berubah atau tidak"
Davian dan Navysah mengantarkan Jasmine ke Apartemennya. Sebelum pulang, Davian pun sempat mengganti lampu kamar Jasmine yang belum diganti Febri.
__ADS_1