
Pagi ini bu Fera menjalani operasi, sejak semalam dirinya dan Navysah sudah menginap di rumah sakit. "Mama tenang saja ya, insyaallah operasinya berhasil. Jangan lupa berdoa mah" ucap Navysah.
"Iya Nduk!"
Dari luar pak Ibrahim datang membawa makanan. "Nav, makan dulu ini. Kamu harus jaga kesehatan"
"Nanti saja yah, Navysah belum lapar"
"Makan dulu kamu, biar bisa jagain mama" ucapnya.
Navysah menurut dengan ucapan mertuanya. Setelah itu mereka mendorong brankar ke arah ruang operasi. "Jangan lupa mah berdoa dan bersholawat" ucap Navysah lagi.
"Iya sayang"
Navysah dan Ayah Ibra menunggu di di depan ruang operasi. Navysah merasa gelisah, terkadang dirinya duduk dengan melafalkan doa, terkadang dirinya berdiri mondar - mandir. Pak ibra yang melihat menantunya cemas langsung mengelus kepala Navysah, "Tenang Nduk!, operasi mama pasti berhasil.Tadi kamu yang menenangkan mama kenapa kamu sekarang yang gelisah"
Navysah menghembuskan nafasnya,melepaskan semua sesak di dadanya. "Aku khawatir yah sama Mama.Jujur Ayah dan Mama sudah Navysah anggap orang tua sendiri. Navysah gak mau kehilangan Mama. Navysah bahagia punya mertua sebaik kalian, dulu Navysah tidak pernah merasakan mertua sebaik ini.Dan sekarang Navy cemas dengan keadaan mama yah" Navysah menangis.
"Yang udah ya udah, semua ada hikmahnya. Alhamdulillah, Ayah dan Mama juga bahagia punya menantu sebaik kamu, doain mama biar cepat selesai operasinya"
Navysah menganggukan kepala dan mulai tenang setelah menangis, sudah tiga jam lebih mereka menunggu jalannya operasi dan pintu operasi dibuka. Bu Fera masih tertidur, dirinya masih dalam pengaruh obat bius.
Perawat membawa brankar Bu Fera menuju ruang rawat inap. "Alhamdulillah operasi berhasil bu" ucap perawat itu.
"Alhamdulillah" ucap mereka bersama.
"Tolong tebus obat ini" perawat menyodorkan resep dokter.
"Baik sus"
Navysah menembus obat di apotek.sedangkan Pak Ibrahim menunggu Bu Fera di ruang inapnya. Navysah bergegas ke ruangan bu Fera,menunggu mertuanya siuman. Setelah beberapa menit bu Fera tersadar.
"Mas, Navysah" ucapnya
"Ibu istirahat dulu, jangan banyak gerak"ucap Navysah
Mama haus Nduk" lirihnya. Navysah bertanya ke perawat apa sudah boleh pasien minum air putih. Dan dianggukan perawat. Navysah memberi mertuanya air minum dan Bu Fera sedikit lebih bertenaga.
"Alhamdulillah mah, operasinya berhasil" ujar Ibrahim.
"Alhamdulillah"
__ADS_1
"Nduk, kapan Davian datang kesini" tanya bu Fera. Navysah mulai kebingungan, dirinya tidak tahu kapan Davian datang.Navysah hanya diam membisu.
"Nduk, telepon Davi. Mama ingin melihatnya"
"Hah...! Navysah kaget ibu mertuanya ingin menelepon anaknya. Mau gak mau Navysah meneleponnya.
Assalamualaikum
Walaikumm salam
" Nav, kamu akhirnya telepon aku. Alhamdulillah. Aku" belum sempat Davian bicara, Navysah langsung memotong pembicaraan.
"Mama mau ngomong sama kamu" Navysah menyodorkan handphonenya pada bu Fera.
Mereka mengobrol kurang lebih dua puluh menit, Navysah hanya diam mendengarkan pembicaraan.
"Ini Nav sudah" bu Fera menyodorkan handphone menantunya.
Davian dari ujung telepon merasa senang akhirnya bisa melihat wajah istri yang dirindukanya.
"Sayang, lusa aku datang. Aku kangen kamu" ucapnya.
" Tungguin aku ya. Cium aku Nav, aku kangen" ucapnya. Navysah memutar bola matanya malas.
Assalamualaikum"
"Walaikumm salam "
Pak Ibrahim pergi keluar untuk makan siang dan sholat. Navysah menyuapi mertuanya karena bu Fera sedikit kerepotan dengan selang infus di tangannya.
"Nduk, kamu ada masalah apa dengan Davi. Katakan pada mama" pinta bu Fera.
"Gak ada apa-apa mah" Navysah membuang wajahnya ke arah lain.
"Jangan bohong, mama tahu kamu ada masalah dengan Davian. Kamu tidak usah bohong. Kamu sayang kan sama mama, ceritakan sama mama. Ada apa Nduk! "
Navysah mulai menangis, dirinya menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah tangganya. Dirinya sedikit lega mencurahkan semua pada mertuanya.
"Aku kesal mah, selama ini aku selalu sabar tapi Aku seperti tidak dianggap olehnya. Aku selalu menceritakan apa yang aku kerjakan, apa yang aku inginkan tapi tidak denganya.Terkadang aku merasa lelah, apalagi dirinya yang selalu cemburuan tidak jelas" ucap Navysah.
"Maafin anak mama, dia memang sedikit egois tapi mama yakin dia sangat sayang padamu Nduk, dia baru pertama kali berumah tangga. Dia terbiasa mengambil keputusan sendiri, nanti mama bicara denganya, maafin dia ya Nduk" bu Fera mengenggam tangan menantunya. Navysah hanya diam dan tersenyum kecut.
__ADS_1
Setelah tiga hari di rumah sakit bu Fera pulang kembali ke rumah. "Alhamdulillah mama pulang" ucap Rani pada ibunya.
"Nenek, Raffa kangen nenek" ucap Raffa.
Bu Fera merasa terharu dengan sambutan dirumah, walaupun tidak meriah, namun dirinya merasa disayangi seluruh keluarga.
"Ayo makan, budhe sudah siapkan makanan" ucap budhe Asih.
Mereka semua makan di taman yang sudah dihiasi lampu kelap-kelip. Suasana romantis, dengan beberapa bunga. Ayah Ibra pun memberikan sekuntum mawar merah pada istrinya.
"Sejak kapan bapak romantis, biasanya juga enggak" bu Fera tersenyum dengan wajah merona.
"Sejak Navysah ada disini, ini semua Idenya" balas pak Ibrahim.
"Ayah ayo nyanyi, nyanyi koplo yah!" pinta Navysah.
"Ayah gak bisa, nyanyi tembang kenangan aja"
"Yaudah kita nyanyi Ebiet G. Ade" ujar Navysah.
"Jangan dong masa lagu sedih" ucap Rani.
"Yaudah Beautifull girl dari Jose marie chan" Navysah mulai memutar lagunya.Ayah mulai menyanyi walaupun dengan suara yang cukup membuat orang geli mendengarnya,dibantu duet dengan Navysah mereka sedikit terhibur. Ayah mengajak mama berdansa dengan lagu romantis.
"Rani, sini loe! Gantian nyanyi" perintah Navysah.
"Nyanyi dangdutlah biar bisa buat goyang, jangan lagu sedih "ucap Rani, " Anggap aja lagi dugem jadi lagunya pilih yang happy "
" Loe to sama kayak Feri sebelas dua belas, otaknya cuma dugem happy - happy doang"
Rani tertawa keras "Jangan kenceng - kenceng Ayah Ibu gak tahu aku cewe dugem. Yang Mereka tahu aku anak manis dan baik hati " bisik Rani, " Dan mendengar musik kayak gini jiwa dugemku mulai berjoget" Rani tersenyum lebar.
"Dasar PE'A"ucap Navysah.
" Sesama PE'A dilarang saling mengejek" ucap Rani. Dan mereka tertawa. Dan benar saja tidak jauh dari lagu dangdut,mereka berdua berduet dan berjoget bersama. Pak Ibrahim dan bu Fera baru pertama kali melihat sisi lain dari menantunya merasa terkejut. Mereka tidak percaya Navysah segila itu. Tanpa rasa malu berlenggak-lenggok bagai cacing tanah.
***
Tengah malam Navysah tidur, dirinya merasa ada benda berat yang menindih pinggangnya. Dirinya mengira bermimpi dengan seekor kucing yang mengendus - endus pipinya. Bermimpi kucing itu mengelus lengannya dan menciumi wajahnya. Dirinya tidak sadar ternyata suaminya yang sedang memeluk dan menciuminya. Davian dan Imelda pulang tengah malam sampai rumah sehingga Navysah tidak tahu suaminya datang.
Davian selalu mencium aroma tubuh istrinya,menatapnya dengan intens, mencium curuk leher istrinya hingga lolos desahan suara istrinya.Davian menghentikan aksinya, dirinya takut Navysah bangun dan akan menjambaknya.Lebih baik tidur bersama, besok baru memberikan istrinya penjelasan tentang masalah yang terjadi.
__ADS_1