Cinta Navysah

Cinta Navysah
Kartu ajaib


__ADS_3

Bu Fera menghubungi anaknya dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, namun Davian enggan bercerita, dirinya hanya beralasan salah paham saja. Raffa yang melihat wajah Ayahnya di ponsel merasa senang, dirinya ingin segera bertemu Ayahnya.


"Iya sayang nanti ayah nyusul, mama mana?" tanya Davian.


"Mama bobo" ucap Raffa.


"Yaudah Raffa istirahat ya, Ayah masih di restoran. Oke sayang "


"Oke yah"


***


Keesokan harinya Navysah membantu budhe Asih di dapur. "Hari ini masak apa budhe? " tanyanya.


"Mbak Navy mau makan apa nanti budhe masakin? "


"Apa yah" Navysah berfikir. "Maunya makan yang yang jarang navy makan,bosen itu itu mulu"


"Gudeg mau mbak, atau cemilan serabi Not*suman.Budhe mau ke pasar, nanti budhe mampir beliin mbak makanan" tawar budhe Asih.


"Boleh, nanti aku ikut ya budhe. Kan ke rumah sakit agak siang, ayo kita ke pasar dulu pumpung masih pagi Raffa belum bangun"


"Baiklah"


Navysah menitipkan Raffa pada Rani, karena dirinya ingin ke pasar. "Rani, kalau Raffa bangun terus rewel kamu video call aja Kinan. Dia pasti diem"


"Oke mbak"


Navysah pergi ke pasar bersama budhe Asih. Mereka menuju pasar terdekat.Mereka memilih- milih belanjaan yang akan di beli. "Udah mbak, ayo kita beli gudeg" ucap budhe Asih.


"Oke" Mereka membeli beberapa porsi untuk keluarga Davian.


Navysah berjalan sepanjang pasar, melihat banyak makanan, dirinya harus menelan salivanya. "Ya allah godaan pagi hari, banyak makanan enak. Aku mau semua itu"


Navysah membeli sosis solo, serabi, es dawet, baso polos untuk Raffa,jamu kunyit asem.


"Mbak Navy yakin makan ini semua, ini sudah banyak banget takutnya mubazir" tanya budhe Asih.


"Budhe Asih tenang saja, aku kuat makan. Habis makanannya kelihatan enak,Aku mau semua" Navysah terkekeh dan berjalan kembali. Dirinya berhenti di depan sebuah toko emas dan berdiri mematung. Budhe Asih bingung, kenapa Navysah bengong melihat toko tersebut.


"Mbak Navy kenapa?, mba mau beli emas" tanya budhe Asih.


"Ayo kita lihat - lihat" Navysah masuk ke area toko dan melihat beberapa koleksi emas.


"Silahkan dilihat-lihat perhiasan, monggo" ucap karyawan toko. Navysah memilih sebuah cincin.


"Aku mau lihat itu" tunjuknya.


Karyawan toko mengambil barang yang diinginkan Navysah. " Ini"


Navysah memakaikan cincin ke jari budhe Asih, " Lho, kok saya mbak! Kan mbak Navy yang mau beli"


"Budhe suka nggak?" tanya Navysah


Budhe tersipu malu, "Ya kalau budhe dikasih kayak gini ya pasti suka mbak"

__ADS_1


"Oke, bungkus"


Navysah melihat - lihat cincin dan kalung. "Yang ini, ini dan yang ini" tunjuknya.


"Mbak navy mau beli itu juga?" tanya budhe.


"Iya buat mama Fera dan Rani, selama ini Aku tidak pernah memberinya hadiah" ucap Navysah.


"Budhe tau apa hadiah yang diinginkan ibu Fera mbak?"ucap budhe.


"Apa?, nanti pasti Aku belikan" ucap Navysah.


"Hadiahnya cucu, soalnya dia sangat menginginkanya" budhe Asih terkekeh.


Navysah menghembuskan nafas kasarnya.


Entah kenapa Navysah ingat Davian dan rasa kesalnya mulai kambuh "Mbak, ada Logam Mulia yang seratus gram nggak?


" Ada mbak, nanti aku ambilkan"


"Yaudah aku beli itu, dan tadi yang aku pilih"


Karyawan toko kaget di pagi hari dirinya sudah mendapat konsumen loyal. " Jadi tiga cincin, satu kalung dan satu Logam Mulia seratus gram ya bu" ucapnya.


"Betul", Navysah mengeluarkan kartu kredit ajaibnya dan membayar semua tagihanya.


"Ah!, kenapa hari ini aku merasa sangat senang" Navysah tersenyum menyeringai.


Mereka pulang kerumah setelah membeli yang diinginkan.


Di ruang makan budhe Asih menyiapkan semua makanan yang dibeli Navysah. "Cendolnya masukin aja budhe buat entar sore aku pulang dari rumah sakit"


"Iya"


Bu Fera datang ke ruang makan, "Beli apa Nduk? "tanyanya.


" Beli makanan ini semua" sembari mengunyah makananya.


Bu Fera kaget dengan semua makanan yang ada di meja, apalagi dirinya melirik menantunya makan dengan lahap.


"Ini buat Mama" Navysah menyodorkan box perhiasan.


"Apa ini" bu Fera membuka kotak perhiasan. " Bagus sekali" ucapnya.


"Kok kamu repot-repot beliin, perhiasan Mama juga sudah banyak Nduk" ucapnya.


"Navysah gak tahu mama sukanya apa, tadi lihat perhiasan jadi Navy beli itu buat mama. Navy gak pernah kasih mama apa-apa jadi cuma itu yang bisa Navy kasih, cincin yang satunya punya Rani" ucap Navysah.


Bu Fera tersenyum melihat ketulusan menantunya."Makasih ya Nduk"


"Saya juga dikasih bu, nih" budhe Asih menunjukkan cincinnya pada majikannya.


Mereka bersiap untuk ke rumah sakit,dan melakukan medical check up bu Fera. Dari satu ruangan ke ruangan lain.Navysah membayar semua tagihan rumah sakit mertuanya. "Kok kamu yang bayar semua Nduk" tanya bu Fera.


"Yang bayar bukan Aku mah, tapi mas Davian, hahaha" Navysah tertawa keras.

__ADS_1


"Kamu ini Nav, ada - ada saja" bu Fera tersenyum.


Mereka kembali ke rumah sore hari. Navysah merasa lelah, Raffa sedang video call Kinan. Navysah pun ikut nimbrung bersamanya.


"Mama, Kinan kangen" ucapnya


"Iya Mama juga kangen, Raffa juga kangen Kinan"


"Cepetan pulang ya mah, Kinan pengen ketemu Mama"


"Iya sayang sabar ya, yaudah Kinan ngobrol sama Raffa dulu. Mama mau mandi belum sholat juga"


"Iya mah"


Rani yang mendengar kakak iparnya dipanggil mama oleh Kinan merasa terkejut. "Emang mas Davi nggak marah? Mba dipanggil mama sama Kinan, Dia kan cemburuan"


"Ya cemburu, tapi kan mba gak telepon Shafiq.Kamu tahu sendiri Kinan tidak punya mama, Raffa suka main sama Kinan, masa mba mau melarangnya.Dia sudah pintar video call sendiri tanpa mba, jadi bukan mba yang meneleponnya" ucap Navysah.


Navysah pergi ke kamar mandi setelah itu sholat.


* * *


Di Restoran Davian.


"Loe jadi resign bro?" tanya Feri


"Udah, lusa gue kerja terakhir. Mama mau operasi. Gue mau pulang ke Solo dulu"


"Gimana loe dah baikan sama Navysah?" tanya Rayyan.


"Belum, dia gak angkat telepon gue. Cuma Raffa yang telepon"


"Loe sih!, gue kan udah bilang loe harus ngomong sama Navysah. Eh, loe kagak mau.Alasannya biar dia gak kepikiran, biar dia fokus hamil.Yaudah derita loe!" ucap Feri.


Davian menghela nafas panjangnya"Nanti kalau aku ketemu, aku jelasin ke dia"


Rayyan menepuk bahu Davian "Loe itu bukan sendiri lagi, loe udah nikah. Apapun itu harus dibicarakan agar bini loe merasa dihargai,bukan ambil keputusan sendiri. Jangan egois!"


"Tuh dengerin pak ustad tua ngomong!" ucap Feri.


"Dan loe, nikah cepet sono jangan sama cabe-cabean mulu. Capek gue liatnya, tiap bulan ceweknya ganti terus udah kayak kalender!" ucap Rayyan pada Feri.


"Gue juga lusa ke Solo, kali ini gue beneran mau serius. Gue mau kenalan sama anak temen bapak gue, katanya sih cantik. Mungkin kita tunangan akhir tahun ini" tegas Feri.


Davian dan Rayyan tertawa terbahak - bahak tidak percaya seorang Feri sang casanova bisa serius dengan hubunganya. "Gue gak percaya loe bisa serius sama anak orang" sindir Davian.


"Ah, Hoak loe! Paling entar sebulan langsung cerai" sindir Rayyan.


"Punya temen kampret kayak gini, disaat gue serius gak ada yang percaya"


Davian mendapat notifikasi dari handphone nya, matanya melotot tidak percaya. "Navysah kebiasaan kamu yah, kalau ngambek sama aku pasti pakai kartu kredit seenak jidat!, kamu beli apa saja dari tadi pagi banyak banget jumlahnya"


Rayyan dan Feri tertawa melihat Davian frustrasi. "Bagus Navysah, habisin duit Davian.Biar dia kerja rodi tiap hari " ucap Feri terkekeh.


"Nyenengin istri berkah tau Dav, paling dia pake dikit doang. Jangan pelit sama istri"

__ADS_1


"Dikit pala loe peyang!. Dua hari dia ngambek, lebih dari dua ratus juta melayang" ucap Davian.


Dan Mereka tertawa mendengar Davian menggerutu.


__ADS_2