
Pagi hari sebelum bekerja Davian mengetuk pintu kamar anaknya. "Sayang, bangun dong. Aku mau kerja, kamu gak buatin aku kopi?! , Raffa sayang, kamu mau ikut gak ke Mall nanti sore. Buka dulu pintunya ayah mau ngomong! " ucap Davian.
Didalam ruangan kamar, Raffa disuruh diam oleh ibunya. "Mama, ayah panggil kita katanya nanti sore mau ke Mall, Ayo buka pintunya mah!" bisik Raffa di telinga ibunya.
"Nggak!, Ayah bo'ong dia ngajak kita ke Mall. Udah Raffa main handphone aja,di silent suaranya. Nanti siang kita ke rumah nenek di Solo. Nenek sakit, kita harus kesana ya Nak" bisik Navysah.
"Iya mah , tapi Raffa lapar"
Navysah membuka tas kecil Raffa, masih ada cemilan dan air minum yang selalu Raffa bawa. "Ini makanlah, bentar lagi kita keluar kalau Ayah udah pergi kerja"
Raffa memakan cemilan dan air minumnya. "Pelan-pelan makannya, mama gak minta kok!, ujar Navysah.
Navysah tidak mendengar suara Davian lagi. Dirinya melihat jam dinding, sebentar lagi suaminya akan berangkat kerja.
Di lantai bawah Davian merasa kesal, Navysah tidak mau membuka pintunya. Setelah minum kopi dirinya pergi ke kantor.
Navysah mendengar suara mobil keluar dari garasi. Dirinya dan Raffa ikut keluar kamar. Turun ke bawah bertemu asistennya." Budhe, tolong buatan Aku tumis capcay dan ayam bakar pedas, cepet ya" pinta Navysah.
Budhe Salma mengenyitkan dahi, " Tumben ibu mau capcay, biasanya ibu kurang suka" tanyanya.
"Aku lagi pengen aja, sekalian buatin sayur bayam buat Raffa" pinta nya kembali.
"Siap bu"
Navysah kembali ke atas dan melihat Raffa yang sudah mandi dan wangi. "Raffa main dulu sama mba Siti ya, mama mau beberes. Navysah membereskan beberapa baju di koper dan memasukkan baju dan mainan anaknya. Setelah selesai membereskan dan mandi dirinya pergi ke ruang makan menyantap makanan dan menyuapi anaknya.
Dirinya berpamitan dengan asisten pembantu dan mbak Siti. Navysah pergi ke Solo hanya dengan Raffa dan diantar Mang Dirman menuju bandara.
"Ibu sudah pamit bapak bu" tanya Mang Dirman.
"Belum"
"Nanti bapak nyariin bu, Nanti aku diomelin lagi bu" jawab Mang Dirman dengan takut.
"Mamang tenang aja.Dia tidak akan memecat mamang, percaya denganku. Nanti tugas mamang anterin Yuni kirim barang. Mengerti! " ucap Navysah.
"Iya bu"
Mereka telah tiba di bandara Soeta menuju Adi Soemarmo.
***
Davian di kantor merasa gelisah mendapat pesan dari asisten rumah tangga. Navysah dan Raffa pergi ke Solo tanpa bicara dengannya.
"Shit!!" Navysah ngeselin banget sih, kenapa gak pamit aku. Kenapa gak minta izin padaku dan sekarang handphonenya tidak aktif, bukannya mama operasi tiga hari lagi. Aku harus menyelesaikan semuanya, baru aku ke Solo" gumamnya.
Davian menerima pesan video dari Kamil. Semalam, Davian menghubungi Kamil untuk meminta rekaman toilet saat istrinya dihina. Dirinya langsung mencari ketiga wanita yang telah membuat istrinya bersedih dan memberikan mereka hukuman pekerjaan. Sedangkan, Rizki Raditia hari ini hari yang sial baginya, mendapat setumpuk pekerjaan yang harus diselesaikan hari itu juga.Dirinya harus lembur semalaman.
__ADS_1
***
Di bandara Adi Soemarmo,
Navysah dan anaknya sampai kota Solo, dirinya lupa membawa oleh-oleh untuk mertuanya.Dirinya mampir ke toko kue dan membeli beberapa kue dan cemilan untuk mertuanya. "Aku tidak tahu kesukaan orang tua Davian, biarlah aku beli ini semoga mereka suka" gumam Navysah.
Navysah merasa pusing dan mual setelah perjalanan jauh. " Sepertinya aku masuk angin, AC di pesawat terlalu dingin badanku menggigil"
Raffa pun mulai rewel, dirinya mengantuk dan lelah. Sedari turun dari pesawat, Raffa selalu uring-uringan dan menangis. Navysah merasa sedikit emosi pada anaknya. "Ya allah, sabar-sabar" Navysah mengelus dadanya. "Kamu itu kenapa sih Raff tumben banget rewel. Kamu capek?! Sini mama peluk, jangan rewel dulu mama lagi pusing juga ini" pinta Navysah.
"Raffa kangen Ayah Davi sama Kinan mah, ayo mah pulang ketemu Ayah Davi" pinta Raffa menarik- narik baju ibunya.
"Nanti Ayah Davi jemput kita. Kamu jangan rewel, mama pusing. Nanti mama cubit nih!" ucap Navysah yang mulai emosi.
"Kapan mah ayah Davi jemput kita?"
"Kapan - kapan" ketus Navysah.
"Kapan-kapan berarti besok mah?" tanyanya lagi.
"Iya" jawab Navysah asal, Raffa mulai senang karena mendapat jawaban yang dia mau, dirinya kembali ceriwis bertanya pada ibunya tentang apa yang dia lihat di sepanjang jalan. Navysah hanya bisa menghela nafas panjangnya.
"Untung anak aku kamu Raff, kalau nggak mama telen nih!. Mana, pusing banget. Ini, si bocah ceriwis nya minta ampun" lirih nya sembari memijit kening.
Dan mereka sampai di rumah orang tua Davian.
Walaikumm salam
Navysah mencium tangan budhe Asih, asisten rumah tangga di rumah orangtua Davian.
Silakan masuk mba? Ucap budhe Asih.
" Makasih budhe, mama Fera mana? tanya Navysah yang masih mengendong Raffa, dan menyeret kopernya masuk kedalam.
" Ibu lagi di kamar, sebentar saya panggilkan, mbak Navy mau minum apa? " tanya budhe.
" Tolong buatkan saya teh hangat, kepala saya pusing dan mual budhe" pinta Navysah.
"Baik mbak"
"Raffa turun dong, mama capek.Jangan gendong terus, Raffa udah tambah berat tahu" pinta Navysah. Raffa menangis keras, entah kenapa dirinya benar - benar rewel hari ini.
"Mama jahat!, Mama Jahat!" teriak Raffa.
Bu Fera dan pak Ibrahim menemui menantunya. "Nav, kamu sehat?" tanya bu Fera.
"Alhamdulillah mah" Navysah mencium tangan kedua orangtua Davian.
__ADS_1
"Ini Raffa rewel mulu, dari bandara kesini nangis dan gendong terus mah" Navysah cemberut.
"Ayo, sini sama kakek. Raffa mau kan?" bujuk pak Ibrahim.
"Nggak!" Raffa merajuk dan tetap menangis.
Rani baru datang dari pabrik. "Mbak Navy udah datang?" Rani mencium tangan kakak iparnya.
"Udah, tuh sana gendong tante Rani. Mau ke Mall dia beli mainan sama permen y*pi. Ikut sana!" ujar Navysah.
Raffa mendengar kata Mall langsung berhenti menangis. "Beneran tante mau ke Mall? tanya Raffa.
" Oh, iya! Nanti ke Mall ya sama tante" ucap Rani sembari mengendong Raffa. " Busyeeettt!, berat banget kamu Raff. Kuat juga Navysah gendong galon hidup" ucap Rani terkekeh.
Bu Fera dan pak Ibrahim tertawa, entah sejak kapan Rani menjadi orang yang humoris.
"Sama Ayah Davi dan Mami Imel" tanya Raffa.
"Gak, Kan ayah Davi sama mami Imel di Jakarta" ucap Rani.
"Tapi Raffa kangen" ucapnya, "Raffa belum lihat Ayah hari ini, mama gak bolehin" ucapnya polos. Navysah langsung menutup mulut anaknya. "Rani, mba nitip Raffa ya. Mba mau istirahat dulu" pinta Navysah.
"Iya mba" Rani membawa Raffa ke kamar tidurnya.
Bu Fera merasa curiga dengan ucapan Raffa tadi. "Apa kalian bertengkar" tanyanya.
Navysah merasa gugup "Nggak kok mah, Navysah ke kamar dulu mah, mau istirahat"
"Pasti mereka bertengkar, ada yang tidak beres" gumam bu Fera.
Navysah meminta budhe Asih untuk membalur tubuhnya dengan minyak gosok.
Budhe Asih turun kebawah mencari obat masuk angin dan minyak kayu putih. Dirinya berpapasan dengan bu Fera. "Cari apa budhe? "
"Ini bu minyak kayu putih, sama obat masuk angin buat mbak Navy. Dia tadi muntah terus dan badannya anget, kepalanya pusing"
Bu Fera menengok menantunya membawa jahe hangat. "Minumlah Nav biar kamu cepat sehat, Apa disini ada calon cucuku!" bu Fera mengelus perut Navysah penuh harap.
"Nggak kok mah, Navy gak hamil. Tadi naik pesawat AC nya terlalu dingin, dan Navy pusing" ucapnya.
"Mama kira kamu hamil sayang, pasti mama sangat senang dan bersyukur bisa punya cucu darimu"
"Do'ain aja mah" ucapnya dengan kikuk.
"Besok mama check up kan persiapan operasi kan, nanti Navy yang antar. Navy yakin mama insyaallah sembuh" ucapnya lagi.
"Aamiin. Yaudah, kamu istirahat "
__ADS_1
"Ya Mah"