
Kamil pulang ke Apartemennya pukul sebelas malam, hari ini dirinya benar - benar dikerjain Davian.Apalagi tubuhnya terasa sakit setelah dibanting Navysah.
"Ceklek"
Kamil masuk dan melihat Jasmine duduk menunggu dirinya. Dengan pura-pura cuek dan dingin Kamil berjalan kearah kamar.
"Ngapain kamu kesini lagi" ketus Kamil tanpa melihat tunanganya.
"A Kamil, please dengerin aku A!, Aku tidak ada perasaan dengan Febri. Percaya padaku A" Jasmine memeluk Kamil dengan erat.
"Lepaskan!, Aku tidak mau kamu peluk!" Kamil pura-pura meronta.
"A...!" Jasmine menangis dan memegang lengan Kamil yang sakit. "Issss" desis Kamil.
"AA kenapa, lengannya sakit" tanya Jasmine.
"Aku dijambak, lenganku dipelintir dan diriku dibanting Navysah.Dia beneran gila, kalau marah tenaga monsternya keluar. Dia selalu membelamu dan Febri!" seru Kamil. "Pulanglah, aku ingin istirahat" Kamil berbaring di ranjang dan menutup wajahnya.
"A..!, aku sayang dan cinta banget sama kamu. Aku tidak ingin pernikahan kita batal. Aku harus bagaimana agar kau percaya dan mau memaafkanku" lirihnya sembari duduk di sisi ranjang.
Kamil membuka matanya, menatap tajam tunanganya. "Kamu ingin aku maafkan agar pernikahan kita tidak batal?, Kamu selalu menggodaku dan merayuku Jasmine. Sekarang Aku mau tubuhmu, Aku mau berc*nta denganmu" ucap Kamil dengan senyum menyeringai.
"AA....!!! teriak Jasmine,dirinya tidak menyangka seorang Kamil yang tidak tertarik dia goda, sekarang meminta lebih padanya.
" Gak bisa kan!, Jadi tidak usah bicara cinta padaku.Pergilah! "ucap Kamil menutup mata kembali.
Jasmine bingung di satu sisi dirinya benar-benar cinta dengan Kamil, tidak ingin batal menikah. Di satu sisi, dirinya ingin memberikan mahkota pada Kamil setelah adanya pernikahan.
Jasmine membuka kancing kemejanya, pikiranya sudah tidak bisa berfikir jernih. Terlihat buah d*da yang menyembul keatas dengan br* warna hitam. " A..., aku berikan semuanya padamu. Aku mencintaimu A" lirihnya dengan tangisan.
Kamil kaget dirinya tidak menyangka Jasmine senekat itu demi memenuhi permintaanya.Kamil menutup kembali kancing kemeja Jasmine. "Jangan lakukan seperti ini lagi, Seharusnya kamu menampar aku Jasmine" Kamil memeluk tunangannya.
"Aku bingung A..."
Kamil mencium bibir Jasmine,ciuman lembut untuk menenangkan Jasmine. " Aku tidak akan membatalkan pernikahan kita, Aku juga mencintaimu. Please, aku ingin kamu berubah. Dan jangan menyuruhku memilih antara kamu atau Davian. Perlu kamu tahu Jasmine, Aku dan Davian sudah seperti saudara. Aku tidak bisa meninggalkanya" ucap Kami.
"Aku janji akan berubah, Maafkan aku selama ini aku bersalah" seru Jasmine.
"Aku percaya denganmu, Sekarang tidurlah di kamar sebelah. Hari ini aku benar-benar lelah"
"Baik A" Jasmine keluar dari kamar Kamil.
__ADS_1
***
Navysah benar-benar sibuk dengan orderan yang begitu membludak. Semua baju kemeja,tunik maupun gaun yang dia kenakan mulai diminati banyak orang. Dirinya orang yang sederhana, sejak dulu Navysah memakai produk desain sendiri, ibarat etalase berjalan dirinya selalu memposting model baju yang dia gunakan. Terkadang, Navysah selalu membawa Raffa ikut kemana pun dia pergi.
Davian pun sibuk tidak sempat bermain dengan Raffa.Dirinya selalu pulang malam,dirinya berniat untuk resign dari perusahaan dia bekerja. Davian mulai melirik bisnis properti. Apalagi, orangtua nya mau membantunya. Davi ingin waktunya lebih fleksibel untuk keluarga.
Di ruang tengah Raffa belajar bersama Kinan dan Mbak Siti. "Raffa sayang kamu kenapa kok gak semangat?" tanya Mbak Siti.
Raffa cemberut, dirinya bangun siang dan tidak menemukan Mama dan Ayahnya. " Raffa kok hari ini tidak diajak mama, Raffa kangen mbak" ujarnya.
"Nanti juga mama pulang sore, sekarang belajar dulu sama Kinan"
"Iya Raffa, kita belajar. Nanti mama pulang, Aku juga kangen sama Mama" ucap Kinan.
Raffa melihat tulisan Kinan yang tidak rapi. Mereka hari ini menulis huruf alfabet. "Kinan cengeng, tulisannya jelek! " ucap Raffa. " Nih, tulisan Raffa bagus. Kamu pegang pensilnya salah, harus begini" Raffa mencoba membetulkan cara memegang pensil Kinan. Kinan cemberut dengan perkataan Raffa.
Dari luar rumah terdengar suara Imelda memanggil ponakannya. "Raffa, Mami datang!" ucap Imelda.
"Mamii..." teriak Raffa memeluk maminya. "Mami sehat?"
"Alhamdulillah sehat" ucapnya. Imelda melihat Kinan yang mengumpet di belakang pintu.Kinan malu bertemu orang asing.
"Itu Kinan cengeng, teman Raffa mih" ucap Raffa. " Kok pagi sudah disini? " Imelda bertanya sembari mengandeng kedua bocah kedalam rumah.
"Iya mih, Kinan terkadang menginap disini, tadi diantar neneknya. Kata mama, Kinan gak punya mama jadi Kinan panggilnya mama Navysah juga" Raffa mengadu pada mami nya.
Imelda mengenyitkan dahi, "Kinan punya ayah?" tanyanya pada Kinan. "Punya, ayah Shafiq" ucapnya polos.
"Apa Davian tidak cemburu, dia kan sangat mencintai Navysah"ucap Imelda dalam hati." Ayo kita belajar, sini mami yang temenin " Imelda mulai mengajarkan Raffa dan Kinan mengeja huruf dan membaca.
Satu jam kemudian,
Feri masuk ke dalam rumah Davian. dirinya cuti karena ingin bermain dengan wanita cantiknya, namun Davian menyuruhnya mengambil flashdisk di lemari nakasnya, Mereka ingin bekerja sama dalam bidang properti.Davian ingin Feri membaca proposal dan mempelajarinya, dirinya juga bilang Raffa hari ini sendiri karena Navysah pergi terlalu pagi.
"Raffa sayang, papih datang! " teriak Feri sembari berjalan masuk rumah.Feri melihat Imelda yang sedang mengajari Raffa. Imelda melirik dirinya, namun Feri berlagak tidak peduli.Raffa memeluk Feri, " Om Feri kesini! " ucap Raffa.
"No, no, no! Inget kalau tidak ada Ayah Davi. Panggil papih Feri!" pinta.
"Iya papih"
Feri memanggil asisten Davian. "Bi, tolong ambilkan flashdisk warna hitam di lemari nakas Davian" pinta Feri.
__ADS_1
Bibi bingung, dirinya tidak mengerti apa yang dimaksud flashdisk. " Pledis, apaan pak?" tanyanya polos. Feri menggelengkan kepala dan memijit kepalanya.
"Bentuknya segini ni! " Feri mencontohkan dengan jarinya. "Kata Davian di taruh di lemari nakas beserta dokumenya"ucap Feri. Bibi berjalan menuju kamar majikannya.
" Pih, kita jalan - jalan yuk. Ada Mami Imel? " pinta Raffa. Imelda melirik dan memutar bola mata nya malas.
" Mau jalan kemana? " tanya Feri.
" Raffa gak tahu, yang penting jalan - jalan sama Kinan cengeng juga" pinta Raffa.
"Kinan cengeng?" Feri mengenyitkan dahi dan melihat Kinan. " Oh, anaknya dokter Shafiq yang ketemu di Restoran. Ayo kita jalan sendiri, tapi Mami Imelda jangan ikut" seru Feri.
Imelda menatap tajam Feri, dirinya ingin penjelasan kenapa Feri begitu dingin padanya.
Imelda menarik tangan Feri, mereka berbicara empat mata. "Apa Aku punya masalah denganmu" tanya Imelda"
"Tidak" ketus Feri.
"Lalu kenapa kau menghindariku dan membenciku"
"Suka - suka akulah" jawab Feri dan teleponnya berdering tertulis di layar wanitaku.
Feri bercanda ria dan bertelepon mesra, dirinya tidak memperdulikan perasaan Imelda yang ada di depanya. Imelda merasa kesal diabaikan, dirinya merebut telepon Feri dan mematikan.
"Apa yang kamu lakukan?! " seru Feri kesal.
"Aku sedang bicara padamu, kenapa aku diabaikan! " teriak Imelda.
"Tapi aku sedang telepon dengan pacarku, Aku akan kencan dengannya. Kamu ini kenapa marah!, Apa kau suka denganku hingga kau cemburu!?" ucap Feri.
Imelda tidak menjawab pertanyaan Feri, dirinya pergi dari rumah Davian dengan perasaan kesal. Raffa pun sempat memanggil namanya namun dirinya tetap pergi.
****
Assalamualaikum reader,
Mohon maaf beberapa hari ini tertunda up nya.🙏
Author sudah up setiap hari udah ada delapan episode dari hari minggu belum lulus review dari aplikasi.Author tidak tahu kenapa, ini novel pertama Author. Terima kasih sudah nungguin novel ini. ❤️
Sekali lagi Author mohon maaf.🙏 Jangan lupa like, Vote and comment ya gaes. Matursuwun yang sudah mampir😘❤️
__ADS_1