
Mereka pergi liburan ke tempat kedua, masuk di area wisata dusun Semilir, terlihat dari depan bangunan iconik mirip candi borobudur. Mereka disambut dengan rintik-rintik hujan dan langit kelabu. Cuaca yang dingin membuat mereka harus menggunakan jaket untuk menghangatkan mereka.
Mereka berkeliling dengan bis wisata. Raffa kelelahan, dirinya tertidur di pangkuan Ayahnya.Navysah sebenarnya juga lelah namun dirinya tidak mau mengeluh. Setelah berjalan - jalan mereka naik ke area atas terdapat banyak kuliner dan oleh-oleh. Navysah membeli empat gula kapas untuk anak dan keponakannya."Kok beli empat Nav, kan si bocil ada tiga?" tanya Davian.
"Aku juga mau" Navysah memperlihatkan deret giginya yang rapi. Davian hanya menggelengkan kepala. Mereka menyantap hidangan sembari beristirahat dan menunggu hujan reda.
"Kamu capek yang?" Davian melihat istrinya kelelahan dan sedikit pucat.
"Cuma sedikit, mas tolong belikan aku teh hangat. Kepalaku pusing" pinta Navysah.Davian bergegas membeli teh hangat sesuai permintaan istrinya.
"Minumlah" Davian menyuapi istrinya teh dengan sendok. Navysah sedikit lebih rileks setelah minum teh.
Bu Yani melihat Davian yang begitu perhatian pada anaknya, dirinya merasa bahagia.Dan dirinya melihat Naysila bersenda gurau dengan anak dan suaminya. "Ya allah, alhamdulillah anak-anakku punya suami yang sangat menyayangi mereka. Semoga anak-anak mama selalu bahagia" ucap bu Yani dalam hati.
Mereka membeli beberapa oleh-oleh untuk dibawa. Di keranjang Navysah terlihat banyak cemilan. Davian hanya mengelus dadanya. Dia tahu istrinya suka ngemil. "Gak sekalian aja Nav toko nya dibeli" ucap Naysila melirik belanjaan adiknya.
"Boleh, ide yang bagus" ucap Navysah sembari merangkul suaminya.
"Kompor meleduk !, gak usah jadi kompor, tahu sendiri adiknya laper mata" Davian menimpali ucapan Naysila.
"Kabur...!, sultan KW udah ngomel" ucap Naysila.
Febri hanya melihat kedua kakaknya dari jauh, dirinya lebih memilih menemani orangtuanya di spot foto.
"Mah, coba pilihkan satu wanita yang cocok untuk dijadikan menantu, untuk diriku Sang Pangeran Kuda Putek ! " pinta Febri cengengesan.
Bu Yani menahan tawanya, dia menunjuk seorang wanita paruh baya yang lebih tua darinya " Itu! ".
Febri berdecak kesal merasa dipermainkan ibunya. "Mama pilihnya yang bener dong,disini banyak wanita cantik dan sexy masa nunjuknya kerupuk rambak kisut!"
"Yang ada belum nanjak udah engap, sesak nafas dianya. Lahirannya bukan bayi tapi boneka chucky!" Febri cengengesan dengan ucapannya sendiri.
"Febri..!!!" suara bu Yani meninggi hingga membuat beberapa orang melihat kearahnya.
"Kaburr...!!, Ibu Suri ngamuk"
Mereka keluar area dusun Semilir. Dan melajukan mobilnya ke rumah. Navysah tertidur di lengan Davian. Hingga sampai rumah pukul tujuh malam.
Davian mengendong Raffa ke kamar Febri. "Loh, kok ke kamar Febri mas!. Ke kamar kita aja" pinta Navysah. Kemarin Raffa memang tidur bersama kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Hari ini Raffa tidur dengan Febri, Boleh ya Feb" Davian merebahkan Raffa di kamar adik iparnya.
"Boleh mas bro, gini - gini gue juga tahu loe mau ngapain" ledeknya pada Davian. "Yang penting transferan lancar jaya setiap bulan buat diriku, pria manis tanpa pemanis buatan" ucapnya dengan kepedean.
"Siap bro" Davian terkekeh dan masuk kedalam kamar Navysah.
Navysah sudah berbaring di atas ranjangnya, dirinya merasa sangat lelah. Namun tidak dengan suaminya. "Sayang bangun, Enak aja tidur!" ucapnya.
"Apaan?" ucapnya dengan suara parau.
"Besok sore Aku pulang, beri Aku bekal" Davian membuka kancing baju istrinya. Navysah menolak, namun suaminya kekeh melakukan kegiatan ekstrakulikuler kesukaannya hingga membuat dirinya ambruk tidur disisi istrinya.
***
Pagi hari Navysah membantu ibunya di dapur, dirinya pun pergi ke pasar untuk membeli bunga untuk ke makam suaminya. Navysah mengepak beberapa cemilan dan wingko kesukaanya. Davian menggerutu, dirinya tidak pernah serepot ini.
"Sayang bawanya jangan banyak-banyak!, masukin ke koper aja. Aku malu bawa tas jinjing. Masa Davian Ahmad gotong - gotong tas"
"Ini semua kesukaanku, dan juga bisa dimakan asisten dirumah. Bawa sekali aja kenapa mas, yang ikhlas" ucap Navysah.
"Aku naik kereta, Aku malu bawa kayak gitu. Dipaketin aja!" pinta Davian. Navysah cemberut suaminya tidak mau membawakan cemilan untuknya. "Kalau di Jakarta ada aku gak masalah, disana gak ada wingko dan cemilan ini, pokoknya harus dibawa kalau gak mau, kamu tidak akan dapat jatah preman selama satu bulan" ancam Navysah.
Mereka bersiap ke makam almarhum Raihan. Raffa sengaja diajak agar dia tahu makam Ayahnya lagi, karena sudah cukup lama Navysah tidak membawa Raffa kesana.
"Kita mau ke makam Ayah Raihan ya mah?" tanya Raffa.
"Iya sayang" balas Navysah
"Kan Ayah Raihan sudah di surga, kenapa ke makam"
"Iya kita doain, semoga disana Ayah selalu bahagia, Raffa jadi anak baik ya biar kita nanti ketemu Ayah di surga "Navysah mengusap kepala dan mencium pipi anaknya.
"Yaudah kita ke surga aja mah, deket gak dari sini" tanyanya.
Navysah sudah mulai pusing kalau anaknya sudah banyak bertanya.Dirinya tidak menjawab pertanyaan anaknya.
"Yaudah kita ke makam aja sekarang. Raffa jangan bawel, ini masih pagi"
Mereka sampai makam Raihan, terlihat wajah Navysah yang sedih, dirinya menangis di pusara suaminya.Davian pun mengusap punggung Navysah. Mereka melafalkan do'a untuk Raihan. Mengusap nisannya. "Mas Raihan" lirih Navysah.
__ADS_1
Davian duduk disamping Nisan Raihan, "Aku tidak tahu kamu siapa, yang aku tahu kamu mantan suami dari istriku. Dan sekarang aku akan menjaganya dan menyayangi mereka, seperti dulu kau menjaga dan menyayangi mereka. Aku tahu, aku tidak sebaik dirimu Raihan. Tapi aku akan selalu berusaha menjadi suami dan ayah yang baik untuk mereka, itu janjiku padamu"
Navysah menyuruh Raffa untuk mengusap nisan ayahnya. "Ayah, Raffa datang" ucapnya. "Raffa kangen Ayah Raihan, tapi sekarang sudah ada Ayah Davi, semoga ayah Raihan bahagia di surga"
Mereka kembali ke rumah setelah selesai berziarah ke makam Raihan. Navysah menata makanan di meja, dirinya memakan makanannya dengan lahap, kali ini bandeng presto kesukaanya habis dilahap sendiri. Davian hanya menggelengkan kepala. Setelah makan, Davian duduk diteras sembari minum kopi. Dirinya melihat rumah tetangga Navysah dan melihat pohon buah delima. Air liurnya hampir menetes melihat banyak buah yang bergelantung. Davian mendekati pohon itu dan berharap si pemilik mau memberikan buahnya. "Aku bisa membelinya di supermarket tapi kenapa aku cuma mau buah delima ini"ucap Davian dalam hati.
Sang pemilik rumah sejak tadi melihat Davian dari jendela," Ini suaminya Navysah ya, ada apa pak? " tanyanya.
Davian merasa malu dan salah tingkah." Gak papa pak" dirinya mengusap lehernya berkali-kali.
"Bapak mau buah delima? Nanti saya ambilkan, pumpung lagi berbuah banyak " ucapnya. Davian berbinar dan merasa senang "Beneran boleh pak, makasih banyak"
Mereka memetik buah delima bersama sembari mengobrol dan berfoto.Davian mendapat satu kresek buah delima "Makasih banyak ya pak, saya permisi dulu" Davian pamit dengan tuan rumah. Dirinya bergegas masuk ke dalam rumah dan meminta Navysah untuk membersihkan buah delima.
"Ini buahnya sudah dicuci, sebagian sudah aku pipil buahnya, kamu tinggal makan" ucap Navysah. Davian meraup buah delima dan mengunyahnya.
"Emang gak asam mas?" tanya Navysah, pipi Davian masih menggembung "Ya asam tapi enak, seger" dirinya mengeluarkan biji-biji delima.
"Sebentar lagi aku pulang ya, Aku naik kereta karena lebih dekat dari sini. Kamu jangan kelamaan pulangnya, Aku pasti kangen kamu dan Raffa. Apa kamu mau aku jemput nanti?" tanya Davian.
"Gak usah jemput, aku bisa sendiri. Nanti aku pulang ke kota B dulu. Ada yang harus aku selesaikan. Gimana kamu sudah dapat tempat untuk butikku?" tanya Navysah.
"Oh iya aku lupa, Maaf sayang" Davian cengengesan. Navysah cemberut, "Sebenarnya kamu niat nyariin aku tempat gak sih mas!" ketus Navysah.
Davian masih dengan pipi gembulnya mengunyah buah delima. "Kamu gak ingin istirahat dirumah Nav, Aku gak mau kamu kecapean "
Navysah mendengus kesal, "Aku sudah merintisnya dari nol, masa mau dilepas begitu saja. Aku orangnya gak bisa diem dirumah mas, sesibuk apapun aku akan membawa Raffa kemanapun dan aku selalu mengurusmu dengan baik"
"Aku hanya ingin kamu ambil iklan aja,jadi kamu gak terlalu capek, toh aku masih bisa memberimu nafkah.Sekarang uangku banyak yang!" ucap Davian.
"Aku tahu uangmu banyak, tapi aku juga ingin mandiri mas, Aku takut bergantung padamu" lirih Navysah.
"Kenapa takut, Aku suamimu. Uangku ya uangmu Navysah, milikku ya milikmu"
"Sudahlah mas, kita bicarakan nanti dirumah saja"
Davian pulang ke Jakarta, Navysah ingin mengantarnya namun Davian menolak. Dirinya ingin istrinya beristirahat.
* ** Jangan lupa like, Vote and comment ya gaes. Matursuwun
__ADS_1