Cinta Navysah

Cinta Navysah
Butuh waktu sendiri


__ADS_3

Pagi hari di klinik Ifa,


Keadaan Navysah sudah membaik, selama berada di klinik dirinya hanya tidur dan makan,dirinya selalu mencium baju kemeja Davian yang selalu dia bawa.Menghirup aromanya dalam-dalam sembari mengelus perutnya. Raffa terkadang menangis jika mengingat Ayahnya, dia kangen ingin pulang. Namun setiap hari Kinan dan Bu Erni selalu datang menemani Raffa.


Navysah selalu meminta makanan yang dia inginkan ke suster Fifi. Terkadang suster Fifi merasa kerepotan, karena yang diminta Navysah sulit di dapat.Rujak es cream, ayam balacan,buah srikaya dan markisa. Apalagi jika malam hari,Shafiq yang selalu mencari makanan untuknya.


"Shafiq, tumben kau kesini pagi hari. Apa kau libur?" tanya Navysah sembari mengunyah jeruk asamnya. Shafiq membawakan pesanan Navysah yang cukup banyak. Dirinya pun duduk di sisi Navysah. "Aku libur hari ini, besok Aku dipanggil staf rumah sakit karena kejadian itu. Aku sudah bersiap menerima konsekuensinya" jawab Shafiq.


"Aku yakin kamu tidak akan dipecat, tenanglah" Navysah menguliti jeruknya dan menyuapkan ke mulut Shafiq.


"Kamu kebiasaan Navysah, kamu yang nyidam jeruk. Aku yang makan, Mana jeruknya asam lagi!" protesnya sambil bergidik. "Lama-lama aku yang gendut, makan terus nemenin kamu" gerutunya.


Navysah terkekeh dengan ucapan Shafiq " Aku gak tau Shaf, sejak Aku hamil Raffa selalu membuat orang disekitarku kesal. Entahlah, calon anakku selalu menginginkan hal yang aneh-aneh. Harus ada gak boleh ditolak" ucapnya sembari menyuapkan jeruk lagi ke mulut Shafiq.


"Udah Nav, aku tidak kuat dengan rasa asamnya. Besok kamu mau ngerjain aku apa lagi, kemarin mangga muda sekarang jeruk asam. Coba Davian yang ada disini, biar dia aja yang tersiksa makan semua ini"ucap Shafiq. Navysah menghembuskan nafas kasarnya. Apa yang diucapkan Shafiq memang benar, seharusnya Davian yang selalu ada disisinya saat ini.


Shafiq melihat Navysah terdiam dan sendu "Maafkan Aku, bukan maksudku membuatmu bersedih"


"" Tidak apa-apa Shaf, kamu memang benar seharusnya dia yang memenuhi segala keinginan calon anakku" ucapnya.


Navysah, Apa yang akan kau lakukan setelah keluar dari sini? "tanya Shafiq.


Navysah melihat langit-langit ruangannya, pikirannya entah kemana." Mungkin Aku akan ke Bandung dulu. Aku ingin bertemu mantan adik iparku, dia sedang sakit. Aku hanya butuh waktu untuk menenangkan diri, menenangkan pikiranku, Aku ingin fokus dengan kehamilanku. Aku belum ingin bertemu Davian,aku takut dia akan kasar dan bohong lagi denganku,hatiku sangat sakit jika mengingatnya" ucapnya sembari berkaca-kaca.


Shafiq menatap intens Navysah "Baiklah jika itu maumu, Aku dan Ifa akan mengikuti keinginanmu. Tapi ingat Navysah, Davian masih suamimu. Aku yakin dia mencintaimu, karena sejak kau menghilang dia selalu mencarimu. Aku juga kasihan padanya, tatapannya kosong. Dia benar - benar kehilanganmu"

__ADS_1


Navysah bingung apa yang akan dilakukan, dirinya juga kasihan mendengar keadaan suaminya saat ini. Tapi dia belum ingin kembali kerumah "Sudahlah Shafiq,Aku ingin istirahat", Dirinya berbaring dan membelakangi Shafiq.


Siang hari.


Shafiq, Ifa dan dokter Hendra mengadakan live inst*gram untuk mengklarifikasi apa yang sebenarnya terjadi saat di rumah sakit, mereka ingin memberitahukan kebenarannya bahwa Shafiq mengalami PTSD tentang gempa dan ini tidak ada hubunganya dengan Navysah ataupun perselingkuhan dengannya. Shafiq pun menceritakan bahwa Navysah sedang hamil dan sangat mencintai suaminya.Setelah itu dia memperkenalkan Ifa sebagai calon istrinya dan tidak lama lagi dirinya akan melangsungkan pernikahan.


Di sisi lain,


Davian dan Kamil masih mencari keberadaan Navysah, dirinya datang ke tempat sekolah Raffa namun disana sepi. Davian frustrasi, bingung apa yang harus dilakukan sedangkan semua tempat sudah didatangi,apalagi Navysah tidak punya saudara di Jakarta.


"Coba kamu telepon keluarganya di kampung, siapa tahu dia pulang kampung?"ujar Kamil.


Dengan perasaan takut Davian mencoba menelepon ibunya Navysah.


" Assalamualaikum"


"Saya Davian bu, gimana kabar ibu?" tanyanya.


"Alhamdulillah baik, kamu sekeluarga gimana kabarnya Nak. Raffa sehat? Ibu kangen Raffa" ucapnya.


"Berarti Navysah tidak ada disana" gumamnya dalam hati.


"Haloo.. Haloo.. Nak Davi!, kenapa tidak ada suaranya" ucapnya.


"Mm, alhamdulillah kami semua baik-baik saja bu. Kami sekeluarga juga kangen Ibu" Davian mulai basa basi dan kagok bicara dengan mertuanya karena ini pertama kali dirinya meneleponya. Setelah selesai mengobrol dirinya pamit dan memutuskan sambungan teleponnya. Dirinya mengusap wajahnya terlihat mata yang sendu darinya. "Kamil, Aku harus bagaimana"ucapnya memelas.

__ADS_1


Kamil merasa iba melihat temannya yang terlihat kacau, mereka berkeliling Jakarta untuk mencari Navysah, hingga malam Kamil akan mengantarkan Davian pulang kerumahnya. Namun di tengah perjalanan Davian mendapatkan telepon dari asisten rumah tangga bahwa rumahnya dikepung banyak wartawan yang ingin mengetahui keberadaan Navysah. Mereka mendengar Navysah sedang hamil dan ingin mengkonfirmasi kebenaran informasi tersebut.


Kamil langsung membelokan mobilnya ke apartemen dirinya. Dia tidak mau melihat Davian bertambah sedih karena mengingat istrinya. Apalagi melihat kondisinya sekarang, Davian tidak memungkinkan untuk menjawab pertanyaan dari wartawan.


Kamil meminta Feri untuk datang ke Apartemennya, dia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Feri.Dan Feri mengiyakan untuk datang kesana.


Feri datang membawa beberapa makanan dan minuman soda. Dirinya mengobrol di depan tv. "Sudahlah Dav, loe jangan sedih terus. Kita akan bantuin loe nyari. Imelda juga udah ngomong ke koneksinya buat nyariin bini loe juga"


Kamil menepuk bahu Davian agar dirinya kuat menghadapi kenyataan ini. " Anggap ini ujian rumah tangga loe, jadi loe bisa sadar bahwa istri loe gak suka dibohongi dan dikasari. Loe berdoa semoga anak-anak loe sehat dalam kandungan Navysah". Feri mengenyitkan dahi "Anak-anak?" ucapnya. "Maksudmu Navysah hamil!" seru Feri, dirinya kaget tidak percaya.


"Iya, bukan satu tapi dua. Dia hamil kembar" ucap Kamil.Feri melotot tidak percaya" Oh my God!, keturunan dari keluarga Ibrahim udah ada di perut Navysah. Kalau Imelda dan mamamu tahu Navysah hamil habis sudah loe di kuliti mereka" Feri bergidik sendiri.


"Busyeeettt..!! Jago juga loe sekali gol dapet dua, Aku jadi iri" seru Feri.


Kamil meraup wajah Feri, mencoba menyadarkan agar temannya tidak halu. "Nikah dulu baru berpikiran kesitu" ucapnya.


"Beranda-andai boleh kali mil, gue udah tua. Pengennya gitu, langsung dapat double kalau Imelda hamil" ucapnya. "Ingat!, kita bujang tua bukan anak ABG yang masih labil!"


"Idihhh, predikat bujang tua itu pantas buat gue. Lah loe! Emang masih bujang,Nggak usah ngaku bujang karena loe suka celap celup anak orang" ketus Kamil.


Feri terkekeh dengan ucapan Kamil "Betul juga kata loe,aku memang bukan bujang tapi sekarang aku sudah insyaf" ucapnya. "Kadang gak sama cewek aja Imelda udah cemburuan apalagi tahu gue main belakang, yang ada gue disembur gunung berapi dari mulutnya" gerutunya.


"Dav, loe fokus cari Navysah aja. Urusan kantor biar aku dan Kamil yang urus. Kalau loe butuh temen minum kayak dulu, gue siap nemenin loe" ucap Feri.


Kamil melempar bantal kearah Feri dan melotot "Gue salah bawa loe kesini, Dasar Neraka Jah*nam!!, Loe kalau mau kesana gak usah bawa kita, pergi loe!!" ucapnya. " Dav, loe nggak usah dengerin perkataan si maksiat Feri. Udah mending loe tidur atau sholat biar hati loe tenang"

__ADS_1


Kamil mendorong tubuh Davian menuju kamar tamu, dia tidak ingin Davian seperti dulu lagi saat putus dengan Natasha. Setiap hari hanya minum dan mabuk bersama Feri.


__ADS_2