Cinta Navysah

Cinta Navysah
Kamu kemana saja?


__ADS_3

Davian pulang jam delapan malam, dirinya tidak melihat istrinya di kamar, dia turun ke lantai satu mencari anaknya. "Raffa, mama kemana?" tanyanya.


Raffa duduk di pangkuan ayahnya "Kata budhe, mama ke tante Ifa anter gaun tadi sore. Raffa juga nggak lihat mama pergi yah, Raffa bobo" balasnya.


"Oh..!" Davian menelepon istrinya namun handphone tidak aktif. Dirinya menelepon Ifa menanyakan istrinya, namun Ifa bilang Navysah sudah pulang sehabis maghrib. Dia pun menelepon Amel, kata Amel Navysah baru saja pulang. Navysah lupa membawa handphonenya yang sedang di charger.


Davian makan dan mandi, dirinya tertidur di kamar. Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam dirinya terbangun, namun Navysah belum juga pulang. "Kok Navysah belum pulang jam segini? Apa dia tidur sama Raffa?" dirinya bergegas masuk ke kamar anaknya, namun tidak terlihat istrinya disana.


Dia turun ke lantai satu, mencari keberadaan istrinya. "Kemana sih dia!, kok gak pulang?" Davian menarik rambutnya frustrasi. " Dia nggak kabur lagi kan gara-gara aku gak mau ikut mancing!" ucapnya bermonolog.


Dia mengetuk pintu budhe Salma menanyakan istrinya namun budhe tidak tahu dimana Navysah.


Davian menunggu di ruang tengah, ditemani secangkir kopi dan budhe Salma. Dirinya sedikit gelisah menunggu kedatangan istrinya.Sudah hampir jam satu Navysah belum juga terlihat, dirinya mulai risau berjalan bolak - balik sambil menghisap rokoknya. "Budhe, dia tidak akan kabur lagi kan?, Dia pasti pulang kan budhe, aku tidak akan ditinggal lagi kan?" tanyanya beruntun.


"Bapak tenang ya pak, ibu pasti pulang kok. Mungkin dia mampir sebentar ke rumah siapa gitu" budhe Salma mencoba menenangkan majikanya yang terlihat kacau.


Davian menelepon Imelda, mencoba bertanya apa istrinya ada disana.


"Apa!! kenapa malam - malam kau telepon aku,mengganggu saja. Kau lihat ini jam berapa?" ketus Imelda.


"Mbak, ada Navysah nggak disana?"tanyanya.


" Nggak ada, emang dia kemana!, kamu apain dia lagi" ketusnya.


Davian langsung menutup teleponnya. Dia tidak ingin mendengar ocehan Imelda yang membuatnya bertambah pusing. Dirinya langsung mengambil kunci mobilnya dan bergegas keluar.


"Budhe jangan tidur dulu ya, kalau Navysah datang kabarin aku. Aku mau cari dia. Aku takut dia ada apa-apa dijalan. Mana lagi hamil lagi" ucapnya.


"Iya pak" ucapnya


Davian tancap gas mengelilingi jalan menuju apartemennya, dirinya berharap bertemu istrinya di jalan. "Mana dia nggak bawa handphone, gimana aku bisa ngecek GPS dia. Kamu dimana sayang! "ucapnya frustrasi.


Davian mencoba berkeliling namun tidak mendapati istrinya, dirinya pulang ke rumah lagi. " Ibu belum pulang pak" ujar budhe Salma.


Davian menghela nafas kasarnya, dirinya menghisap rokok dari sakunya. "Ya allah, dia kemana sih!".

__ADS_1


Entah sudah berapa batang rokok dia habiskan sembari menunggu istrinya pulang.


Jam setengah tiga Navysah pulang kerumah, Davian langsung berlari memeluk erat istrinya."Mas, lepasin aku nggak bisa nafas" ucap Navysah.


Davian menciumi wajah istrinya, dia seolah takut Navysah akan meninggalkannya lagi, dia melepaskan pelukanya. " Kamu kemana saja? Aku kira kamu kabur dari rumah lagi, aku takut sayang, aku tadi mencarimu " ucapnya berkaca-kaca.


"Aku tadi menolong orang kecelakaan di jalan"ucapnya.



Flashback On-



Navysah pulang dari apartemen pukul delapan malam, dirinya melajukan mobilnya pelan-pelan. Saat di jalan raya terlihat banyak orang berkerumun, ternyata ada kecelakaan tabrak lari.Ada seorang wanita paruh baya tertabrak mobil,dirinya tidak sadarkan diri. Beberapa orang mencoba menyetop kendaraan yang lewat namun tidak ada orang yang mau membawanya ke rumah sakit. "Ada apa ini?" tanya Navysah pada orang yang berlalu lalang.


"Ada kecelakaan bu, korban tabrak lari, dan dia terluka harus dibawa ke rumah sakit tapi tidak ada yang mau, katanya ntar ribet urusannya. Sudah telepon ambulans tapi belum dateng juga, kalau tidak dibawa segera takut meninggal disini" ucap pria paruh baya.


" Yaudah, tolong bawa korban ke mobilku. Aku juga searah dengan jalan rumah sakit.Tapi aku butuh saksi, apa bapak mau jadi saksi saya. Tenang saja, cuma saksi. bapak tidak akan direpotkan masalah biaya" ucapnya.


Setelah sampai rumah sakit, korban langsung ditangani. Si korban membutuhkan banyak darah, namun Navysah tidak bisa donor .


"Biar saya saja bu, kebetulan darah saya O" ucapnya.


"Siapa nama bapak?" tanya Navysah.


"Saya Rokhim, tukang ojek biasa menyebut saya iim" ucapnya.


"Oke pak iim, bapak donor dulu saya mengurus administrasi"


"Baik bu"


Navysah berjalan sembari menghela nafasnya, dirinya merasa enggap untuk berjalan. Setelah administrasi selesai dirinya kembali ke ruang IGD. Navysah menanyakan ke perawat apa ada identitas yang melekat di tubuh korban. Namun perawat bilang tidak ada identitas,hanya ada dompet beserta isinya. Navysah bingung, di dompet hanya ada uang lima ratus ribu tanpa identitas. "Bagaimana aku bisa telepon keluarganya, sedangkan identitasnya tidak ada,handphoneku juga ketinggalan, mana non aktif lagi saat di charger. Mau telepon mas Davi, aku tidak hafal nomernya. Aku sungguh bodoh!" dirinya merutuki kebodohannya.


Jam cepat berlalu, korban pun sudah dibawa ke ruang inap dengan kondisi stabil." Keluarga dari pasien, tolong rebus resep ini" perawat meminta Navysah menembus obat.

__ADS_1


"Tunggu sebentar sus, saya perjelas disini dulu. Mungkin ini tidak penting buat suster tapi ini penting buatku. Pak iim tolong jelaskan kronologisnya" pinta Navysah. Pak iim menceritakan apa sebenarnya yang terjadi pada suster itu.


"Jadi suster sudah tahu ya, saya bukan pelaku tabrak lari. Saya hanya membantunya, saya bicara seperti ini karena saya akan pulang dulu. Besok saya akan kesini lagi. Untuk biaya perawatan suster jangan takut saya akan membayarnya"ucap Navysah.


" Baik bu" suster memberikan resep dokter pada Navysah.


"Pak iim, tolong bantu saya. Bisakah bapak tebus resep ini?,Saya sudah tidak kuat naik turun tangganya. Saya lelah pak" Navysah bersandar di kursi pengunjung.


"Baik bu, saya saja yang menembus obatnya. Ibu duduk disini saja, kasihan ibu pasti capek,apalagi hamil besar" ucapnya. Navysah memberikan beberapa lembar uang pada pak iim.


Setelah tiga puluh menit kemudian pak iim pulang dan menyerahkan obat pada suster dan memberikan sisa uangnya pada Navysah.


"Ibu kalau mau pulang, pulang aja bu biar saya yang jaga disini asal semua administrasinya sudah dibayar, maaf ya bu saya orang susah jadi tidak mungkin saya bayar tagihan rumah sakitnya" ucap pak iim dengan malu. "Ibu istirahat saja dirumah, saya sudah mengabari istri saya bu".


"Baiklah pak, bisa minta nomor telepon bapak. Tolong catat di kertas, saya tidak bawa handphone. Tolong sekalian nomer suster tadi yang merawat ibu itu. Saya akan menghubungi bapak. Besok saya akan kesini, siapa tahu keluarga korban datang menemuinya "


"Baik bu" dirinya menuliskan nomor teleponya dan nomor suster. "Ini" ucapnya


Navysah menerimanya dan memberikan uang untuk pak iim. "Ambillah pak, buat bapak makan malam dan besok . Saya pulang dulu ini sudah dini hari. Terima kasih sudah membantu, anda orang baik" ucap Navysah.


"Alhamdulillah, makasih ya bu. Alhamdulillah dapet rejeki ya allah, hari ini saya ngojek sepi bu dari pagi cuma dapet tiga puluh ribu, dari siang hujan terus jarang orang keluar rumah. Saat ini anak saya minta kuota untuk belajar online. Makasih banyak ya bu. Ini rejeki anak saya" ucapnya semringah.


"Iya, sama-sama" Navysah bangkit dan bergegas pulang.


* Flashback Off


Davian menciumi wajah istrinya " Aku harus seneng apa harus sedih sih punya istri sebaik kamu, hingga kamu tidak memperhatikan kesehatan dirimu sendiri. Kamu lebih mengutamakan orang lain. Ingat!, mulai sekarang kamu harus menghafalkan nomer teleponku. Aku nggak mau kejadian kayak gini lagi"


Navysah mengangguk " Aku hanya kasihan mas, korbannya paruh baya. Saat itu aku hanya ingat mamaku atau mama mertua. Jika mereka yang diposisi seperti itu, aku pasti tidak ingin kehilangan orang yang kita sayangi" ucapnya " Iya, aku akan menghafalkan nomer teleponmu"


Navysah mencium aroma tidak sedap dari suaminya "Mulutmu bau rokok, bikin aku mau muntah mas. Kenapa kamu merokok sih! Aku tidak suka. Kamu harus jaga kesehatan. Kalau aku nggak ada gimana" sambungnya lagi.


"Aku hanya frustrasi dan cemas kamu belum pulang, aku takut kamu menghilang lagi. Dan kamu jangan ngomong kayak gitu,kamu harus ada disisi aku selamanya. Jangan pernah berniat meninggalkanku" tegasnya


Mereka menuju ke kamarnya dan beristirahat. Budhe Salma sudah lega melihat Navysah pulang kerumah. "Alhamdulillah, ibu pulang hari ini. Aku khawatir kalau ibu tidak pulang nanti bapak stress lagi. Lihat saja, tadi sudah panik luar biasa" ucapnya sembari menutup pintu kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2