Cinta Navysah

Cinta Navysah
Bertemu Navysah kembali


__ADS_3

Seminggu setelah kepulangan Davian dari Solo, dirinya masih mencari keberadaan istrinya. Menurut kabar dari orang kepercayaan Imelda, Navysah berada di Bandung. Mereka selalu kehilangan jejak jika berurusan dengan dokter Ifa. Imelda menduga Ifa bukan orang sembarangan, mengingat dirinya selalu dikawal beberapa mobil untuk mengecoh orang - orang Imelda. Dirinya pun pernah bertanya pada dokter Ifa secara langsung, namun dirinya selalu membantah tidak mengetahui keberadaan Navysah.


Rancabali, Bandung.


Setelah menyuapi anaknya dan Kinan, Navysah dan bu Erni bersiap pergi ke pasar. Stok bahan makanan tinggal sedikit. Mereka harus segera membelinya sebelum malam. Navysah berpesan kepada bibi untuk menjaga anak-anak.


"Mama ke pasar dulu ya Raff, kamu disini main sama Kinan. Jangan nakal sama Kinan" perintah Navysah.


"Iya mah" jawabnya. Navysah mencium anaknya.


Kinan melihat Navysah mencium Raffa. "Mah, aku juga dicium dong? Mama lupa sama aku" protesnya.


Navysah menghampiri Kinan " Mama nggak lupa sama Kinan, Cup, Cup" dirinya mencium pipi Kinan.


"Aku maunya sebelum mama cium Raffa harus cium aku dulu" pinta Kinan.


Bu Erni menggelengkan kepalanya, melihat sikap manja cucunya pada Navysah.


"Kinan..!" seru bu Erni. Kinan cemberut mendengar suara bu Erni memanggilnya.


Raffa menggembungkan pipinya, dirinya cemberut mendengar permintaan Kinan. "Kamu mau merebut mamaku!" ucapnya, " Kinan cengeng nyebelin selalu merebut apa yang aku miliki!"


"Sudah jangan bertengkar, Raffa kan udah gede ngalah sama adik Kinan ya" Navysah. Dirinya membisikan sesuatu di telinga anaknya, "Beneran mah!" ucap Raffa. "Iya!" balasnya.


Kinan penasaran dengan apa yang dibisikan Navysah "Mama ngomong apa sama Raffa?" tanya Kinan. Navysah membisikan sesuatu di telinga Kinan, dirinya tersenyum " Beneran mah!" ucapnya. "Iya!" balasnya.

__ADS_1


"Mama pergi dulu, Assalamualaikum "


"Walaikumm salam"


Mereka berlalu pergi meninggalkan anak-anak.bu Erni penasaran apa yang dibisikan Navysah hingga membuat anak-anak tersenyum bahagia. Kamu membisikan apa di telinga mereka Nav? "tanyanya.


Navysah tertawa" Hahaha.. Ibu tahu, mereka berdua saling iri. Aku hanya membisikan ke telinga Raffa bahwa aku lebih sayang dirinya. Dan aku membisikan di telinga Kinan bahwa aku lebih sayang padanya" ucapnya.


Bu Erni tertawa "Iya mereka lucu. kadang berantem rebutan mainan,kadang akur dan pastinya Kinan selalu menangis. Dia sangat manja kepadamu" ucapnya sembari berjalan menuju pasar.


Raffa menatap kepergian ibunya hingga tidak terlihat lagi.Wajahnya berkaca-kaca "Maafin Raffa mah" lirihnya. "Kinan cengeng, Raffa mau ke kamar mandi dulu" ucapnya. Dirinya bergegas menuju kamar. Raffa ingat mama Navysah pernah menyimpan handphonenya di lemari bagian atas, dirinya mencoba meraih namun tidak bisa.


Raffa mengintip dari kamarnya, melihat sekitar apakah ada orang atau tidak dan bergegas ke dapur, dirinya menggotong kursi plastik menuju kamarnya. Dia naik ke kursi dan mencari handphone ibunya.


"Raffa pernah lihat, mama naruhnya disini. Mana ya" ucapnya bermonolog. Dirinya membuka tiap tumpukan baju ibunya. Dan dia menemukan handphonenya. "Alhamdulillah ada" dirinya senang bukan kepalang. "Raffa ingin bertemu ayah, Raffa kangen, ayah sudah lama gak jemput - jemput Raffa" ucapnya sembari menangis. Dirinya mengaktifkan handphone ibunya dan menelepon nomer Ayahnya. Namun ternyata handphone ibunya tidak terisi pulsa. "Handphone mama gak ada pulsanya, Raffa gak bisa telepon ayah!" Dirinya menangis terisak.


Raffa yang kebingungan karena tidak bisa menelepon Ayahnya, ternyata saat itu juga ayahnya menelepon dirinya. "Ayah..!! teriak Raffa. " Ayah kenapa tidak jemput Raffa, ayah jahat!, Raffa kangen yah" ucapnya sembari menangis keras.


Davian menangis diujung telepon, bisa mendengar suara anaknya membuat dirinya sangat bahagia. "Raffa, ini ayah Nak!, kamu jangan nangis dulu ya. Katakan kamu dimana sayang? Ayah akan jemput kamu sekarang"ucapnya.


Raffa sesenggukan dirinya menggelap airmatanya ," Raffa gak tahu ini dimana tapi disini banyak kebun teh yah, kebunnya luas di villa tante Ifa. Rumahnya luas disini, rumahnya warna kuning "ucapnya.


Davian merasa sedikit senang ada titik terang tentang keberadaan istri dan anaknya." Raffa, dengarkan ayah. Tolong aktifkan terus handphone mama tapi di silent ya. Jangan sampai mama tahu Raffa menghubungi ayah. Hari ini ayah jemput Raffa. Kamu mengerti kan Nak!? " ucap Davian.


" Iya Ayah, cepat jemput Raffa sekarang ya yah "pintanya.

__ADS_1


" Iya, Ayah janji. Udah dulu ya, ayah jemput sekarang. Raffa jangan menangis lagi. Assalamualaikum "


" Walaikumm salam" Raffa memutuskan sambungan telepon dan mengotak - atik handphone ibunya, dia menaruh di lemari lagi. Dirinya membersihkan sisa air matanya sembari menggotong kursi plastiknya ke dapur.


Davian dan Kamil bergegas menuju Bandung dirinya mencari area kebun teh disekitar sana. Di tengah perjalanannya, Imelda menelepon. Dia mendapat sinyal GPS dari handphone Navysah,dia mengatakan Navysah berada di perkebunan teh Rancabali. Davian langsung tancap gas kearah sana.Selama perjalanannya Kamil selalu mengingatkan Davian untuk tidak emosi apapun yang terjadi.


Sudah tiga jam perjalanan mereka sampai di Bandung namun mereka masih mencari villa dokter Ifa. Davian ingat perkataan anaknya, dia melihat banyak kebun teh,dan rumah berwarna kuning. Berarti villa dokter Ifa secara tidak langsung berada di tengah perkebunan. Dan dirinya mendapat informasi dari warga sekitar hanya ada dua rumah yang berada disana. Dirinya bergegas menuju lokasi yang ditunjukkan.


Sore hari Navysah masih tertidur, dirinya sedikit lelah karena berjalan membeli banyak makanan untuk stok di villa. Raffa tidak berani tidur dengan ibunya,dirinya lebih memilih bermain bersama Kinan di teras sembari menunggu ayahnya datang." Ayah bilang mau jemput Raffa hari ini, kok lama " ucapnya dalam hati. Dirinya duduk di teras dan melamun.


"Raffa kenapa sedih?" tanya Kinan. Dirinya melihat temannya sendu seperti habis menangis. " Nggak papa!" balasnya.


Davian melajukan mobilnya ke rumah terakhir, dirinya melihat dua anak kecil sedang bermain di teras rumah. Raffa melihat dari kejauhan mobil Ayahnya. Dirinya langsung berlari kencang menghampiri mobil. "Ayah...!!!" teriaknya sembari menangis keras. Davian turun dari mobil dan langsung menggendong anaknya, menciumi wajahnya. Dirinya sangat bahagia melihat anaknya sehat, tanpa terasa airmatanya mengalir deras.


"Ayah jahat!, kenapa tidak jemput Raffa dan mama. Kenapa ayah sibuk kerja terus!, Ayah jemputnya lama, ayah lupa sama kami. Raffa kangen yah" ucapnya bertubi - tubi.


"Maafkan Ayah Nak!, Ayah baru tahu Raffa disini. Maafkan Ayah karena terlalu lama jemput Raffa" Davian menangis terisak.


Kamil pun menangis, dirinya merasa terharu " Akhirnya Davian bisa bertemu dengan keluarga kecilnya. Alhamdulillah"


Davian mengendong Raffa menuju villa. Terlihat Kinan dan Bu Erni yang menunggunya di depan pintu. "Akhirnya kamu datang Nak Davi" ucap bu Erni berkaca-kaca. "Maaf, ini semua keinginan Navysah. Ibu tidak bisa ngomong apa - apa lagi" ucapnya sembari menangis. Dirinya sangat senang Davian akhirnya menemukan istrinya.Davian sebenarnya merasa sedikit kesal karena dibalik pelarian Navysah ternyata ada keluarga Shafiq dan dokter Ifa yang melindunginya. Di satu sisi lagi, dirinya merasa bersyukur karena Navysah ada yang menjaganya.


Davian mencium tangan bu Erni "Aku tahu aku yang salah bu, tidak apa-apa. Aku berterima kasih ibu sudah menjaga istri dan anakku dengan baik"


"Masuklah!, Navysah sedang tidur. Sepertinya dia kelelahan tadi habis belanja sama ibu. Kandunganya sudah mulai membesar, dan semua anakmu alhamdulillah sehat" ucapnya.

__ADS_1


"Bolehkah saya masuk ke kamarnya bu, saya ingin melihatnya. Saya rindu" ucapnya berkaca-kaca.


"Masuklah!, dia masih istrimu"


__ADS_2