
Keesokan paginya,
Navysah selalu memasak menu berbeda setiap hari.Dirinya ingin memuaskan diri dengan banyak kuliner yang ada di kotanya. Setelah itu Navysah membantu mengecek laporan keuangan di kantor suami Naysila. Sejak awal tahun, usaha travel mobil suami Naysila mengalami peningkatan yang cukup tajam. Mereka membeli beberapa mobil dan merekrut beberapa karyawan lagi. "Alhamdulillah ya mba, usaha ini lumayan juga" ucap Navysah.
"Iya Nav, Sekarang orang lebih suka naik travel, langsung nyampe depan rumah. Usaha ini juga sebagian modalnya dari kamu, Aku sudah transfer hasilnya ke rekeningmu" ucap Naysila, "Apa Davian tahu semua bisnismu"
"Tidak, yang dia tahu cuma bisnis online dan butik"
"Selama tahun ini, usaha restoran mba sepi. Namun usaha travel mas Denis alhamdulillah ramai, semuanya ada hikmahnya. Mba jadi sering dirumah nungguin anak-anak belajar, mbak gak pengen mereka kurang kasih sayang seperti kita dulu" ucap Naysila berkaca-kaca. "Kalau mba sering di restoran, mereka sama asisten tapi ya beda saja, mba lebih sreg mengasuh mereka sendiri. Kalau kamu masih enak,Raffa masih kecil bisa dibawa kemana-mana,Dan kamu punya banyak pekerja. Kecuali kalau kamu hamil lagi, mba saranin kamu istirahat. Toh Davian sultan KW, uangnya gak abis-abis"ucapnya terkekeh.
"Mungkin kalau aku hamil aku off dulu, semuanya aku serahin ke karyawan aku"
"Yaudah, ini udah sore kita pulang. Pasti mama sudah masak lagi buat kita makan"ucap Navysah.
" Loe mbak, udah tua masih aja manja. Selalu mama yang masak!, padahal loe punya restoran sendiri"cebik Navysah.
"Aku terbiasa makan masakan Emak! pokoke is the Best lah. Kalau sehari gak makan masakannya, kayak ada yang kurang" ucap Naysila terkekeh.
"Aku jadi iri!" cebik Navysah.
"Yaudah loe tinggal disini aja, ayah juga masih bisa kasih loe makan. Biar Davian nangis kejer gak ketemu kamu" ledek Naysila.
Drt.. Drt..
Handphone Navysah berdering. Ada pesan masuk. Navysah membaca pesannya dan berkaca-kaca. "Kak, Ayah sakit" lirih Navysah.
"Biarin saja!, Aku tidak peduli. Aku cuma punya ayah Sulaiman bukan yang lain" ketus Naysila. "Dan kamu Navysah, aku tidak suka kamu membahasnya".
Naysila berlalu dan pulang ke rumahnya, dirinya tidak suka jika Navysah memberi tahu tentang keadaan ayah kandungnya. Mas Denis melihat istrinya dan adik iparnya sedikit bersitegang. "Kamu tenang saja, kakakmu memang begitu nanti juga baik lagi, sebaiknya kamu pulang. Apa mau mas antar?"
"Gak usah mas, Aku bisa sendiri. Aku tahu mbak Nay selalu sensitif jika menyangkut masalah Ayah, dia selalu marah jika aku mengingatkan. Aku pulang dulu mas"
Assalamualaikum
__ADS_1
Walaikumm salam
Navysah pulang kerumah, namun ditengah jalan dirinya mampir ke Apotek untuk membeli tespek. Dan dirinya mampir ke toko untuk membeli cemilan.
* **
Keesokan harinya,
Navysah bangun pagi dan mengingat bahwa kemarin dirinya membeli tespek. Navysah masuk bathroom dan menggunakan tespeknya. Dia menunggu hasil dengan perasaan harap-harap cemas.
" Dua garis alias positif" dirinya lemas melihat hasilnya. " Berarti Aku pengin nasi goreng seafood waktu itu bukan karena cacingku kelaparan tapi karena keinginan calon anakku, Dan kemarin Davian makan buah delima,mungkin karena dia nyidam" ucap Navysah.
Navysah memasukkan tespeknya kedalam plastik dan memasukkanya ke dalam tas. Dirinya mengacak rambut merasa sedikit frustrasi. "Raffa hampir enam tahun, butik belum juga dibuka dan sekarang Aku hamil " ucapnya sembari berbaring di ranjangnya.
Navysah membantu ibunya memasak, dirinya hari ini ingin masak kerang saus tiram. Namun ibunya sudah mencari di pasar tidak ada." Kerangnya gak ada Nav, lainnya aja ya. Ibu beli cumi ini " ucap bu Yani.
"Tapi aku maunya kerang mah!" ucap Navysah cemberut. "Yaudah besok aja mama sudah pesan sama penjualnya, besok barangkali ada" ucap bu Yani. Navysah kesal karena dirinya memang ingin makan kerang. Febri melihat kakaknya cemberut merasa gemas.
"Berisik loe!" cebik Navysah.
Naysila datang ke rumah. "Mah, makan mah" Naysila melihat lauk yang ibunya masak. Dirinya mengambil nasi dan lauk lalu mengunyah makananya.
"Mbak Naysila, kalau datang kesini cuma makan doang. Emang disini ada tulisan, makanan untuk kaum dhuafa" cibir Febri.
"Kangen masakan emak!, ngapa loe yang marah. Mama aja slow" ucap Naysila.
"Kangen itu kayak mba Navysah, setahun sekali pulang. Lah, elu tiap hari datang kesini masa kangen.Itu bukan kangen tapi kebiasaan!" sindir Febri.
"Woi! Kalian berdua bisa diem gak sih, berisik!, kepala gue lagi pusing.
Kalian kan terbuat dari tanah liat bukan dari tanah sengketa, kenapa ribut terus!" seru Navysah.
"Salah!, Kalau gue tanah liat. Noh, mbak Naysila dari tanah kuburan makanya mulut dia angker kalau udah ngomong" Febri mengunyah makananya.
__ADS_1
"Kampret loe!. Dasar bujangan abal-abal.Kalau gue tanah kuburan, loe yang jadi penghuni kuburan!. Kalau loe gak nurut sama gue, ntar gue sunat uang jajan loe!" ancam Naysila.
"Mbak Nay, sukanya ngancam potong uang jajan Aku!. Tenang, masih ada si istri Sultan KW yang selalu memberiku sponsor tiap bulan" Febri memelas pada Navysah.
"Bodo Amat!" Navysah merasa tambah pusing dengan dua orang kakak beradik yang tidak pernah akur. Dirinya lebih baik masuk kamar dan tertidur.
***
Keesokan harinya, Navysah membereskan barangnya. Dirinya akan pulang ke kota B. Raffa setiap hari selalu bermain dengan Nara dan Opal, dirinya cemberut mendengar akan pulang ke kota B.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Navysah pada anaknya.
Raffa memeluk ibunya, "Kita mau pulang mah?" tanyanya.
"Iya sayang, kita udah lama disini. Ayah setiap hari telepon kita, dia kangen dengan kita sayang" ucap Navysah.
"Raffa ingin mas Nara dan mas Opal ikut biar rame disana, temen Raffa cuma Kinan cengeng, bosen! "
"Tapi Nara dan Opal sekolah, mereka harus belajar biar pinter. Raffa juga harus belajar kan" ucap Navysah, "Nanti, kalau ada waktu kita main kesini lagi"
Mata Rafa berbinar "Beneran mah! " serunya. "Iya sayang" balas Navysah.
Mereka berpamitan dengan kedua orangtua Navysah, Naysila dan anaknya. Sebelum pulang seperti biasa Nara harus dibujuk.
"Nanti mami pulang lagi kesini kalau ada waktu" Navysah masih memeluk Nara.
"Jangan pergi mih, Nara ikut kalau mami pergi! " dirinya berkaca-kaca. Naysila yang mendengar anaknya merengek pada adiknya merasa gemas. "Aku yang melahirkan, kenapa elu yang kayak emaknya Nav, Nara gak pernah sesedih itu kalau gue pergi" ucap Naysila.
"Soalnya loe bawel mbak Nay. Kalau Nara bertingkah, loe suka cubit dia. Loe kayak ibu tiri baginya" sindir Febri.
"Dasar Ngeselin punya adik satu ini, mulutnya selalu bener!" ucapnya terkekeh.
Navysah mencium Nara dan Opal. "Udah dong jangan nangis lagi, mami pulang dulu". Dan Navysah serta anaknya pulang dengan travel milik Denis. Mereka diantar karyawan Denis sampai di perumahan B.
__ADS_1