Cinta Navysah

Cinta Navysah
Lelah hidup denganmu


__ADS_3

Navysah terbangun di pagi hari,"Good morning sayang" Davian mencium bibir istrinya. Navysah belum sepenuhnya sadar, dia mengira sedang bermimpi bertemu suaminya. Dirinya memicingkan mata dan menjambak rambut suaminya.


"Arghhh!, kenapa kau menjambakku" ucap Davian.


"Oh ternyata asli, Aku kira hanya mimpi" jawabnya santai sembari bangun dari tempat tidur.


"Kamu itu lembut sedikit kenapa sih!, kamu kan bisa dengan cara menyentuh atau menciumku jika kamu ingin tahu asli atau tidak diriku ini" gerutunya


Navysah memutar bola matanya malas.


"Sayang, ayo kita sholat berjamaah. Kamu boleh marah padaku, Tapi aku tetap imam dalam sholat dan keluarga"


Dan mereka sholat berjamaah, setelah selesai sholat Navysah langsung bergegas pergi tanpa mencium tangan suaminya.Davian hanya menghela nafasnya dan mencoba bersabar dengan istrinya.


Setelah membantu budhe Asih di dapur, Navysah menata makanan di meja. Davian memeluk dari belakang "Sayang, kopi" sembari mencium pipi istrinya. Budhe Asih yang melihat kedua suami istri hanya senyum-senyum sendiri.


"Gak usah sayang-sayangan, gak mempan buat aku. Dasar tukang bohong, ngeselin!" Navysah menggeliat minta dilepaskan. Navysah tetap membuat kopi untuk suaminya walaupun dengan menggerutu.


Dirinya menyodorkan kopi dan berlalu ke kamar Raffa. Menengok anaknya yang tidur dengan Rani.


" Ayah...! "teriak Raffa dan langsung memeluk dirinya.


" Mmm.. Acem anak ayah, mandi sana?" ujar Davian.


" Ayah, Raffa kangen. Kok ayah lama datengnya!"


" Ayah kerja dulu, Raffa mandi dulu sana" dan dirinya minta mandi bersama Navysah.


Imelda duduk di meja makan, melirik adik iparnya yang sedang melepaskan baju Raffa yang akan mandi. " Navy, loe kok tambah gendutan!, Raffa juga pipinya tambah gembul"


"Ini mbak Imel kebiasaan kalau ngomong gak pake ayakan, selalu to the point" ucap Navysah dalam hati. "Aku disini bahagia mbak, Kalau disana makan hati terus" Navysah melirik Davian.


"Uhuk.. Uhuk.." Davian merasa tersindir dengan ucapan istrinya.


Navysah memandikan anaknya, Rani yang baru bangun langsung duduk dan memakan roti strawberrynya. Davian menelan salivanya melihat Rani mengunyah dengan sangat enak.


"Budhe, buatan Aku salad strawberry dan mangga" pinta Davian.


"Iya" budhe membuatkan Davian salad. Davian pun memakan roti strawberry seperti Rani.


Imelda mengenyitkan dahinya. " Pagi-pagi yang satu jorok, belum mandi udah ngunyah roti. Yang satu udah ngopi minta salad strawberry, emang perutmu gak mules " Imelda melirik adiknya.


"Kepengen aja" ucap Davian.


Budhe Asih menyodorkan salad ke Davian, dirinya langsung menghabiskan salad tanpa sisa.


Navysah selesai memandikan anaknya dan menyuapi. Dirinya mencharger handphone di ruang tengah. Sejak dirumah mertua, Navysah jarang memakai handphone. Raffa lah yang selalu bermain dengan gawainya.


Raffa mendekat dan duduk di pangkuan Davian. "Hmmm, anak ayah wangi baby. Cium ayah dong?" Raffa mencium pipi ayahnya.

__ADS_1


"Mami mau cium?" tanya Raffa.


"Mau dong!" Imelda menyodorkan pipinya dan dicium Raffa. "Wangi banget anak mami" ucapnya mencium Raffa.


"Anak Gue bukan anak loe !" Davian tidak terima dengan ucapan kakaknya.


Rani merasa pusing melihat kedua kakaknya yang sering bertengkar jika sudah bertemu. "Masih pagi. Gak usah berantem , pusing pala aye! " ketus Rani


"Gak ada uang jajan untukmu" Davian melirik Rani.


"Sudah kerja di pabrik ayah, udah gak ada transferan buat loe!" Imelda melirik Rani juga.


"Kalian jahat padaku!, mbak Navy tolongin Aku. Aku gak dapat uang jajan dari mereka!" Rani merajuk meminta tolong kakak iparnya.


Navysah sedang di kamar mertuanya. Memberi obat dan air hangat untuk diminum. "Ini obatnya mah, diminum sekarang. Lusa kita kontrol lagi ke rumah sakit" ujarnya.


"Makasih Nduk sudah merawat mama"


"Sudah tugas Navysah mah, Mama mau disini atau di ruang tv? "


"Di ruang tv aja Nduk, mama bosan di kamar. Ayah belum selesai olahraga di taman yah?"


"Belum mah" Navysah membantu mertuanya berjalan ke arah tv.Dan dirinya masuk dapur kembali untuk sarapan pagi.


Davian melihat handphone istrinya yang sedang di charger, dirinya melihat-lihat isi handphonenya.


"Makanmu banyak juga Nav" tanyanya.


"Iya, Aku lapar" balas Navysah.


Imelda menyeruput teh hangatnya dan duduk di depan Navysah.


Ada rasa jahil yang mulai muncul untuk mengerjai kakak iparnya.


"Mbak Imel, tahu gak akhir tahun ini Feri bakal nikah sama anak temen Ayahnya" ucap Navysah.


"Uhuk.. Uhuk.." Imelda tersedak. Navysah mulai melancar modusnya. "Katanya ceweknya cantik, dan Feri setuju untuk menikah" ucap Navysah.


Imelda masih terlihat tenang"Kenapa kamu bercerita padaku"


"Kan mas Davian temen Feri sudah pasti temen mbak Imel juga kan"


Davian menghampiri istrinya dan mendengar pembicaraan mereka.


"Iya, kata Feri kali ini dia serius mau nikah dengan anak teman Ayahnya, makanya hari ini dia pulang ke Solo mau bertemu calon istrinya" timpal Davian.


Rona muka Imelda sudah mulai berubah, dirinya mulai gelisah dan gugup.


"Yesss!!, satu lemparan bom sudah aku berikan. Besok akan kutambahkan bom selanjutnya" Navysah bersorak dalam hati.

__ADS_1


"Ah!, Aku ikut senang Feri segera menikah,semoga dia bahagia dengan calon istrinya" Navysah sembari membawa piring kotornya ke dapur dan kembali masuk ke ruang tivi. Navysah memijit kaki ibu Fera. "Masih pegel ya mah kakinya"


"Udah nggak ini, kemarin itu badan rasanya menggigil dan kaki pegal-pegal"


Davian menghampiri istrinya, "Ini apa Nav!, kamu telepon Shafiq terus selama disini" tanya Davian.


"Nggak, aku tidak pernah telepon dia"


"Lalu ini apa!, Kenapa panggilan keluar handphonemu ke dia terus. Aku kan sudah bilang. Aku tidak suka kamu berhubungan dengan dia, kamu ngerti nggak sih! " ucapnya dengan nada tinggi.


"Sudah kubilang aku tidak telepon, yang telepon Raffa bukan Aku" Navysah menjelaskan.


Mama Fera menjelaskan bahwa Navysah menjaga dirinya di rumah sakit. Navysah juga jarang pegang handphone selama di Solo. Navysah mulai kesal dengan Davian, namun dirinya masih bisa menahan emosi.


Pak Ibrahim masuk ke dalam rumah, "Ada apa ini, ramai banget"


Mereka mulai terdiam tanpa suara. "Davian nanti kita ngobrol properti di pabrik saja, Ayah hari ini sibuk sekalian bantuin ayah ya, toh kamu sekarang udah resign"


Navysah melirik pak Ibrahim, mencoba mencerna apa yang didengarnya, "Siapa yang resign yah?" tanya Navysah.


"Davian" ucap Ayah Ibrahim.


"Kamu resign mas, Kok gak bilang sama Aku! " Navysah meninggikan suaranya.


"Aku baru mau bilang sama kamu tapi belum ada waktu yang tepat, dari pagi kamu selalu menghindariku" ucapnya.


Navysah merasa sangat marah, bukan karena Davian resign tapi karena lagi-lagi dirinya tidak pernah diajak bertukar pikiran.


"Gak usah banyak alasan, waktu itu aku telepon kamu gak ngomong apa-apa sama aku. Aku tidak masalah kamu resign, tapi setidaknya bicara denganku. Lagi-lagi kamu selalu mengecewakanku mas. Aku selalu bilang apapun yang aku inginkan, Apapun yang ingin kulakukan. Tapi kenapa kamu begitu mudahnya membuat keputusan sepihak tanpa bicara padaku, Aku seperti tidak dianggap. Kenapa kamu begitu jahat kepadaku mas!! " Navysah melupakan semua sesak didadanya, suaranya semakin meninggi karena rasa sakit hati pada suaminya. Dirinya sudah tidak kuat dan menangis kencang.


Davian memeluk istrinya, Namun Navysah meronta ingin dilepaskan " Maaf bukannya aku tidak mau memberi tahu kamu sayang, Aku lupa memberimu kabar bahwa aku resign, Aku sibuk saat itu. Dan juga masalah aku tidak memberi tahu kamu tentang properti karena aku tidak ingin kamu banyak pikiran, Aku ingin kamu fokus hamil. Nanti setelah properti berjalan lancar baru aku ingin memberikan kamu surprise. Aku minta maaf Nav"


Navysah mendorong tubuh suaminya dengan keras. "Aku merasa malu, selama ini aku disisimu tapi aku tidak tahu apa yang dilakukan suamiku. Kamu pikir aku patung!!. Setidaknya bicara padaku mas agar Aku merasa berharga disisimu!! teriaknya lagi.


" Lupa, kamu bilang ?! Aku tahu kamu bukan tipe yang langsung mengambil keputusan, Kamu pasti sudah merencanakan resign jauh - jauh hari tapi kenapa kamu tidak bilang sedikitpun padaku.Setidaknya, kamu kirim pesan padaku bahwa kamu resign. Sungguh, Aku sangat lelah berumah tangga denganmu,lebih baik kita akhiri saja hubungan ini. Aku sudah muak denganmu, kita cerai saja!! " Navysah berteriak keras pada suaminya, dan berlari ke kamar Davian. Dirinya mengunci pintu dan menangis kencang.


Davian merasa kaget dengan perkataan terakhir istrinya," Gak mau!! , Aku gak mau bercerai denganmu Navysah! " Dirinya berlari ke kamar istrinya mencoba membujuk istrinya.


"Sayang, please buka pintunya. Jangan bilang begitu, aku gak mau bercerai denganmu Sayang!" bujuk Davian. Dirinya menangis mendengar perkataan cerai dari istrinya, rasa bersalah dan menyesal memenuhi isi pikiranya.


Navysah tidak mendengar ucapan Davian, baginya saat ini menangis adalah hal yang paling baik untuknya.


Di ruang tengah, semua keluarga Davian terkejut dengan pertengkaran anaknya. bu Fera merasa syok mendengar kata cerai dari menantunya. Dirinya menangis sesenggukan. Kepalanya terasa pusing dan gelap. Dan dirinya pingsan tanpa diduga.


"Mama..!" ucap mereka bersama. Pak Ibrahim menggotong istrinya ke dalam kamar. Rani dan Imelda mulai panik, mereka bingung dengan apa yang harus dilakukan. Raffa pun menangis melihat Ayahnya bertengkar dengan ibunya. Suasana terasa kacau, semua karena tindakan anak lelakinya.


* **


Jangan lupa like, Vote and comment. Matursuwun reader, yang udah mampir di novel ini.

__ADS_1


__ADS_2