
Setelah bangun dari koma, Navysah melakukan fisioterapi dan dalam dua hari dia dinyatakan sehat total hingga dokter mengizinkanya untuk pulang. Sepanjang perjalanan Davian selalu memeluk istrinya, rasa syukur selalu dia ucapkan setiap saat dari mulutnya. Dia selalu mencium wajah istrinya tanpa malu, sedangkan sepasang kekasih yang ada di depan selalu menggerutu tiap kali melihat kelakuan adik dan iparnya.
"Dihhhh!! yang lagi seneng sampe lupa ama kita. Emang kita setan kagak kelihatan!" sindir Feri melirik tingkah Davian dari spion dalam sembari melajukan mobilnya dengan hati-hati.
" Gak usah reseh!, kamu nyetir aja yang bener. Kalau kamu pengen noh, ada mbak Imelda. Loe tinggal sosor dia aja kan udah halal "balasnya.
" Kalau udah ada dua manusia ini pasti deh berantem mulut, pusing aku!
Nav, obatmu aku taruh di tas hitam jangan lupa diminum. Dan kamu Davian jangan lupa puasa empat puluh hari, jangan minta jatah preman! " Dirinya mendelik kearah adiknya. Imelda tahu Davian terlalu cinta dengan istrinya,hingga terkadang membuatnya lupa diri jika sudah berdekatan dengan Navysah.
" Dengerin tuh, empat puluh hari si otong puasa. Klenger - Klenger tuh si otong kejang - kejang nggak bisa masuk gara-gara diportal, hahaha" ledek Feri.
Davian memutar bola matanya malas "Dua bulan aja aku sanggup, yang penting istriku sehat" tegasnya "Ya, yang ya" dirinya meminta pembelaan dari istrinya.
"Aku tidak yakin, seminggu aku menstruasi aja kau selalu cerewet dan selalu bertanya kapan aku selesai" ketusnya
Feri dan Imelda tertawa keras, rasanya sangat bahagia melihat Davian mati kutu dengan kejujuran istrinya.
Mereka tiba dirumah dan disambut keluarga dan teman dekat Navysah. Tangis haru mewarnai rumah Davian, mereka saling memeluk dan mengucapkan banyak rasa syukur karena Allah memberikan kesempatan kedua untuk Navysah hidup kembali.
"Mama..!!" Raffa berlari dan memeluk ibunya dengan erat. "Alhamdulillah, mama pulang lagi. Raffa senang" ucapnya.
Navysah menciumi wajah anaknya, dirinya sangat rindu dengan celotehan Raffa. "Iya sayang, makasih Raffa selalu menjadi anak baik. Mama bahagia punya anak se sholeh Raffa"
Navysah masuk dan duduk di sofa tengah, dirinya belum mampu duduk lesehan. Rasa sakit sehabis melahirkan masih terasa di bagian intimnya.Maya selalu menangis melihat Navysah, dia sangat bahagia Navysah bisa pulang kembali.
__ADS_1
"Maya, kamu jangan menangis terus. Tambah jelek tahu!" ketus Navysah. Maya tersenyum dan memeluk Navysah sebentar. "Aku takut kehilanganmu, walaupun aku tahu nyawamu dulu seperti kucing tapi aku kali ini benar-benar takut kau meninggalkanku, kita sudah seperti sandal jepit kemana selalu bersama sejak dulu" ucapnya.
Navysah mengingat kejadian dulu saat dirinya jatuh di aspal jalanan yang sedang diperbaiki,dirinya mengebut dan tergelincir sejauh dua puluh meter namun tidak terluka sama sekali, hanya motornya yang rusak. "Alhamdulillah, nyawa kucingku masih berfungsi. Semuanya berkat do'a dari kalian semua. Aku ucapkan terimakasih banyak"
Bu Yani selalu memeluk anaknya, rasa teramat bahagia dia rasakan, bisa melihat putrinya kembali hadir di tengah - tengah keluarga.
"Mama jangan nangis terus Navysah sudah sehat mah" Dirinya mengelus punggung ibunya.
"Mama sangat bahagia, Allah mendengarkan do'a mama. Mama tidak tahu apa jadinya hidup mama tanpa kamu Nav. Harta mama cuma anak - anak. Mama bisa kehilangan semuanya, tapi mama tidak bisa kehilangan anak-anak mama. Mama takut Nav, lebih baik mama dulu yang pergi dari dunia ini jangan kamu" dirinya sesenggukan tak kuasa menahan semua sesak di dadanya.
Navysah memegang erat lengan ibunya, seperti biasa dirinya selalu bergelayut manja. Walaupun Navysah sudah dewasa, baginya dia tetap seperti anak kecil dimata ibunya. Perasan nyaman dan tenang setiap kali berada di sisi ibunya. "Navy kangen mama,selalu kangen mama, jadi mama jangan pernah berniat pergi dari dunia ini. Navy nggak sanggup mah, mamah segalanya bagi Navysah dan mba Naysila. Kasih sayang mama tidak ada batasnya untuk kami" ucapnya berkaca-kaca.
Dan Mereka bersenda gurau di ruang tengah, hingga Mbak Siti dan mama Fera membawa bayi kembar Navysah. Melihat kedua bayinya yang sehat dengan pipi yang chubby membuat Navysah meneteskan airmata. Dia menangis bahagia akhirnya bisa melihat anak kembarnya "Anakku, maafkan mama baru menggendongmu sekarang" lirihnya sembari mencium pipi anak - anaknya.
"Nav, nama si kembar siapa? Please ya jangan kasih nama mereka Bima dan Rico, nanti kegantenganku menular padanya" Bima terkekeh dengan ucapannya.
Mereka senang Davian sudah mulai ketus dan kesal lagi, itu artinya dia sudah waras kembali pikir Bima dan Rico.
"Namanya Khalif dan Khafa" ucapnya Davian.
Navysah gemas melihat anaknya yang tampan mirip Davian. "Lihat ini fotocopyanmu" bisik Navysah ditelinga suaminya.
"Hehehe, iya mirip denganku. Kan aku yang bekerja keras tiap malam. Nanti kalau dedek udah setahun kita bikin lagi baby girl" bisiknya. Namun bu Fera mendengar ucapan anaknya yang mesum. "Puasa dulu Davian, enak aja bikin lagi kalau si bayi udah setahun!, kamu kira nggak capek ngurusin anak, minta produksi terus" bu Fera menjewer anaknya saking gemesnya. "Ingat empat puluh hari puasa, kalau mau bikin lagi tunggu bayi ini usia lima tahun!" sambungnya lagi.
"Pumpung masih muda mah" balasnya dengan cengengesan namun dia dapat jitakan dari istrinya. "Kamu aja yang melahirkan" ketus Navysah.
__ADS_1
Semua yang ada diruangan tergelak tawa, hingga membangunkan dua bayi kembarnya,mereka menangis kencang.
"Minta susu kali mah, dia haus" ucap Davian pada bu Fera. "Iya, dia belum minum dari tadi.Mama bikin susu formula dulu"
"Jangan mah, biar pake ASI saja. Aku ingin mereka terbiasa minum ASI seperti Raffa dulu. Mama tenang saja, kesehatanku sudah pulih"
"Yaudah kamu istirahat di kamar gih, sambil ******n dedek"
Navysah berjalan ke arah tangga, ingin rasanya dia mempunyai kantong doraemon agar langsung kedalam kamar, menaiki setiap tangga pasti sangat menyusahkan. Dirinya menghela nafas panjangnya. Davian tahu istrinya lelah jika naik turun tangga. " Sayang, aku tahu kau pasti lelah jika naik turun tangga. Besok aku akan menata kamar tamu untuk kita sementara. Nanti aku beli rumah tiga lantai yang ada lift nya untuk kamu"
"Disini aja nggak papa mas, rumah ini sangat besar bagiku, yang penting nanti kamarnya pindah dibawah saja. Aku kelelahan jika harus naik turun tangga. Kamu tabung saja uangnya untuk bisnis dan keperluan anak-anak nantinya. Daripada beli rumah mending belikan aku daster busui satu lusin "
" Dasar istriku gila!, dia minta daster daripada rumah "gumamnya dalam hati." Iya nanti aku belikan satu toko juga nggak papa buat kamu" ucapnya.
Bu Fera mendengar perkataan Navysah, dirinya sangat senang mendapatkan menantu sebaik Navysah yang tidak banyak nuntut suaminya.
Navysah bersandar di kepala ranjang, dirinya membuka kancing bajunya dan menyusui bayinya. "Isshh" dirinya mendesis ketika pertama kali bayinya mengh*sap payud*ranya.
Davian hanya menelan salivanya, dia melihat gundukan istrinya yang besar. Ada perasan iri dihatinya " Seharusnya itu milikku" ucapnya dalam hati. Bu Fera melirik anaknya, dia tahu apa yang ada di otak anaknya sekarang. "Pletak!" dirinya menyentil kepala Davian. "Inget, puasa empat puluh hari. Awas kamu ya mesum dengan menantu mama" ancamnya.
"Mama kok tahu sih, aku jadi malu. Lihat, jumbo begitu aku jadi iri dengan anakku. Seharusnya itu milikku!" protesnya sembari melihat dada istrinya.
"Dasar PE'A!" bu Fera tersenyum melihat Davian kembali ceria, tidak seperti seminggu yang lalu. Dirinya pamit keluar kamar. Dia memberi anaknya waktu untuk istirahat dengan istrinya.
* **
__ADS_1
Jangan lupa like, Vote and comment yang banyak ya. Love you all reader 😘😘😘