Cinta Navysah

Cinta Navysah
Membujuk untuk pulang


__ADS_3

Bu Erni menggandeng Raffa ke teras, dirinya memberikan waktu untuk Davian berbicara dengan Navysah.


Davian membuka pintu dengan hati-hati, dia menghampiri istrinya yang sedang tertidur. Terlihat Navysah yang memakai daster dengan perut yang membuncit. Davian berkaca - kaca sembari duduk di sisi ranjang. "Istriku" lirihnya. Dia tidak menyangka akan bertemu Navysah hari ini,ditatapnya setiap inci wajah istrinya, wajah yang selalu dia rindukan. Dirinya mencium kening Navysah dan mengelus perut istrinya yang membesar "Anak-anakku, maafkan ayah Nak! " dirinya menangis terisak tidak mampu menahan airmatanya karena penyesalannya.


Navysah merasa terganggu dengan suara orang menangis, dirinya mengerjapkan matanya, dan melihat wajah suami yang selalu dirindukannya. Dirinya tidak percaya ada Davian yang duduk disampingnya.Dirinya melihat wajah seorang pria yang sedikit gondrong,lusuh, tidak terawat,banyak jambang yang tumbuh di wajahnya "Apa aku mimpi?!" tanyanya dalam hati.


Dirinya menjambak rambut Davian dengan kencang. "Issshhh.." Davian berdesis menahan sakit. Navysah melotot, ternyata sosok suaminya nyata di depannya. Dirinya segera membalikkan tubuhnya. "Pergilah, aku tidak mau melihatmu!" ketusnya.


"Sayang..., Maafkan aku" ucapnya dengan mengiba dan sendu.


"Pergi..!!" teriak Navysah,dirinya menahan airmatanya agar tidak tumpah. Jauh dilubuk hati, melihat suaminya yang kurus dan tidak terawat membuat hatinya terenyuh, apa benar Davian sangat kehilangan dirinya hingga penampilannya berantakan seperti itu.


Davian tetap kekeh tidak beranjak dari tempat duduknya" Aku bersalah, maafkan aku" lirihnya. "Sayang... " dirinya mengelus rambut istrinya.


Navysah menepis tangan Davian, "Jangan panggil aku sayang!, kamu pembohong!. Kamu tidak pernah mencintaiku, hiks hiks" dirinya menangis tidak mampu menahan rasa sesak di dadanya.


"Tidak Nav! , kamu salah paham. Aku selalu mencintaimu dan Raffa. Bukan Natasha, dia hanya teman bagiku" Davian mengelus punggung istrinya.


"Nggak!, kamu bohong. Aku mendengarnya sendiri dan kamu tidak ingin melihatku lagi kan, kamu mendorongku dan perutku sakit saat itu. Kamu ingin membunuh anakku" ucapnya sesenggukan.


"Tidak sayang!, kamu itu salah paham. Kamu tidak mendengar secara keseluruhan. Dan malam itu aku tidak mengusirmu. Justru aku yang pergi menghindarimu karena aku tidak mau bertengkar denganmu, Aku tidur di restoran. Dan untuk mendorongmu, aku minta maaf. Sungguh aku tidak sengaja, aku emosi saat itu karena kamu menuduhku sebagai ayah Kanaya. aku tidak berniat membunuh anak kita, sungguh!. Maafkan aku sayang, maafkan aku" ucapnya memelas dan terisak.


Navysah masih tidak bergeming dirinya menutup matanya dengan lengannya. Davian bingung, apa yang harus dilakukan agar istrinya percaya padanya. Dirinya mengelus perut istrinya, namun tangannya langsung ditepis lagi oleh Navysah. "Jangan menyentuh perutku! Ini anakku, milikku! " ucapnya dengan tatapan tajam.


"Tapi ini juga anakku, benihku. Kita membuatnya bersama" selorohnya. "Aku ingin kita pulang, aku akan merawatmu dan anak-anak kita" pintanya.


Navysah menatap tajam suaminya, dia pusing dengan ocehan Davian." Kamu saja yang pulang!, aku tidak mau pulang. Aku ingin tinggal disini! " serunya sembari bangkit dari tempat tidur. Navysah merapikan tempat tidurnya dan bergegas mandi.


Davian tidak menjawab pertanyaan istrinya, matanya terkunci hanya melihat apa yang dilakukan Navysah. Jauh dari lubuk hatinya dia ingin sekali memeluk istrinya, menghujani wajahnya dengan banyak ciuman namun dirinya masih takut, Navysah akan marah kepadanya.

__ADS_1


Navysah keluar dari kamar mandi, dirinya masih melihat suaminya terdiam di sisi ranjang dan menatapnya. Dirinya bergegas keluar kamar tanpa memperdulikan suaminya. Navysah bertemu Kamil di ruang tengah, Kamil sempat menyapanya namun Navysah hanya tersenyum dan bergegas ke dapur, dirinya merasa lapar.


Davian mencari istrinya, dia mengikuti Navysah ke dapur dan duduk di sisi istrinya yang sedang makan. "Pergilah!, selera makanku rusak dengan melihat wajahmu!" ketus Navysah. Davian langsung pergi, dirinya ingin Navysah banyak makan agar dia dan anaknya sehat. Davian menunggu di kamar Navysah. Dirinya berbaring di ranjang bersama anaknya, memeluknya dengan erat. Dirinya tidak ingin anak dan istrinya pergi lagi.


" Ayah, kenapa lama jemput kita. Raffa kangen yah?"


"Maafkan Ayah Nak!, Ayah sibuk. Ayah juga kangen sama Raffa" ucapnya berbohong, dia menciumi anaknya. "Makasih ya sayang sudah telepon ayah, anak ayah memang pintar". Davian mengusap kepala anaknya.


"Kita kan kangen ayah, kata mama ayah lama jemputnya. Kalau Raffa tanya jawabnya Ayah sibuk kerja" ucapnya cemberut. "Mama juga kangen Ayah, tiap hari dia cium baju ayah sambil mengelus perutnya, kadang mama juga menangis sebelum bobo malam" ucapnya polos.


Davian terkejut dengan penuturan anaknya."Benarkah!" ucapnya tidak percaya. Davian tersenyum bahagia ternyata selama ini istrinya rindu dengannya.


"Bener yah, tapi Ayah jangan bilang mama ya. Nanti Raffa diomelin" ucapnya.


Davian membisikan sesuatu di telinga anaknya dan Raffa menganggukan kepalanya. Mereka bercengkrama di tempat tidur sembari menunggu Navysah.


Davian melirik istrinya "Aku mau disini bersama anak dan istriku, sebelum mereka mau pergi bersamaku ke jakarta. Aku akan tetap disini"


"Iya mah, Ayah disini saja sama kita. Raffa ingin bobo sama Ayah" pintanya. Navysah memutar bola matanya malas, melihat suaminya seakan mengingatkan dirinya akan kejadian malam itu. Dirinya keluar dari kamarnya dan duduk bersama Kamil. Navysah terengah mengatur nafasnya. Padahal baru delapan belas minggu namun perutnya lumayan besar. Kamil mencoba untuk mengobrol dengan Navysah. "Kamu kelelahan ya Nav?" tanyanya.


"Sedikit, kehamilanku kali ini lebih buncit. Mungkin karena mereka kembar"Navysah mengelus perutnya.


" Pulanglah!, agar kamu ada yang mengurus di rumah. Jika kamu nyidam, tinggal bilang dan pasti dibelikan Davian. Kalau disini jauh dari kota pasti sulit mendapatkannya. Emang kamu mau anakmu ileran "ucapnya.


" Ada Shafiq dan Ifa" dia yang membelikanku semua makanan yang kuinginkan"balasnya. Memang benar apa yang dikatakan Kamil, hidup di pedesaan sangat sulit mendapatkan apa yang diinginkan. Apalagi ibu hamil yang biasanya nyidam macam - macam. Mereka mengobrol panjang lebar, Kamil menceritakan keadaan Davian setelah kepergian Navysah. Tanpa terasa Navysah menangis, merasa iba dengan Davian. Kamil pun menjelaskan tentang Natasha yang sebenarnya,bahwa tidak ada hubungan di antara mereka.


Malam hari, Shafiq dan Ifa datang ke villa. Mereka sudah mendapat telepon dari bu Erni bahwa Davian datang.


"Assalamualaikum "

__ADS_1


"Walaikumm salam"


Shafiq menghampiri Navysah, dirinya membawakan makanan kesukaan Navysah. "Makasih Shafiq". Navysah membuka martabak manis dan memakannya. " Mas Kamil makanlah?" Navysah menyodorkan makanan.


Davian keluar dari kamarnya, dirinya melihat Shafiq dan dokter Ifa. Ingin rasanya Davian menghajar Shafiq karena beraninya menyembunyikan istrinya. Namun dia urungkan, dia lebih berpikir bagaimana caranya Navysah untuk pulang bersamanya.


"Kau sudah minum susu?" tanya Shafiq.


"Belum" ucapnya sembari mengunyah makanan. "Baiklah, akan kubuatkan" balasannya.


"Biar Aku saja!" tukas Davian. Dirinya ingin sekali memanjakan istrinya yang sedang hamil walaupun hanya sekedar membuatkan susu.


"Tidak, biar Shafiq saja. Dia lebih tahu" ucap Navysah. Davian terlihat sendu, padahal dirinya ingin sekali membuatkan susu untuk istrinya.


Shafiq berjalan kearah dapur, dirinya merasa kasihan melihat Davian. Di dapur Shafiq mengirimkan pesan pada Davian.


"Hai, suami Navysah yang bodoh. Kemarilah,aku akan mengajarimu membuat susu untuknya"


Davian membaca pesan dan menuju dapur. Di dapur mereka diam. Shafiq mengajari Davian takaran susu untuk istrinya, walaupun di dalam box tertera cara penyajian. Namun Navysah lebih suka susu yang tidak terlalu manis.


"Ingat!, istrimu suka tiga varian yang berbeda. Tiap hari harus beda rasa,air hangatnya dibanyakin. Apa kau mengerti?! " ucapnya.


Davian mengangguk,dirinya tidak menyangka Shafiq sebaik itu. Awalnya Davian mengira Shafiq akan menjadi pihak ketiga yang akan merebut istrinya.


" Terima kasih sudah menjaga istriku,maaf Aku sempat berpikir buruk tentangmu dokter jelek" ucap Davian.


Shafiq menatap tajam Davian "Apa kau bilang, aku jelek! Wah, kau cari perkara denganku" Dirinya menonjok lengan Davian dan tertawa bersama. "Ingat, istrimu jangan dipaksa. Nanti juga dia akan pulang, sekarang keluarlah lebih dahulu. Aku akan membawa ini untuk istrimu, agar dia tidak tahu bahwa kamu yang membuatnya"


Davian lebih dulu keluar dari dapur dan duduk di sisi Kamil. Beberapa saat kemudian Shafiq datang membawa segelas susu dan menyodorkan kearah Navysah. "Makasih" ucap Navysah. Dirinya menghabiskan susu tersebut. Dan nampak muka Davian begitu senang melihat istrinya meminum susu buatannya.

__ADS_1


__ADS_2