Cinta Navysah

Cinta Navysah
Menikah dadakan


__ADS_3

Sejak kemarin Navysah tidak bisa tidur terkadang perut terasa mules terkadang tidak, dirinya sering bolak balik kamar mandi sekedar untuk buang air kecil. Tengah malam, dirinya hanya bermain handphone untuk mengurangi rasa sakitnya. Dirinya gelisah keringat bercucuran walaupun pendingin udara sudah di maksimalkan.


"Kamu kenapa?" tanya Davian yang melihat istrinya tidak nyaman untuk tidur.


"Nggak papa, cuma gerah aja. Si dedek aktif banget" balasnya. Davian mengelus perut Navysah,untuk memberikan rasa nyaman padanya.


"Pinggangnya aja mas, pegel banget" ucapnya. Davian menuruti keinginan istrinya, dirinya mengelus punggung dan pinggang Navysah.


"Besok sore kita ke Ifa ya, kita cek lagi. Aku tidak tega melihatmu susah tidur seperti ini"


"Iya kita cek lagi, kalau nggak bisa tidur itu sudah biasa mas. Namanya juga hamil tua ya begini, bentar lagi juga dedek lahir mas"


Mereka tidur sekitar pukul dua malam. Davian pun menemani istrinya mengobrol.


Pagi hari, Davian bersiap ke kantor.Navysah seperti biasa menyiapkan semua perlengkapan suaminya. Hati-hati kerjanya, jangan lupa makan. Semuanya sudah aku siapkan. Davian menghampiri istrinya "Makasih sayang, Cup"


"Nanti aku pulang cepat, kita kan mau ke dokter Ifa. Kamu istirahat aja ya"


"Iya mas, Cup, cup, cup" Navysah menghadiahi wajah suaminya banyak ciuman. Davian tersenyum, "Kamu kenapa seminggu ini romantis banget, biasanya aku dulu yang kiss"


"Lagi pengen aja, emang kamu nggak mau?, yaudah itu yang terakhir, aku nggak cium lagi" cemberut Navysah.


"Jangan dong, aku lebih suka kamu kayak gini lebih agresif menurutku" balasnya. Navysah memukul lengan suaminya "Kamu ngeselin!" ketusnya.


"Aku berangkat dulu, assalamualaikum"


"Walaikumm salam"


Sore hari, disisi lain.


Imelda masuk ke sebuah Cafe, dirinya menunggu seorang sahabat dari kantor lamanya. Namun di pojok Cafe itu terlihat dua orang pria yang memperhatikan Imelda dengan sorot mata yang tajam.


"Hei bro, loe tahu disana ada cewek yang pakai baju putih yang duduk sendirian" tanya pria itu.


"Oh, ya aku lihat. Cantik juga,dia mantanmu!" tanya temannya.


"Tidak!, dulu aku suka dengannya tapi dia menolakku. Mulutnya sangat pedas, membuatku sakit hati. Apalagi dia pernah mengalahkanku di proyek besar,dia itu perempuan pintar.Hei bro, bantu aku mengerjainya. Kau mau?" tanyanya.


"Oke!" mereka mendekati Imelda. "Hei, mel, sudah lama tidak bertemu" tanyanya.


Imelda melirik lelaki tersebut "Oh, Beni " Imelda menatap malas temannya itu, dia tahu seorang Beni terkenal playboy dan mesum.


"Aku baik, kenalkan ini Alex" Beni memperkenalkan temannya. "Kamu sedang nungguin siapa mel?" tanyanya.

__ADS_1


"Aku menunggu temanku, tapi dia belum datang. Entahlah!" ucap Imelda. "Kalau kau tidak berkepentingan, sebaiknya kamu pindah. Aku hanya ingin sendirian" ketusnya.


"Ternyata kamu masih sama ya mel, masih judes saja!" ucapnya " Kau sudah menikah? "


"Pergilah, kita tidak terlalu kenal. Aku menikah ataupun belum bukan urusanmu" ketusnya lagi.


Beni kesal dengan keangkuhan Imelda, dia mengedipkan mata pada temannya, " Eh, mel itu siapa!" dirinya menunjuk seseorang ke arah lainnya. Alex meneteskan sesuatu di minuman Imelda.


"Mana?" tanya Imelda.


"Itu bukannya Pak Zidan, manager kita dulu"


"Bukan, dia hanya mirip saja" ucap Imelda. Dirinya meminum jus mangganya. Tanpa sadar Beni tersenyum menyeringai.


"Mel, kita jalan yuk ke Mall. Aku ingin bernostalgia denganmu. Kita seneng - seneng" pintanya


"Nggak, aku mau disini saja menunggu temanku". Imelda merasa pusing, namun ada sesuatu ditubuhnya yang membuatnya bergairah.


"Ayo...!!" Beni menarik tangan Imelda, mencoba untuk memaksanya.


"Lepaskan...!!" bentaknya. " Kenapa sih kamu dari dulu suka maksa" ucap Imelda sambil memegangi kepalanya yang sakit.


Seorang wanita teman Imelda masuk ke dalam Cafe. Dia melihat Imelda dengan dua orang pria yang memaksa dan menarik tangannya. " Kamu itu siapa?!, lepaskan temanku. Jangan memaksanya " ucapnya


Teman Imelda mengenyitkan dahinya, " bukanya pacar Imelda si Feri" gumamnya dalam hati. " Hai, penipu! kamu kira aku bodoh. Aku tahu pacar Imelda,kamu jangan bohong! . Mending kalian pergi, kalau nggak aku laporkan manager Cafe dan polisi!" ancamnya.


Beni dan Alex ketakutan mendengar kata polisi , dirinya kesal tidak bisa membawa pulang Imelda dan mereka akhirnya pergi dari Cafe itu.


"Imel, kau baik-baik saja?, maaf aku terlambat. Aku mengantar anakku dulu membeli buku" ucapnya.


"Neni, tolong aku. Kepalaku pusing dan aku tidak tahu. Badanku terasa panas, panas sekali. Tolong aku Nen!" ucapnya.


"Mana handphonemu, sini aku telepon pacarmu atau adikmu" pintanya.


Imelda menyerahkan handphonenya dan menekan kata sandinya mencoba menelepon Feri. Dirinya terkulai lemas dikursi" Panas, Nen tolong aku! "


"Haloo, benarkah ini Feri?" ucapnya.


"Iya, ini siapa? Bukankah ini nomor telepon Imelda"


"Feri, cepetan kamu ke Cafe Raya. Imelda sepertinya di beri obat sama dua orang temannya. Dia pusing dan merasa panas. Apa kau bisa kesini?" tanyanya.


"Oke, beri aku alamatnya. Aku segera kesana. Tolong jaga Imelda sebentar sebelum aku kesana kamu jangan pergi"

__ADS_1


"Okee!" Neni menutup sambungan teleponnya.


Feri melajukan mobilnya secara ugal-ugalan. Disepanjang jalan, dirinya banyak diumpat oleh orang lain karena melajukan mobilnya diatas rata-rata. Dia ingin cepat - cepat sampai di Cafe Raya.


Feri berlari ke dalam Cafe. "Imelda, apa yang terjadi denganmu" Feri menyentuh wajah pacarnya. "Feri, aku pusing. Badanku panas Fer, tolong aku" ucap Imelda.


Neni menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Feri begitu geram mendengar penuturan teman Imelda. "Aku bawa Imelda pulang dulu, terima kasih sudah menjaganya!"


Feri melajukan mobilnya ke arah apartemen Imelda. Sepanjang jalan Imelda selalu meracau panas dan pusing. "Aku rasa si pria itu memberikan obat perangsang. Sial!!" Feri memukul setor mobilnya.


"Feri, bantu aku.Kamu ngerti nggak sih!!, Aku kepanasan!!" teriak Imelda.


"Iya sayang, sabar ya" Feri kebingungan apa yang harus dilakukan. "Aku tidak mungkin menerjangnya. Ya allah aku harus bagaimana ini" ucapnya frustrasi. Dirinya menelepon Davian, ingin mencari jalan keluarnya.


"Apa..!!" ucap Davian. "Aku lagi sibuk mau anterin Navysah ke dokter" ucapnya.


Feri menceritakan apa yang terjadi dengan Imelda, dirinya bingung apa yang harus dilakukan.


"Sekarang dia sakaw, kepanasan teriak terus. Apa yang harus aku lakukan?" tanya Feri.


Davian mengumpat di ujung telepon, dirinya geram pada teman Imelda yang berani kurang ajar dengan kakaknya.


"Feri, apa kau benar - benar mencintai kakakku?" tanya Davian


"Kenapa kau bertanya seperti itu, aku sangat mencintainya dan serius dengannya! "


"Baiklah, sekarang dengarkan aku. Kau bawa ke apartemen Imelda. Aku akan menikahkanmu dengan kakakku. Aku sebagai walinya. Ini pernikahan siri, bulan depan kau harus menikah di KUA. Kau mengerti. Ini keadaan darurat, sekarang kau telepon Ayah Ibra minta izin dengannya. Aku akan menghubungi kyai, dan teman lainnya sebagai saksi.urusan dokumen aku kira bisa menyusul "ucap Davian.


" Baiklah!, aku setuju denganmu" Feri menutup teleponnya.


Di apartemen Imelda selalu meracau kepanasan,hingga Feri bingung harus melakukan apa. Feri menggendong Imelda ala bridal style ke kamarnya. Dia merebahkan Imelda di ranjang. "Kamu disini dulu nanti Davian datang"


Imelda tidak menjawab perkataan Feri, baginya sekarang dirinya sedang kepanasan dan ingin menuntaskan sesuatu didalam tubuhnya. Dirinya mencium Feri secara rakus, hingga Feri sang cassanova insyaf merasa bergelinjang.


"Ya, allah cobaan apa lagi ini. Kalau aku tidak ingat pesan Navysah untuk menjaganya aku pasti sudah menerjangnya. Semoga Davian cepat kesini,yang ada aku diperk*sa Imelda" gumam Feri.


"Feri!!, kenapa kau tidak membalas ciumanku!, Aku sangat menginginkanmu sekarang!" teriak Imelda sembari membuka bajunya,terlihat jelas bra yang dipakainya.dan dia membuka celana yang melekat pada tubuhnya. "Feri!!, Aku kepanasan!"


"Astagfirullah, astagfirullah" Feri keluar kamar dan mengunci Imelda dari luar. "Lama-lama aku bisa gila melihat Imelda seperti itu. Sudah imanku tipis, apalagi sekarang adikku bereaksi" Feri melihat bagian bawahnya yang mengeras. Dirinya menelepon pak Ibra, menjelaskan semua yang terjadi dan dia meminta izin untuk menikahi Imelda secara siri, baru bulan depan akan diurus nikah KUA. Dan pak Ibrahim mengizinkan, itu lebih baik daripada zina.


* **


Jangan lupa like, Vote and comment ya bos.Jangan minta up dulu, Author lagi sibuk. Siang kerja dunia nyata malam dunia halu. Hehehehe. Kalau ada kesempatan Author up lagiπŸ™.

__ADS_1


Love you all reader 😘😘😘😁


__ADS_2