
Bu Fera tersadar dari pingsannya, dirinya memanggil nama menantunya. "Navysah, Navysah" lirihnya.
"Mama istirahat mah, jangan bangkit dulu. Ini Davian mah!" balasnya.
Bu Fera memukul-mukul dada anaknya, merasa kecewa dengan sikap anak lelaki satu-satunya. "Kamu piye sih mas!, Mama kecewa dengan sikapmu. Berani-beraninya membuat menantu mama menangis dan bersedih!"
"Dimana Navysah?, mama ingin bertemu dengannya" ucap bu Fera.
"Percuma mah, Navysah gak keluar dari kamarnya.Mungkin dia ingin menenangkan diri dulu, Imel udah ketok - ketok pintu tapi tidak dibuka, dari dalam kamar hanya terdengar suara radio. Imel rasa dia sengaja menyetelnya karena Davian berteriak terus dari tadi" ucap Imelda melirik adiknya.
"Dia belum makan siang, biasanya dia selalu makan dengan lahap. Rani suruh budhe anterin makan di depan pintu untuknya"pinta bu Fera.
" Iya mah"
Bu Fera menjewer telinga anaknya, "Pokoknya mama gak mau tau,mama gak mau kehilangan menantu sebaik Navysah. Dia yang merawat mama. Dasar kamu bodoh!. Kamu bukan bujangan lagi mas, kamu sudah punya istri. Baik buruknya harus dibicarakan bersama" ucap bu Fera.
"Maafkan Davi mah" lirih nya dengan rasa menyesal.
"Jangan minta maaf sama mama, minta maaf sama istrimu sana!" ketus bu Fera.
Hingga sore hari Navysah tidak ada tanda- tanda keluar. Bu Fera mengetuk pintunya. "Nduk, ini mama. Kalau kamu masih marah sama Davian gak papa tapi kamu butuh tenaga untuk marah, makanannya mama taruh di depan pintu,jangan lupa dimakan" bu Fera turun kembali ke lantai satu.
Navysah yang mendengar derap langkah mertuanya turun ke lantai bawah. "Aku sangat lapar, tapi Aku muak bertemu Davian" Dirinya memutar kunci pintu dan mendapati banyak makanan.
"Mama Fera memang sangat baik padaku, dia tahu aku pasti kelaparan" Navysah membawa nampan makanannya dan mengunci pintunya kembali. Dirinya sempat melihat penampilannya di depan kaca.
"Oh my God!, mataku seperti habis dipukuli. Sudah berapa lama aku menangis!" dirinya bermonolog sendiri.
"Lihat!, rambutku udah kayak nenek sihir acak - acakan. Muka udah kusam,pucat, badanku bau keringat" dirinya mencium ketiaknya sendiri. "Aku seperti Mak Lampir jadi jadian" ucapnya
Navysah duduk di ranjang dan memakan semua makananya tanpa sisa. "Alhamdulillah cacingku udah gak koplo an lagi, terima kasih Ya allah" ucapnya.
Dirinya mengendap-endap membuka pintu, mengeluarkan nampannya lagi dan mengunci pintu kembali. Setelah mandi dan sholat dirinya bercermin kembali. "Kok jelek amat mukaku !" dirinya berdecak kesal.
__ADS_1
"Makeup an dulu, biar mirip manusia" ucapnya. Dirinya mulai memoles wajahnya, setelah itu kembali tidur. Entah kenapa, dirinya selalu ingin tidur. Merasa capek dengan keadaan yang terjadi.
"Aku ini kenapa cepat merasa lelah, mood ku tiba-tiba selalu swing. Apa aku mau menstruasi" lirihnya.
" Bodo amat!, mungkin karena kesal dengan Davian jadi aku selalu marah dengannya " Navysah mulai memejamkan matanya kembali.Tengah malam dirinya terbangun dilihatnya sebelah sisi ranjang yang kosong.
"Padahal Aku sudah ingin memaafkanmu mas,tapi kamu selalu membuat kesalahan yang sama" tanpa terasa air matanya menetes begitu saja. Dirinya memejamkan mata mengingat kejadian yang terjadi. "Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, Aku menyayanginya, Aku tidak ingin bercerai dengannya. Tapi kenapa dia selalu membuatku sakit hati!, kenapa Aku selalu lemah dengannya, dan Aku selalu memaafkannya"
Navysah melirik jam dinding, " Sudah jam dua lebih baik aku sholat tahajud untuk menjernihkan pikiranku". Navysah melaksanakan sholat di kamarnya, setelah selesai dirinya duduk bersimpuh. Melafalkan semua do'a, memikirkan keputusan apa yang akan diambilnya.Dipikiranya selalu terlintas mengingat kebaikan suaminya, dan ibu mertuanya.Hingga tanpa terasa dirinya tidur di sajadah dan masih menggunakan mukenanya.Jam lima tepat dirinya terbangun "Astagfirullah, aku kesiangan" Navysah bergegas mandi dan sholat subuh.
Dirinya mulai bingung apa yang harus dia kerjakan setelah shalat subuh, sejak kemarin dirinya selalu didalam kamar. Jenuh, dirinya ingin turun kebawa melihat anak semata wayangnya, tapi masih ada rasa kesal jika melihat suaminya.
Davian semalaman tidak tidur, dirinya mencemaskan istrinya. Terlihat rasa bersalah di matanya, sejak kemarin dirinya mencoba mengetuk pintu kamar istrinya namun Navysah tetap tidak mau membukanya. Dan bu Fera mengerti apa yang dirasakan anaknya.
"Mah, bantuin Davi ngomong sama Navysah. Davi gak mau cerai darinya titik!" pinta Davian pada ibunya.
"Mama juga gak mau kamu pisah dengannya, makanya mas kamu jangan bikin ulah! " ketus bu Fera.
"Coba kamu bujuk Raffa ke kamar ibunya, dia pasti akan membukakan pintu.Minta maaf sama dia, Dan kalian semua harus baik pada Navysah. Apapun yang diminta dirinya harus dipenuhi" titah bu Fera menunjuk Rani dan Imelda dengan jarinya.
"Mah, Raffa ingin mandi. Raffa belum maem, laper mah!" ucap Raffa. Davian mengumpet di samping pintu kamar Navysah, berharap istrinya membuka pintu dan dirinya akan menerobos masuk.
Navysah mendengar suara anaknya, dirinya terbangun dari ranjangnya. " Raffa, anakku! ". Navysah membuka pintu kamarnya dan melihat anaknya baru bangun tidur. Navysah berjongkok dan memeluk anaknya. " Mama kangen Raffa, Ayo mandi. Habis itu maem ya" ucap Navysah sembari menggandeng anaknya.
Davian bergegas masuk ke kamar Navysah, dirinya takut tidak diizinkan istrinya masuk.Navysah kaget suaminya langsung menyambar dan memeluk dirinya. "Lepaskan!, Aku bilang lepaskan mas. Aku sesak nafas"
Davian melepaskan pelukannya dan menuntun Navysah duduk di sisi ranjang. "Kamu boleh marah padaku, tapi jangan mengucapkan kata perpisahan. Aku gak mau bercerai denganmu Navysah. Lebih baik kamu memukulku sepuasnya, daripada aku harus berpisah denganmu" ucapnya.
"Maafkan Aku sudah membuatmu bersedih, sungguh apa yang Aku katakan benar. Aku tidak ingin kamu banyak pikiran, Kamu sudah lelah mengurus rumah dan pekerjaan. Aku hanya ingin kamu fokus hamil, dan wanita yang di Cafe itu hanya temanku sejak di Amerika. Teman Natasha juga,bukan aku yang memeluk dan menciumnya tapi dia yang langsung memelukku. Untuk yang resign, sungguh Aku ingin kamu tahu langsung dariku, maaf jika aku lupa. Maafkan segala kesalahanku Navysah " ucap Davian.
Navysah memukul - mukul dada suaminya, merasa sangat kesal dengan tindakan suaminya.
" Kamu mau kan maafkan Aku ? " pinta Davian.
__ADS_1
" Nggak! "
" Kok nggak! , Yang maafin Aku yang?! " bujuk Davian.
" Kamu melakukan kesalahan yang sama mas, dan selalu menuduhku ada hubungan dengan Shafiq. Percaya padaku, aku tidak ada hubungan spesial denganya dan bukan Aku yang meneleponya. Kalau tidak percaya tanya Raffa sana" ucap Navysah.
"Iya ayah, Raffa yang telepon Kinan. Raffa kangen bermain dengannya"ucap Raffa.
" Iya, Aku percaya kamu. Aku ngijinin Raffa main sama Kinan.Kalaupun Shafiq bertemu denganmu aku ijinin tapi kamu harus jaga kepercayaanku" ucapnya.
"Sungguh!, Kamu yakin dengan apa yang kamu katakan. Aku gak mau kalau kamu plin plan lagi"
" Iya, Aku janji. Jadi kamu mau kan maafin Aku!? " tanya Davian.
"Nggak!"
"Kok, nggak lagi!. Apa lagi Navysah! " ucapnya frustrasi.
" Yang pertama turutin semua keinginan Aku, yang kedua jangan dekati Aku dulu.Melihat wajahmu membuatku mual, ketiga jangan tidur denganku untuk saat ini. Mengerti!"
Davian merasa kaget dengan keinginan istrinya. Dirinya baru tahu, Ada orang yang melihat wajah tampan nya membuat dirinya mual. Dan syarat ketiga, tidak tidur dengannya.Itu sangat membuatnya frustrasi, bagaimana tidak. Hampir satu minggu dirinya tidak tidur bersama. Apalagi untuk mendapatkan jatah preman saat ini sungguh sulit.
"Yang pertama oke, yang kedua dan ketiga nggak" cebik Davian.
"Kalau gak mau yasudah, pergi dari kamarku!" ketus Navysah.
Davian merasa bingung "Baiklah, aku setuju" Davian lebih baik mengalah daripada diceraikan istrinya.
Raffa memeluk ibunya,melihat mata ibunya yang bengkak dan sembab. "Mama jelek!, matanya kayak tomat" ucapnya. " Bukan tomat tapi kayak mata kodok besar !" Raffa meledek ibunya.
Davian tertawa melihat perkataan polos anaknya. Namun Navysah menatapnya tajam "Seneng!, Aku dibully anakku malah kamu seneng" sindir Navysah.
Davian langsung terdiam mendengar omelan istrinya. "Mas, buatkan Aku jahe hangat. Aku mual melihat wajahmu!" ucap Navysah sembari menggandeng Raffa ke bathroom.
__ADS_1
"Ya ampun!, wajahku yang ganteng ini hanya membuat istriku mual. Wanita lain pasti akan tergila - gila dengan ketampananku " batin Davian dengan tidak percaya.
"Oke sayang!" teriak Davian.