
Malam hari Davian masuk ke kamar Navysah, dirinya melihat Navysah sedang membacakan cerita dongeng untuk anaknya. Navysah melirik anaknya yang sudah tertidur, Davian menghampiri istrinya di ranjang merebahkan badannya.Navysah langsung beranjak dari ranjangnya. "Mau kemana yang?" tanya Davian.
Navysah tidak menjawab pertanyaan Davian, dirinya keluar kamarnya dan masuk ke kamar Ifa. Dirinya berbaring di sisi Ifa. "Kenapa kamu disini?" tanya Ifa.
"Aku ingin tidur disini, calon anakku kangen sama tante Ifa " Navysah memejamkan matanya dan memeluk Ifa.
"Apaan, bilang aja kamu gak mau tidur sama suamimu!" ujarnya. "Jangan membohongi perasaanmu sendiri Nav, aku tahu kamu masih mencintainya.Buktinya, kamu tidak mau periksa kandunganmu sejak berada disini. Kamu inginkan memeriksakan kandunganmu bersamanya?. Gak usah bohong sama Aku, Pulanglah"
Navysah tidak menjawab pertanyaan Ifa, dia hanya menangis terisak. "Aku kesal dengannya fa, namun disatu sisi aku tidak tega melihatnya seperti itu. Kurus, tidak terawat, Aku ingin merawatnya tapi aku takut dia akan kasar dan menyakitiku lagi, hiks..hiks.. "
"Sudahlah, jangan menangis lagi. Beri dia kesempatan kedua. Aku melihat dia sangat mencintaimu, buktinya dia bisa menemukanmu disini tanpa aku beri tahu" Ifa mengelus punggung Navysah. "Tidurlah, tidak baik ibu hamil tidur larut malam". Dan mereka pun larut dalam mimpinya.
Pagi hari terdengar suara burung berkicau, kabut pun masih menutupi sebagian kebun teh. Navysah terbangun dan shalat subuh, setelah itu dirinya membantu bibi di dapur untuk menyiapkan sarapan.
Davian mencari istrinya, dia bergegas menuju dapur dan melihat istrinya sedang menyiapkan makanan. Namun Navysah hanya melirik. "Yang, kopi yang" pintanya. Navysah tidak menjawab,namun dia membuatkan Davian kopi dan menyuguhkannya. Davian melihat istrinya dan tersenyum, walaupun Navysah marah dengannya dia masih mau peduli. "Makasih sayang" Ucapnya. "Dirinya menyesap kopinya, ini yang aku suka kopi buatanmu. Kalau budhe Salma yang bikin tidak seenak ini. Apa karena kamu selalu membuat kopi dengan cinta jadi rasanya pasti enak yang" Davian mencoba merayu istrinya.
Navysah tidak menjawab, dirinya masih sibuk mempersiapkan sarapan dan bergegas masuk ke kamarnya. Dirinya melihat Raffa yang sudah rapi memakai bajunya dan wangi." Kok anak mama sudah mandi, mandi sama Ayah ya?"
Raffa menggelengkan kepala "Raffa mandi sendiri, kan Raffa udah gede mau punya adik" dirinya meringis memperlihatkan gigi rapi nya. Navysah terkejut mendengar penuturan anaknya."Coba sini mama lihat, bersih nggak mandinya?, kamu gosok gigi nggak? " Navysah mengecek badan anaknya apa masih ada sisa sabun atau tidak, dan dirinya mengecek mulut anaknya.
"Raffa gosok gigi mah!" ucapnya. Navysah merapikan kembali baju anaknya. "Iya udah bersih, nanti mandinya sama mama aja. Jangan mandi sendiri. Mama masih bisa mandiin Raffa" dirinya berkaca-kaca melihat anaknya belajar mandiri.
"Nggak mau, Raffa maunya mandi sendiri.Raffa bisa kok, Kasihan mama kalau abis jongkok mandiin Raffa pasti bangunnya susah. Adik udah tambah besar " Raffa mencium perut ibunya."Mama tetap sayang Raffa kan kalau adik sudah lahir?" tanyanya.
Navysah menangis mendengar pertanyaan anaknya "Pasti Mama dan Ayah akan selalu sayang sama kamu Nak!, kamu anak yang paling mama sayangi" Navysah menciumi wajah anaknya.
Raffa memeluk ibunya "Mah, kapan kita pulang ke rumah. Raffa bosen disini nggak ada Mall, disini sepi. Kita pulang yuk mah sama Ayah"
__ADS_1
"Iya besok kita pulang, hari ini terakhir kita disini"
"Asyik, bisa pulang kerumah. Raffa kangen sama mbak Siti" ucapnya sembari mengusap airmata ibunya. "Mama jangan nangis, udah gendut tambah jelek lagi. Hihihi" Raffa berlari keluar kamarnya.
"Raffa..!!" teriak Navysah,dirinya kesal anaknya menyebut dirinya gendut dan jelek. Navysah mengikuti anaknya menuju ruang makan.
"Yaudah kita maem dulu, mama suapin" ucapnya. Raffa menggelengkan kepala "Nggak usah disuapin, Raffa mau maem sendiri tapi Kinan juga harus maem sendiri ya mah jangan disuapin,Raffa gak suka!" serunya.Navysah mengangguk.
Davian sudah membuatkan susu untuk istrinya, namun Navysah pikir Shafiq yang membuatnya. Kinan datang dan duduk disisi Navysah " Mama suapin aku "pintanya.
Raffa melirik tajam padanya" Sudah gede, jangan manja Kinan cengeng. Raffa juga maem sendiri! " ucapnya sembari mengunyah makanan.
Davian tertawa melihat kedua anaknya yang selalu bertengkar. Kinan cemberut mendengar ucapan Raffa.
"Raffa benar Kinan, coba mama mau lihat. Kinan bisa nggak makan sendiri.Kalau bisa nanti dapat hadiah dari mama" seru Navysah. Mendengar kata hadiah Kinan merasa senang," Hadiah apa mah?" tanyanya penasaran.
"Bagaimana kalau nanti ke Mall?" ujarnya.
Setelah selesai sarapan, anaknya berlari main di teras. Davian menatap intens istrinya, dirinya menggengam tangan Navysah. " Kita pulang ya yang?". "Aku minta maaf padamu selama ini aku salah, aku janji tidak akan bentak kamu lagi, tidak akan kasar sama kamu. Maukan pulang bersamaku? " bujuknya.
Navysah menatap wajah suaminya "Janji gak bentak aku lagi, gak kasar sama aku lagi, gak selingkuh?!" tanyanya. Davian menganggukan kepalanya dengan cepat. "Kalau kamu melakukan hal itu lagi, apa kamu siap dihukum?" tanyanya lagi.
"Iya aku siap" tukas Davian. Dirinya langsung mengiyakan apapun keinginan istrinya, yang penting Navysah mau pulang bersamanya.
"Kalau kamu melakukan hal yang sama, akan kudatangi pengadilan agama. Kuurus surat cerai dan tidak ada kata maaf lagi untukmu, tidak ada kesempatan kedua" tegas Navysah.
Davian menelan salivanya, tidak percaya istrinya mengancamnya dengan perceraian jika dia melakukan kesalahan yang sama.
__ADS_1
"Apa tidak ada hukuman lain selain surat angker itu?" tanyanya.
"Tidak ada!" balasnya cepat.
"Baiklah, aku setuju!" lirihnya.
"Satu lagi, potong rambut dan kumismu. Aku mual melihat wajahmu seperti itu! " ucap Navysah.
"Baik!, setelah sampai sana aku akan potong rambut"
* **
Siang hari keluarga Davian dan Feri datang ke villa. Kemarin Imelda memberi kabar bahwa Navysah sudah ketemu dan keluarga Davian langsung datang ke Jakarta. Mereka ingin membujuk Navysah pulang ke rumah,bu Fera khawatir Navysah akan menolak jika diajak pulang Davian. Dirinya sudah tidak sabar bertemu menantunya dan ingin melihat keadaannya.
Bu Fera masuk ke kamar Navysah dan memeluknya. "Mama kangen sama kamu nduk, bagaimana kabarmu dan calon cucuku" tanya bu Fera.Dirinya mengelus perut Navysah yang sudah membuncit.
"Alhamdulillah mah, kami semua sehat" ucapnya.
"Maafkan semua kesalahan anak mama ya nduk, dia memang bodoh.Tapi mama yakin, hanya kamu yang dicintainya nduk.
" Davian selama ini suka membentakku mah! " dirinya menangis bagai anak kecil yang mengadu pada ibunya. " Aku sangat kesal padanya, dia mendorongku dan hampir saja aku kehilangan mereka" ucapnya lagi.
Bu Fera mengelus punggung Navysah. "Mama atas nama dirinya meminta maaf atas kesalahan anak mama. Dia sudah berjanji tidak akan melakukannya lagi. Kamu mau kan memaafkannya?" tanyanya. Navysah mengangguk pada mertuanya. "Alhamdulillah"
Imelda dan Feri masuk ke kamar Navysah. Imelda duduk disisi adik iparnya."Maafkan adikku Nav, dia memang bodoh. Hatinya sangat baik makanya sering dimanfaatkan orang lain. Kamu mau kan pulang, jangan pergi lagi. Aku yang pusing mencarimu" seru Imelda sembari mengelus perut Navysah.
"Hai, ponakanku si kembar. Kamu jangan pergi lagi ya, mami Imel pusing melihat ayahmu. Dia seperti orang gila mencarimu kemana-mana" ucapnya di perut Navysah.
__ADS_1
Feri mendekat ke arah Navysah "Iya Nav, kasihan Davian. Dia setiap hari merokok dan minum denganku, dia frustrasi kehilanganmu". ujarnya.
Navysah mengiyakan untuk pulang besok pagi. Navysah mencoba untuk percaya bahwa Davian akan berubah tidak kasar padanya.