Cinta Navysah

Cinta Navysah
Cuaca yang mendukung


__ADS_3

Pagi hari hujan deras di kawasan Jakarta, setelah mereka sholat subuh Navysah turun ke dapur sedangkan Davian bergelung di selimut yang tebal.


Navysah datang dan masuk ke dalam selimutnya, dia memainkan handphonenya. "Kamu dari mana yang? " tanya Davian.dirinya memeluk istrinya.


"Dari dapur, calon anakmu minta makan" dirinya masih fokus dengan handphonenya." Mas, sana mandi!, nanti telat kerjanya"


"Aku mau ganti oli" ucapnya cengengesan.


"Yaudah nanti siang aja ke bengkelnya, ini masih hujan". Navysah masih fokus dengan handphonenya.


"Yaelah kagak ngerti si Navysah, aku mau itu" gumamnya dalam hati.


"Cuacanya mendukung, bikin aku pengen berantakin sprei" ucapnya cengengesan lagi.


Navysah masih sibuk dengan handphone nya, "Yaudah berantakin aja tapi ntar diberesin lagi ya. Aku lagi malas beresin kasur, kakiku pegal " ucapnya.


Davian merasa kesal dengan istrinya yang polos " Kamu itu oon banget sih yang ! , biasanya kamu nyambung kalau aku ajak bicara mesum " ucapnya.


" Kamu chatingan sama siapa, jangan bikin aku cemburu! " dirinya mengambil paksa handphone istrinya.


" Oh, jadi adikmu minta makan!, aku kira apa, tadi aku chat sama mbak Imel "ucapnya. Davian masih mengotak atik handphone istrinya, begitu banyak chat dari karyawan dan Imelda yang menanyakan dia kemana kemarin.


" Udah aku balas chat Imelda, gara-gara kamu aku hampir saja diomelin dia"


Navysah terkekeh dengan ucapan suaminya"Maaf sayang, cup" dirinya mencium bibir Davian.


"Yang, ini malem jum'at lho enaknya ngapain ya?" tanyanya sembari bermain di gundukan kesukaannya.


"Cari wangsit!!" ketus Navysah, dirinya melepaskan tangan suaminya dari dadanya. " Lepaskan!, masih pagi aku gak mau kasih makan dia" Navysah melirik ke bawah suaminya.


Davian tersenyum "Nggak!, kamu ngibulin aku terus ntar kalau malam alesannya capeklah, apalah!" gerutunya. "Aku mau sekarang, lihat dia mulai bangun. Kolorku mulai sempit" Dirinya menciumi istrinya,dan membuka kancing daster istrinya, dia mencoba untuk membangkitkan gairah istrinya.


"Mas..., mmmmpph" Navysah mulai bergelinjang. Sentuhan suaminya membuat dirinya merinding.


" Sebentar lagi aku akan puasa empat puluh hari, aku harus mengisi amunisi untuk adikku. Apa kau tidak kasihan padaku" bisiknya di telinga istrinya.


"Mas...mmm" Navysah mulai mendesah. Suaminya masih masih aktif di bagian dad*nya.


"Mah...! Braaakkk...!" Raffa membuka pintunya. Navysah kaget dan langsung menendang suaminya kearah samping ranjang.

__ADS_1


"Awwwww..!, aset berhargaku ! " Davian meringis kesakitan memegangi adiknya. "Kenapa kamu tidak menguncinya?" tanyanya.


"Aku lupa, aku kira kamu tidak akan menggodaku" lirih Navysah.


Raffa masih bengong melihat Ayahnya jatuh dari ranjang. "Ayah kenapa kok jatuh?, tadi mama lagi ngapain mah?" tanyanya polos.


Navysah gugup takut anaknya melihat adegan tadi " A.. Ayah ngantuk Raff jadi jatuh dari kasur, tadi ayah bantuin mama niupin mata, ini mata mama sakit nih" Navysah berbohong, dirinya mengucek - ngucek matanya. "Tuh, mata mama merah kan" ucapnya.


"Oh, mah aku lapar. Ayo kita makan?" Navysah bergegas keluar dari selimutnya. "Ayo!"


Davian melirik istrinya "Yang, mau kemana? Nasib adikku bagaimana ini " dirinya merengek bagai anak kecil.


"Aku mau keliling, kamu jaga lilin" ucapnya ketus. " Sana solo karier" bisiknya di telinga Davian.


Davian cemberut "Ya aku jaga lilin, kamu b*binya yang keliling!" ucapnya. "Gagal maning, gagal maning son" cebiknya sembari menuju kamar mandi.


" Kamu panggil aku apa, B*bi! " serunya. "Kamu jahat mas!" Navysah berkaca-kaca.


"Yaelah, salah lagi!, padahal kamu sendiri tadi yang ngomong, aku suruh jaga lilin. Sudahlah jangan sensitif gitu,aku juga lagi kesel" dirinya masuk ke kamar mandi.


Navysah menunggu anaknya makan,dirinya duduk di sisi Raffa. Dia menyuapi makanannya sendiri tanpa bantuan ibunya. "Makan yang banyak, jangan belepotan" ucap Navysah.


"Tin.. Tin.. "suara klakson dari luar rumah.


Feri masuk kedalam rumah membawa berkas" Assalamualaikum "


" Walaikumm salam "


Feri duduk di samping Navysah" Minta makan" ucapnya. Navysah memutar bola matanya malas. "Kau kesini cuma minta makan? Memang mba Imel gak kasih makan"


"Aku hanya lapar, tadi cuma ngopi doang dirumah. Kamu jangan sebut nama Imelda. Aku sedang kesal padanya!" ucap Feri.


Davian datang dan duduk di depan Feri, dirinya mengoles roti dengan selai kacangnya.


"Kenapa lagi sih mas?, kamu seneng banget bertengkar dengannya" Navysah menyodorkan nasi dan lauk pauk pada Feri.


"Nikah sebulan lagi tapi dia selalu cemburuan padaku, negatif thinking terus. Takut banget aku selingkuh, padahal aku sudah jujur padanya" ucapnya sembari mengunyah makanan.


"Ah, mas Feri kali yang suka jelalatan makanya mba Imel cemburu"

__ADS_1


"Kagak!, enak aja. Siapa yang selingkuh, aku memang ke club tapi aku tidak jelalatan. Semua pengamanku sudah aku buang! "


"Huh.. Sableng!" gerutu Navysah. "Raffa maemnya udah selesai kan, Raffa main dulu ya sama mbak Siti"


"Iya mah!"


Davian mengunyah rotinya , dirinya membaca map yang dibawa Feri. "Fer, besok kamu yang ke Bogor ya. Aku libur dirumah dulu"


"Ya, ya, ya.Aku mengerti adik ipar, cuaca yang sangat mendukung untuk mengganti oli" ucapnya terkekeh.


" Aku melihat ada yang menonjol, tapi itu bukan bakat " dirinya melihat d*da Navysah.


Davian melirik temannya dan melempar potongan roti pada Feri. "Woi cabul!, jaga matamu. Dia istriku!"


Feri tertawa "Dia memang istrimu, siapa yang bilang dia pembantumu dan Aku bukan selai jangan melempar roti padaku!" ucapnya " Aku hanya melihat telor ceplok berubah jadi bola basket, hahaha" dirinya tertawa keras.


Navysah melempar serbet ke muka Feri. " Otak cabul!, aku kira kau sudah insyaf mas" ucapnya kesal.


"Woi...!, kamu tidak sopan dengan kakak iparmu ini, beraninya melempar serbet ke wajah gantengku ini. Dasar bola basket!" ucapnya. "Drible dikit boleh kali, kayak gini, hehehe" dirinya menggerakkan dadanya seperti mendrible bola.


"Edaaaann!" Navysah kesal melihat Feri. " Ya allah semoga kelakuan anak - anakku nggak kayak Feri" Navysah mengelus perutnya dan mengetuk-ngetuk meja bergantian.


"Ya nggaklah, masa mirip aku. Emang aku yang memberi saham. Ya pasti mirip onoh noh lelaki jelek noh ! " dirinya menunjuk Davian dengan dagunya. " Pria bucin yang sama gilanya dengan imelda"


Davian menatap tajam ke arah temannya. "Kamu sudah selesai kan, ini berkasnya sudah kelar. Sana pergi mual aku melihatmu"


"Gini nih kalau lagi nggak dibutuhin. Padahal saat istrinya kabur dari rumah, gue yang nemenin. Sekarang aku dicampakkan, hiks.. hiks. Padahal aku sudah menyerahkan segalanya, menyerahkan milikku yang paling berharga" dirinya pura-pura menangis manja layaknya anak perawan.


"Dih..!! Najis banget gue lihat loe kayak gitu bikin gue jijik aja" Davian bangkit dari kursinya dan menghampiri Feri.


"Makan nih, Pret... Pret..bes.. !" Davian kentut di dekat Feri dan berlari kencang.


"Kampret loe!!, kurang ajar banget sama gue!, mana kentutnya bau ****** lagi! Davian...!!! teriaknya keras.


Navysah tergelak melihat dua orang pria yang kurang akhlak. Dirinya bersiap untuk pergi ke rumah sakit.


* **


Jangan lupa like, Vote and comment. Love you all reader 😘😘😁

__ADS_1


__ADS_2