Cinta Navysah

Cinta Navysah
Akhirnya menyerah


__ADS_3

Imelda sudah berangkat ke bandara, dirinya berangkat dengan Feri.Sebenarnya Feri masih ada keperluan yang harus diselesaikan namun Imelda memaksanya untuk pulang bersama ke Jakarta. Imelda takut Feri akan dekat dengan calon istrinya.


Davian dan Navysah mengantar Imelda ke bandara Adi Soemarmo, sepanjang perjalanan dalam mobil Davian selalu melirik temannya lewat spion dalam mobilnya. "Hai, bro!, Kau hutang penjelasan padaku!" Davian menatap Feri dengan tajam namun Imelda yang membalas tatapan adiknya, "Gak usah menatap Feri seperti itu, dia bukan tersangka kriminal!" ketus Imelda.


Navysah tertawa keras, pemandangan dimobil saat ini terasa lucu baginya. "Uwowww!, sekarang mas Feri ada yang belain. Dan sekarang kakak beradik menjadi rival saling menatap tajam"


"Berisik!" ketus Imelda.


"Oke, gue terang-terangan sama loe mba" ucap Davian. " Loe yakin sama manusia setengah purba ini!" ejek Davian pada temannya.


Feri tidak terima dirinya disebut manusia setengah purba, "Enak aja!, loe kira gue Meganthropus Paleojavanicus"


"Emang iya, emang loe gak sadar,!" sindir Davian. "Loe itu suka gonta ganti cewek, sudah berapa banyak cewek yang melihat dirimu t*lanjang. Terus apa bedanya loe sama manusia purba! " ucap Davian. "Terus, tunangan loe gimana. Gue gak mau kakak gue loe mainin doang Feri!" tegasnya.


Feri merasa mati kutu dengan ucapan Davian."Sebenarnya gue mau nikah sama calon istri gue, tapi kakakmu maksa. Ngarep banget gue batalin pernikahan dan Maunya Aku nikahin dia" Feri melirik Imelda.


"Siapa yang memaksa loe!, gue gak maksa!" ketus Imelda. Feri jadi bingung dengan ucapan Imelda.


"Kamu itu gimana sih. Mau nya apa!?, kemarin yang bilang mau merebut Aku dari calon istriku siapa!, Kalau kamu masih gengsi dan plin plan mending Aku beneran nikah sama dia bulan ini!" ucap Feri dengan kesal, karena sifat Imelda sulit dipahami.


"Jangan!!, Kok kamu gitu sih. Iya, aku yang memintanya untuk membatalkan pernikahanya, karena Aku cinta sama Feri! " lirihnya.


Davian dan Navysah hanya tersenyum melihat Imelda, dirinya benar-benar bertekuk lutut pada seorang Feri.


"Jagain kakak gue, jangan macam-macam. Apalagi sampai kau menerjangnya sebelum pernikahan!" ancam Davian.


"Gue gak akan macam-macam sama orang yang aku cintai, tapi kalau dia yang mau. Gue gak masalah" ucap Feri cengengesan.


Davian melotot ke arah Feri,"Bercanda loe gak lucu kampret!"

__ADS_1


Mereka sampai di bandara mengantarkan dua orang yang sedang jatuh cinta. Setelah itu, sepasang suami istri bergegas pulang ke rumah karena takut anaknya bangun tidur mencari Navysah.Mereka tiba dirumah dan benar saja Raffa menangis mencari ibunya, sedangkan seorang wanita centil sudah datang di pagi hari untuk menggoda Davian.


"Mas Davi, Aku sudah masak nasi goreng untukmu. Sini makan cobain masakanku" Arum menarik tangan Davian untuk duduk di kursi dapur.


Navysah hanya melengos, tidak peduli dengan kegiatan mereka. Yang terpenting sekarang mengurus anaknya terlebih dahulu. Dirinya pun masuk ke kamar mertuanya untuk memberikan obat. Navysah berpamitan besok dirinya dan Davian akan segera pulang, namun kali ini mereka pulang ke Semarang untuk menjenguk orangtua Navysah. Bu Fera mengiyakan dan berpesan pada menantunya untuk selalu sabar dengan sifat anaknya.


Di ruang makan,


"Gimana masakanku mas, enak tidak?"


"Lumayan enak, Kok kamu bisa masak?" tanya Davian sembari mengunyah makanannya.


Arum merasa senang dengan pujian Davian. "Sekarang Aku belajar masak, karena di Jogja aku ngekos sendiri. Aku berharap calon suamiku akan senang dengan masakanku" Arum menatap intens Davian.


"Baguslah jika kau berpikiran begitu,perempuan memang harus bisa memasak. Contohnya Navysah, sesibuk apapun istriku dia selalu memasak untukku dan memperhatikan keperluanku. Mas beruntung menikah dengannya " Davian sengaja memberikan Arum nasihat agar dia tidak mengganggu rumah tangganya.


Davian tersenyum "Istriku sangat baik walaupun terkadang ketus,hatinya hangat penuh kasih sayang. Dan mas tidak pernah menyesal menikah dengannya, Mas sangat bahagia" tutur Davian. "Semoga kamu bisa mendapatkan jodoh yang terbaik, besok mas pulang. Makasih ya sudah menjenguk tante Fera. Mas selalu menganggap kamu adik mas, seperti Rani juga" Davian mengelus rambut Arum.


Arum berkaca-kaca, dirinya tidak pernah menyangka orang yang selama ini dia cintai, sangat bahagia dengan istrinya. Padahal sejak awal dirinya tidak menerima Mas Davian menikah dengannya.


"Arum senang melihat mas Davi bahagia" lirihnya. Navysah mendengar pembicaraan mereka dari ruang sebelah, ada rasa kasihan pada Arum. Dirinya salah mencintai orang yang sudah menikah.


Navysah menyuapi Raffa yang sedang berlari kesana kemari,setelah selesai dirinya membereskan dapur. Arum mendekat ke arahnya. Navysah sengaja pura - pura tidak melihat.


"Maaf" satu kata yang keluar dari mulut Arum.


" Buat apa!" ucapnya tanpa melihat wajah Arum.


"Karena Aku berkeinginan merebut mas Davi darimu tetapi sekarang tidak, Mas Davi sudah bahagia denganmu" ucap Arum. Navysah tersenyum melihat ketulusan Arum. Dirinya menggengam tangannya.

__ADS_1


"Dengarkan Aku! Jujur saja, Aku memang tidak suka dengan bocah genit sepertimu. Tapi, Aku tahu sebenarnya kamu anak yang baik. Kamu tidak ingin mas Davi tidak bahagia. Sekarang, sudah saatnya kamu menata hatimu untuk orang lain. Kalau kamu mau fokuslah bekerja, kejar karirmu.Kamu anak yang pintar Arum. Dan Aku percaya kamu akan mendapatkan jodoh yang baik tapi itu bukan mas Davi, Dia milikku! " ucap Navysah.


Arum menangis, sejak tadi dirinya mencoba untuk menahan airmatanya. Navysah memeluk dan menepuk punggungnya agar dia sabar. Rani yang melihat adegan dramatis di depannya lebih baik menghindar dan bermain handphone dengan Raffa di kamarnya.


"Akhirnya drama calon pelakor sudah selesai, memang Imelda juaranya si mulut pedas. Dia mampu membungkam mulut seorang Arum" Rani terkekeh mengingat kejadian tadi malam.


Arum pulang kerumahnya untuk menenangkan diri. Navysah melihat Raffa yang sedang bermain handphone dikamar Rani. "Raffa, ayo main di luar jangan main handphone terus?" bujuk Navysah. Raffa cemberut, pipinya menggembung, kesal pada ibunya. "Mama Rese! " ucap Raffa dan berlalu pergi.


Rani tertawa keras, sedangkan Navysah terbengong dengan ucapan anaknya, "Raffa, siapa yang ngajarin ngomong kayak gitu" tanya Navysah.


"Yaelah kagak sadar!. Ya lu mba yang ngajarin, emang siapa lagi. Raffa itu cerdas, loe ngomong apa dia pasti tahu dan ngikutin omongan loe" tegas Rani.


Navysah menggaruk kepalanya yang tidak gatal, disaat mereka mengobrol handphone Rani bergetar dan terlihat foto seorang pria dengan peci putih. Navysah sempat melihatnya, namun Rani langsung menyembunyikan handphonenya.


"Ustad siapa tuh?!, gebetan baru" tanya Navysah.


Wajah Rani merona merah "Kepo" ujarnya.


"Anak pesantren mana tuh?, Apa dia guru ngaji, Kok tua!" ledek Navysah.


Rani tidak terima calon pacarnya disebut tua, " Enak aja tua!, yang tua itu mbak Imelda! " ucapnya cengengesan. "Dia dokter umum di kota ini" Rani keceplosan menutup mulutnya.


Navysah tersenyum melihat Rani yang suka ceplas ceplos "Target selanjutnya, lumayan juga. Ya kenalinlah sapa tahu demen mbak" ledek Navysah terkekeh.


"Aku juga belum dapet hatinya, mba mau tiga kali!" gerutu Rani. " Dia ini sulit untuk didapetin, maunya ta'aruf langsung menikah " Rani kembali menutup dan menggeplak mulutnya yang tidak punya rem.


Navysah tertawa keras, mendengar kata ta'aruf. Seorang Rani yang doyan dugem berani - beraninya ingin ta'aruf dengan pria ustad.


* ** Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2