
Di area parkir Plaza Indonesia,
Raffa yang masih digendong Feri pergi menuju mobilnya.
"Pih, balik lagi pih.Kasihan mamih sendirian disana" ucap Raffa.
"Biarin, gak usah mikirin Mamihmu yang menyebalkan itu!" ketus Feri yang masih kesal dengan sikap Imelda.
"Ayo pih, kasihan mami nanti dia pulang sendirian pih. Raffa gak jadi pulang ke rumah ayah Davi. Raffa mau ke rumah mamih aja pih" rengek Raffa.
"Kamu memang anak baik Raff, papih sayang sama kamu" Feri mencium pipi Raffa dan berbalik arah ke tempat Imelda lagi.
Dari kejauhan Feri melihat Imelda yang masih duduk di tempat semula. Raffa berlari kearah Imelda. " Mamih" teriak Raffa.
Imelda menengok mendengar suara yang tidak asing baginya. "Raffa" ujarnya.
Raffa memeluk Imelda dengan erat, "Maafin Raffa ya mih, Raffa janji gak nakal lagi. Ayo kita pulang ke rumah Mamih aja" ujar Raffa.
Imelda menangis mendengar ucapan Raffa. Bagaimana bisa anak sekecil itu mengerti dan memahami perasannya. "Maafin Mamih ya Raff, Mami yang salah sudah bentak Raffa" ujarnya.
Raffa mengangguk,"Ayo mih kita pulang ke rumah" Raffa menggandeng tangan Mamih nya.
Imelda melihat Feri yang diam seribu bahasa, tidak menoleh sedikitpun ke arahnya. Mereka berjalan ke parkiran mobil.
Di dalam mobil pun Feri masih enggan melihat Imelda, mata nya fokus menyetir. Imelda tahu Feri masih sangat marah padanya."Putar arah ke rumah Davian" ucap nya pada Feri.
Feri tidak menggubis ucapan Imelda. Dirinya masih fokus menyetir.
Imelda menghela nafas kasarnya. "Please, putar arah ke rumah Davian. Kita kesana" pinta Imelda dengan lembut.
__ADS_1
"Gak usah dipaksa kalau kamu gak mau!" ketus Feri tanpa menoleh kearah Imelda.
"Aku mau kesana, ini kemauanku sendiri" ucap Imelda lagi.
Feri memutar arah mobilnya, dia menuju ke rumah Davian sesuai permintaan Imelda. Setelah empat puluh lima menit mereka tiba di rumah Davian.
Imelda masih duduk di kursi mobil. Dirinya mencoba menguatkan diri untuk tidak menangis, dan menghembuskan nafas kasar nya lagi. Feri yang mengerti perasaan Imelda hanya berlalu meninggalkan dirinya. Dia dan Raffa masuk duluan ke dalam rumah.
Raffa melihat mbak Siti dengan begitu gembira, sosok yang selalu menjaganya selain ibunya. "Mbak Siti, Raffa kangen" Raffa memeluk baby sitter nya dan tersenyum.
"Mbak juga kangen Raffa" balas nya,"Ayo main sama mbak di taman yuk" pinta mba Siti dan Raffa menggangguk tanda setuju.
Feri sedikit lega Raffa bisa tersenyum kembali dan ceria lagi. "Raffa,papih pulang dulu ya.Papih ada kerjaan,nanti malem papih kesini lagi" ucap Feri mengelus rambut Raffa.
"Iya, hati-hati ya pih" ujar Raffa mencium tangan Feri.
Imelda turun dari mobilnya,masuk ke dalam rumah yang dulu pernah menjadi kenangan untuknya dan mantanya.Dia berpapasan dengan Feri di ruang tamu. "Mau kemana?" tanya Imelda. Feri memutar bola matanya dengan malas tanpa menjawab pertanyaan Imelda. Dia bergegas pergi tanpa sepatah katapun. Imelda menatap kepergian Feri sampai mobil yang dinaikinya menghilang. "Kenapa hatiku sakit, dia mengabaikanku kali ini" lirih Imelda.
"Ceklek" Imelda membuka pintu kamar.Dulu kamar ini di desain khusus untuknya, interior yang indah dengan nuansa putih serta ruangan kedap suara. Dia membuka setiap sudut kamarnya dan menangis mengingat semua momen indah bersama mantan nya."Feri benar, aku harus bangkit dan melupakan semua ini" lirih nya sembari sesenggukan. Dia meraba ranjang miliknya dulu yang pernah dia siapkan untuk nya. "Semuanya masih sama tidak ada yang berubah" Imelda merebahkan dirinya di ranjang Davian dan tertidur lelap. Hari ini dia merasa sangat lelah.
Di perjalanan Feri selalu menghembuskan nafas kasarnya.Dia lebih baik pergi dari rumah Davian,dia tahu Imelda akan menangis mengingat semua masa lalunya.Lebih baik dirinya pergi daripada harus melihat orang yang dicintai nya terlihat rapuh."Maafkan aku, bukanya aku tak mau disisimu tapi aku ingin kamu meluapkan semua isi hatimu hari ini. Besok, tidak ada airmata lagi. Kamu harus bangkit dan menata hidupmu lagi Imelda, sudah cukup kamu hidup dengan masa lalumu yang buruk itu" lirih Feri dengan mengusap wajahnya.
Malam hari, Raffa tertidur dengan Imelda di kamar Davian. Raffa memeluk erat maminya. Imelda terbangun karena lapar, dirinya belum makan sejak sore hari. Dia melihat jam di nakas ternyata sudah jam sembilan. "Lama juga aku tertidur disini" lirih nya. Dia beranjak dari tempat tidur dan melihat wajah nya di cermin. "Ya allah muka ku sebab banget, mataku bengkak. Sudah berapa lama aku menangis ini" tanyanya pada diri sendiri.
Dia turun ke lantai dua dan menuju dapur, dia melihat Feri duduk dengan laptop dan beberapa kertas di tangannya." Tumben banget dia serius bekerja,aku baru lihat dirinya seperti itu. Biasanya dia hanya bocah teng*k, pecicilan,cengengesan dan otak nya hanya sel*ngkangan" gumam Imelda dalam hati.
Feri hanya melirik dan melanjutkan kerjaannya.
Imelda mencari makanan di dapur, namun hanya mie instan yang dia dapat kan.
__ADS_1
Dia membuat mie rebus dengan mencampur dengan beberapa sayuran dan telor.Setelah selesai, dia membawa mie nya dan berjalan ke arah Feri.
" Kau mau?" tanya Imelda sembari mengunyah mie nya.
Feri hanya melirik tanpa menjawab.
" Apa kau marah padaku?" tanya Imelda.
"Tidak" jawabnya tanpa menoleh kearah Imelda.
"Kenapa kau mengabaikanku, Aku minta maaf jika aku salah" ucap Imelda.
"Kalo aku mengabaikanmu memangnya kenapa, memang aku ini siapa mu?!. Toh aku hanya bocah teng*ik yang selalu menganggumu dan tidak penting untukmu, kamu tidak perlu minta maaf padaku. Kalo mau minta maaf sama Raffa saja" ketus Feri sembari merapikan laptop dan kertas nya. Dia berlalu kembali ke kamar tamu untuk tidur. Dia ingin menghindari Imelda untuk saat ini.
"Deg!, kenapa kata - katanya sangat menyakitkan. Padahal apa yang diucapkan dirinya benar" Imelda mengelus dadanya.
Dia melahap makanannya dengan perasaan kesal.Berani-beraninya Feri mengabaikanya, ingin rasanya dia buat perhitungan dengan Feri.Dia tidak peduli mie yang dimakannya itu masih panas,yang ada dipikiranya saat ini perutnya kenyang dan masuk ke kamar Feri untuk bertemu denganya.
Imelda masuk ke kamar Feri tanpa mengetuk pintu dan dia menutup pintu kamar.Dia melihat Feri bertelanjang dada,tubuhnya yang tinggi dan agak kurus terlihat jelas. Feri hanya menggunakan celana kolor. Dirinya cukup kaget, seorang Imelda berani masuk kamar nya tanpa ijin. "Berani sekali kamu masuk kamar ku tanpa mengetuk pintu" Feri bicara tanpa melihat kearah Imelda.
"Berani nya kamu mengabaikanku, panggil aku seperti biasanya. Panggil aku mbak, bukan kamu!" ketusnya.
"Bodo amat!!, pergilah dari kamarku, aku capek mau istirahat"Feri mulai naik ke ranjang dan menutup matanya dengan lengan.
Imelda mendekati Feri,"Katakan, Apa kau marah padaku?" tanya Imelda yang sudah duduk disisi ranjang.
"Cih!!, kamu itu lucu mbak marah sama anak kecil,wajarlah jika aku marah. Sudahlah, pergi sana dari kamarku. Mulai sekarang aku tidak akan mengganggu dirimu lagi!" ucap nya masih menutup mata.
"Kalo bicara denganku tatap mataku" ketus Imelda mengoyang - goyang kan tubuh Feri.
__ADS_1
Feri menarik tangan Imelda dan menindihnya."Kamu tahu kan mbak,Aku playboy dan selalu berakhir di ranjang bersama wanita. Tidak ada yang bisa menolak pesonaku,aku masih bisa menahan diri saat ini. Aku tidak mau menyakitimu lebih baik kamu pergi dari sini"Feri merasa kesal, dirinya takut kebablasan menerjang Imelda.
Imelda ketakutan dan bergegas pergi dari kamar Feri."Aku hanya menganggapnya adik tapi kenapa aku takut dia bicara seperti itu" gerutu Imelda.