
Di Bandung,
Navysah sudah dua minggu berada di rumah Rasya.Dirinya merasa nyaman berada di Bandung. Suasana yang sejuk, tempat liburan yang indah, kehangatan dari keluarga Rasya membuat Navysah bahagia apalagi ada Reza, anak Rasya yang baru berusia enam bulan. Melihat Rasya pun mengingatkan dirinya pada almarhum Raihan walaupun mereka berbeda sifat, tapi setidaknya Rasya lebih baik sekarang. Sudah banyak perubahan darinya setelah kematian kakak kembarnya.Raffa pun tidak jenuh karena ada Ayya, anak dari Rasya yang selalu mengajaknya bermain. Walaupun Raffa terkadang masih menanyakan keadaan ayahnya, kenapa Ayah Davi tidak menjemputnya, kenapa ayah sibuk terus. Itu yang selalu dia tanyakan.
Seperti biasa Navysah selalu meminta makanan, tengah malam dia ingin makan martabak manis dan telor. Rasya selalu mencari makanan yang diinginkan kakak iparnya walaupun harus bersusah payah mencarinya. Hujan deras dia harus keluar rumah berkeliling mencari martabak, entah mengapa hari itu semua penjual sudah menutup lapaknya. Dia berputar keliling kota untuk mencari penjual yang masih buka, setelah satu jam lebih dirinya menemukan satu lapak penjual martabak, dirinya membeli dua loyang manis dan dua loyang martabak telor, Rasya tahu kakak iparnya suka makan.
Setelah berjuang keras dirinya sampai rumah jam dua malam dan membangunkan Navysah untuk makan.
"Makanlah, Aku sudah mencari kemana-mana martabak ini. Habiskan, agar ponakanku tidak ileran?" ujar Rasya sembari menyodorkan martabak pesanannya.
Navysah menerima dengan senang"Makasih adik ipar, kau memang baik padaku". Navysah mengunyah martabaknya. "Martabak Bandung memang luar biasa enaknya" sambungnya lagi.
Pipinya menggembung penuh dengan makanan dan Dirinya pun menyuapkan kearah Rasya dan Riska secara bergantian. "Mbak, aku sudah punya martabak sendiri, kenapa kau suapi Aku" ucap Riska.
" Anakku yang mau" jawabnya tanpa dosa.
"Mbak Navysah kebiasaan selalu begitu, pasti alasannya anaknya. Kemarin aja aku harus makan seblak super pedas, dia yang nyidam aku yang habiskan" gerutu Rasya.
Navysah tertawa "Nggak usah protes,nurutin keinginan ibu hamil itu pahala lho" ucapnya.
"Iya tapi ngeselin, waktu hamil Raffa pun aku dikerjain. Keliling mencari buah markisa langsung dari pohonnya, mana aku tidak tahu pohonnya kayak apa. Untung ada orang yang memberi informasi, di samping pom bensin sana ada pohon markisa.Itu sudah sebulan aku muter - muter mencarinya. Kalau inget itu rasanya aku ingin mencekikmu mba" gerutu Rasya.
Navysah terkekeh mengingat kejadian itu"Maafkan diriku yang selalu merepotkanmu". Setelah selesai makan,dirinya mengelus perutnya yang sedikit membuncit. "Udah ya Nak! , besok lagi makannya.Kasihan Om Rasya capek menuruti keinginanmu"
__ADS_1
Navysah berbaring memeluk Raffa, menciumi anaknya. Entah kenapa dirinya merasa kangen di peluk Davian. "Aku ini kenapa, kok aku kangen dengannya " Navysah menutup matanya menahan airmatanya agar tidak jatuh.
Keesokan harinya,
Navysah bersiap mengemas barang - barangnya, dirinya sudah ditelepon sopir Ifa. Kali ini Navysah dan Raffa akan tinggal di villa Ifa. Navysah berpamitan dengan Riska dan Rasya. "Aku pulang dulu ya Ris, kamu jaga kesehatan. Aku senang berada disini ada Aya dan Reza yang lucu" Navysah mencium kedua ponakannya.
"Iya mba. mba Navysah juga hati - hati jaga kesehatan calon ponakanku, apa lagi ada dua sekarang disini" Riska mengelus perut Navysah.
"Iya,makasih ya udah ngizinin mba menginap lama disini"ucapnya.
" Aku malah senang mba, Riska ada temannya. Dan ayya bisa bermain dengan Raffa"ucap Rasya tersenyum.
Navysah menggandeng anaknya, Ayo Raffa salam sama tante"
Navysah tersenyum kikuk mendengar ucapan anaknya. Yaudah kami pulang dulu, "Assalamualaikum"
"Walaikumm salam"
Navysah menuju Rancabali Bandung, mereka diantar sopir Ifa, selama perjalanan Raffa selalu memeluk ibunya. "Mama, kapan kita pulang bertemu Ayah?" tanyanya. Navysah bingung menjawab pertanyaan anaknya, dirinya belum berkeinginan untuk pulang. "Nanti ya sayang, Ayah masih sibuk kerja" ucapnya.
Raffa cemberut mendengar jawaban ibunya "Kenapa Ayah sibuk terus, Apa Ayah tidak sayang sama kita mah?,kenapa Ayah tidak jemput kita?, Kalau Ayah sibuk, nggak bisa jemput, kita pulang aja mah sekarang. Ayo mah!?" Raffa menangis sepanjang perjalanan. Navysah mulai pusing jika anaknya sudah mulai bertanya tentang Davian, apalagi jika Raffa sudah menangis." Sayang, kita akan liburan dulu di villa tante Ifa habis itu kita pulang. Nanti Raffa bisa bermain dengan Kinan disana. Raffa jangan nangis mama pusing, lihat adiknya Raffa ada dua disini. Katanya Raffa ingin punya adik" Navysah menuntun tangan anaknya di perutnya. Raffa sedikit tenang mendengar kata adik dan bermain bersama Kinan. " Adik Raffa dua mah?, cewe apa cowo mah?" tanyanya.
"Belum tahu sayang kan, kan masih kecil" jawabnya.
__ADS_1
"Raffa mau adik cowo semua, jangan cewe!. Kalau cewe nanti rese kayak Kinan cengeng. Masa Raffa disuruh main boneka, Raffa males" protesnya.
Navysah menghela nafas kasarnya, "Iya iya nanti kalau perut mama sudah gede kita check up ya. Sekarang Raffa cium perut mama aja, adiknya minta dicium sama mas Raffa. Gak boleh nangis,kan udah gede mau punya adik" ucap Navysah pada anaknya.
Raffa menciumi perut ibunya, sembari berbaring. Setidaknya Raffa tidak rewel lagi selama perjalanan,dia tertidur pulas setelah mencium dan berceloteh dengan ibunya. "Sampai kapan aku menjauhkan Raffa dengan Davian.Apa bisa Raffa melupakan Ayahnya dan sekarang Aku selalu berbohong dengan anakku, Maafkan mama Nak!" ucapnya dalam hati.
Mereka tiba di villa keluarga Ifa,tak jauh dari villa itu terdapat perkebunan teh yang sangat luas, udara sejuk dan pemandangan indah. Navysah takjub dengan keindahan yang terlihat di depan matanya. Suasana yang begitu tenang, adem,membuat suasana hati nyaman. "Ini pegunungan teh yang tersusun rapi luar biasa indahnya, terletak jauh dari kota. Cuaca yang dingin, udaranya sangat segar. Aku tidak menyangka ternyata Ifa anak orang kaya" lirihnya.
Navysah dan Raffa beristirahat, mereka dijamu kedua orang kepercayaan keluarga Ifa, merekalah juga yang mengurus perkebunan milik keluarga Ifa.
Malam hari udara sangat dingin, Navysah memakaikan jaket pada anaknya yang tertidur. Suasana sunyi terlihat jelas. Mang Didik dan bi Nining mengantarkan teh dan makanan untuk Navysah. Mereka duduk bersama di ruang keluarga, sembari bercerita dan tertawa. "Maaf ya bi, saya merepotkan kalian"ucap Navysah.
" Nggak neng, kami sangat senang ada keluarga dari neng Ifa yang datang kesini. Soalnya jarang sekali mereka menengok kesini, paling Mang Didik yang ke kota mengantar uang penjualan teh kesana. Besok kita jalan - jalan ke pasar kita beli makanan disana, neng pasti suka "ucap teh Nining.
" Benarkah!, Aku kira disini jauh dari pasar. Aku lihat disini cuma ada kebun teh "
" Deket neng kalau mau ke pasar, jalan juga bisa. Memang kalau disini sepi apalagi malam hari,jarang ada penjual yang lewat. Kalau mau makanan, kita harus naik motor ke Balai desa baru ada yang jualan disana neng"ucapnya. "Kalau eneng mau apa bilang sama bibi ataupun mang Didik, nanti dibelikan daripada nanti anaknya ileran" ucapnya.
Navysah merasa terharu, banyak orang yang sayang kepadanya"Terimakasih bi, kalau begitu saya permisi mau istirahat"ucapnya.
"Iya Neng" balas bi Nining.
Navysah masuk kamarnya dan menangis, dirinya bahagia melihat orang begitu peduli dan baik kepadanya "Mereka begitu peduli kepadaku, sedangkan kamu lebih mementingkan mantan pacarmu daripada aku, sampai hati kau berbohong padaku mas" lirihnya sembari menangis.
__ADS_1