
Terdengar suara mengema dari toa musholla memanggil rentetan beberapa nama. Rupanya pak RT pilih cara cepat. Pengumuman itu di akhiri pak RT dengan sedikit ancaman.
Tam berselang begitu lama. Beberapa Ibu ibu datang ke rumah Tama. wajah mereka tampak ketakutan, mereka saling mendorong satu sama lainnya untuk berada di barisan paling depan. Sementara pak RT berada di depan mereka, kali ini dia di temani seorang wanita di sebelahnya.
"Cepat sekali mereka datang, gumam Tama. Ia pun meletakkan ponsel yang berada di tangganya.
"Permisi pak, ini ibu ibu yang bapak maksud."
Pak RT dan para terduga tersangka itu pun masuk ke ruang tamu. Tama menatap mereka satu persatu dari tempat ia duduk.
Mereka semua terkejut mendapati Munah dan suaminya yang duduk bersimpuh di lantai dengan berderai air mata.
Siska meremas lengan baju suaminya. Ia merasa takut dengan tatapan para ibu ibu yang tidak suka padanya.
"Langsung ke intinya. Apa kalian semua tahu kenapa saya meminta anda semua datang di rumah saya?"
Semua bergeming. Kaku berdiri dalam ketakutan masing-masing.
Suasana semakin tegang. Gerombolan ibu ibu itu masih berdiri dengan wajah yang menunduk. Saling menyenggol lengan dan berbisik kecil, sesekali mereka melirik ke arah Siska. Menunjukkan rasa ketidak sukanya.
Munah dan Ali pun masih bersimpuh di lantai. Kalau mereka hampir mati rasa karena terus di tekuk sambil menopang beban tubuhnya. Namun, mereka tak berani bergerak, berharap maaf yang tak kunjung keluar dari mulut Tama.
Suara deru mobil memecah keheningan. Semua orang menoleh ke arah jendela kaca yang tak tertutup tirai, hanya Munah dan suaminya yang tidak bisa menoleh karena posisi mereka.
Dua orang pria berseragam turun dari mobil dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mereka. Tama menyeringai puas melihat wajah para tersangka yang semakin pucat ketakutan.
"Selamat pagi," sapa seorang dari pria itu.
"Selamat pagi, Pak!" Tama segera bangun dengan mengandeng istrinya.Segera menyambut tamu yang ia tunggu sedari tadi.
Tama tersenyum ramah lalu mengulurkan tangannya dan menjabat kedua tangan pria itu secara bergantian, begitu pula Siska.
"Apa benar ini rumah Bapak Tama?" tanya polisi dengan tegas.
"Benar Pak," jawab Tama singkat.
"Dan mereka..
Ucapan polisi itu menggantung sambil mengerakkan telunjuknya ke arah gerombolan emak emak dan dua orang yang bersimpuh membelakangi mereka.
"Mereka adalah tersangka yang membully istri saya!"
"Baiklah, semua silahkan ikut saya," teriak satu petugas dan petugas lainnya berjalan mendekati ibu ibu yang berdiri dengan tubuh mereka yang gemetaran.
"Mba tolong maafkan saya. Saya tidak mau di penjara." Salah satu ibu beringsut di bawah kaki Siska dari belakang.
Siska terkejut dan membalikkan. Ia menunduk hendak meraih tangan ibu yang memegang kakinya. Namun, kedua bahunya ditahan Tama.
"Iya mba tolong maafkan kami, kami khilaf."
Semua ibu ibu itu turut ikut bersimpuh berjamaah. Membuat Siska semakin bingung.
Tama mengelengkan kepalanya pelan. Siska menatap suaminya dengan memelas. Namun, sorot mata suaminya mengatakan tidak dengan sangat jelas. Siska pun kembali mengangkat tubuh dan membalikkannya lagi.
Ibu ibu tidak berhenti merengek meminta maaf. Tama yang awalnya tak bergeming pun akhirnya merasa risih. Pria itu membalikkan badannya.
"Diam!" teriak Tama.
__ADS_1
Hening. Rengekan itu terhenti.
"Apa kalian pikir, kalian cukup minta maaf dan berlutut seperti ini semuanya selesai!"
"Tidak, jangan harap semudah itu kalian mendapatkan maaf istri saya!"
Semua hanya beku dan tergugu.
"Kenapa diam. Ayo bicara!"
"Mas sudah ya. Siska maafkan semua," ujar Siska lembut.
"Benar kata istri bapak, kita selesaikan secara kekeluargaan saja," sambung pak RT.
"Iya pak tolong maafkan saya. kalau saya di penjara bagaimana nasib anak saya. Dia masih kecil pak," ujar Munah sambil terisak.
"Iya pak bagaimana mana anak kami?"
"Suami saya sedang sakit pak!"
"Anak saya masih bayi pak!"
"Diaaaam!!"
"Apa kalian memikirkan semua itu sebelum bertindak?" sentak Tama.
"Cepat bawa mereka, aku sudah pusing mendengar rengekan mereka!" Tama meraih bahu istrinya yang melangkah masuk melewati gerombolan emak emak itu.
"Pak, tolong pak jangan bawa kami." seorang ibu meronta saat polisi mulai membawanya.
"Mba siska ampuni saya!" teriak seorang lagi.
"Mas tolong, sudah ya maafkan mereka kasihan mas. Sudah ya sayang, lagian aku aku udah maafin mereka." Siska memeluk tubuh Tama erat mencoba meredam emosinya.
Tama menghela nafasnya.
"Kamu yakin."
Siska mengangguk dalam dekapan Tama.
"Kalau begitu kau harus siap mengantikan hukuman mereka." Tama melepaskan pelukan Siska.
"Tunggu aku di kamar," bisik Tama lirih. Siska pun mengangguk kecil.
Tama mengecup singkat kening istrinya lalu melangkah lagi ke depan.
"Tunggu!"
Semua orang pun menoleh ke arah Tama.
"Biarkan lepaskan mereka!"
Kedua polisi itu mengeryitkan keningnya, menatap heran pada Tama. Namun, akhirnya mereka melepas tangan mereka dari lengan ibu yang di seretnya.
Tama mengambil tempat duduk di samping pak RT yang belum beranjak dari sofa. Ia mendekatkan dirinya berbicara lirih di telinga pak RT. Pria paruh baya dengan peci hitam itu pun mengangguk angguk mengerti.
"Baiklah karena Istriku yang baik hati dan cantik jelita itu terus memohon padaku agar melepaskan kalian maka, aku memaafkan kalian semua dengan catatan. Kalian harus membaca ini di toa musholla." Tama mengambil pena dan secarik kertas dari atas meja dan menuliskan sesuatu di sana.
__ADS_1
Emak emak itu menatap Tama dengan wajah berbinar. Mereka merasa lega karena tidak jadi masuk hotel polisi.
Setelah selesai ia pun menyerahkannya kepada pak RT.
"Kalian harus membacanya, satu persatu. Pak RT yang akan mengawasi kalian. jika ada satu saja yang tidak melakukannya. Polisi siap membawa kalian," lanjut Tama lagi.
"Saya serahkan semuanya pada Pak RT."
"Baik pak, terima kasih sudah mau memaafkan semuanya," ujar Pak RT sambil menjabat tangan Tama.
"Silahkan keluar dari rumah saya!" sentak Tama.
Mereka pun berbondong-bondong keluar. Tak lupa mereka mengucapkan maaf dan terima kasih kepada Tama. Namun, tidak kepada Siska karena perempuan itu tak keluar dari kamarnya.
"Thanks ya bro, atas bantuannya," ujar Tama pada dua polisi di hadapannya.
"Enggak usah sungkan gitu, lo juga sering bantu kita," sindir polisi itu.
"Lo ya, nikah ga bilang sama kita. Ngomong ngomong istri lo cantik juga," goda satu polisi lainnya.
"Ck, kerja sono. Jangan ganggu istri orang," usir Tama pada kedua temannya itu.
"Iya iya pengantin baru, bawel."
Mereka bertiga pun tergelak bersama. Kedua polisi itu pun pamit .
Dengan seringainya Tama berjalan cepat ke kamar, setelah menutup dan mengunci pintu depan.
"Bagaimana sudah siap dengan hukumanmu?" tanya Tama yang baru saja masuk ke kamar.
Siska menelan ludahnya. Ia dapat mengira hukuman yang akan di hadapinya.
Tama mendorong tubuh istrinya hingga jatuh terlentang di atas kasur. Tama mengungkung tubuh istrinya dengan bertumpu pada kedua siku dan lututnya.
Tama mulai mel*mat lembut bibir manis Siska. Dengan satu tangan ia melepaskan kancing kemejanya. Siska mengalungkan tangannya di leher suaminya memperdalam ciuman mereka.
"Mas aku masih tanggal merah," ucap Siska di sela desahannya.
"Ada cara lain kan," ujar Tama dengan suaranya yang berat, dan mulai menyusuri leher jenjang istrinya.
"Cara lain apa mas," lirih Siska sambil meremas rambut Tama.
Pria itu bermain di buah dada Siska yang menjadi favoritnya sekarang. Dua gundukan kenyal yang selalu menggodanya. Tama
"Nikmati saja, aku akan membuatmu terbakar pagi ini." ujar Tama sambil menyesap puncak semeru di hadapannya.
Mata siska terbelalak mendengar ucapan suaminya. Pagi itu terasa panas di kamar sempit rumah kontrakan itu.
_______
Saya. : Munah
istri dari : Bang Ali
Alamat. : Dusun Rempong. RT 4 RW 4
Dengan ini menyatakan permintaan maaf saya karena telah memfitnah dan berlaku kasar kepada Siska Amalia.
__ADS_1
Dan saya berjanji tidak akan mengulangi perbuatan bodoh saya lagi, saya siap untuk menerima hukuman apabila kejadian ini terulang di masa yang akan datang.