Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Kacang kecil


__ADS_3

Seorang wanita yang memakai daster rumahan biasa dengan rambut yang di Gelung apa adanya, tanpa make-up , tanpa alas kaki, berjalan dengan langkah lebar, sambil bersungut-sungut kesal, sementara di belakangnya seorang pria berwajah oriental, tergopoh-gopoh berlari menyusul wanita itu.


"Arie... tunggu" dengan kakinya yang panjang, Alex dengan mudah menyusul Arie walaupun jarak diantara mereka cukup jauh.


Alex berhasil memegang pundak Arie, lalu Arie pun menghentikan langkahnya.


"Pelan pelan jalannya" Arie masih tak bergeming atau menjawab, mukanya masih ditekuk masam.


"Ayo," Alex mencoba mengandeng tangan Arie, namun segera di tepis oleh si wanita.


"Gandeng atau gendong" tegas Alex. Arie hanya menatap tajam pada Alex, lalu begitu saja berjalan mendahului Alex, langsung saja Alex mengendong Arie ala bridal, tak memperdulikan Arie yang terus memukulinya meski mulut Arie masih terkunci rapat. Akhirnya Arie menyerah membiarkan Alex terus mendekapnya.


Sampai di tempat pendaftaran pasien, tanpa menurunkan Arie , Alex mendaftar diri. setelah itu Alex mendudukkan Arie di kursi ruang tunggu.


"Masih marah" ucap Alex lembut sambil duduk di samping istrinya.


Arie hanya diam, lalu membuang mukanya ke arah lain, sungguh dia merasa enggan melihat wajah Alex. Jelas Arie masih merajuk, dia kesal dengan Alex yang tak mau menuruti kemauannya, bukankah mudah untuk membelikannya makanan yang terjajar rapi di pinggir jalan, saat perjalanan ke rumah sakit, Arie terus merengek untuk membeli bakso gerobak yang mangkal di pinggir jalan, rasanya ingin sekali Arie memakan olahan daging sapi yang berbentuk bulatan dengan kuah kaldu bening itu, tapi dengan alasan kebersihan Alex tak sekalipun mengidah permintaan Arie.


Alex beranjak lalu berdiri di hadapan Arie, Alex menunduk kepalanya, mennakup wajah Arie dengan kedua tangannya.


"Pulang dari sini kita akan membeli apapun yang kau mau"


"Ok," ucap Alex sambil menyatukan kening mereka.


Arie menggeleng, tapi Alex menganggukkan kepalanya, Arie menggeleng lagi, Alex mengangguk dan di ikuti kepala Arie.


"Pintar" Alex mencubit gemas pipi Arie. Arie meringis sambil mengosok pipinya yang terasa sakit.


"Ck, menyebalkan" gumam Arie.


"Terima kasih" jawab Alex santai, sambil menyandarkan kepalanya di bahu Arie. Kini Alex seperti lem super kuat yang tak bisa lepas dari Arie sebentar saja.


"Nyonya Arie Wulandari" ucap seorang perawat wanita.

__ADS_1


Alex kembali mengendong Arie, masuk ke ruang dimana perawat itu memanggil nama Arie.


"Alex turunkan aku,"


"Kau tidak pake alas kaki" jawab Alex singkat. Arie mendengus kesal.


"Semua gara gara Kau"


"Ehem.." suara dari seorang Dokter muda yang tengah duduk di meja kerjanya membuat di sejoli itu menoleh ke arahnya.


"Tuan bisa membaringkan istri Anda di sana" ucap Dokter muda itu sambil menunjuk ke arah brankar yang tak terletak di ruangan itu.


Wajah Arie bersemu merah, lain dengan Alex yang terlihat santai.


Alex membaringkan tubuh Arie dengan lembut, Arie baru akan bangkit untuk duduk namun terhenti karena mendapat tatapan tajam dari suaminya, Arie hanya bisa pasrah dan kembali membaringkan tubuhnya.


"Ini pertama kalinya Nyonya Arie memeriksakan kehamilannya" ucap Dokter setelah Alex duduk di hadapannya.


"Begini Dokter, Arie maksud saya Istri saya bertingkah aneh akhir-akhir ini, lalu Kakek saya memberi saran untuk memeriksa keadaannya ke dokter kandungan" Alex menjelaskan panjang lebar.


"Apa sudah di tes sebelumnya"


Alex mengangkat bahunya, dokter hanya tersenyum tipis, baiklah tidak ada salahnya kita langsung melakukan USG.


Dokter muda itu berjalan ke arah brankar di mana Arie terbaring. di ikuti Alex di belakangnya, Alex duduk di sisi lain brankar.


"Maaf Nyonya, " Perawatan wanita itu menyibakkan daster Arie di barengi dengan perawat lain yang menutupi kaki hingga area sensitif Arie dengan selimut.


Setelah itu perawat mengoleskan gel yang terasa dingin di perut bawah pusar Arie. Lalu sebuah Alat di gerakkan di bawah pusar Arie.


"Selamat Tuan, Nyonya, ternyata Nyonya kehamilannya sudah masuk Minggu ke tiga" ujar dokter itu sambil tersenyum.


"Jadi maksud Dokter, itu Anakku."

__ADS_1


Ucap Alex sambil terus menatap layar monitor yang menapakkan bulatan kecil sebesar biji kacang.


"Iya Tuan"


"Tapi Dokter saya bahkan belum telat datang bulan, jatah bulanan saya masih seminggu lagi" ujar Arie yang masih bingung bercampur dengan degupan jantungnya yang berdetak cepat.


"Telat datang bulan hanya salah satu dari tanda tanda kehamilan Nyonya, apalagi kalau Anda melakukan hubungan saat masa subur, maka semuanya mungkin terjadi"


Wajar Arie bersemu merah, mendengar ucapan Dokter yang begitu apa adanya.


"Baiklah saya akan memberikan vitamin untuk Nyonya, usahakan jangan terlalu banyak berkerja, perbanyak istirahat dan makan makanan sehat" imbuh Dokter itu lagi.


Arie mengangguk sambil mengelus perutnya yang sudah di bersihkan dan kembali tertutup dengan kain bermotif bunga-bunga. Tangan Alex pun terulur turut mengelus perut Arie yang masih rata. Alex mengecup kening Arie dengan lembut.


"Terima kasih" bisik Alex lirih di telinga Arie, senyum Arie mengembang saat mata mereka bertemu, rada hangat dan bahagia akan datangnya malaikat kecil dalam rahim Arie. Alex menunduk lalu mengecup perut Arie singkat.


"Halo, Ciao Toto" ucap Alex seakan berbicara dengan janin yang ada di dalam perut Arie.


"Xiao Toto" Arie mengerutkan keningnya.


"Dia seperti kacang kecil saat di layar tadi"


Buukkk..


Sebuah pukulan mendarat di bahu Alex.


"Dia akan tumbuh besar nanti, jangan panggil Dia seperti itu, apa tidak ada nama lain yang bagus"


"Akan aku pikirkan, tapi untuk sekarang akan ku panggil dia Xiao Toto"


"Baiklah terserah Anda Tuan muda" ucap Arie pasrah.


Kini Arie kembali dalam gendongan Alex, tak perduli dengan semua orang yang memandang mereka, kebahagiaan meliputi kedua insan itu, begitu bahagia hingga tak memperdulikan sekitarnya, istilahnya dunia milik berdua yang lain ngontrak.

__ADS_1


__ADS_2