Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Maaf


__ADS_3

Matahari mulai meredup, tiga anak manusia itu kini duduk dalam mobil yang melaju untuk pulang, dengan berbagai barang belanjaan dalam bagasi, Arie sudah berkali kali menolak Arow dan Nana untuk membeli barang branded untuknya, tapi keduanya memaksa, Arie hanya bisa pasrah bagai patung manekin saat Arow dan istrinya menempelkan baju dan aksesoris di badannya. dan hasilnya bagasi mobil hampir tidak bisa di tutup dengan baik, karena over load.


"Arie, hari ini kau menginapkan," ucap Nana sambil memegang tangan adik iparnya.


"Em..baiklah, lagi pula aku juga belum bertemu dengan Ayah," ujar Arie santai.


"Yeah.. terbaik," kedua bumil itu saling berpelukan.


"Sudah sampai, Nyonya Nyonya," Ujar Arow yang berperan sebagai supir, sedangkan dua Nyonya besarnya duduk di belakang.


"Terima kasih, tolong bawakan barang barang kami ke dalam," ucap Arie sambil mengangkat wajahnya ala Nona besar.


"Baik, Tuan putri," ujar Arow membungkuk hormat.


Malam ini Arie memasak untuk makan malam, masakan yang spesial untuk keluarganya.


Tok..tok..


"Ayah, makanan sudah siap," ujar Arie dari luar kamar Ayahnya.


"Baiklah Ayah akan segera turun," sahut Adinata dari dalam kamarnya.


Setelah mendengar jawaban dari ayahnya, Arie turun ke meja makan. Arow dan Nana sudah duduk menunggunya.


"Boleh aku makan sekarang, perutku sudah lapar," ujar Arow.


"Issh..Kak Nana, tolong beritahu suamimu untuk bersabar sebentar," ujar Arie kesal.


Nana terkekeh melihat Kakak beradik yang ada di hadapannya.


pertengkaran kecil, yang membuat suasana rumah menjadi lebih hangat dan ramai.


"Wah.. harum sekali, pintar sekali anak Ayah," ucap Adinata. Tangannya membelai lembut rambut Arie.


"Tentu, aku bisa tinggal di sini dan memasak setiap hari jika Ayah mau," ucap Arie dengan penuh semangat.


"Hahaha....kalau kau di sini terus bagaimana dengan, suamimu," ujar Adinata tertawa.


Dia, dia tidak akan perduli Ayah.lirih Arie dalam hati, tanpa Arie sadari, wajahnya berubah sendu.


"Anak Ayah kenapa," Adinata menatap lekat pada wajah putrinya.


"Apa Ayah, tidak ingin aku tinggal di sini," Arie mencebikkan bibir. menutupi perasaannya.


"Apa yang kau katakan Nak. Ayah tentu sangat ingin kau tinggal bersama Ayah di sini, tapi kau sudah berkeluarga Ayah tidak boleh serakah," ucap Adinata menjelaskan.


Arie memeluk erat Ayahnya. ingin sekali rasanya dia menangis dan menceritakan semua keluh kesahnya, tapi Arie menahan diri. Dia tidak ingin menjadi beban pikiran untuk keluarganya, biarlah dia selesai masalahnya sendiri.

__ADS_1


"Sudah boleh makan," ucap Arow yang sudah menahan liurnya dari tadi.


"Makan saja, siapa juga yang melarang. Week," ucap Arie mengejek, lalu menjulurkan lidahnya.


Arow tak memperdulikan Arie, dia melahap masakan Adiknya dengan lahap, begitu juga Nana sejak hamil dia selalu pilih pilih makanan, tapi tidak malam ini. semua masakan Arie di makan dengan lahap.


Makan malam yang hangat di selingi dengan canda dan tawa dari anak anaknya, hanya ini, yang pria paruh baya ini inginkan, di sisa hidupnya melihat keluarganya berkumpul bersama. setitik air matanya mengenang di sudut matanya. Teringat akan Anjar, istri yang sangat dia rindukan.


"Nenek kalian Ada di kamarnya, Kalian sapalah beliau," ucap Adinata sambil mengelap bibirnya.


"Nenek sudah pulang?" tanya Nana.


"Saat kalian pergi tadi sore, beliau pulang," ucap Adinata.


"Arie, kau bisa menemui Nenek, kalau kau sudah siap," Adinata mengenggam erat tangan putrinya yang tertunduk, Adinata mengerti Arie pasti sedang memikirkan sesuatu.


"I..iya Ayah," ucap Arie sedikit terbata.


setelah selesai makan malam semua kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat, Arie begitu lelah secara fisik dan mentalnya. Bumil itu hanya berguling guling di atas kasurnya, sambil sesekali mengecek ponselnya, tak ada satupun pesan masuk.


Arie memberi tahu pada Alex, kalau dia ingin menginap di rumah Ayahnya, lewat pesan singkat. pesan itu hanya di baca tanpa ada balasan. Arie menghela nafas. dia memutuskan untuk turun ke dapur.


"Eh.. Bi mau kemana?" tanya Arie kepada asisten rumah tangga di rumah itu.


"Mau mengantar teh hangat untuk Nyonya besar," jawab pelayan itu.


"Anu.. Ibunya, Tuan Adinata,"


Arie pun ber O ria.


"Biar saya yang antar, Bi," Arie mengambil nampan yang di bawa wanita paruh baya itu.


"Jangan non, biar Bibi saja,"


"Saya saja, sekalian saya pengen bertemu Nenek," ucap Arie meyakinkan.


"Baiklah Non, kamar Nyonya Besar di sebelah sana.kalau begitu saya permisi," akhirnya wanita itu mengalah dengan kemauan Arie.


Arie berjalan menuju sebuah pintu kamar. ingin rasanya Arie bertemu dengan satu lagi anggota keluarganya, meskipun dia merasa gugup dan takut.


Ceklek


Arie membuka pintu kamar dengan perlahan. Seorang wanita dengan rambutnya yang sudah memutih, namun wajahnya masih terlihat cantik dan anggun. wanita itu duduk di bangku sambil membaca sebuah buku.


"Nenek," Arie memberanikan diri memanggilnya. wanita itu mendongak wajahnya, menutup buka perlahan lalu menaruhnya di atas meja.


Arie berjalan mendekatinya, wanita itu menatap Arie dengan tajam.

__ADS_1


"Siapa yang mengijinkan mu masuk kemari," ucap wanita itu dingin. tangan Arie gemetar dia merasa kebencian di mata wanita itu.


"Aku membawa teh hangat untuk Nenek," Arie meletakkan secangkir teh hangat di meja.


"Jangan memanggilku dengan mulut kotor mu, menjijikkan," hardik Nyonya besar itu.


Deg.


Kotor, jijik apa maksud nenek, lirih Arie dalam hati.


Bukankah dia yang meminta Arow untuk mencarinya, untuk menemukan cucu yang dia buang. lalu apa maksudnya dengan jijik dan kotor. Arie hanya diam mencoba mengerti apa yang di ucapkan wanita di hadapannya.


"Jangan mengira aku menerima, keturunan kotor sepertimu. anak dari pela**r tak akan ada artinya, hanya kotoran yang menjijikkan," ucap wanita itu lagi. Nyonya besar itu menatap Arie dengan jijik.


"Ne..n,"


"Diam," hardik Nyonya besar itu.


"Aku menceritakan semuanya pada Arow agar dia bisa membujuk Adinata untuk pulang ke rumah Sasongko, untuk berkumpul bersama keluarganya disini. tidak di sangka Arow malah berniat menemukanmu, kenapa kau tidak mati saja,"


Mata Arie sudah berkaca kaca, sekuat tenaga dia menahannya agar tidak jatuh.


"Lebih baik kau pergi, aku tidak ingin melihat wajahmu. membuat ku ingat pada wajah wanita sialan itu," Nyonya besar itu mengembuskan napasnya kasar.


"Jangan harap aku menerimamu masuk dalam keluarga Sasongko, pergi dan jangan injakan kaki mu lagi di sini,"


Arie berjalan mundur beberapa langkah, lalu membungkuk hormat pada Nyonya besar di hadapannya. hatinya benar-benar remuk.


"Maaf, maafkan saya Nyonya. Saya akan segera pergi," Arie berjalan cepat meninggalkan kamar itu. Arie matanya lolos begitu saja.


Mungkin dia memang tidak pantas untuk mendapatkan semua kebahagiaan ini. suami yang baik dan sempurna. keluarga yang sayang padanya. palsu semula hanya angan semu. Arie mengambil ponselnya yang ada di kamar. lalu bergegas keluar dari rumah besar itu. tanpa memberitahu siapa pun Arie pergi.


"Nona mau kemana malam malam begini," tanya penjaga pintu gerbang.


"Tolong bukakan pintu, aku akan menemui temanku, dia sudah menunggu di sana," Arie menunjuk asal pada satu mobil yang terparkir agak jauh dari mereka berdiri.


Penjaga itu menatap Arie dengan bimbang.


"Aku sudah minta ijin pada Ayah tenang saja," ucap Arie meyakinkan.


"Baiklah Nona," penjaga itu membuka pintu untuknya.


"Terima kasih," ucap Arie dengan senyum.


Maaf ayah, kakak. Terima kasih atas semuanya. lirih Arie dalam hati.


Malam yang pekat. Bumil itu berjalan gontai dengan berderai air mata.

__ADS_1


__ADS_2