
Tap..tap..tap..
Suara langkah kaki mengema, pagi ini aura berbeda terasa dari pria itu, dengan muka datar dan sorot mata yang penuh amarah. biasanya para karyawan akan menghindar saat melihat Tuannya seperti itu, namun hari ini semua berbeda, melihat Alex dan Chiko memasuki kantor seakan mereka melihat malaikat penyelamat.
"Akhirnya kita akan, selamat dari Mak lampir hu..hu.." ucap seorang wanita lirih.
"Kau benar, hari ini kita akan selamat" seorang lain menimpali.
Brakk..
Pintu ruangan Presdir di buka dengan keras, nampak seorang wanita paruh baya yang sedang duduk di kursi kebesaran, dengan asik bermain dengan ponselnya.
"Mama" sapa Alex yang berusaha menahan amarahnya.
"Oh.. Tuan Alex, angin apa yang membawamu kemari" Li Wei tersenyum miring, dengan tatapannya yang mengejek.
"Ma.. bisa kita bicara"
"Jangan panggil Aku Mama," Alex berusaha setenang mungkin.
"Duduklah, jika kau ingin bicara"
Alex pun duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Li Wei. Alex mencoba untuk tetap tenang, bagaimanapun Li Wei adalah ibunya, meskipun hanya ibu sambung, namun Alex tetap menghormati dan menyayanginya.
"Ma, ada apa sebenarnya, kenapa Mama melakukan semua ini"
"Apa maksudmu?"
"kita bisa membicarakan ini baik baik, Aku harap Mama bisa memikirkan semua lagi"
"Apa yang harus aku pikirkan, sekarang semua aset keluarga Wang menjadi milikku, apa yang harus aku pikirkan, anak bodoh seperti mu, hemh aku bahkan malas mengakuinya"
"Mama kenapa Mama seperti ini, apakah hanya karena uang Mama berubah" Alex tak bisa lagi menyembunyikan rasa kecewanya, sakit Alex rasakan dalam hatinya, luka yang tak berdarah, jauh lebih sakit dari pada luka fisik yang sebenarnya.
"Kau salah, aku tak pernah berubah, Kau dan Ayahmu yang terlalu bodoh, kau pikir untuk apa aku menikahi pria sakit-sakitan seperti Ayahmu" Li Wei melipat kedua tangannya, menatap tajam pada Alex.
"Cukup, bukankah Kau sudah mendapatkan hak mu" amarah Alex mulai tak bisa di bendung saat mendengar ayahnya di hina seperti itu.
"Kau pikir itu cukup, 10 persen hanya sepuluh persen dari semua kekayaan yang di miliki orang penyakitan itu, siang malam aku merawatnya, tapi apa hanya 10 persen, kau pikir aku apa pengemis, ckckck..., secuil uang tak akan memuaskan ku" ucap Li Wei dengan ponggah.
"Baiklah kalau itu yang Kau inginkan"
__ADS_1
"Chiko"
Chiko segera menyalakan video di ponselnya, yang menampakan seorang gadis menyelipkan kertas di antara tumpukan berkas di meja kerja Chiko, dan tak lama setelah Chiko mengikuti Alex untuk pergi dari ruangan, gadis itu kembali mengendap endap mencari sesuatu di antara tumpukan map di meja Chiko, setelah mengambil selembar kertas gadis itu segera pergi, video lain menampakkan gadis yang sama, keluar masuk dari rumah utama yang di tempati Li Wei selama ini.
"Bagaimana," ujar Alex, menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Kau pikir bisa menakut aku hemh, aku tak mengerti dengan isi video itu" elak Li Wei
"Mungkin kau akan mengerti dengan ini" suara bariton membuat Alex dan Li Wei menoleh ke arah pintu.
Kakek Wang yang duduk di kursi roda, di dorong oleh pak Darwis, dan seorang gadis yang berjalan di belakang mereka sambil tertunduk.
"Kau, apa yang kau lakukan" Li Wei sontak bangkit dari kursi kebesarannya, muka Li Wei berubah pucat saat melihat Ayu, berjalan di belakang Kakek Wu.
"Akhiri semua, tinggal tempat ini atau kau akan berurusan dengan hukum" ucap Kakek Wu.
"Hahahaha, Kau bisa apa, Tua Bangka, aku yang berkuasa di sini, jadi kau dan rombongan badut yang harus angkat kaki dari sini"
"Kau pikir surat kuasa yang kau buat sah, hemh..Alex hanya penganti sementara, dia tidak mempunyai wewenang untuk hal semacam itu" ucap Kakek Wu sambil tersenyum remeh.
"Tidak mungkin," Li Wei mengambil ponselnya mencoba untuk menghubungi seseorang.
"Kau, Dasar Tua Bangka, Iblis" Li Wei berteriak, melempar benda apa saja yang ada di meja ke arah Kakek Wu. dengan sigap pak Darwis berdiri di depan Tuan besarnya.
"Ma.. sudah cukup," bentak Alex sambil menahan tangan Li Wei yang hendak melempar Vas bunga.
Li Wei menghentak tangannya dengan keras, kilatan amarah nampak di matanya.
"Kau anak yang tak berguna, percuma aku berpura pura baik padamu, tak ada gunanya sama sekali" Li Wei mengambil tasnya, dengan langkah lebar dia mulai menuju pintu, langkahnya terhenti dan menatap tajam pada Ayu.
"Aku tidak akan melepaskan mu" ucap Li Wei sebelum keluar dari ruangan. Ayu tertunduk dia merasa takut untuk melihat Li Wei.
Alex terduduk lemas di kursinya, memegangi kepalanya yang terasa pening, sungguh semua ini membuat Alex merasa marah dan kecewa, selama ini dia begitu menyayangi ibu dan adik tirinya, menganggap mereka sebagai keluarga, namun apa ternyata semua hanya topeng, Alex mengusap wajah kasar.
"Maafkan aku Nak, Kakek harus membuatmu melihat ini semua" Pak Darwis mendorong kursi roda kakek wu mendekat pada cucunya.
"Selama ini Kakek hanya diam dan membereskan kekacauan yang di buat Li Wei, tapi kali ini aku sengaja membiarkannya sampai ke titik ini, agar kau sadar, siapa sebenarnya wanita yang kau bela di depan Kakek itu, Dia hanya seekor ular berkepala dua" ucap Kakek Wu dengan penuh kebencian, Kakek Wu membiarkan Li Wei ada di keluarga mereka karena Alex, namun semua sudah tak sama, Alex sudah tau kedok dari wanita Ular itu.
Alex menghela nafas panjang, dia sadar selama ini sudah terlalu buta dengan kasih ibu yang Li wei berikan, keinginannya untuk mempunyai keluarga yang utuh, membuat menutup mata dengan kebusukan Ibu tirinya.
"Maafkan aku Kek, bagaimana keadaan Kakek, apa sudah lebih baik" Alex mengenggam erat tangan yang yang penuh dengan keriput.
__ADS_1
"Tenang saja kakek sudah membaik, bagaimana kabar menantuku, aku merindukannya"
"Darwis antar gadis itu pergi ke bandara"
"Baik Tuan Besar" Pak Darwis membungkuk hormat lalu mengantar Ayu pergi keluar.
Flashback on.
Ayu berjalan gontai mengikuti langkah Pria paruh baya di depannya, pria itu membuka pintu mobil dan menyuruh Ayu masuk ke dalam.
"Sudah Kau kerjakan apa yang di suruh oleh Nyonya besar" ucap pria itu setelan melepaskan masker yang ia kenakan.
"Maksud Pak Darwis" Ucap Ayu dengan gugup.
"Aku tau, Nyonya besar menyuruh mu mendapatkan tanda tangan Tuan muda, kerjakan sesuai perintahnya, setelah kau menyerahkan apa yang dia inginkan segera resign dari sini" ucap Pak Darwis datar.
"Tapi pak saya masih membutuhkan pekerjaan ini, saya mohon Pak, tolong saya" Ayu menakupkan kedua tangannya, mata Ayu berkaca kaca, bagaimana dia akan menghidupi adik semata wayangnya.
"Tenanglah, Tuan besar akan mengirim Adikmu ke Singapura untuk operasi, dan kau harus menemani Adikmu bukan"
"Benarkah, Tuan Besar... Ya Allah terima kasih" air mata Ayu tak dapat di bendung lagi.
"Sudah jangan menangis Tuan besar tau kenapa kau menerima tawaran Nyonya, semua akan baik-baik saja , cepat keluar sebelum ada yang curiga," ujar pak Darwis, Ayu mengangguk dan segera keluar dari mobil.
Ayu kembali ke dalam kantor , setelah dia melihat Chiko dan Alex pergi ke ruang rapat, Ayu segera pergi ke meja Chiko mengambil kertas yang tadi dia selipkan, Ayu bergegas pergi ke rumah utama milik keluarga Wang untuk menyerahkan kertas yang di bawanya.
"Nyonya ini, yang Nyonya inginkan" dengan tangan gemetar Ayu menyerahkan kertas yang ia bawa.
"Kerja bagus, ini" Li Wei melempar amplop coklat.
"Terima kasih Nyonya" Ayu meraih amplop coklat itu, dan segera pergi keluar dari rumah itu.
Flashback off.
"Terima kasih pak" ucap Ayu pada pak Darwis, mereka kini sampai di bandara, Ayu akan pergi ke Singapura menyusul adiknya yang sudah lebih dahulu sampai di sana.
" Jangan sungkan, jika ada sesuatu hubungi aku, ini pakailah untuk kebutuhan mu di sana" Pak Darwis menyodorkan sebuah kartu ATM pada Ayu.
"Jangan pak, ini berlebihan, Tuan besar sudah membiayai semuanya, bagaimana saya bisa menerima ini"
"Terimalah ini perintah Tuan besar, fokuslah pada kesembuhan Adikmu" pak Darwis menggenggam kan kartu itu pada Ayu.
__ADS_1