
Arie memeluk tubuh sang Ayah. Tubuh pria itu seperti tulang yang di balut dengan kulit saja. Mukanya terlihat tirus dan pucat. Arie benar benar tidak sampai hati melihat keadaan Ayahnya sekarang.
Adinata mengusap lembut punggung anak perempuannya. Pria paruh baya itu meneteskan air matanya. Dadanya bagaikan di himpit batu besar, sesak merasakan semua dosa dan kesalahannya yang terus terulang.
"Maafkan Ayah Nak," lirih Adinata.
Arie melerai pelukan mereka. Memandang lelah wajah yang ia rindukan. Arie menggenggam tangan sang Ayah, lalu tersenyum.
"Maafkan Ayah Nak, selama ini Ayah tidak tahu apa yang di lakukan oleh nenekmu." Adinata melirik tajam pada sang ibu yang berdiri di belakang putrinya.
"Tidak apa-apa yah. Lagi pula itu semua sudah berlalu." Arie pun menatap sang suami yang menatap dengan sorot penuh dendam pada neneknya.
"Tapi, kami sudah begitu kejam bagaimana kau begitu saja memaafkan kami. Marahlah, caci ayahmu ini. kau berhak melakukan."
Arie menggelengkan kepalanya. "Amarah tidak akan menyelesaikan segalanya. Itu bukan cara yang tepat. Lagi pula suamiku sudah memberikan hukuman seperti ini pada kalian semua. Harus bagaimana lagi aku menghukum Ayah?"
Adinata menatap sang anak dengan haru. Tuhan begitu baik memberikannya seorang putri yang begitu baik hati. Puspa menyeringai tipis hampir tak terlihat. Namun, Alex menangkap semua itu.
"Ayah, aku membawakan makanan untukmu, kita makan sama sama ya," ucap Arie dengan senyum manisnya.
"Ah.. sepertinya tertinggal di mobil. Nenek, boleh aku minta tolong ambilkan tasku di mobil. Juga beberapa makanan yang ada di dalam bagasi aku lupa membawanya kemari," ucap Arie dengan nada manja.
Bisa bisanya anak ini menyuruhku. Apa dia pikir aku pembantu," gumam Puspa dalam hati.
Alex hanya diam menahan tawanya. Sementara Adinata melihat Arie dengan kedua alisnya yang di taukan.
"Tapi, nenekmu ini jalannya lamban Nak, lagi pula nenek tidak kuat membawa begitu banyak barang. Kau bisa minta tolong suamimu, dia akan lebih cepat membawa semuanya kemari," kilah Puspa.
"Bagaimana ini, aku ingin nenek yang mengambilkannya. Aku ingin suamiku di sini menemani aku, bersama Ayah."Arie sedikit mengerakkan badannya kebelakang agar bisa melihat wajah sang nenek yang memerah. " Bukankah Nenek sayang padaku, dan calon cicitmu ini."
Arie mengusap perutnya.
"Dia ingin sekali makanan yang disiapkan oleh nenek buyutnya. Kami tidak pernah mendapatkan perhatian dari nenek. Lagi pula waktu kita bertemu di mall, nenek masih terlihat sangat gesit berjalan jalan di sana. Bahkan nenek juga masih kuat untuk berdebat dengan manajer toko waktu itu, iya kan."
__ADS_1
Wajah Puspa berubah pias. Ia kehabisan kata untuk membantah apa yang di ucapkan Arie. Dengan terpaksa Puspa tersenyum, dengan langkah cepat dia keluar dari kamar anaknya.
Alex beranjak mengayunkan kakinya mendekati Arie, lalu ia pun duduk di belakang istrinya.
"Apa kau sengaja melakukannya?" bisik Alex. Arie hanya mengangkat bahu acuh.
"Apa kau benar pernah bertemu dengan nenekmu di mall?" tanya Adinata yang sudah sangat penasaran. Arie mengangguk.
"Waktu itu nenek membeli perhiasan dan tidak bisa membayar, karena kartunya diblokir. Jadi aku sebagai orang asing memberikannya bantuan," jawab Arie enteng.
"Orang asing?" Adinata mengerutkan keningnya.
"Iya waktu itu nenek berkata aku orang asing dan tidak ingin menerima bantuan dariku, tapi keadaan memaksanya."
Adinata mendesah, sungguh sebenarnya ia sangat malu dengan semua kelakuan ibunya.
"Maafkan nenekmu nak, Ayah sebagai putranya mewakili nenekmu meminta maaf." Adinata menunduk kepalanya. Ia sangat menyesali perbuatan ibunya.
"Ayah jangan seperti ini, Nenek sudah meminta maaf padaku. Dia bahkan memelukku sambil menangis tadi. Jika ayah izinkan aku juga akan sedikit bermain dengan Nenek, aku harap ayah tidak keberatan" ucap Arie dengan sungguh sungguh.
"Kalau ayah tidak percaya, Ayah bisa bertanya pada suamiku yang super tampan ini." Arie menepuk pipi suaminya.
"Iya Ayah, wanita itu .. ehem, Nenek tadi sudah meminta maaf pada istriku yang paling cantik ini," ujar Alex membenarkan. Ia pun mendaratkan ciuman di pipi Arie.
"Kau memanggilku ayah? Apa aku sudah menerimamu sebagai menantu, kau bahkan tidak minta maaf setelah mengambil semua perusahaanku!"
Glek
Alex menelan ludahnya kasar, sambil mengusap tengkuknya. Arie menatap sang Ayah dengan bibirnya yang sudah monyong lima centi.
"Ayah, jangan bercanda. kasihan Papanya junior, dia sudah sangat mencintaiku. Ayah wajib menerimanya sebagai menantu. Dia juga tidak akan melakukan semua kalau saja Nenek memperlakukanku dengan baik!" tukas Arie. Hati menghangat mendengar sang istri yang membelanya, seperti ada ribuan bunga yang bermekaran di dadanya.
"Hahaha.. aku hanya bercanda. kemari bantu mertuamu ini!" titah Adinata kepada sang menantu. Alex mengangguk kecil, ia bangkit lalu berjalan menghampiri ayah mertuanya.
__ADS_1
Alex mengulurkan tangannya, membantu sang ayah untuk bangun dari tempat tidur. Alex menoleh ke arah sang istri.
"Sayang tunggu aku, jangan coba berdiri sendiri, paham."
"Paham," jawab Arie sambil mengangguk kecil.
Adinata yang mendengar percakapan kedua sejoli itu tersenyum. Ia bisa merasakan cinta Alex yang begitu besar untuk putrinya.
Dengan telaten Alex memapah sang mertua sampai di meja makan. Bersamaan dengan itu Puspa baru saja memasuki rumah, dengan menenteng box makanan dan tas milik Arie di satu tangan lainnya.
Mulutnya berkomat kamit tidak jelas. Wajahnya terlihat dongkol dengan langkah yang sengaja di hentakan. Alex mendudukkan sang Ayah dengan perlahan.
Buuk..
Puspa meletakkan box makanan dengan kasar di atas meja. Adinata dan Alex melirik tajam ke arahnya, Puspa tak kalah tajam menatap ke arah dua orang pria yang ada di hadapannya.
"Apa, tanganku pegal. Box ini sangat berat," kilah Puspa.
"Sayang, aku mau keluar!" panggil Arie setengah berteriak.
"Iya, sayang." Alex segera menghampiri sang istri yang masih ada di kamar.
Tak berapa lama Arie pun muncul dari balik pintu dengan bergelayut manja pada lengan suaminya. Arie mengeryitkan keningnya melihat box makanan yang masih rapi dalam tasnya.
"Nenek, kenapa tidak sekalian di sajikan? bagaimana mana kami bisa makan kali seperti ini," ucap Arie dengan lembut. Puspa melotot mendengar ucapan Arie.
"Nenek kenapa melotot? apa mata nenek sakit?"
"Sayang sepertinya kita harus mengantarkan nenek ke rumah sakit memeriksakan matanya. Lihatlah di umurnya yang sudah tidak muda seperti ini, bukankah tidak baik jika mata nenek terlalu lebar seperti itu. Aku khawatir mata nenek bisa terlepas karena kelopak matanya sudah sangat keriput," ucap Arie dengan polosnya.
Alex mengatupkan bibir menahan tawanya yang hampir meledak, melihat wajah Puspa yang sudah merah padam. Andai saja Puspa sedang tidak dalam misi merebut kembali hartanya. Sekarang dia pasti sudah memaki wanita yang ada di hadapannya itu.
"Tidak, itu tidak perlu aku baik baik saja," tukas Puspa.
__ADS_1
"Benarkah, hemm kalau begitu tolong nenek cepat sajikan makanannya, aku sudah sangat lapar." Arie mendudukkan dirinya perlahan di kursi yang sudah di tarik Alex untuknya.
Senyum manis di lemparkan Arie pada sang suami, dengan mulutnya yang membentuk seperti sedang mencium. Alex memegangi dadanya yang terasa meleleh mendapatkan perlakuan manis dari istrinya.