
Pagi sudah hampir menjelang pagi, Siska dan Tama duduk bersanding di hadapan Pak RT dan penghulu, Tama sudah memakai baju yang di pinjamkan pak RT. Setelah perdebatan panjang akhirnya warga mendesak mereka berdua untuk menikah.
"Saya terima nikahnya Siska Amalia binti Ahmad Alim dengan mas kawin tersebut di bayar tunai." ucap Tama dengan sekali tarikan nafas, tak ada rasa gugup yang terpancar di wajahnya.
Lain dengan Siska yang sedari tadi menunduk, malu bercampur marah meruntuki dirinya sendiri. Andai dia tidak menolong Pria asing ini. Semua ini tidak akan terjadi.
"Sah"
"Sah"
"Sah"
Siska pun mencium punggung tangan Tama dengan cepat, tanpa mengangkat wajahnya. terlalu malu rasanya untuk menatap pria yang kini resmi sebagai suaminya secara agama.
Setelah acara pernikahan dadakan itu selesai, semua orang pun bubar. menyisakan sejoli canggung di dalam rumah itu.
"Pak, Anda bisa tidur di kamar di sana," ucap Siska canggung.
"Jangan panggil aku Pak, aku tidak setua itu," ketus Tama.
"Eh.. iya maaf." lirih Siska.
Hening. Siska berdiri di depan Tama yabg duduk bersandar di kursi ruang tamu. sesekali, Siska mencuri pandang pada Tama yang memejamkan matanya.
"Apa kau akan terus berdiri di situ," ucap Tama.
"Emh anu, Mas. Maaf sudah membuat Anda terjebak di situasi seperti ini, Anda bisa segera menceraikannya saya, dan saya tidak akan menuntut apapun. dan silahkan Anda tidur di kamar itu untuk beristirahat," jelas Siska sebelum berlalu melangkah cepat ke kamarnya.
Siska merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya yang tak begitu lebar. Menyesal bukan kata yang tepat untuk saat ini, semua terlanjur terjadi. Sudahlah jalani saja, jika memang harus bercerai lagi ya sudah, mungkin memang sudah takdirnya untuk terus menjadi janda.
Sementara Tama masih duduk di sofa, menerawang menatap langit langit yang sudah tampak usang, sungguh berbeda dengan rumah mewah miliknya.
Kata cerai yang di ucapkan Siska terus terngiang di telinganya. Prinsip Tama adalah menikah sekali seumur hidupnya, dan pernikahan itu telah terjadi meskipun dengan orang asing.
"Sial, kenapa wanita itu bisa dengan mudah mengucapkan perceraian." ucap Tama kesal.
****
Kantor Albied inc.
Besok adalah hari besar semua karyawan nampak sibuk berkutat dengan perkejaannya, tak terkecuali CEO sipit kita dan sekretaris tampannya.
"Bagaimana apa sudah selesai?" tanya Alex tanpa mengalihkan perhatian dari meja kerjanya.
__ADS_1
"Sudah Tuan, semua undangan sudah di tukar dengan yang baru," jawab Chiko.
Kemarin malam Chiko mendapatkan perintah dari Tuannya untuk menganti tema Pesta tahunan kantor, para tamu di wajibkan memakai kostum bertemakan Bollywood.
Titah langsung dari permaisuri yang tak mungkin di bantah, tak perduli dengan Chiko yang harus jungkir balik, tak perduli dengan para tamu yang harus menyiapkan kostum dadakan. Saat Arie bertitah atas nama sang junior yang ada di perutnya, maka semua harus terlaksana.
Hari sudah menjelang sore, Tuan sipit masih berkutat di atas laptopnya. matanya masih betah melihat jajaran angka di layar datar itu.
Drrt...
Ponsel Alex bergetar, sebuah panggilan masuk dari istrinya yang tersayang.
Alex menghentikan jarinya, Bulan sabit terbit di wajahnya yang kusut. Alex segera menggeserkan ujung jarinya di atas layar pipih itu.
"Halo Sayang."
Suara lembut yang terdengar dari ujung sambungan teleponnya, terdengar syahdu bagai siraman air hujan di tengah kemarau panjang. Cie segitunya.
"Halo Sayang."
"Sayang aku lapar," rengek Arie.
"Istri tercintaku mau makan apa?"
"Apapun, tapi aku ingin makan bersamamu."
"Tapi aku di rumah kakek."
"Emh, baiklah aku akan ke sana."
"Ok, aku akan menunggumu dengan makananmu, love you Mr.sipit."
"Love you more." ucap Alex sebelum menutup telfonnya.
Alex segera meraih jas yang tergeletak di kursi kebesarannya, dan beranjak keluar dari ruangannya. Dengan langkah lebar Alex bergegas menuju keluar kantor.
Brummm.
Mobil sport hitam milik Alex melesat dengan kecepatan tinggi, membelah ramaikan jalanan kota Surabaya. Setelah dua jam perjalanan akhirnya mobil yang dikendarai olehnya sampai di rumah besar.
Dengan rasa enggan dan rindu yang bercampur menjadi satu Alex melangkah memasuki rumah besar itu, langkahnya terhenti saat berada di ruangan tamu. Di mana foto besar berbingkai warna emas di pajang di sana, seorang anka berusia 10 tahun, duduk di pangkuan pria tua yang tersenyum lebar, di apit seorang laki-laki dan perempuan di kanan dan kirinya.
Guratan kesedihan terlihat jelas di wajah Alex saat memandang foto itu. Arie yang melihat Suaminya berdiri di ruang tamu, segera berjalan menghampirinya. Arie menjijitkan kakinya, dengan perlahan dia melangkah, niat hati ingin mengejutkan suami sipitnya. Namun, di berhenti saat mendengar Alex bergumam lirih.
__ADS_1
"Mom, maafkan aku," lirih Alex hampir tak terdengar. Alex terkejut saat tangan kecil melingkar di pinggangnya dari belakang.
"Sayang kenapa?" tanya Arie sambil mengusap wajahnya di punggung suaminya.
"Kenapa apa?" jawab Alex pura pura bodoh.
Arie melepaskan pelukannya, dia tak mau lagi diam dan menunggu. kini Arie sudah faham sifat suaminya yang suka memendam masalahnya sendiri. Arie sudah merasa keanehan pada suaminya, saat mereka menginap di rumah ini.
"Jangan bohong," Arie melipat tangannya di atas perutnya yang buncit, dengan bibirnya yang sudah manyun lima centi.
Alex membalikkan badannya, bertatapan dengan Istrinya yang sedang mode ungu, alias nesu. Alex segera meraih Arie dalam pelukannya, meskipun Arie cemberut tapi dia tidak menolak sentuhan suaminya.
"Sayang aku tidak bohong, tidak ada yang terjadi," ucap Alex lembut.
"Pokoknya aku mogok makan, kalau sampe ga cerita," ancam Arie.
"Hey, jangan gitu donk, kan kasian junior, kalau Mamanya ga makan," ucap Alex sambil melonggarkan pelukannya. Arie mengambil kesempatan itu untuk melepaskan pelukan Alex.
Dengan setengah berlari Arie bergegas menuju kamar Alex. Alex pun segera menyusul langkah istri, tapi terlambat Arie sudah masuk kamar dan menguncinya dari dalam.
Tok..tok .tok..
"Sayang, buka pintunya please!" seru Alex sambil terus mengetuk pintu.
Arie tak menyahut seruan suaminya, Arie ingin agar Alex bisa terbuka, membagi senang dan sedihnya. tapi Alex masih begitu menutup dirinya, Arie tidak suka itu sangat tidak suka.
"Arie jangan seperti anak kecil, cepat buka pintunya," bentak Alex yang mulai emosi.
"Ada apa ini," ucap Kakek Wu yang datang karena mendengar kegaduhan Alex yang terus mengedor pintu.
"Kakek."
"Apa yang kau lakukan di luar kamarmu sendiri?" tanya Kakek Wu dengan wajah garangnya.
"Emh, tidak apa apa kek, Arie hanya tertidur dan lupa mengunci pintu pintunya dari dalam," ujar Alex mencoba menjelaskan.
"Jangan kira aku tidak tahu, cepat pergi ke ruangan ku sekarang," tegas kakek Wu.
"Tapi Kek!"
"Berani kau membantahku, aku bilang sekarang," Kakek wu berbalik dan Mai mengayunkan kakinya.
Sementara Alex masih tampak enggan untuk melangkah meninggalkan Arie di dalam kamar, melihat Alex yang tidak mengikuti langkahnya membuat Kakek Wu geram.
__ADS_1
"Ikut aku, atau aku akan mematahkan kakimu," hardik Kakek Wu.
Dengan berat hati, Alex mulai melangkah meninggalkan pintu kamarnya.