
Alex menatap wajah istrinya yang terlelap , kedua matanya sembab. Alex membelai lembut pipi Arie, lalu mengecupnya pelan.
Arie membuka matanya, Alex tersenyum lembut pada istrinya.
Arie bangkit dari tidurnya, Alex segera membantu namun tangan Alex di tepisnya.
"Apa yang kau lakukan di sini," ketus Arie.
"Apa masih terasa sakit," Alex mengelus perutnya lembut. sentuhan yang begitu Arie rindukan.
Arie tidak menjawab. air matanya lolos begitu saja, Arie segera mengusapnya kasar.
"Pergilah, seharusnya kau ada di sampingnya, bukan di sini," ucap Arie memalingkan wajahnya.
"Sayang aku mohon jangan menangis," ujar Alex.
Alex meraih Arie dalam pelukannya, Arie meronta memukul tubuh Alex. tangis Arie pecah.
"Pergi, pergi, aku tidak ingin melihatmu lagi," Arie terus meronta, mendorong tubuh Alex.
"Tidak, aku tidak akan pergi," Alex mengeratkan pelukannya.
"Arie, Sayang tolong dengarkan aku," ucap Alex mencoba menjelaskan.
Alex melepaskan pelukan, menatap wajah istrinya lekat.
"Dengar apa, aku sudah menunggu mu untuk menjelaskan semuanya, tapi kau hanya diam, kau terus berbohong kepadaku," ucap Arie dengan nada tinggi.
"Aku bisa menjelaskannya, ini bukan seperti yang kau duga," Alex meraih tangan Arie. namun lagi lagi Arie menepisnya.
"Hahahaha..kau pikir aku bodoh, yang bisa terus kau bohongi,"
"Tidak sayang bukan seperti itu, aku hanya menolong Vivian, tidak lebih,"
"menolong untuk menghilangkan anak kalian, menjijikkan, kalian berdua menjijikkan, tidak tahu malu," teriak Arie.
Alex menghela nafasnya, percuma untuk bicara pada Arie sekarang, dia tidak akan mendengar perkataannya.
"Ambil ini," Ucap Alex dengan dingin, sambil menggenggam kantong cairan infus di tangan Arie. lalu mengangkat tangan Arie ke atas.
"Apa apaan ini."
Tak mengangkat tubuh Arie dengan lembut. mengendongnya ala bridal.
"Hey turunkan aku," Arie meronta berusaha untuk turun.
Namun Alex semakin, mempererat dekapannya.
Tak perduli dengan semua orang yang memandang mereka, Alex terus mengendong Arie sampai di sebuah ruangan VIP.
"Untuk apa kau bawa aku kesini," ketus Arie.
Alex hanya diam. lalu mendudukkan Arie di sofa. Arie bener bener tidak ingin berada dalam ruangan itu. melihat Vivian yang tengah memperhatikan mereka membuat Arie benar benar muak.
Baru saja Alex mendudukkannya, tapi Arie langsung bangkit dan hendak berjalan keluar.
"Sayang tolong, beri aku kesempatan untuk menjelaskan," ujar Alex mengiba.
__ADS_1
Tangan Arie terhenti ketika hendak meraih handle pintu.
dia pun berbalik dan menatap tajam pada Alex.
"kesempatan, kau pikir untuk apa aku diam selama ini, aku memberikanmu kesempatan untuk jujur," ucap Arie.
"Tapi apa, kau hanya diam dan terus menutupi semua, terlambat Alex, terlambat," Ucap Arie sendu.
"Arie, namamu Arie kan," ucap Vivian lirih.
"Maafkan aku, tapi bisakah kau duduk sebentar," ucap Vivian.
"Maaf aku tidak punya waktu, untuk meladeni pasangan tidak tahu malu seperti kalian," ketus Arie.
"Sayang tolonglah, sebentar saja, dengar penjelasan kami, setelah itu kau bisa melakukan apa pun yang kau mau," ucap Alex mengiba.
"Kami, kau sudah menunjukkan kalau kalian adalah satu," ucap Arie tersenyum miring.
"Baiklah, aku akan memberikan satu kesempatan lagi," ucap Arie, lalu dia duduk di sofa lagi.
"Terima kasih sayang," ucap Alex.
"Berhentilah memangil ku sayang, aku muak mendengarnya," ucap Arie dengan kesal.
"Arie, Alex menolongku saat aku keguguran," ucap Vivian sendu.
Arie hanya memutar bola matanya malas.
"Charles, kekasihku, kami putus saat dia tahu aku hamil, seminggu yang lalu dia datang ke apartemenku, dia mengajakku untuk pergi mengugurkan kandungan, tapi aku menolaknya. dia marah dan menghajarku," ucap Vivian, air matanya meleleh seketika.
"Dan kemarin, aku harus melakukan operasi pengangkatan rahimku, mungkin ini karma untuk ku," tangis Vivian tak bisa di bendung lagi.
Vivian menutup mukanya dengan kedua telapak tangan, Vivian melepaskan tangannya saat merasakan usapan lembut di punggungnya.
"Aku bukan jenis orang yang bisa membuat kata kata manis, tapi bersemangat lah, hidup harus terus berjalan," ucap Arie.
Vivian memeluk Arie dan menumpahkan semua tangisnya. Arie pun membalas pelukannya dengan hangat.
"Istirahatlah, aku akan menjenguk mu lagi nanti," ucap Arie lembut.
Vivian mengangguk kecil, perlahan Arie membantu Vivian merebahkan tubuhnya.
"Alex beruntung mempunyai istri seperti mu,"
"Aku tau," ucap Arie
"Kau ikut Aku," ketus Arie. sambil menatap tajam pada Alex.
Alex pun mengekor di belakang istrinya seperti anak ayam. sambil memegangi kantong infus milik Arie, mereka berjalan ke kamar rawat Arie.
Setelah memasang kantong infus di tiangnya, dan membantu Arie duduk di atas brankar,Alex pun duduk di sebelah Arie.
"Siapa yang menyuruhmu duduk,"
"Berdiri," perintah Arie.
Alex pun segera berdiri tegap di hadapan Arie.
__ADS_1
"Katakan semua yang tidak aku tahu," ucap Arie, sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Dari awal," imbuh Arie lagi.
Alex pun mulai menceritakan awal Vivian meminta bantuan darinya.
"Selebihnya Vivian sudah menceritakan semuanya," ucap Alex.
"Belum, belum semuanya," ucap Arie. Alex mengeryitkan keningnya.
"Berapa jam kau menemani Vivian di sini, apa saja yang kau lakukan untuknya, lalu kenapa dengan wajahmu yang lebam itu," cerocos Arie.
Alex tersenyum kecil, dengan semua pertanyaan Arie.
"Aku hanya menjenguknya setelah pulang kerja sebentar, tidak lebih dari satu jam, kemarin hari yang paling lama karena dia harus operasi," jelas Alex panjang.
"Lalu bagaimana dengan ini,"ujar Arie, tangan lentiknya dengan lembut menyentuh lebam di wajah Alex.
"Ini hukuman dari Tama, karena aku tidak menjagamu dengan baik,"
"Bagus, kau pantas mendapatkannya," Arie menepuk pipi Alex dengan cukup keras.
Alex hanya meringis menahan sakit.
Alex meraih tubuh Arie, membenamkan wajahnya di ceruk leher Arie.
"Maaf, maafkan aku," bisik Alex lirih.
"Jangan begitu lagi, aku tidak suka,"
"heem, aku tidak akan mengulanginya," Alex mengusap wajahnya, menghirup kuat aroma tubuh Arie.
"Aku rindu, aku sangat merindukanmu," suara Arie mulai terdengar serak.
Alex melonggarkan pelukannya, mengusap lembut air mata yang mulai mengalir.
"Maaf membuatmu terluka, maaf membuat mu menungguku setiap malam, maaf membuatmu menangis maaf -,
Arie menutup mulut Alex dengan kedua tangannya. sambil menggeleng kecil, Alex menurunkan tangan Arie perlahan. lalu menyatukan kening mereka.
"Wo ai ni,"[ aku mencintaimu] ucap Alex dengan lembut.
"Wo ye se," [ aku juga] air mata Arie kembali bergulir.
Namun kali ini air mata itu jatuh karena bahagia, ucapan cinta dari suaminya, membuat bunga bermekaran di hatinya, menepiskan semua kesedihan yang dia alami.
Alex mencium bibir Arie perlahan, lembut. bibir yang sangat ia rindukan, yang selalu membuat menginginkan lebih.
Tangan Alex menekan tengkuk Arie, membuatnya ******* lebih dalam.
Nafas keduanya saling memburu, menyatukan rindu yang menggebu. Alex melepaskan tautannya, turun mengecup dagu dan perlahan semakin ke bawah.
"Bisa kita pulang sekarang, aku tidak mungkin memakan mu disini," ucap Alex sambil menyusuri leher jenjang istrinya.
"kau harus puasa seminggu," ucap Arie lirih.
Alex menghentikan aksinya, menatap Atie dengan mata memelas.
__ADS_1