Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Rindu


__ADS_3

Mobil yang Alex dan Arie tumpangi akhirnya sampai di rumah besar. Setelah perjalanan yang cukup lama. Karena jarak rumah sakit yang cukup jauh. Alex segera turun dan melangkah memutar untuk membuka pintu mobil untuk Arie. Ia tidak mengizinkan sopirnya untuk melakukan hal itu.


"Ayo sayang." Alex mengulurkan tangannya.


"Lho, kursi rodanya mana?"


"Kau tidak membutuhkan itu." Alex mengangkat tubuh Arie perlahan membawa dalam dekapan. Dengan hati-hati ia memundurkan tubuhnya dengan Arie lama gendongan.


Arie tersenyum lebar, melingkar tangannya di leher Alex. Ia sedikit mengangkat wajahnya, menghadiahkan sebuah ciuman kecil di pipi suaminya.


"I love you."


"Love you more." Alex mengecup singkat bibir Arie.


Melihat kemesraan kedua majikannya itu. Ipul hanya bisa gigit jari. Belum lagi selama perjalanan pulang mereka saling mengecup bibir satu sama lain. Sungguh pemandangan yang membuat Ipul sakit mata.


Dengan langkah lebar Alex membawa istrinya masuk ke rumah. Menyusuri ruang tamu, dapur dan mereka pun sampai di halaman belakang rumah besar itu. Sebuah taman yang luas dengan rumput hijau dan beberapa pepohonan.


Alex mendudukkan dirinya, sedikit menggeser lebih ke belakang dari Arie bisa duduk di pangkuannya dengan nyaman.


"Aku, bisa duduk sendiri," ucap Arie lembut. Alex memicingkan matanya, dengan kedua tangannya yang sudah terlipat di atas dada.


"Kau sepertinya tidak ingin dekat denganku," ketus Alex.


Arie tergelak, ia mendekatkan bibirnya ke wajah Alex yang di tekuk masam. Sebuah kecupan kecil mendarat di pipi kiri Alex.


"Aku hanya tidak ingin kau lelah, kau sudah menemani aku seharian di rumah sakit, kau juga harus istirahat, ok." Arie mengelus lembut rahang kokoh suaminya, lalu perlahan mengusap leher, semakin turun jemari lentik Arie menggambar lingkaran di dada Alex. Alex memejamkan matanya menikmati sentuhan tangan sang istri yang begitu lembut.


Alex menangkap tangan yang bermain di dadanya, menaikkannya ke atas sampai menyentuh pipinya. Alex mencium lembut tangan itu. Menatap lekat pada manik mata sayu yang ada di hadapannya.


"Tidak ada kata lelah untukmu, Sayang." Alex mengarah tangan Arie ke belakang lehernya.


Alex menyatukan kening mereka, sedikit memiringkan kepalanya mengikis jarak hingga ke dua bibir mereka menyatu dengan lembut. Arie memejamkan matanya menikmati setiap luma*an kecil yang begitu ia dambakan. Semilirnya angin yang menerpa dedaunan di sana, menjadi saksi bagaimana dua insan itu saling melebur dalam penyatuan hangat bibir mereka.


Tanpa ada gangguan dari siapapun. Keduanya terus memagut, menyesap rasa manis dari saliva mereka. Ini pertama kalinya Alex berani bermain di bibir istrinya lebih dari biasanya. Setelah dokter menyatakan retakan tulang di pipi sang istri telah sembuh sepenuhnya, hanya tinggal melakukan terapi untuk melatih otot-otot syarafnya.


Alex memperdalam ciuman mereka, kini lidah kedua saling membelit dan menari di irama yang sama. Arie mengaitkan kedua tangannya di leher Alex. Semakin cepat dan memburu, nafas keduanya berpacu seiring detak jantung yang semakin mengaduh.


Alex melepaskan penyatuan bibir mereka, menatap wajah Arie dengan matanya yang sayu. Alex mengecup kening lalu turun kedua kelopak mata Arie, pipi kanan dan sedikit lebih lama mengecup bekas luka yang belum sepenuhnya menghilang di pipi sebelah kiri. Dengan nakal Alex sedikit melu*at dagu Kecil Arie, membuat wanita itu mende*ah seiring bibir Alex turun menyusuri leher jenjang miliknya.


Lidahnya dengan liar menyapu kulit mulus Arie yang begitu sensitif. Aroma tubuh Arie semakin membuat Alex mengila. Ia semakin rakus menyesap dan meninggalkan jejak kepemilikannya. Arie mendesis saat Alex menyesapnya dengan begitu kuat. Rasa pedih yang membawanya pada kenikmatan yang ia rindukan.

__ADS_1


Sementara itu seorang wanita paruh baya dengan sedang mondar mandir di pintu penghubung yang mengarah ke taman belakang. Ia berjalan sambil mengayun ayunkan tubuhnya berusaha untuk menenangkan bayi mungil yang ada di dekapannya.


"Aduh, Nona kecil...diem ya jangan nangis terus. Sshhh... shhh..." Bi Asih mencoba menenangkan Cleo yang baru saja terbangun dari tidurnya.


Bayi berusia 8 bulan itu menangis saat membuka matanya. Bi Asih sudah berusaha menenangkannya. Namun, tak kunjung ada hasilnya.


"Kenapa, Bu Asih?" tanya seorang wanita lain yang tugasnya sama dengannya. Menjadi baby sitter Cleo.


Alex memang sengaja memperkerjakan dua orang baby sitter untuk Cleo, agar keduanya bisa saling membantu dan membagi waktu. Alex sadar mengurus seorang bayi bukalah hal mudah, apalagi untuk orang yang usianya sudah tidak muda lagi seperti mereka.


"Ga tau, Ning. Non, Cleo nangis terus. Mungkin kangen sama Papa Mamanya." jawab Bi Asih sambil terus mengayun Cleo.


"Lha, bukannya Tuan sama Nyonya sudah pulang dari rumah sakit?"


"Iya, tapi."


"Tapi, apa. Bu?"


"Itu Nyonya sama Tuan lagi patuk patukan di sana. Aku ndak berani ganggu, Ning," ujar Bi Asih.


"Eh..patuk patukan, aku penasaran, Bu."


Nining berjalan sedikit mendekat ke arah daun pintu yang terbuka, tirai yang terpasang di pintu kaca itu membuat Nining dapat menyembunyikan dirinya.


"Astaga, Bu Asih hot banget itu Nyonya sama Tuan." Nining bergidik geli geli asoy.


"Kamu itu, Ning. Nggak malu ngintip kaya gitu," ujar Bu Asih pelan.


Cleo sudah kembali terlelap dalam gendongannya. Bu ASI tidak berani berbicara keras, agar tidak membangunkan bayi lucu itu.


Nining membalikkan badannya. Dengan raut wajah yang tidak bisa di artikan Nining mengigit bibir bawahnya.


"Bu Asih, aku mau pamit dulu."


"Kamu mau kemana?"


"Mau cari Mas Joko, nggak kuat lihat Nyonya sama Tuan."


"Mas Joko...!" pekik Nining sambil berlari.


"Oh... wong soplak," umpat Bu Asih.

__ADS_1


"Ayo, Non Cleo kita masuk lagi ke kamar. Cleo sama Bu Asih aja ya. Biar Tuan sama Nyonya berdua dulu, bikin adik buat Non, Cleo," ucap Bu Asih pada Cleo yang sudah terlelap, sambil berjalan ke arah kamar Cleo.


Sementara di atas sofa itu. Dua insan itu saling melepaskan rindu, entah terlalu larut atau memang mereka sengaja. Meskipun mereka tidak menyatukan diri mereka. Namun, Alex yang terlihat memakan istrinya sungguh bisa membuat orang yang melihatnya panas dingin nggak karuan.


"Sayang..." ucap Arie dengan suara seraknya. Ia meremas rambut Alex yang sedang mengulum choco chip yang sengaja dia keluarkan Alex tanpa melepaskan pengamannya.


"Bisa kita ke kamar saja." Arie berusaha mengangkat wajah Alex dengan kedua tangannya, menjauh dari dadanya.


Alex pun melepaskan ujung dari gunung kenyal favoritnya itu. Mengikuti tangan Arie, ia mendongakkan kepalanya.


"Kenapa di kamar, kita tidak melakukan apapun. Di sini saja, aku suka suasananya." Alex menyibakkan rambut Arie lalu menyelipkannya ke belakang telinga Arie.


Wajah Arie memerah, dadanya naik turun seiring tarikan nafasnya.


"Nggak melakukan apa-apa gimana, itu tadi apa?" ketus Arie.


"Mencicipi mu, sayang,"


"Emang aku makanan apa pake di cicipi segala."


"Iya, kau makanan utamaku. Sayangnya aku hanya bisa mencicipi tapi tidak bisa memakanmu," ucap Alex dengan sendu.


"Maaf," lirih Arie.


Ada rasa iba dan bersalah saat ia melihat suaminya yang menahan hasrat, untuk tidak menyentuhnya. Arie faham betul bagaimana Alex menginginkan dirinya. Sebenarnya ia pun sama, Arie sangat merindukan sentuhan tangan Alex. Merindukan saat-saat mereka melebur peluh bersama.


Alex tersenyum kecil, melihat wajah Arie yang tertunduk.


"Its ok, honey. Aku masih bisa menahannya. Lagi pula aku sudah membeli sekotak Lifebuoy."


.


.


.


.


.PS. Joko nama tukang kebun di rumah itu ya dan Mbak Nining itu istrinya 🤭


jangan lupa like dan comment ya Mak. di tunggu juga bunga sama votenya ❤️❤️❤️

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2