
Sayang .
Mereka hanya membantuku kenapa kau memarahi mereka?
Arie menuliskan itu di sebuah buku, lalu menunjukkannya pada Alex yang sedang memainkan rambutnya yang terjuntai ke bawah. Rambut yang kusut dan mungkin sedikit bau keringat karena belum pernah di cuci dengan sempurna. Namun, itu tak mengurangi kadar cinta Alex. Rambut Arie tidak di botaki seluruhnya saat operasi. Hanya pada Bagian yang cedera dan sekitarnya.
Alex menghela nafasnya. Mau bagaimana lagi, ia tidak bisa menahan amarahnya saat orang lain menyentuh tubuh istrinya. Seandainya dia sudah bisa berjalan dengan normal. Alex akan menghajar semua perawat yang tadi menyentuh istrinya.
"Jangan salahkan aku, kau terlalu berharga untuk disentuh sembarang orang seperti itu. Aku tidak suka," ketus Alex.
Kau sangat menggemaskan.
Aku mencintaimu.
Blush.
Wajah Alex memerah.
"Apa yang kau katakan, dari segi mana aku terlihat mengemaskan?" Alex memalingkan wajahnya yang bersemu merah, agar tidak terlihat oleh sang istri.
Melihat pujian istrinya membuat Alex malu sendiri. Dalam hatinya seperti ada taman bunga yang bermekaran, seperti ribuan kupu kupu terbang di dalam perutnya.
Lima bulan kemudian.
Seorang wanita cantik duduk di atas kursi rodanya, sambil memangku putrinya yang berusia lima bulan. Ia sangat bahagia bisa mengendong anaknya. Meskipun dia belum bisa berjalan tanpa bantuan, itupun hanya beberapa langkah saja. Kakinya masih terasa gemetar saat berdiri terlalu lama
Arie masih harus menjalani fisioterapi terapi agar dapat pulih sepenuhnya.
Suara derap langkah terdengar mendekat, Arie mengulum senyum, ia tahu pasti siapa pemilik langsung itu.
Cup
"Sayang, aku pulang," bisik Alex lirih setelah mengecup singkat pipi Arie.
Sejak kepulangannya tiga bulan yang lalu Alex memang sudah mulai kembali berkerja. Ia tidak tega terus menerus membebankan semua pekerjaannya pada sang asisten. Apalagi Chiko juga tengah mempersiapkan pernikahannya
"Selamat datang, Papa," ucap Arie begitu lirih hampir tak terdengar.
Alex tertegun saat mendengar suara sang istri untuk pertama kalinya. Alex langsung beralih ke depan Arie. Perlahan ia bersimpuh di hadapan. Mensejajarkan dirinya.
"Sayang, kau sudah bisa bicara. Maksudku, kau sudah bisa mengeluarkan suara mu?"
Arie mendekatkan telunjuk dan jari jempolnya, dengan senyum kecil. Alex ternganga tak percaya, lingkar matanya sudah berkaca-kaca. Suara yang begitu manis, yang begitu ia rindukan. Akhirnya Alex dapat mendengarnya setelah sekian lama. Alex segera berhambur memeluk istrinya.
Ia tak lagi bisa berkata. Alex sungguh sangat bahagia dengan kemajuan yang di capai istrinya.
"Sayang, ada Cleo," bisik Arie di telinga suaminya.
Alex membulatkan matanya, pria sipit itu hampir saja lupa sang putri yang ada di pangkuan istrinya. Alex langsung melepaskan pelukannya. Sedikit menunduk melihat bayi gembul yang sedang memainkan lidahnya.
"Maafkan Papa, kamu pasti sesak ya," ucap Alex seraya mengangkat tubuh mungil itu dari pangkuan istrinya.
"Wee, Cleo terbang!" seru Alex sambil mengangkat anaknya, dengan kedua tangannya. Bayi itu tertawa, Cleo selalu begitu. Ia sangat mudah tertawa dan bersikap sangat manja pada Papanya.
__ADS_1
Arie tersenyum kecil. Melihat Alex dan anaknya. Buah hati mereka berdua. Arie sangat bersyukur Tuhan masih memberikannya kesempatan untuk sembuh dan kembali sehat setelah maut hampir menjemputnya. Meskipun sampai saat ini Arie masih belum bisa mengingat kejadian yang menyebabkan ia harus duduk di kursi roda seperti saat ini.
Alex pernah menceritakan yang terjadi dengan detail. Namun, Arie tidak bisa mengingatnya, hal terakhir yang ia ingat hanya saat Alex menciumnya di dalam minimarket itu. Ingat yang manis.
Pernah sekali waktu dia memaksakan diri untuk mengingat. Kepalanya terasa sakit dan berdenyut hebat, Arie jatuh pingsan dan
harus di larikan ke rumah sakit.
Setelah puas bermain dengan Cleo, Alex memanggil baby sitter Cleo. Awalnya Arie sangat menentang saat Alex akan memperkerjakan seorang baby sitter. Arie ingin merawat Cleo sendiri.Namun, akhirnya Arie setuju karena Alex selalu memohon kepadanya untuk menyewa seorang baby sitter.
Alex hanya ingin Arie fokus terhadap kesehatannya, pada setiap terapi yang akan ia lakukan ke depannya. Alex tidak Arie merasa kelelahan.
"Devi!" panggil Alex .
Seorang wanita dengan berusia dua puluh lima tahun, memakai kemeja dan celana panjang berwarna pink pucat berlari ke arah Alex saat mendengar namanya di panggil.
Rambutnya yang di kepang ke belakang ikut berayun mengikuti langkah kakinya. Devi memiliki tubuh yang proporsional sebagai seorang wanita. wajahnya terlihat manis dengan lesung di kedua pipinya.
Arie terus memperhatikan Devi yang melewatinya, berjalan mendekati Alex yang tengah mengendong Cleo.
"Iya, Tuan," jawab Devi.
"Bawa Cleo ke dalam, sepertinya dia mengantuk ." Alex menyerahkan Cleo dalam gendongan Devi.
"Baik, Tuan," jawab Devi dengan senyum manisnya.
Alex tampak bersikap acuh terhadap baby sitter itu. Namun, entah mengapa Arie merasa tidak nyaman saat melihat Alex berada di dekat Devi.
Devi pun segera membawa Cleo masuk, ia menyapa Arie dengan senyum kecil sebelum masuk ke dalam.
Sesampainya di kamar Alex pun membantu istrinya untuk berbaring di tengah tengah peraduan mereka. Alex membaringkan tubuh Arie dengan perlahan dan sangat hati-hati.
"Apa kau ingin makan sesuatu?" Arie hanya menjawab dengan gelengan kepala.
Alex membelai lembut pipi Arie yang sudah memalingkan wajahnya ke arah lain, seolah menghindarinya.
"Apa yang sedang kau pikirkan, sayang. Aku tau kau sedang memikirkan sesuatu." Alex membaringkan tubuhnya di samping istrinya.
Melingkarkan tangannya di pinggang ramping Arie dan menengelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri. Rasa lelahnya setelah berkerja seharian seakan hilang begitu saja saat Alex sudah berada di sisi Arie.
Biasanya Arie akan mengelus lembut rambut Alex yang menempel di wajahnya. Namun, tidak hari ini. Alex merasakan ada sesuatu yang berbeda pada istrinya hari ini.
Selama Arie tidak bisa berbicara atau mengeluarkan ekspresi di wajahnya. Alex belajar lebih peka pada bahasa tubuh Arie. Memperhatikan setiap detail gerakan atau seulas tipis sorot mata yang menunjukkan suasana hatinya.
"Sayang, aku sangat merindukanmu," bisiknya. Ia menciumi tengkuk Arie dengan lembut, mencoba mencairkan suasana hati sang istri. Alex tahu Arie sedang mengkhawatirkan sesuatu
"Devi, cantik ya," ucap Arie begitu saja. Alex menautkan kedua alisnya, mendengar nama orang di sebut.
"Sayang kau bicara apa? tidak ada yang lebih cantik dari mu." Alex berpindah ke sisi lain agar bisa menatap wajah istrinya yang terus membelakanginnya.
Wajah Arie terlihat sendu, sorot matanya menatap Alex dengan penuh cinta. Namun, tersirat kesedihan di dalamnya. Arie meraba bekas luka yang masih terlihat jelas di pipi kirinya.
Netra beningnya berubah sedikit memerah, dengan cairan yang mulai mengenang di bawahnya. Arie merasa takut, sangat takut. Ia bukanlah wanita yang sempurna lagi. Banyak bekas luka memenuhi tubuhnya. Ia masih sangat sulit untuk sekedar bicara. Butuh tenaga ekstra. Tulang pipinya yang retak masih terasa nyeri saat Arie mengerakkan otot wajahnya.
__ADS_1
Melihat Devi yang masih muda dan sempurna. Sebagai seorang wanita jujur, Arie merasa cemburu saat Baby sister itu berdekatan dengan suaminya. Apalagi Arie sempat memergoki wanita itu sedang mengangumi suaminya. Arie merasa marah saat itu.
Arie sadar itu bukan salah suaminya atau pun Devi. Tidak ada salahnya mengangumi seseorang selama masih dalam batasnya. Apalagi Alex memang sosok laki-laki idaman para wanita. Tampan, kaya dan berwibawa.
Alex segera merengkuh Arie dalam pelukannya. Hatinya terasa sakit saat melihat mata Arie berkaca kaca.
"Sayang, jangan menangis. Kau tau hatiku terasa teriris melihat air matamu." Alex membingkai wajah istrinya dengan lembut.
Arie memberikan isyarat agar Alex mengambilkan pena dan buku yang biasa ia pakai, karena Arie belum bisa terlalu banyak mengerakkan otot di wajahnya.
Alex pun bergegas mengambil pena dan kertas di atas nakas, lalu menyerahkannya kepada Arie. Setelah itu Alex membantu Arie untuk duduk dan menata bantal sebagai sandarannya. Dengan cepat Arie pun menulis saat pena dan kertas sudah ada di tangannya.
Aku takut kau akan meninggalkan aku.
Aku cacat, wajahku cacat.
Aku tidak bisa lagi melayani mu seperti dulu.
Aku takut, sangat takut.
kau bosan.
Lalu akan pergi.
Sayang, jangan tinggalkan aku.
Jangan lelah ya.
Jangan lelah, untuk mencintaiku, aku tidak bisa kehilanganmu.
Arie memiringkan kepalanya, dengan air mata yang sudah tumpah membasahi pipinya.
Alex langsung memeluk Arie. Membiarkan istrinya meluapkan emosinya.
"Apa yang kau pikirkan sayang. Aku hanya mencintaimu, bagaimana aku bisa meninggalkanmu. Saat aku bahkan tidak bisa bernafas tanpamu. Jangan pernah berpikir seperti itu.
Aku bahkan tidak berani membayangkan harus berjauhan darimu. Bagaimana kau bisa berpikir aku akan meninggalkanmu. Kau adalah alasan jantungku berdetak bagaimana aku bisa terpisah darimu.
Aku bisa melakukan apa saja untuk menjagamu tetap di sisiku. Apa kau tahu aku hampir saja menjadi seorang pembunuh karena mu?"
Arie sedikit memundurkan tubuhnya agar bisa melihat wajah Alex. Dengan isyarat matanya Arie bertanya kenapa pada Alex.
"Saat kau koma, aku mengancam akan membunuh semua dokter yang mengoperasi dirimu jika kau tidak sadar dalam waktu tiga hari. Aku sangat takut kau akan meninggalkanku."
Arie membulatkan matanya mendengar ucapan Alex. Alex tersenyum miring mengingat betapa gilanya dia waktu itu. Rasa sakit melihat istrinya yang terbaring tak berdaya masih ia rasakan sampai hari ini.
"Kau masih ingatkan, saat aku bilang aku akan membawa Cleo ikut pergi bersamamu andai kau tidak lagi membuka matamu. Aku serius dengan hal itu, sayang."
Maafkan aku," ucap Arie lirih.
"Jangan pernah meminta maaf, cinta yang membuat kita menjadi seperti ini. Rasa ingin untuk selalu saling memiliki. Ini tidak salah, karena kau adalah takdirku dan aku akan selalu menjadi takdirmu." Ingin sekali Alex memeluk erat tubuh istrinya. Namun, ia sungguh takut itu akan menyakitinya.
Kedua netra mereka bertemu, saling menyelami cinta satu sama lain. Ada perasaan bersalah terselip di hati Arie karena meragukan cinta Alex padanya. Namun, Arie juga tidak bisa memungkiri rasa takut kehilangan suaminya.
__ADS_1
Arie semakin meringsekan tubuhnya dalam dada bidang Alex. Dua insan ini berbaur dalam pelukan hangat yang menyatu detak jantung mereka. Alex mengikis jarak diantara mereka. Namun, ia hanya berani mencium lembut bibir Arie tanpa mel*matnya. Ia sangat takut menyakiti tubuh istrinya yang masih sangat rapuh.