
Tama baru saja turun dari mobilnya, yang baru saja terparkir di halaman rumah Siska. Dengan semangat Pria berlesung pipit itu masuk ke rumah, dan segera mencari keberadaan istrinya.
"Bu sari, di mana Siska?" tanya Tama saat berpapasan dengan Sari di dapur.
"Ga tau Dok, mungkin lagi belanja," jawab Sari.
Tama pun beranjak keluar rumah. Ia ingin segera bertemu dengan pujaan hatinya. Tama memicingkan matanya saat melihat ibu ibu yang tengah berkerumun. Terdengar umpatan dan cacian maki yang begitu lantang di ucapkan mereka. Hati Tama merasakan sesuatu yang tidak beres. Ia pun mempercepat langkahnya mendekati kerumunan itu.
"Apa yang kalian lakukan!" suara bariton Tama menghentikan aksi emak emak brutal itu.
Tama begitu geram saat melihat istrinya diperlakukan dengan begitu buruknya. Siska membuka matanya yang sedari tadi tertutup menahan tangisnya. Dilihatnya seorang pria dengan wajah cemas mendekat padanya. Ia melepaskan jas putih yang di pakainya untuk menutupi tubuh istrinya.
"Halah Pak, istri ga bener kok di belain," sahut salah satu perempuan. Namun, Ia langsung diam saat Tama menatapnya dengan tajam.
Perlahan Tama membantu Siska berdiri. Ia merangkul bahu istrinya yang sudah berbalut jas dokter miliknya.
"Kalian semua akan saya laporkan kepada pihak yang berwajib. saya tidak akan melepaskan siapapun yang menyakiti istri saya!" geram Tama. wajah semua ibu itu langsung berubah pias.
Mereka mulai saling menyenggol dan berbisik satu sama lain. Tama mengedarkan pandangannya, menatap tajam wajah mereka satu persatu.
"Jangan harap kalian bisa lolos, saya mengingat tiap wajah yang ada di sini!" tegas Tama. Ia pun mulai melangkahkan kakinya pergi meninggalkan kerumunan itu bersama Siska yang membisu.
Tama pun masih diam dan mempererat tangannya yang merengkuh bahu istrinya. Sesampainya di rumah keduanya masih tetap diam.
"Ya Allah, Mba Siska kenapa?!" pekik Bu sari yang terkejut dengan keadaan Siska.
"Bu, tolong siapkan air panas," titah Tama dengan datar.
"Iya, Dokter," ujar Sari dengan gugup. Sari dapat melihat kilatan amarah di mata Tama. Dan itu membuatnya takut.
Sari langsung bergegas ke dapur untuk memasak air panas. Sementara Tama menuntun istrinya pergi ke kamar mandi.
"Maaf mas, bajumu kotor karena aku," lirih Siska dengan tangis yang di tahannya.
Tama tidak menjawab. Ia menekan kedua bahu Siska untuk duduk di kursi plastik yang ada di depan kamar mandi. Diamnya Tama membuat Siska semakin merasa bersalah.
"Dokter ini air panasnya," ucap Sari sambil menenteng ember yang berisikan air panas.
__ADS_1
"Letakkan saja di sini," ujar Tama sambil menunjuk lantai di sebelahnya.
"Iya Dokter." Sari meletakkan ember plastik di lantai.
"Bu sari, tolong ajak Naoki pergi main dulu," titah Tama.
"Tapi Dokter saya sudah mau pulang, saya mau masak buat keluarga saya," jawab Sari dengan ragu, sebenarnya ia bisa saja mengajak Naoki keluar, akan tetapi dia juga harus segera pulang.
"Kalau begitu Bu sari tolong ajak Naoki main ke rumah Bu sari, nanti saya jemput. Saya dan Siska ada urusan sebentar. Dan daya tidak mau Naoki melihatnya, itu tidak baik," ucap Tama.
"Baik Dok," sahut Sari.
Pengasuh itu pun bergegas ke kamar Naoki dan mengajak anak itu pergi ke rumahnya. Bukan perkara sulit bagi Sari untuk membujuk Naoki pergi bersamanya.
Tama melepaskan jas yang ia kenakan untuk Siska. Perlahan ia mengambil serpihan cangkang telur dan sayuran yang menempel di rambut Siska.
"Mas, Siska bisa bersihin sendiri," lirih Siska yang merasa tidak enak kepada Tama. Tubuh Siska sangat bau karena telur busuk yang di lemparkan Munah padanya.
"Diam!" hardik Tama.
Siska pun menurut dan membiarkan Tama membersihkan tubuhnya. Ia pun melepaskan baju yang melekat di tubuh istrinya. Siska awalnya kembali menolak, akan tetapi lagi-lagi ia kalah dengan tatapan tajam dari Tama. Setelah memasukkan beberapa gayung air dingin kedalam ember yang berisi air panas. Tama mengguyurkan air hangat kepada tubuh Siska yang hanya tertutup bagian intinya saja.
Tama seakan tuli, dia tak mengindahkan ucapan istrinya. Ia terus melanjutkan kegiatan tangannya yang sedang mengusahakan shampo pada rambut hitam istrinya. Terakhir ia membuat penutup kain terakhir yang melekat di tubuh kecil Siska. Siska berusaha menutupi asetnya, akan tetapi lagi-lagi Tama menepisnya. Dengan menahan malu Siska pun membiarkan Tama membersihkan gundukan kembarnya.Setelah selesai Tama pun menutup tubuh istrinya dengan handuk.
"Maaf aku tidak bisa membersihkan yang satu itu," ucap Tama sambil memberikan kode dengan dagunya.
Siska hanya mengangguk dan segera menutup pintu kamar mandi. Tama tersenyum dan pergi ke kamarnya.
"Mas," lirih Siska yang baru saja masuk ke kamar. Ia hanya mengunakan handuk yang melilit tubuhnya.
"Hem." jawab Tama singkat. Ia menepuk sisi ranjangnya yang kosong.
Siska pun menurut dan duduk di tepi ranjang. Tama melingkarkan tangannya di pinggang Siska dan menarik tubuh licik wanita itu hingga terbaring di sisinya.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Tama sambil mendekap tubuh kecil Siska.
Siska pun mulai menceritakan semuanya kepada Tama. Hatinya terasa lega seakan beban berat di ambil dari dadanya, setelah ia bercerita pada Tama. Tama mengambil nafas dalam dan menghembuskan perlahan.
__ADS_1
"Aku kan sudah bilang, kita pindah saja dari sini," ucap Tama lembut. berkali kali ia menghujani rambut Siska dengan kecupan.
Siska merasa hangat dan nyaman saat berada dalam pelukan suaminya. Tidak Siska pungkiri ia telah jatuh cinta pada suami dadakannya.
"Apa mas ga malu punya istri kayak aku?" tanya Siska lirih, sambil menengelamkan wajahnya di dada bidang milik suaminya
"Kau bertanya hal yang sama berkali kali. Aku sudah bilang, aku mencintaimu apa adanya sayang." Tama mengapit dagu Siska, mendongakkan wajah cantik sang istri lalu menciumnya.
Air mata meleleh seketika. Tama menarik sedikit wajahnya, dan mengusap cairan bening di pipi Siska.
"Tapi aku bukan wanita baik baik, Mas! ucap Siska dalam isaknya. Dadanya terasa sesak mengingat hal yang baru saja ia alami. Betapa kotor kata kata yang mereka lontarkan kepadanya.
"Aku juga bukan pria yang baik. Tidak ada manusia yang sempurna, Sayang," tutur Tama.
"Tapi Mas-
"Enggak ada tapi, dan ga usah takut. Ada aku yang akan selalu menjagamu!" tegas Tama. Ia menyandarkan kepala Siska di dadanya, dan memeluknya lebih erat.
"Cepat ganti baju, gih! Mas bisa khilaf kalau kamu begini terus," ujar Tama dengan suaranya yang terdengar serak.
"Mas, lepasin dulu," lirih Siska dengan malu-malu.
Dengan berat hati Tama melonggarkan pelukannya. Siska pun segera bangun dan melangkah ke arah lemari, dan mengambil pakaian ganti.
"Ganti di sini saja," bisik Tama sambil melingkarkan tangannya dari belakang.
"Tapi Mas, Siska malu."
"Aku suamimu, kenapa harus malu," ujar Tama sambil menyusuri leher jenjang istrinya.
"Mas, aku masih tanggal merah, jangan seperti ini," keluh Siska dengan menahan desahannya.
"Aku hanya ingin seperti ini tidak lebih."
Tama semakin mengeratkan pelukannya, ia mulai menyesap kulit mulus Siska. Wanita itu mengeliat merasakan sensasi geli yang membuat tubuhnya panas dingin.
Terdengar suara ketukan pintu dan ucapan salam dari luar.
__ADS_1
"Ck, cepat pakai bajumu, aku akan membuka pintunya," ucap Tama kesal. kemudian melangkah ke ruang tamu.