Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Cerita masa lalu


__ADS_3

"Lagi pula Tuan, ga ada orang makan, kayak gini pake sendok" celoteh Arie sambil mengeluarkan bungkusan warna coklat dari kantong kresek.


"Apa itu?"


"Bebek goreng, pake sambel, lalapan," ujar Arie sambil menunjuk nunjuk ke makanan di atas kertas berwarna coklat tersebut


"Kau beli? kenapa tidak masak sendiri heh," Alex mendengus kesal. bilang aja mau di masakin bang susah amat. 🙄


"Ga sempet, Tuan, tadi habis ketemu Nyonya Nana, aku lapar jadi makan di warung lesehan pinggir jalan bareng Ipul, aku ga kenyang kalau makan di cafe cafe gitu Tuan," jelas Arie panjang lebar. mendapati Alex melotot kepadanya Arie hanya menyengir dan mengacungkan kedua jarinya


"Hehe.. Cinta maksud saya "


kenapa harus sama sopir itu sih, kan bisa telpon aku, gumam Alex dalam hati, Alex berdecak , menyadarkan dirinya ke sofa sambil melipat kedua tangannya.


"Warung.. apa tidak salah? kau mau aku makan itu, jelas tidak higienis sama sekali," Alex melirik ke arah Arie.


"Ini bersih kok, aku sudah semprot pake desinfektan, coba saja dulu..ya..ya,"Arie mengangguk angguk mencoba meyakinkan.


"Sudah terserah, sekarang suapi aku,"


"Asiap," Arie mulai menguwek uwek nasi dengan tangannya yang sudah di cuci bersih, mengambil potongan daging bebek mencocolnya dengan sambal lalu menyatukannya dengan nasi.


"Aa," Arie mendekat kan tangannya ke mulut Alex, Alex pun membuka mulutnya, Arie tersenyum saat Atlet terlihat menikmati makanan yang ada dalam mulutnya.


"Enak kan"


"Emh.. lumayan" mulut Alex mulai mendesis, keringat mulai membasahi kepalanya.


Alex dengan tergesa gesa mengambil potongan mentimun lalu memasukkannya dalam mulut.


"Rh... kenapa pedas ya"Arie merasa cemas melihat muka Alex yang mulai memerah, dia segera mengambil sebotol air mineral dan menyodorkannya pada Alex, Alex segera meraihnya dan meneguk habis air tersebut.


"Ga kok, aku hanya haus, ayo Suapi aku lagi," elak Alex.


ngeles aja mas kaya bajaj, muka merah gitu masih bilang ga pedes. lirih Arie dalam hatinya.


Arie tersenyum kecil, merasa gemas pada Alex, yang jelas menunjukkan kalau dia tidak bisa mentolerir rasa pedas dalam mulutnya, namun dia masih saja menyangkalnya.


"Kenapa senyum senyum, cepat suapi aku," meski pun Alex mengelak, tapi cucuran keringat di wajahnya tak bisa bohong.


"Iya...iya" Arie menyuapkan makanan kepada Alex lagi, kali ini tanpa sambal.


"Cukup aku sudah kenyang" ujar Alex , sambil mengelap bibirnya dengan tisu.


"Ya iyalah kenyang, tinggal tulang sama sambel doang," ujar Arie sambil membersihkan bungkus makanan di meja.


"Enak kan" imbuh Arie sambil mengangkat kedua alisnya.

__ADS_1


"Lumayan buat ganjal perut"


"Mobil kali di ganjal" Arie berlalu pergi ke kamar mandi, ruangan untuk mencuci tangannya.


"Tuan, aku mau.... pulang dulu," Arie melirihkan suaranya, saat mendapati mata Alex terpejam, raut wajahnya nampak lelah, Arie berjalan mendekati Alex, menatap lekat pada wajah yang tengah tertidur pulas.


"Kalau lagi tidur begini lebih ganteng hehehe"


cup


"Selamat istirahat" Arie mengecup singkat pipi Alex lalu pergi meninggalkan ruangan, mendengar suara pintu ditutup Alex membuka matanya, dia tersenyum sambil memegangi pipinya.


Drrrt..drtt..


sebuah nomer tanpa nama terpampang di layar ponsel Arie, Arie mengeryitkan keningnya, mencoba menebak siapa yang meneleponnya.


"Hallo.. "


"Hallo.. Arie, ini saya Arow"


"Hemmh.. iya Tuan, apa ada yang bisa saya bantu" Arie menghela nafas berusaha menetralkan suaranya.


"Kau...dimana? bisakah kita bertemu sekarang?"


Arie tidak menyangka Arow akan merespon apa yang dia katakan pada istrinya.


Istri Anda, Tuan"


"Maka dari itu, aku ingin kau mempertimbangkannya, jadi bisakah kita bertemu sekarang?"


"Baiklah Anda ada dimana?, aku akan kesana"


"Pergilah ke cafe jingga kita akan bertemu di sana"


"Baiklah," Arie menutup telfonnya.


"Nang cafe jingga Pul," Arie menginstruksikan agar Ipul memutar mobilnya ke jalur lain.


"Siap Mba Boss" Ipul segera mengarahkan mobil ke tempat yang di maksud Boss nya.


Setelah mobil berkendara beberapa saat mereka pun tiba di tempat yang di maksud, Arie segera turun dari mobilnya, Arow yang melihat kedatangan Arie menyuruh pegawai cafe untuk mengantarkannya ke ruang VIP.


"Nyonya Arie, mari ikut saya Tuan Arow sudah menunggu di dalam"


ucap seorang pria.


"Baik" Arie mengikuti langkah pria yang memakai seragam itu. sampai di pintu Pelayan tersebut mempersilahkan Arie untuk masuk.

__ADS_1


Arie pun memasuki ruangan tersebut, Arie melihat Arow sudah duduk menunggunya.


"Maaf membuat Anda lama menunggu" ujar Arie, sambil mendarat bobotnya di atas kursi yang berhadapan langsung dengan Arow.


"Tidak, aku juga baru sampai"


Hening tak ada kelanjutannya dari pembicaraan basa basi itu, wajar Arow terlihat cemas dan tertekan , sementara Arie sudah mengetuk meja dengan ujung telunjuknya, menatap Arow dengan rasa tidak sabar.


"Apa Anda akan terus diam, ini bukan lomba duduk manis ala anak TK Tuan" ucap Arie kesal.


"Hmm.. ya aku tau, lalu bagaimana keputusan mu, apa kau bersedia melakukan tes DNA dengan ku"


"Apa yang harus membuat saya melakukan itu, saya tidak yakin kalau saya adalah saudari Anda"


"Tapi aku yakin, maka untuk memastikannya saya ingin melakukan tes itu"


Arie menelisik dalam mata Arow dia tak menemukan sesuatu yang aneh, hanya harapan yang besar terpancar dari matanya.


"Jika anda memang bersikeras melakukan, saya ingin tau sebab di balik hilangnya saudari Anda, maka saya akan dengan senang hati melakukan tes itu".


Arow mengambil nafas dalam.


"kita memiliki ibu yang berbeda, aku terlahir dari Istri pertama yang Ayah, mereka menikah karena di jodohkan orang tua mereka dengan alasan bisnis, Ayah meninggalkan wanita yang di cintainya karena Nenek mengancam akan membunuhnya bila Ayah tidak menurutinya. Dan setelah aku lahir dan berumur 5 tahun, Mama meninggal karena sakit, lalu ayah menikahi ibu Anjar wanita yang di cintainya selama ini, Beliau adalah ibumu, Tapi Nenek tak pernah menganggap Beliau sebagai menantu, karena ibu Anjar hanya perempuan kampung bagi Nenek, dia selalu bersikap buruk pada Ibu Anjar, tapi Ibu selalu tersenyum, dia tak pernah mengeluhkan apa pun, beliau juga sangat menyayangi ku, sampai saat dia mengandung, Nenek masih sangat membencinya, dan...dan..." sudut mata Arow mulai mengenang.


"Dan apa Tuan" dada Arie mulai sesak.


"Dan saat kau lahir, Nenek membuangmu dan berkata pada ibu kalau kau sudah meninggal, hingga akhirnya ibu mengalami depresi, dan beliau menghembuskan nafas terakhir tanpa tau kenyataan kalau kau masih hidup," Arow menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Braaaakkkk..


Arie dengan keras memukul meja dengan kepalan tangannya, kecewa, sakit hati, marah, semua itu bercampur aduk dalam hatinya.


"Lalu bagaimana dengan, Ayah dan bagaimana kau bisa tau saudarimu masih hidup" Ucap Arie dengan mengebu.


"Ayah dia berada di luar negeri sejak kematian ibu, dia memilih menyendiri, dan Nenek sendiri yang memberi tahu ku tentang semua ini, Beliau berharap sebelum dia meninggal dia bisa bertemu dengan cucunya"


"Hemh.. ironi sekali," Arie tersenyum remeh.


"Sesuai janjiku, aku akan memberikan sample untuk Anda, apa yang anda inginkan, rambut, kuku, kulit, darah, atau apa" rasanya Arie sudah tidak tahan berasa dekat dengan pria ini, Arie merasa dia tak bisa menahan amarahnya lagi jika berada di dekatnya.


"Bisakah kau ikut langsung ke Rumah sakit untuk melakukannya"


"Maaf saya tidak bisa" tegas Arie, Arie keluar dari Ruangan VIP dan tak lama dia pun kembali dengan kantong plastik yang berisi potongan rambutnya.


"Saya rasa ini cukup, selamat sore" ujar Arie sambil meletakkan benda yang ia pegang. lalu melangkah pergi dari ruangan itu.


"Terima kasih" lirih Arow sambil menatap bungkusan plastik kecil di atas meja.

__ADS_1


__ADS_2