
Melihat Arie seperti itu membuat Alex tak tega. la pun menekuk lututnya dan menurunkan kakinya ke bawah. Arie merasa kaget dengan Alex yang menurunkan kakinya tiba tiba.
"Ada apa? apa Sayangku tidak suka dengan pijatan tanganku?" tanya Arie dengan wajah memelas, Bumil ini masih dalam mode jadi pawang singa jantan miliknya.
"Sini."
"Apa?"
Alex tak menjawab, hanya memberikan kode menunjuk kaki Arie dengan dagunya. Arie mengeryitkan keningnya. Alex berdecak kesal karena Arie yang tak kunjung faham dengan kode yang dia berikan.
Alex bangun dari sofa tempat dia duduk, kemudian melangkah dan berdiri hadapan Arie, tanpa aba-aba Tuan sipit itu duduk bersila di hadapan istrinya. Niat hatinya ingin memberikan hukuman tapi malah dia sendiri yang mengerjakan hukuman itu.
"Eh.. Alex apa yang kau lakukan,?!" pekik Arie, saat Alex mengangkat satu kakinya lalu di letakkan di atas pahanya.
"Sudah diam," Alex masih ketus menjawab pertanyaan Arie.
Perlahan Alex memijat kaki Arie dengan lembut, Betis wanita itu di urut perlahan-lahan dengan jemarinya. Sepertinya Tuan sipit pernah less pijat.
"Kamu pasti capek kan, habis keliling pasar, udah gitu ga naik mobil, malah naik motor sama sahabat kamu itu," cerocos Alex sambil terus fokus memijat, sekarang malah berganti ke kaki Arie yang satunya lagi.
"Ga kok, aku ga capek, kan tadi Sayang yang capek. Sini biar aku saja yang pijat kamu," Arie masih merayu suaminya, dia takut ini adalah rasa manis sebelum datangnya jamu.
"Sudah diam," bentak Alex.
Kini keduanya diam, hanya Alex yang sedang fokus dengan kedua kaki Arie di atas pangkuannya, sementara Arie menikmati pijatan tangan Alex. Jujur itu terasa sangat nyaman, apalagi dengan bertambahnya usia kehamilannya, membuat kaki Arie sedikit membengkak dan gampang sekali merasa capek.
"Sayang, maaf," lirih Arie.
"Hemm."
"Sayang aku benar benar minta maaf."
Arie sedikit menunduk, lalu membingkai wajah Alex dengan kedua tangannya, dan mengangkat wajahnya sedikit ke atas, membuat ujung hidung mereka bertemu.
"Maaf soal apa?"
"Maaf karena aku tidak mendengar ucapan mu," ucap Arie sendu.
Alex memegang tangan kecil yang menempel di pipinya. Dengan wajah datar dia menatap Arie. Tuan sipit itu memang kesal, tapi melihat wajah sendu istrinya membuatnya lupa akan kekesalannya.
"Kau tau kenapa aku marah?"
Arie mengangguk kecil.
"Kalau kau mengerti, katakan apa yang membuat suamimu ini marah?" Alex bertanya dengan nada yang lembut, membuat Arie semakin merasa bersalah.
"Kau marah karena aku meninggalkan para pengawal itu di kafe?" lirih Arie.
Alex melepaskan tangannya Arie yang menakup wajahnya. Laki laki itu bangkit dan duduk di sebelah istrinya. Tangan Alex menyusup di antara lengan Arie, melingkarkan tangannya di pinggang Arie yang mulai melebar.
"Sayang, aku tidak perduli dengan orang orang itu, meskipun kau meninggalkan mereka di kandang buaya, aku juga tidak akan marah."
__ADS_1
"Sebenarnya aku tidak marah, aku hanya sedikit kesal." imbuh Alex sambil mengelus perut Arie dengan lembut, sementara. bibirnya sudah menyusuri leher Arie.
"Marah sama kesal, apa bedanya, Tuan." Arie beringsut geli saat Alex mulai menyesap kulit mulusnya.
"Hehehe iya, lagi pula bagaimana aku bisa marah dengan istriku yang begitu manis ini," ucap Alex dengan mencubit gemas dagu Arie.
"Aaah.. sakit." Arie mendesah karena cubitan tangan suaminya. Alex terkekeh.
Alex menghembuskan nafasnya perlahan. Lalu menopangkan dagunya di atas bahu Arie.
"Sayang aku hanya ingin menjagamu, aku tidak ingin hal yang buruk terjadi lagi padamu." Suara Alex terdengar bergetar walaupun dia berusaha menahannya, Alex semakin mempererat pelukannya.
"Ga akan, kan kamu sudah masukin orang itu ke penjara kan?"
Belum sayang, aku ingin dia mengakui dengan siapa dia berkerja sama. Aku akan membuatnya menderita karena telah berani menyentuh mu. gumam Alex dalam hati.
"Alex kenapa diam."
"Dia, iya aku sudah memasukkannya ke penjara."
Penjaraku sendiri.
"Sudahlah jangan bicarakan manusia biadab itu lagi. Bagaimana dengan hukuman mu." bisik Alex dari belakang telinga istrinya.
Satu tangan Alex sudah mulai membuka dua kancing daster yang melekat di tubuh istrinya.
"Bisakah hukumannya di tunda, Sayang?"
"Aku mau menghukum mu sekarang juga."
Alex dengan kasar menyerang leher jenjang istrinya, menyesap dan menambahkan jajaran jejak merah. Puas bermain di sana Alex mulai turun untuk menanam strawberry di bukit teletubbies Arie. Arie mencengkeram kuat bahu Alex.
"Alex aku mohon berhenti sebentar." ujar Arie, ia menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara seksi miliknya.
"No." jawab Alex di sela kegiatannya berkebun.
"Sayang, please. aku sudah tidak bisa menahannya lagi."
Mendengar ucapan Arie, Alex menyeringai. Ia berhenti menanam strawberry. sepertinya dia harus langsung menjenguk junior dan menambahkan imun untuknya.
Alex menarik wajahnya, menatap lekat wajah Arie dengan matanya yang sudah berkabut. Arie mengelengkan kepalanya cepat.Namu, Alex malah menyerang bibirnya yang ranum.
Arie berusaha mendorong tubuh Alex, tapi Pria itu bahkan tak bergeming sedikitpun. Ia terus bermain dengan bibir manis Arie, semakin dalam dan menuntut. tangannya pun mulai meremas gemas gundukan di balik kain yang menutupinya.
PREEEEEEEET
Suara seruling alam membuat tubuh Alex beku seketika. Arie segera bangun dari duduknya, dan bergegas pergi ke kamar mandi, dengan wajahnya yang memerah. Tawa Alex pecah saat itu juga.
Setelah menyelesaikan ritual harian di kamar mandi. Arie memilih masuk ke kamarnya. Alex yang melihat itu, segera menyusul langkah Arie.
Ceklek.
__ADS_1
"Sayang," panggil Alex lembut.
Arie duduk di tepi ranjang membelakangi pintu. Arie bisa merasakan ranjangnya bergerak saat Alex naik ke atasnya. Alex memeluk tubuh Arie yang duduk mematung. Untungnya wx tak melihat wajah Arie yang sudah merah menahan malu.
"Sudah selesai, bisa kita lanjutkan yang tadi."bisik Alex.
"Ga, ga mau." Arie menolak dengan ketus, bagaimana dia bisa mengatakan itu. Arie saja masih malu setengah mati, karena bunyi suling yang tidak bisa di tahannya.
"Kenapa? apa kau malu?" ujar Alex lembut.
"Ah sudah diam jangan bahas itu lagi!" pekik Arie sambil menutupi kedua telinganya dengan tangan. Ia menggelengkan kepalanya kuat.
Alex tergelak, dari samping dia bisa melihat pipi Arie yang bersemu merah.
"Ayolah sayang, kenapa harus malu. Toh sama suami sendiri, aku bahkan sudah hafal setiap inchi dari bagian tubuhmu." ucap Alex lagi.
"Itu berbeda, sudah diam lah jangan mengatakan apapun lagi." Arie melepaskan tangan Alex dari pinggangnya.
"Kau terus saja mengejekku," ujar Arie dengan kedua pipinya yang mengembung.
"Eh... kapan aku mengejekmu Sayang, Aku bahkan tidak mengatakan kalau bunyi seruling alam tadi sangat merdu."
"Tuh kan bahas itu lagi," Arie mencebik masam.
"Hahahaha.. maaf maaf, baiklah aku tidak akan membahas suaranya, aku hanya akan bilang. Saat kau pergi tadi kau meninggalkan sesuatu di sofa."
"Apa?"
"Aroma harum alami, wahahahahhaha." kelakar Alex, ia tak bisa lagi menahan tawanya. Melihat wajah Arie yang
"Tertawa terus, awas ya."
Arie melepaskan tangan Alex yang melingkar di pinggangnya. Arie membalikkan tubuhnya, melihat Alex yang terus tertawa membuat Bumil itu geram.ia mendorong tubuh Alex hingga jatuh terlentang di atas kasur.
Bukk
Bukk
"Ampun.. ampun sayang, hahahaha."
"Terus ketawa terus lucu ya ngeledek aku terus."
Buk
Buk
Arie memukuli Alex dengan guling. Alex terus tertawa. Alex menangkap guling itu dan menariknya, hingga membuat Arie ikut jatuh ke atas dada bidang suaminya.
"Jangan tertawa terus, aku kan malu," lirih Arie.
"Iya iya, maaf tapi seru juga bisa godain kamu kayak gini."
__ADS_1
"Alex!!"