
"Bagaimana?" tanya Tama pada sang istri yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Siska mengelengkan kepalanya pelan. Senyum Tama seketika meredup namun ia segera menetralkan raut wajahnya.
"Tidak apa-apa, kita bisa coba lagi." Tama mengulurkan tangannya untuk menarik sang istri duduk di pangkuannya.
"Maaf ya mas," ucap Siska sendu. Walaupun dalam hati wanita bersorak gembira.
"Iya sayang, kita bikin yang rajin pasti nanti kamu cepat isi." Tama menciumi wajah manis sang istri. Ia tidak ingin Siska terlalu tertekan, walaupun Tama sudah sangat menginginkan adanya kecebong yang mulai tumbuh di rahim istrinya.
"Maafkan aku mas," lirih Siska sekali lagi dalam hatinya.
Melihat wajah istrinya yang terlihat sedih, membuat Tama merasa bersalah. Ia memang sangat menginginkan adanya seorang anak diantara mereka. Namun, ia juga tidak ingin Siska merasa tertekan.
Wajah cantik itu memandang sendu, pada tes pack dengan garis satu merah di pangkuannya. Guratan kecewa bercampur takut jelas terlihat di binar matanya. Tak ingin semua berlarut, Tama pun mengeluarkan jurus usilnya.
"Sayang," panggil Tama dengan nada manja.
"Hem."
"Aku lapar," rengeknya lagi.
"Kalau begitu ayo turun, lagian juga sudah siang. Mas Tama harus ke rumah sakit kan." Siska hendak beranjak turun dari pangkuan suaminya.
Namun, tangan besar itu sudah kembali membelitnya erat. Tubuh besar Tama bergoyang ke kanan dan kiri seperti anak kecil yang sedang merajuk. Mulutnya sudah maju dengan tatapan sayu melihat ke arah Siska.
Siska mengerutkan keningnya melihat tingkah sang suami. Ia mengerakkan dagunya sedikit mengangguk kecil, mengisyaratkan kata "Apa" pada sang suami.
"Aku mau nen," jawab Tama, dengan mata nakalnya yang berkedip beberapa kali.
"Apa sih mas, udah tua juga." Siska memalingkan wajahnya yang sudah merona, mendengar ucapan absrud suaminya.
Tama mengoyangkan badannya lagi, membuat sang istri menahan tawanya, melihat ekspresi wajah Tama yang benar-benar mengemaskan.
"Apa sih mas, bercanda terus ah."
"Aku tidak bercanda," kali ini Tama berucap dengan nada serius. Siska melihat wajah suaminya yang sudah berkabut.
__ADS_1
Cup.
"Mau yang mana dulu." Siska mengecup bibir suaminya, ia mengerti apa yang suaminya inginkan.
Tama menyeringai. Ia pun melabuhkan bibirnya di bibir tipis sang istri mel*matnya lembut namun juga menuntut. Siska pun mengalungkan tangannya di leher sang suami yang memiringkan kepalanya, mencari posisi yang tepat untuk bercumbu.
Desah*n kecil lolos dari mulut Siska saat ciuman Tama mulai turun dan menyusuri lehernya. Jemari besar Tama mulai membuka kancing kemeja yang di kenakan istrinya.
Aaah..
Siska me*enguh saat Tama mulai menyesap ujung dadanya dan satunya lagi dimainkan dengan kasar oleh jemarinya. Siska meremas rambut Tama, mengarahkannya lebih dalam. Ia mengigit bibirnya, menahan suara ******* di kerongkongannya.
Siska semakin menggila saat jemari suaminya mulai menjalar di perutnya yang rata dan semakin turun.
"Mas.." rengek Siska dengan suaranya yang manja.
Tama melepaskan biji coklat yang sedari tadi ia sesap, mendongakkan sedikit wajahnya, untuk melihat wajah istrinya yang sudah memerah. Tama mengikis jarak wajah mereka, dan segera melahap bibir ranum istrinya dengan rakus. Dua jarinya masih terus bermain di dalam underwear Siska menusuk masuk goa rimba di bawah, membuat sang istri menggelinjang di atas pangkuannya.
Dada Siska membusung, tangannya mencengkram kuat bahu Tama saat mencapai pelepasannya. Erangan tertahan oleh bibirnya yang masih di l*mat oleh Tama. Tama menambah tangannya keluar dan mengendong Siska ke tengah ranjang tanpa melepaskan bibir mereka.
Satu persatu kain yang menutupi tubuh mereka mulai berserakan di lantai. kini keduanya sama polosnya. Dengan gemas Tama meremas dua buah gundukan yang pas di tangannya. Seperti bayi kelaparan, ia pun melahap pucuk berwarna coklat itu dengan lahap.
"Eughh.."
Kedua mende*ah saat batang itu masuk sepenuhnya, memenuhi diri Siska. Tama mulai mengerakkan tubuhnya. Tangannya kembali meremas dan memilin ujung gundukan favoritnya.
Suara de*ahan mengema memenuhi kamar itu. Tama semakin mempercepat temponya, menggesek batangnya di goa sempit istrinya.
"Emmh.. mas," Siska meracau saat gelombang pelepasan datang untuk kesekian kalinya.
"Sebentar lagi." Tama semakin memperdalam batangnya masuk dengan gerakan lambat, membuat Siska semakin terbang.
Dengan keras Tama menghentakkan pinggulnya beberapa kali sebelum akhirnya, pasukan kecebong miliknya masuk sepenuhnya ke dalam rahim sang istri.
Tama ambruk di atas tubuh Siska yang penuh peluh. Tama menghujani wajah istrinya yang lelah dengan kecupan terima kasih.
Lalu sedikit menurunkan wajahnya, mengecup lembut perut Siska yang masih rata.
__ADS_1
"Cepat tumbuh ya pasukan kecebong," ucapannya konyol yang keluar begitu saja dari mulut Tama.
Mendengar ucapan suaminya, Siska tersenyum kecut. Ada rasa bersalah yang terselip di sana. Namun, ia juga belum siap untuk hamil sekali lagi.
Bayang bayang kelam masa lalunya masih jelas di ingatan mantan janda itu. Tama mengecup kening Siska dengan lembut lalu merengkuh tubuh kecilnya yang polos. Mata Tama terpejam menikmati aroma khas dari istrinya.
"Mas udah siang," ucapan Siska menyadarkan Tama, ia harus bergegas ke rumah sakit.
Secepat kilat Tama turun dari ranjangnya dan melangkah lebar masuk kamar mandi. Siska menggeleng melihat tingkah suaminya. Wanita itu perlahan mulai bangun dari ranjangnya dan mulai memunguti pakaian yang berceceran di lantai.
Tamq menyelesaikan ritual mandinya dengan cepat. Ada jadwal operasi yang harus ia laksanakan siang ini.
"Aku berangkat ya." Tama mengecup kening sang istri yang sudah berpakaian ala kadarnya.
"Mas, nggak sarapan?"
"Udah sarapan kamu tadi." Tama mencolek hidung mancung Siska.
Siska memanyunkan bibirnya dengan keningnya berkerut mendaratkan ciuman besar di bibir sang istri sebelum ia melangkah keluar.
Setelah melihat sang suami menghilangkan dari balik pintu, Siska melangkah masuk ke kamar mandi. Ia harus mandi untuk kedua kalinya pagi ini.
Gemericik air mulai terdengar dari dalam kamar mandi saat Tama kembali masuk, karena berkas yang tertinggal. Ia pun segera mengambil berkasnya di dalam laci nakas tempat ia menyimpannya kemarin malam. Mata Tama menangkap bekas strip obat dalam tempat sampah di dalam kamarnya.
Tama mengulurkan tangannya untuk mengambil benda itu. Tangannya mengepal kuat saat melihat benda itu dengan jelas. Dengan matanya yang memerah Tama berusaha menahan amarahnya.
Tama pun keluar dari kamar itu, dan menutup pintunya dengan keras.
Malam sudah hampir larut. Namun, belum ada tanda tanda kedatangan suaminya. Siska menanti dengan cemas di ruang tamu. Ia mondar mandir seperti setrikaan sejak tadi.
"Mba Siska kenapa?"
"Apa Naoki sudah tidur, Bu?" Siska menjawab pertanyaan Bu sari dengan pertanyaan lainnya.
"Sudah Mba, Mba Siska kenapa?" tanya Bu sari, melihat wajah Siska yang terlihat begitu cemas.
"Nggak kenapa napa, Bu. Sudah malam, Bu sari istirahat saja, aku mau tunggu mas Tama pulang."
__ADS_1
Bu sari menjawab dengan anggukan. Wanita paruh baya itu pun berlalu menuju kamar. Siska terus saja menatap pintu besar. Berharap kedatangan seseorang.