
"Kok tutup-tutupi? Nomere mbok ganti.
Firasat ati angel diapusi,
Senajan mbok ganti tukang las,
Bakul sayur lan tukang gas,
Titeni, bakale ngerti" Arie begitu menikmati lagu, meskipun suara tidak begitu merdu yang penting nyanyi.
"Los Dol, ndang lanjut lehmu WhatsApp-an
Cek paket datane....yen entek tak tukokne" kali ini duet cempeng Arie dan Yuli, benar benar tengelam dalam lagu, ke sekian yang mereka nyanyikan.
"Wes Mba, garing" [sudah mba, kering] ucap Arie sambil mengusap lehernya, Yuli pun mengangguk, mereka pun meneguk segelas jus jeruk yang telah mereka pesan sebelumnya.
"Hebat lho mba Yul, pean iso buka kafe ngene, Joss" [hebat lho mba Yul, kamu bisa buka cafe kayak gini, Joss] Arie mengacungkan dua jempolnya.
"opo se Rie, biasa ae lah, awakmu Iki seng Joss, muleh muleh dadi wong sugeh" [apa sih Rie, biasa aja lah, kamu yang Joss pulang pulang jadi orang kaya.]
"seng sugeh bojo ku mba gugu aku"(yang kaya suamiku bukan aku)
"Podo"[sama]
"Tapi mba kiro kiro bojo ku cinta ga yo ambe aku" [tapi mba kira kira suamiku cinta ga sama aku] Mata Arie menerawang, mengingat saat kejadian malam dimana mereka akan menyatu.
"Lha iku bojo mu kok takok aku." [lha itu kan suami mu kenapa tanya aku] Yuli mengerutkan keningnya heran.
"Lha mosok pas Kate nganu, dek ne ngomong, aku menginginkan mu ngunu i, ga I love you kek, cinta kek, ai ni kek, [masa waktu mau nganu, dia bilang, aku menginginkan mu, kenapa ga I love you kek, cinta kek,ai ni ] [cinta dalam bahasa Cina]
"Tokek kek" seloroh Yuli
"Ck .. Mba Yuli Ki takok temenan kok ah" [Mba Yuli di tanya bener kok, Arie mencebik kan bibirnya kesal.]
"Arie..Arie.. ga Kabeh wong lanang iso romantis, iso ngumbar omong cinta cintaan, nek wong lanang ngunu malah bahaya" [Arie..Arie tidak semua laki laki bisa ngomong cinta dengan mudah, lelaki yang seperti itu malah bahaya.]
"Tetep ae Mba, Kan aku pengen di tembak sek, kan aku pengen eruh rasane" [ tetap saja Mba, kan aku pingin di tembak, pengen tau rasanya] ucap Arie malu malu.
"Di tembak mati lak an Rie" [di tembak mati donk Rie] Yuli tergelak mendengar polosnya keinginan Arie, Arie memang tidak pernah pacaran.
"Wes mboh mba, kandani tambah nguyu" [ya sudahlah mba, di kasih tau malah ketawa] Arie benar benar kesal dari tadi Yuli menertawakannya. Akhirnya tawa Yuli pun mereda dengan sendirinya.
"Iya.. iya..Rie temen ya Tak omongi, ojo ngarep wong lanang dadi dukun, iso eruh karep e ati mu, ngomong o opo karep mu, ya opo perasaan mu. ga usah gengsi malah garai loro ati, wong ambe bojone dewe ae lho" [ iya..iya.. Rie aku kasih tau, jangan harap lelaki bisa jadi dukun,bisa tau apa yang harimu inginkan, bicarakan apa keinginan mu, bagaimana perasaan mu, ga usah gengsi malah bikin sakit hati, sama suami sendiri aja lho] Yuli dengan serius menatap Arie. Arie berusaha mencerna apa yang Yuli ucapkan memang ada benarnya,bila kita tidak bicara maka orang lain tak akan tau isi hati kita.
__ADS_1
"iya mba yo"
"iyolah aku e, iku yo tak tetap no di hubungan ku ambe calonku Rie" [iyalah aku gitu, itu juga aku tetap kan di hubungan ku dengan calonku Rie] Yuli menyeruput es jeruknya lagi.
Malam semakin merangkak naik, kedua wanita itu semakin larut dalam obrolan pasal hubungan laki laki dan perempuan, ya meskipun yang mereka bahas ga semuanya bersih. maklum sebenarnya mereka berotak mesum, kayak author hehehehe.
Drrrt....drrt..
Ponsel Arie bergetar, kali ini nama yang sudah ia ganti sebelumnya muncul di layar, Tuan sipit, bulan sabit terbit di bibir Arie, segera ia menggeser layar ponselnya.
"Wei....ada apa"
"Cepat keluar," terdengar suara di ujung telepon terdengar ketus.
"Keluar kemana? kami di mana"
"Sopo" [siapa] tanya Yuli tanpa mengeluarkan suara.
"Bojoku" [suamiku] jawab Arie dengan hanya mengerakkan bibinya, di sambut anggukan oleh Yuli.
"Pokoknya cepat keluar, Sekarang"
Tut..Tut...
belum sempat menjawab sambungan telepon sudah di matikan.
"Ga eruh Mba, di kongkon metu, ayo Mba" [ga tau Mba, di suruh keluar, ayo Mba]. Arie bangkit dari sofa dan menarik tangan Yuli, mereka berdua keluar dari ruang karaoke, melangkah ke area luar kafe.
Mata Arie tak percaya melihat Alex menyandarkan tubuhnya di mobil sport hitam miliknya yang di parkir tepat di depan kafe, kehadiran orang ganteng dan mobil mewah tentu menjadi perhatian tersendiri bagi para pengunjung kafe. apa lagi kafe itu hanya kafe kecil yang berkemungkinan kecil di singgah orang seperti Alex. Arie berjalan mendekati Alex kesal.
"Kenapa kau disini"
"Kau masih bertanya, tentu saja menjemputmu" jawab Alex dingin.
"Huwww...jangan dingin dingin donk, ntar matanya tambah sipit lho"
"Kau" Alex kehabisan kata, hanya bisa melotot pada Arie.
"Hihihi" Arie memamerkan jajaran gigi putih miliknya,
"Ayo pulang"
"Oke Tuan"
__ADS_1
"Mba Yul, aku muleh ya" [ Mba Yul, aku pulang ya.] Arie berteriak dari sisi lain mobil,dengan badan setengah masuk.
Ok, call me tanpa suara Yuli hanya memberi kode dengan tangan yang di bentuk telepon dan di dekatkan ke telinga, Arie menjawab dengan sikap tangan hormat, Yuli menggeleng dengan tingkah konyol Arie.
"Sudah siap, let's go" ucap Arie setelah memasang kan safebelt nya.
Bruummm
Mobil sport mulai melaju perlahan di aspal, Alex fokus ke depan, berbeda dengan Arie yang terang terangan menatapnya dengan menopang dagunya.
"Jangan melihatku seperti itu nanti kau jatuh cinta" ucap Alex tanpa menoleh kepada Arie.
"Alex, bagaimana menurutmu tentang aku" tanya Arie to the point.
"Kau.. hemmm" Alex diam sejenak.
"Cerewet, mata duitan, pendek" ucap Alex datar. Arie menggembungkan pipinya, memukul lengan Alex dengan keras. Alex tergeletak melihat wajah kesal Arie.
"Pintar masak, manis, dan..."
"Pan apa.. "muka Arie sudah merona mendengar lanjutan dari Alex.
"Bayar dulu nanti aku lanjutkan"
"Issh pelit" Arie mendesis dan memalingkan wajahnya ke luar mobil, menyembunyikan senyumnya yang tak bisa tertahan.
"Alex apa kau mencintaiku" ucap Arie tiba tiba dengan mendekatkan wajahnya di samping Alex.
Chiiiiittt...
Mobil berhenti mendadak, Alex menginjak rem dengan kuat, Alex sangat kaget saat mendengar apa yang di katakan Arie.
"Aduh kenapa berhenti mendadak sih, untung saja jalannya sepi" Arie mengusap keningnya yang terbentur dasbor mobil.
"Maaf, apa sakit" Alex mengusap kening Arie yang sedikit memerah dan meniupnya perlahan-lahan.
Ya Allah meleleh aku, emhh.. Mas sipit sweet banget se gumam Arie dalam hati.
Manik mata mereka berdua beradu, diam tak ada pergerakan, hanya mata mereka yang merasakan pandangan yang membuat jantung kedua berdegup seperti genderang mau perang. pipi Alex memerah dan segera memalingkan wajahnya.
"Ehem..."
Alex berdehem mencoba menetralkan detak jantungnya.
__ADS_1
"Lain kali, jangan tanya yang aneh aneh kalau di mobil, aku bisa tidak fokus" ketus Alex.
Alex mulai menyalakan mesin dan melaju perjalanan pulang mereka, hening tak ada lagi pertanyaan. Arie takut kalau dia tanya lagi, bisa kecelakaan, mobil bukan tempat yang tepat untuk sesi tanya jawab.