Gadis Berdaster Milik CEO

Gadis Berdaster Milik CEO
Tidak fokus


__ADS_3

Alex hanya menatap lurus ke depan sepanjang perjalanan. Ujung jarinya terus saja mengetuk punggung tangannya yang satunya yang ada di atas lututnya. Pikirannya masih tertinggal di rumah, lebih tepatnya tertinggal pada istrinya. Sikap Arie yang begitu acuh dan enggan untuk bertatap muka dengan membuat Alex berpikir keras. Apa yang sebenarnya terjadi pada sang istri.


Chiko yang sedari tadi mengajaknya bicara tentang laporan terakhir pembangunan Mega store pun tidak masuk sama sekali dalam telinganya. Chiko seperti bicara pada angin kosong, Chiko yang menyadari hal itu hanya bisa mendesah pasrah. Ia memutuskan untuk mengakhiri laporannya.


Setelah cukup lama, akhirnya mobil yang mereka tumpangi pun sampai di sebuah lahan pembangunan yang sudah mulai selesai separuhnya. Banyak pekerja yang sibuk berlalu lalang mengerjakan pekerjaan mereka. Kedatangan Alex dan Chiko segera disambut oleh seorang laki-laki paruh baya yang memakai helm proyek.


Ia mendekati Alex yang baru saja turun dari mobilnya dengan senyum ramah.


"Selamat datang Tuan Alex, saya sangat senang anda datang langsung kemari,"ucap Rizky sambil mengulurkan tangannya.


Alex pun menjabat tangan Rizky sambil mengaguk cepat.


"Tuan." Chiko menyodorkan sebuah helm proyek untuk di pakai sang tuan. Alex pun langsung memakainya lalu berjalan melewati Rizky dan Chiko begitu saja.


"Tuan, ada apa dengan tuan Alex? sepertinya beliau memikirkan sesuatu hal?" tanya Rizky sambil berjalan mengekor di belakang Alex bersama dengan Chiko.


"Begitulah," jawab Chiko singkat.


Ia pun sebenarnya tidak begitu paham dengan masalah yang sedang di hadapi oleh Tuannya. Akan tetapi Chiko bisa menebak kalau semua itu tidak akan jauh dari masalah kebucinan tuannya. Karena masalah kantor tidak pernah menganggu Alex sampai kehilangan fokusnya seperti ini.


"Chiko, apa kakimu tertular lendir siput sampai jalanmu begitu lambat. Cepat kemari dan selesaikan perkerjaan di sini!" titah Alex dengan kesalnya.


Ya Tuhan tuan, sejak kapan lendir siput bisa menularkan penyakit?


"Baik Tuan." Chiko pun segera melangkah merapat ke arah Alex. Dan turut memanggil Rizky untuk ikut mendekat.


Hari ini Chiko tidak ingin menjadi pelampiasan Alex sendirian. Setidaknya orang lain yang ada di sekitarnya juga harus mencicipi sedikit penderitaannya sebagai bawahan Alex.


"Cepat bacakan laporannya!" titah Alex pada Rizky.


Dengan sigap Rizky mulai membacakan laporan dari awal mula pembangunan ini di lakukan. Sambil berjalan menyusuri beberapa lorong yang sedang dibangun. Rizky pun turut memberikan penjelasan dari fungsi kamar, ruangan yang sedang masa pembangunan itu.


Alex terus menyimaknya dalam diam. Sesekali ia menanyakan tentang fungsi ruangan dari bangun itu. Alex melangkah dengan cepat, sepertinya ia ingin perkejaannya cepat terselesaikan. Chiko dan Rizky sampai kewalahan mengimbangi langkah pria bermata sipit itu. Berulang kali Alex sampai hampir tergelincir dan jatuh karena langkah kakinya karena terburu-buru.


"Kapan pembangunan ini akan rampung?" tanya Alex sambil berjalan ke arah mobilnya.


"Satu bulan lagi, sesuai dengan rencana awal," jawab Rizky dengan dengan penuh percaya diri.


"Baiklah, aku percaya padamu."


"Terima kasih Tuan." Rizky menunduk hormat dengan senyum.

__ADS_1


"Hem."


Alex segera masuk ke dalam mobilnya dengan pintu yang telah di bukakan oleh sang asisten. Chiko pun menurut pintu mobil dengan hati-hati. Chiko pun segera berjalan memutari mobil untuk duduk sisi supir.


Mobil itupun segera melesat meninggalkan proyek dengan kecepatan tinggi menuju kantor. Setelah satu jam perjalanan mereka pun sampai di kantor.


Sementara itu di rumah.


"Bagaimana baguskan Kak?" tanya Nuwa dengan semangat.


Tanpa sepengetahuan Alex, Nuwa menemui Kakak iparnya di rumah. Keduanya sedang sibuk menata kamar Arie. Menyulapnya menjadi berbeda dari biasanya.


Tanpa bantuan asisten rumah tangga lainnya. Kamar itu murni sentuhan tangan Arie sendiri dengan arahan dari adik iparnya.


"Apa tidak terlalu berlebihan?" tanya Arie.


Ia berdiri di tengah-tengah kamarnya sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar.


"Tidak sama sekali," tukas Nuwa yang sedang rapihkan sesuatu di atas meja rias Arie.


"Baiklah, lalu bagaimana dengan acara malam ini? aku harus bagaimana?"


"Ok, lah." Arie mengangkat bahunya pasrah.


"Astaga Kak, aku harus segera ke kantor Keke. Hari ini aku di suruh kakek ke sana, pasti ini ada hubungannya dengan kau yang terus mendiamkan Keke sejak tadi pagi," tebak Nuwa.


"Hey tapikan kau yang menyuruh aku bersikap seperti itu. Apa kau tau aku hampir saja tidak bisa menahan diriku saat Alex menatapku dengan sendu."


Nuwa berjalan mendekati Arie yang sedang tertunduk lesu.


"Isshh..Kakak nggak boleh lembek, kalau seperti itu nanti rencana kita gagal total seperti rencana kakak ipar kemarin malam," ucap Nuwa dengan nada mengejek.


"Ya...ya Baiklah."


"Astaga Nuwa aku belum memberi tahu kakek tentang acara kita ini!!" Arie menepuk Bahu Nuwa dengan keras.


"Kak!"


"Sakit tau, kakak yang lupa. Kok aku yang di pukul sih!" protes Nuwa sambil mengusap kulitnya yang memerah.


Nuwa yang memakai dress selutut dengan model lengan Sabrina, membuat Arie bisa dengan bebas meninggalkan jejak merah di bahu mulusnya.

__ADS_1


"Aku akan menemui kakek dan memberi tahunya. Kau cepat pergi ke kantor jangan sampai Alex curiga dengan semua ini."


"Iya..iya.. kalau begitu aku pergi dulu kakak ipar." Nuwa pun mulai berjalan menjauh ke arah pintu kamar.


Arie pun turut mengekor di belakangnya.Ia segera membicarakan rencananya dengan sang kakek. Arie ingin kakeknya ikut andil dalam rencana yang telah ia siapkan.


Kantor.


Alex yang baru saja datang dari proyek pun langsung melangkah lebar menuju ke ruangannya. Ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya lalu pulang ke rumah. Namun, sayangnya waktu terasa begitu lama bagi Alex.


Kini Ia duduk di kursi kebesaran. Alih-alih mengerjakan tumpukan dokumen yang berisi dihadapannya, nyatanya Alex malah terus mengecek data panggil dan pesan yang belum ada satupun notifikasi dari istrinya yang masuk. Sudah dua jam Alex bersikap seperti itu.


Alex pun bukannya tidak mencoba menelfon Arie terlebih dahulu. Ia sudah mencobanya seribu kali. Namun Arie tidak mengangkat ataupun membaca pesannya. Alex meletakkan ponselnya begitu saja di atas meja kerja. Alex berkali kali mengusap wajahnya kasar.


"Tidak, ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Aku harus segera pulang sekarang." Alex bangkit dari duduknya lalu menyambar ponsel yang baru saja ia meletakkan.


Alex tidak tahan jika sang istri terus bersikap dingin seperti ini. Alex mengayunkan kakinya hendak pergi keluar . Namun, langkah terhenti saat seseorang gadis masuk begitu saja kedalam ruangannya.


"Keke!" seru Nuwa bersemangat.


"Akhirnya kau datang juga, ada yang ingin aku tanyakan." Alex menarik tangan Nuwa lalu mendudukkannya adiknya dengan kasar.


"Apaan sih sakit tau," keluh Nuwa sambil memanyunkan bibirnya lima centi.


.


.


.


.


.


.


Maaf up malem terus. Mak lagi selow. hahahaha..


mampir ya gaes ke nopel temen emak ❤️😘🥰 masukin Rak paporit, like dan komen 🥰🥰🥰


__ADS_1


__ADS_2